Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
75. Bertolak dari Tristan ke Edinburgh (Part 1)


__ADS_3

Datang dan pergi adalah kelaziman yang sering terjadi dalam hidup. Ada saat dimana kita harus tinggal di suatu tempat, dan ada saat dimana kita harus pergi. Mungkin kenangan dengan orang-orang yang selalu bersama-sama dengan kita akan sulit dilupakan, tapi percayalah, hidup memang bukan sesuatu yang bersifat statis.


Kita harus terus bergerak sesuai dengan kehendak semesta atas kita. Nikmati apapun yang terjadi dalam hidup tanpa bersungut, karena semua jalan pasti ada ujungnya. Eda Sally


*****


Erik dan Habib sampai ketika Yuana dan Alika sudah selesai mandi. Wajah Yuana sudah segar setelah mandi, dan tidak terlihat pucat lagi.


"Kenapa lama sekali kak?" Tanya Yuana kepada Erik dengan manja.


"Oh! Kita masih berbincang-bincang dengan para perawat. Rupanya kamu sudah siap, sayang?"


Yuana hanya menanggapi perkataan Erik dengan tersenyum. Erik membalasnya dengan tersenyum dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tidak ingin berlama-lama lagi di sini, karena takut jika ada hal yang lebih buruk lagi akan terjadi.


Setelah selesai membersihkan diri, mereka menikmati sarapan yang sudah disiapkan Alika. Tidak ada yang berbicara saat makan. Habib dan Alika terlihat murung karena jauh di dasar hati mereka, mereka tidak ingin berpisah dengan Yuana dan sudah menganggapnya seperti adik mereka sendiri. Namun, mereka sadar bahwa Yuana harus hidup bahagia dengan orang yang dicintainya.


Setelah selesai makan, Yuana yang sudah membereskan barang-barangnya, segera berjalan menuju Alika dan memeluknya. Ia tidak dapat membendung air matanya.


"Maafkan aku jika selama di sini aku banyak menyusahkan kak Alika."


"Jangan pernah meminta maaf. Aku sudah menyayangimu seperti adikku. Semua yang aku lakukan selama kamu di sini adalah bentuk dari rasa sayangku padamu." Alika menangis sejadi-jadinya.


Yuana kemudian berpindah, dan tanpa kata ia langsung memeluk Habib. Habib terlihat kaku dan mematung tanpa melakukan apapun, apalagi membalas pelukan Yuana. Namun, air matanya tidak mau bekerja sama dan segera mengalir, seolah mewakili Habib untuk menceritakan bahwa ia akan merasa sangat kehilangan.


"Kak! Terima kasih sudah sangat menyayangiku dan menjagaku seperti adikmu sendiri. Aku mohon izinmu untuk pergi dan memulai kehidupan baru bersama orang yang aku cintai."


"Pergilah adikku. Aku akan senantiasa mendoakanmu. Jika suatu saat kamu sudah bahagia, jangan pernah melupakan kakakmu ini."


"Aku akan selalu mengingat pesanmu kak."


Setelah melepaskan pelukannya dari Habib, Yuana berjalan ke arah Erik dan menangis sejadi-jadinya. Ia merasa berat harus meninggalkan Habib dan Alika, karena ketika ia melewati masa-masa sulit, kedua orang itulah yang telah menghibur dan menguatkannya.


"Kak! Aku tidak tega meninggalkan mereka."


"Jangan sedih. Aku janji padamu. Jika semua perjuangan kita sudah usai, aku sendiri yang akan datang menjemput mereka di pulau ini. Aku ingin agar mereka juga melihat dunia luar."


"Apa aku bisa memegang janjimu?"

__ADS_1


"Percayalah padaku." Kata Erik meyakinkan Yuana.


Yuana mengangguk mendengar perkataan Erik. Ia berjalan ke kamar untuk mengambil kopernya, namun sudah di dahului oleh Habib.


"Izinkan kakakmu ini melayanimu untuk yang terakhir kali."


"Ini bukan yang terakhir. Kita pasti bertemu lagi. Aku tidak mau kak Habib mengucapkan kata-kata itu, seolah kita tidak akan pernah bertemu." Kata Yuana dengan wajah cemberut.


"Hahahahha. Iya maafkan kakakmu ini. Kakakmu ini terlalu terbawa emosi karena sedih harus kehilangan adik kakak yang paling cantik."


"Jadi selama ini aku kurang cantik?" Protes Alika.


"Aku tidak bisa menjawabnya, karena alam sendiri telah bersaksi tentang kenyataan itu. Jadi, sadar dirilah!" Kata Habib menggoda Alika.


"Oya? Dan apakah kamu juga merasa sok tampan? Apakah kamu tidak melihat tuan muda sebelum berbicara?"


"Lebih baik kita segera berangkat, agar speed boat yang akan kami tumpamgi jangan sampai dipakai orang lain."


Erik segera menengahi. Ia sendiri sebenarnya merasa geli mendengar kata-kata sindiran kakak adik itu. Karena sejak kecil, ia tidak pernah berdebat dengan sekretaris Bram seperti itu. Semua yang mereka bicarakan selalu bersifat formal.


"Maafkan kami tuan muda." Habib yang menjawab.


"Terima kasih tuan muda." Kata Alika ketika mendengar apa yang dikatakan Erik.


Mereka segera berangkat menuju dermaga dengan berjalan kaki. Habib membawa koper Yuana, sedangkan tas ranselnya dibawa Erik. Alika sudah menawarkan untuk membawanya, namum hal itu ditolak oleh Erik.


"Aku tahu kamu sudah kerepotan selama Yuana ada di sini, dan aku berterima kasih untuk itu."


"Semua yang kami lakukan belum seberapa, tuan muda." Jawab Alika merendah.


Setelah sampai di dermaga, mereka segera mencari speed boat, namun tidak ada karena semua speed boat sudah keluar meninggalkan dermaga. Artinya, mereka harus menunggu.


Di saat mereka kebingungan, dari kejauhan nampak sebuah speed boat meliuk dengan sangat kencang membelah ombak. Para petugas juga bingung karena itu buka speed boat milik mereka. Setelah dekat, Erik kaget melihat siapa yang mengemudi.


"Arthur? Tak ku sangka ia nekat datang ke sini." Erik berkata pada dirinya sendiri.


Arthur segera melompat turun dari speed boat dan menaiki tangga kemudian berjalan ke arah Erik.

__ADS_1


"Aku takut terjadi sesuatu padamu. Karena itu, aku menyusul ke sini. Tenang saja. Itu speed boat milik keluargaku, jadi jangan memikirkan apapun."


"Terima kasih banyak, Arthur." Kata Erik sambil memeluk Arthur karena bahagia.


Sementara itu, Yuana terlihat mendekati Alika.


"Pasang simcard ini di handphonemu, agar aku bisa menghungimu nanti. Aku membeli simcard ini beberapa hari yang lalu."


Air mata Alika menetes ketika menerima simcard dari Yuana. Sedangkan Habib berjalan ke arah Erik dan tanpa rasa sungkan lagi, ia langsung memeluk Erik kemudian berlutut di depan Erik. Erik kaget dengan apa yang dilakukan Habib.


"Izinkan aku dan adikku ikut untuk melayani tuan muda dan nona. Kami sudah tidak memiliki keluarga lagi, dan tidak ada gunanya lagi kami terus bertahan di sini." Kata Habib dengan mengatupkan kedua tangannya di dada.


Yuana dan Alika tidak percaya dengan apa yang dikatakan Habib.


"Aku senang jika kalian ikut bersama kami. Tetapi kalian juga tahu bahwa statusku sekarang adalah seorang buronan. Apa yang akan kalian dapatkan dari mengikuti seorang buronan sepertiku?"


"Aku tidak peduli tuan. Aku tidak butuh digaji, karena aku butuh keluarga yang menganggap aku ada sebagai manusia."


"Bangunlah kak. Tidak baik berlutut seperti itu." Kata Yuana sambil memegang tangan Habib agar berdiri.


"Izinkan mereka ikut, kak." Pinta Yuana pada Erik.


"Aku tidak keberatan, tapi apakah kalian yakin bahwa tuan Zain akan melepaskan kalian begitu saja?" Tanya Erik.


"Apakah itu berarti bahwa tuan mengizinkan kami untuk ikut?"


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2