
Perkataan yang sejalan dengan tindakan adalah bukti konsistensi kita terhadap apa yang kita ucapkan. Seringkali kita terlalu banyak berbicara hingga lupa melakukan apa yang telah kita bicarakan. Adalah baik untuk berkata-kata, tetapi lebih baik lagi melakukan sesuatu tanpa kata! Eda Sally
*****
Arthur dan ayahnya Harry Walker bangun ketika mendengar tangis Yuana. Mereka hanya menatap sepasang suami istri itu tanpa mengatakan apapun.
Tiba-tiba, dokter Stevi masuk bersama Gail yang masih khawatir dengan keadaan Yuana. Namun, wajahnya kembali sumringah ketika ia melihat Yuana tidak menangis lagi.
Dokter Stevi segera melakukan pemeriksaan terhadap Yuana dan sambil tersenyum ia menatap Yuana agak lama kemudian berkata:
"Kondisi tubuhmu stabil. Kamu hanya perlu rutin minum obat yang telah saya berikan. Besok kamu sudah bisa pulang."
"Terima kasih dokter telah menyelamatkan saya dan anak saya. Jika boleh, saya ingin menjenguk bayi saya." Kata Yuana dengan memohon sambil mengatupkan kedua tangan di dada.
"Tentu saja boleh nona. Nona bisa ke ruang perawatan anak bersama tuan." Ujar dokter Stevi sambil tersenyum.
"Saya akan mengurus beberapa pasien lagi. Jika ada apa-apa, tuan secepatnya memanggil saya." Kata dokter Stevi sambil menatap Gail.
"Saya mengerti dokter." Jawab Gail sambil tersenyum ramah.
"Kak! Tolong bawa aku ke ruang perawatan bayi. Aku ingin menjenguk anak kita." Kata Yuana kepada Erik setelah dokter Stevi pergi.
"Tentu saja sayang." Kata Erik sambil bangkit dari tempatnya.
Baru saja Erik berdiri dengan tegak, Gail telah membawa kursi roda di hadapannya untuk mendudukkan Yuana di situ.
"Terima kasih Gail." Kata Erik sambil tersenyum karena Gail selalu paham dengan apa yang mereka inginkan.
Yuana baru ingat dengan kehadiran Gail. Karena itu ia langsung menatap Gail dan Erik secara bergantian, kemudian tatapannya berhenti pada Erik.
"Kak, izinkan Gail ikut menjenguk bayi kita." Pinta Yuana pada Erik.
"Boleh sayang. Aku sama sekali tidak melarangnya. Ayo!" Ujar Erik sambil memberikan kode dengan matanya kepada Gail untuk ikut bersama mereka.
Ketika mereka keluar, Arthur dan Harry Walker memilih untuk tetap berada di ruang perawatan tanpa ikut menjenguk bayi tuan mereka.
Saat sampai di ruang perawatan bayi, Yuana tak kuasa menahan air matanya ketika ia memandang dengan lekat wajah bayinya yang sangat tampan itu.
"Anak kita kak." Kata Yuana dengan air mata yang sudah membanjir.
"Terima kasih sayang." Ujar Erik sambil mengecup kepala Yuana berulang-ulang.
Erik dengan sigap mengambil bayi mungil itu dan menyerahkannya kepada Yuana dengan hati-hati.
__ADS_1
Yuana menerima bayi itu dengan perasaan haru yang menyesakkan dadanya. Ia perlahan menurunkan kepala dan mengecup bayi itu sangat lama.
"L Love You my baby." Kata Yuana sambil tersenyum menatap bayinya dengan tatapan penuh cinta.
Setelah puas menggendong bayi itu, Yuana menatap Gail agak lama dan kemudian tersenyum.
"Terima kasih Gail. Kamu boleh menggendongnya." Kata Yuana.
"A..aku boleh menggendongnya?" Tanya Gail tak percaya.
Yuana hanya menganggukkan kepala dan menyerahkan bayi itu kepada Gail yang menerimanya dengan tangan gemetar. Tanpa mempedulikan Erik dan Yuana, Gail langsung mendekap bayi mungil itu dan memejamkan mata cukup lama menahan air matanya.
Anakku. Akhirnya aku bisa melihat wajahmu dan menggendongmu. Maafkan dady, nak! Gail.
Bayi itu seolah paham dengan apa yang dikatakan Gail dalam hati, dan tiba-tiba saja ia langsung menangis dengan kencang.
"Maafkan dady, nak! Maaf!" Kata Gail tanpa peduli lagi dengan Erik dan kemudian mengecup bayi itu sangat lama.
Bayi yang sementara menangis itu tiba-tiba diam mendengar perkataan Gail. Sementara itu Erik menatap Gail dengan geram, namun ia ingat janjinya kepada istrinya. Karena itu ia berusaha menahan diri.
Gail yang memahami tatapan Erik, segera memberikan bayi itu kepada Erik. Erik menerimanya dan mengecup anaknya sangat lama.
"I Love You my son." Ujar Erik sambil menciumnya berulang kali.
Ketika sampai di pintu ruang perawatan Yuana, Gail mengerutkan keningnya sebelum membuka pintu. Ia masih sempat menoleh ke arah Yuana dan Erik yang masih beberapa meter dari pintu.
"Ada apa Gail?" Tanya Yuana dengan heran melihat tingkah Gail.
Gail tidak menjawab. Matanya terus menatap orang-orang yang berada dalam ruangan dari balik pintu kaca itu.
"Sepertinya banyak orang di ruang perawatan nona Yuana." Ujar Gail.
"Masuklah! Mungkin rekan kerja tuan Walker." Jawab Erik.
Gail membuka pintu dan masuk diikuti oleh Erik yang mendorong Yuana.
Begitu mereka sudah berada dalam ruangan, Erik dan Yuana sangat terkejut. Yuana menutup mulutnya dan menahan tangisnya.
Erik segera melepaskan kursi roda dan berlari memeluk pria di depannya. Ia memeluk pria itu sangat lama dan menangis haru di bahunya.
"Terima kasih, bro." Ujar Erik dengan suara bergetar menahan tangis.
Setelah melepaskan pelukannya, pria itu berjalan dan mengangkat Yuana dan kursi roda, dan menggendongnya menuju tempat tidur.
__ADS_1
"Kakak sangat merindukanmu. Maafkan kakak yang telah membohongimu agar kamu bisa bahagia. Kakak tahu kamu pasti kecewa sama kakak! Tetapi semua yang kakak lakukan, demi kebahagiaan adik satu-satunya kakak yang cantik ini." Ujar Yosua sambil mengecup kening Yuana sangat lama kemudian memeluknya.
Sementara Erik masih sibuk memeluk sekretaris Bram dan ibu mertuanya.
"Bu, maafkan saya jika telah menyakiti ibu." Kata Erik sambil menangis di pelukan wanita paruh baya itu.
"Tidak apa-apa, nak! Yang penting kalian baik-baik saja. Tolong jaga putri saya, nak!" Kata mamanya Yuana sambil menepuk pundak Erik.
Pasti bu. Saya akan selalu mengingat kata-kata ibu." Kata Erik sambil mempersilahkan ibu mertuanya untuk duduk.
"Hei! Kalau peluk istriku jangan lama-lama!" Kata Erik ketika melihat Yosua belum melepaskan pelukannya pada Yuana.
"Diam di tempatmu dan jangan mendekat. Aku masih ingin memeluk adikku. Apa kau tidak puas memeluknya setiap hari?" Jawab Yosua dengan ketus sambil mengeratkan pelukannya pada Yuana.
Erik terpaku mendengar perkataan Yosua. Namun, ia paham karena Yosua sudah lama tidak bertemu dengan Yuana dan pasti sangat rindu.
Ia memilih duduk dan mengobrol dengan yang lainnya tanpa mempedulikan kakak adik itu.
"Apa kau tidak akan memberikan kesempatan pada ibumu untuk memeluk dan mencium istriku?" Tanya Erik ketika ia melihat Yosua masih tetap memeluk Yuana.
"Berhentilah berbicara, Rik! Aku terganggu dengan suaramu itu. Jujur saja kalau kamu cemburu karena aku memeluk adikku. Apa kau mau aku membawanya kembali?" Kata Yosua pura-pura marah.
"Ok! Aku mengalah! Asalkan jangan kau bawa istri kecilku itu. Kau boleh memeluknya berjam-jam. Aku tidak akan protes lagi!" Kata Erik sambil kembali mengobrol.
"Kak! Yuana sudah memiliki bayi. Kakak sekarang akan menjadi paman. Apa kakak akan terus memanggilku gadis kecil?" Tanya Yuana yang wajahnya masih terbenam di dada Yosua.
"Entah kamu memiliki bayi atau tidak, dan sudah jadi istri orang, atau sudah nenek-nenek sekalipun, kamu tetaplah gadis kecil kakak dan itu tidak akan berubah. Kakak akan selalu memperlakukanmu seperti ini."
"Kasih sayangku tidak akan pernah berubah. Kamu segalanya bagi kakak." Ujar Yosua.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍