Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
59. Ide Briliant Yuana


__ADS_3

Hidup yang berdampak adalah hidup yang mau memberi diri dan melakukan sesuatu kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Memang tidak semua orang akan memiliki pemikiran yang sama untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Tapi jangan lupa! Masih ada mereka yang akan tersentuh untuk melakukan banyak hal baik. Eda Sally


*****


Yuana tidak mau terlalu larut dalam kesedihannya. Karena sudah biasa beraktifitas, Yuana bosan ketika dalam seminggu ini ia hanya berada di rumah. Karena itu, ia mengajak Habib dan Alika untuk melakukan sesuatu demi mengisi waktu luang yang ada.


"Kak! Boleh aku meminta tolong?"


"Boleh adikku. Apa ada yang bisa aku bantu?"


"Begini kak. Lahan di belakang rumah kan cukup luas. Aku ingin agar kita melakukan sesuatu yang ada manfaatnya."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Aku minta tolong kak Habib pergi ke pusat perbelanjaan yang baru-baru kita kunjungi. Kak Habib tolong belikan bibit tanaman berupa bibit sayur-sayuran dan bibit buah-buahan berumur pendek, serta palawija."


"Mau kamu apakan bibit-bibit itu."


"Aku mau kita mengolah lahan kosong di belakang rumah kita dan kita tanami dengan bibit-bibit itu."


"Apa kamu yakin bibit-bibit itu akan tumbuh?"


"Kak! Jenis tanah di sini kan tanah vulkanik. Aku yakin sekali bahwa zat haranya sangat tinggi, dan karena itu tanaman pasti subur."


"Aku juga ingin kita menghasilkan uang sendiri sehingga tidak mengharapkan pemberian dari tuan Zain."


"Wah! Kalau begitu aku mau bantu. Jadi aku tidak setiap hari datang ke rumah sakit hanya untuk melihat dokter Kim."


"Nah! Syukur kalau kamu sudah tobat." Habib mulai menggoda Alika.


"Hahahhaha! Jangan diteruskan kak. Ayo cepat belikan bibit yang aku bilang." Yuana langsung menengahi karena ia tahu akan bertambah panjang jika diteruskan.


Habib langsung pergi untuk membeli bibit yang Yuana minta. Alika melihat kepergian kakaknya dengan melototkan matanya. Ia kesal karena tidak bisa membalas olok-olok kakaknya.


"Kamu serius mau bercocok tanam?"


"Ia aku serius. Daripada tidak ada yang kita kerjakan. Setidaknya biar penduduk disini juga bisa mengikuti jejak kita."


"Apa kamu tidak gengsi kalau dilihat orang dan tidak takut berada di bawah terik matahari?"


"Kenapa harus gengsi? Aku melakukan apa yang aku sukai, bukan yang orang lain sukai. Lagi pula ini kan banyak manfaatnya. Selain dijual, kita juga bisa makan sayur tanpa harus membeli kan? Aku sama sekali tidak masalah jika harus berjemur dibawah matahari."


"Kita juga hanya akan menyiram dan merawatnya pagi dan sore. Jadi siang hari kita bisa istirahat dan aku juga ada waktu untuk mengunjungi sekolah di sini. Aku juga ingin berbagi ilmu dengan anak-anak di sini."

__ADS_1


"Iya, benar juga sih! Kita akan bekerjasama. Sungguh mulia hatimu nona."


"Nah! Itu baru kakakku. Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan. Lagi pula yang namanya ilmu itu harus berbagi. Jangan dipakai untuk diri sendiri."


"Emang selama ini aku bukan kakakmu?" Alika pura-pura marah.


"Iya! Aku juga baru tahu hari ini kalau kamu itu kakakku."


Alika gemas dan mencubit pipi Yuana yang putih dan mulus itu gara-gara Yuana menjawab seperti itu


"Ampun kak! Sakit. Tolong lepaskan."


"Tidak akan aku le..."


"Hei! Kau apakan adikku. Cepat lepaskan!" Kata Habib yang baru saja sampai dan menjewer telinga Alika.


"Ampun kak! Ampun."


Giliran Alika yang berteriak kesakitan. Yuana mengelus pipinya yang masih sakit tapi tidak bisa menahan tawa melihat Habib dan Alika yang masih saling menyerang.


"cukup beb! Mana pesananku."


Habib dan Alika segera berhenti. Habib kemudian menyerahkan bibit tanaman yang dibeli kepada Yuana.


"Apa ada yang kurang?"


"Apa yang bisa aku bantu?"


Yuana kemudian menjelaskan serta membagi tugas untuk mereka bertiga. Mereka tidak peduli dengan panas matahari yang sedang menyerang mereka. Mereka bertiga bekerja dengan sangat antusias sehingga tanpa sadar hari sudah mulai sore.


Tepat di sore hari, bibit-bibit yang dibeli sudah berpindah tempat di dalam tanah. Yuana tersenyum puas dengan apa yang mereka kerjakan.


"Terima kasih banyak kak Habib dan kak Alika. Kita hanya perlu menyiramnya setiap pagi dan sore."


"Apa perlu aku belikan pupuk?"


"Tidak usah beb. Aku ingin agar buah-buahan dan sayuran serta semua tanaman kita bebas kandungan bahan kimia. Jadi kita akan merawatnya secara alamiah."


"Ok adikku. Kalau ada yang perlu aku lakukan, kamu tinggal bilang saja. Kakakmu ini akan selalu ada di depan untukmu." Habib berkata sambil memukul dadanya.


Yuana tertawa melihat lagak Habib. Alika mencibir dan memonyongkon bibirnya. Yuana sudah tahj bahwa jika sudah seperti itu, sebentar lagi akan terjadi perang.


"Cihhh! Lagaknya seperti petani ulung. Padahal usut punya usut, hanya bisa menumpang makan." Alika memulai olok-olok dengan kakaknya

__ADS_1


"Walaupun berlagak tapi bisa sedikit melakukannya. Daripada kamu? Kolam renang hampir kering gara-gara kamu minum."


Alika jengkel tapi juga malu karena kakaknya kembali mengungkit kejadian di kolam renang.


"Pantas saja perawat Olive tidak mau dekat-dekat karena tidak kamu dekati."


Dan kamu mendekati dokter Kim dengan melompat ke dalam kolam untuk mengeringkan airnya?"


"Cukup Beb! Kasihan kak Alika."


Yuana yang tidak tahan melihat Habib mengolok Alika karena pipi Alika sudah merah seperti tomat.


"Tidak masalah kok! Biarkan saja dia terus mengolokku. Nanti kalau kamu jadi nikah sama tuan muda, aku kamu jadikan kakak angkat, dan dia kamu jadikan pesuruh."


"Siapa bilang. Aku akan menjadi asisten pribadi nona Yuana dan kamu yang akan aku jadikan pesuruh."


"Huh! Enak aja. Tak sudi aku menjadi pesuruhmu."


"Bagaimana tidak sudi? Aku kan bawahan langsung dari istri tuan muda, jadi aku punya hak untuk menyuruhmu."


"Kak Habib sombong." Kata Alika kesal.


Alika kemudian meninggalkan Yuana dan Habib menuju rumah karena ia belum masak untuk mereka bertiga. Selama ini, ia tidak pernah mengijinkan Yuana memasak. Padahal Yuana sudah meminta untuk bergantian memasak.


Alika bukan tidak mau. Tapi ia merasa tidak tega melihat Yuana masuk dapur. Ia takut kulit mulus Yuana akan terbakar. Ia sangat menyayangi Yuana dan menganggap Yuana seperti adiknya.


Tidak sedikit pun ia cemburu kepada Yuana karena Habib sangat menyayangi Yuana. Ia tahu kakaknya memang suka mengolok tapi menyayanginya juga. Karena itu ia selalu memperlakukan Yuana dengan sangat baik.


Alasan berikutnya adalah Yuana itu sangat manis sifatnya. Ia pandai membawa diri dan tidak sombong, ditambah lagi dengan banyak hal baik yang ditularkan Yuana padanya.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya guys, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya. 😍😍😍😍😍

__ADS_1


Teruntuk reader tersayang yang setia membaca karya saya, terima kasih dan jangan lupa mampir setiap hari. Buat reader yang baru bergabung, selamat datang.


Buat sesama Author tersayang yang sudah setia mendukung saya, Karena waktu luang saya hanya malam, maka biasanya malam baru saya lihat semua karya Author yang saya favoritkan dan kemudian saya like satu persatu. Jadi mohon maaf kalau biasanya saya mampirnya malam, sementara teman-teman up-nya siang. Saya akan selalu mampir, tapi malam. Love you all😍😍


__ADS_2