Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
129. Pindah Rumah


__ADS_3

Ketika waktu mampu mempersatukan dua insan yang pernah terpisah, maka tidak ada hal yang lebih indah selain ungkapan syukur, karena lebih baik berdua daripada seorang diri. Karena Jika yang seorang jatuh, maka yang lain akan mengangkatnya. Jangan pernah membenci atau berniat untuk meninggalkan pasanganmu jika tidak ada alasan berarti untuk berpisah! Eda Sally


*****


Erik segera berlari mengejar Yuana yang hampir mencapai pintu. Dengan mesra ia merangkul Yuana dan keluar bersama-sama dengan wajah ceria yang tidak dapat digambarkan.


Sekretaris Bram yang sedang berdiri tidak jauh dari pintu menatap Erik dengan senyuman penuh arti. Sementara Gail memasang wajah datar menyambut pasangan yang baru saja keluar dari kamar. Sedangkan Arthur hanya cengar cengir melihat tuannya yang tersenyum dengan wajah ceria yang tidak dapat digambarkan.


Gail menatap Yuana dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah takut terjadi sesuatu pada Yuana. Yuana yang tidak terlalu melihat ke arah Gail tidak menyadari tatapan itu.


Erik yang menyadari tatapan yang tidak bersahabat dari Gail semakin mengeratkan rangkulannya pada Yuana. Ia seolah khawatir istrinya akan diambil oleh pria di depannya. Rasa cemburu pun mulai menghampiri hatinya.


Sekretaris Bram paham akan kekhawatiran yang dialami adiknya. Hal itu terlihat jelas dari wajah Erik yang tiba-tiba cemberut dengan tatapan Gail pada Yuana.


"Yuana, kita akan ke rumah tuan Gail sekarang untuk pamit sekaligus membawa barang-barangmu ke sini. Mulai hari ini kamu sudah harus tinggal di sini."


"Hah? Sekarang?"


"Iya! Kamu pikir tahun depan?" Jawab sekretaris Bram balik bertanya karena ia melihat wajah terkejut dari Gail.


Yuana diam mendengar jawaban ketus dari sekretaris Bram. Ia tidak ingin berdebat karena ia tahu kedua pria ini tidak suka pada Gail.


Hmmmmm! Jika Yuana sudah pindah ke sini aku akan sulit bertemu dengannya. Apa yang harus aku lakukan? Ah! Aku akan menggunakan nenek sebagai alasan agar bisa bertemu dengannya. Gail.


"Apa tuan Gail keberatan?" Tanya sekretaris Bram ketika ia melihat Gail tidak memberikan reaksi apapun terkait perkataannya mengenai Yuana yang akan pindah rumah.


"Ahmm, saya sama sekali tidak keberatan tuan. Kita bisa berangkat sekarang." Jawab Gail dengan gugup.


Erik berjalan paling belakang bersama Yuana. Mereka kemudian keluar dan menuju mobil.


"Saya akan bersama tuan Gail memakai mobilnya, sedangkan Arthur bersama Erik dan Yuana." Kata sekretaris Bram.


Mereka tidak mengatakan apapun selain melakukan seperti yang dikatakan oleh sekretaris Bram. Wajah Gail tidak ada senyum sama sekali. Ia benar-benar sangat memikirkan soal Yuana yang akan pindah dari rumah.

__ADS_1


"Saya tahu bahwa tuan Gail menyukai nona Yuana, tapi saya mohon bersikaplah seperti seorang laki-laki agar hubungan kedua adik saya jangan sampai renggang gara-gara tuan Gail. Karena jika itu sampai terjadi, maka saya sendiri tidak tahu apa yang akan saya lakukan terhadap tuan." Kata sekretaris Bram dengan tegas ketika Gail sudah mematikan mesin mobil karena mereka sudah sampai.


"Saya mengerti tuan. Saya akan memperhatikan apa yang baru saja tuan katakan." Kata Gail sambil mengangguk dan segera turun dari mobil.


Nenek Tabitha yang sedang duduk santai di taman depan rumah kaget karena Gail pulang dengan membawa orang asing dan bukan Yuana.


"Yuana dimana Gail?" Tanya nenek Tati ketika melihat Yuana tidak bersama Gail.


"Sebentar lagi sampai nek. Oya nek! Ini kakak dari suami Yuana." Jawab Gail sambil memperkenalkan sekretaris Bram.


"Kaka dari suami Yuana? Apakah Yuana sudah bertemu dengan suaminya?" Tanya nenek Tati dengan suara yang terbata.


"Iya nyonya. Mohon maaf jika mengganggu." Jawab sekretaris Bram sopan sambil menunduk memberi hormat.


"Oh! Maafkan saya tuan. Panggil nenek saja! Mari silahkan masuk." Jawab nenek Tati.


Baru saja mereka akan masuk, mobil yang membawa Yuana dan Erik pun sampai. Erik dengan hati-hati sekali membantu Yuana turun dari mobil dan merangkulnya.


Nenek Tati yang melihat pemandangan pria tampan yang bersama Yuana nampak memelototkan matanya. Ia tidak percaya melihat kenyataan bahwa suami Yuana setampan itu.


Nenek Tati kemudian mendekat dan mengamati wajah Erik dengan teliti seolah tidak percaya bahwa itu adalah suami Yuana.


"Kau benar-benar sangat tampan, nak." Nenek Tati mengulang lagi pujiannya pada Erik.


"Terima kasih nek, tapi saya rasa nenek terlalu memuji." Jawab Erik dengan sopan.


"Saya mengatakan yang sebenarnya, nak!"


"Terima kasih, nek!" Jawab Erik singkat.


"Jangan pernah meninggalkan istrimu lagi. Ia membutuhkanmu, apalagi istrimu sedang hamil. Ayo, masuk dulu!" Kata nenek Tati lebih lanjut.


Tanpa mengatakan apapun mereka masuk mengikuti nenek Tati ke dalam rumah.

__ADS_1


"Maafkan kami jika tidak sopan nek! Kami sangat berterima kasih karena nenek telah menolong istri adik saya. Kami tidak akan pernah bisa membalas kebaikan nenek pada Yuana. Hanya ini yang bisa kami berikan sebagai tanda mata untuk nenek dan tuan Gail." Kata sekretaris Bram sambil memberikan dua buah kotak yang sejak tadi dipegang Arthur.


"Ah, jangan repot-repot tuan. Yuana wanita yang baik, dan saya sudah menganggapnya seperti cucu saya sendiri."


"Silahkan duduk dan mengobrol dulu. Saya akan membereskan barang-barang Yuana." Kata nenek Tati sambil beranjak yang diikuti oleh Gail.


"Yuana duduk saja dan temani tamu kita. Biar nenek dan Gail yang membereskan barang-barangmu." Kata nenek Tati ketika melihat Yuana hendak bangun. Nenek Tati tidak mengizinkan Yuana karena ia melihat Erik tidak melepaskan pelukannya dari Yuana.


Para pelayan yang menyiapkan minum untuk tamu nyonya rumah mereka terlihat berbisik-bisik menyaksikan ketampanan Erik dan sekretaris Bram.


"Maafkan aku cucuku. Aku bukan tidak tahu perasaanmu pada Yuana, tetapi aku tidak ingin merusak hubungan orang hanya karena cinta buta yang tidak diperhitungkan dengan baik. Aku percaya kamu akan mendapatkan wanita yang baik." Bisik nenek Tati di telinga Gail ketika ia melihat wajah pria itu terlihat lesu seperti kehilangan semangat hidup.


Gail tidak menanggapi bisikan neneknya. Ia sibuk membereskan barang-barang Yuana tanpa mengatakan apapun. Tanpa disadarinya air matanya tumpah begitu saja ketika ia akan memasukkan baju anak-anak dan beberapa mainan yang sudah dibelinya untuk Yuana.


Aku sangat mencintainya Tuhan. Maafkan aku jika aku salah, tetapi aku merasakan hidupku berubah menjadi lebih baik ketika aku mengenal wanita ini. Aku tidak sanggup berpisah dengannya. Jika aku tidak bisa memilikinya, izinkan aku setiap hari bisa menatap wajahnya entah dengan cara apapun. Gail.


Nenek Tati yang melihat cucunya menangis segera mengusap punggung Gail dan tanpa sadar air matanya pun tumpah.


"Kita harus ikhlas melepas Yuana. Kita menyayanginya, tetapi kita bukan orang yang tepat untuk selalu ada di dekatnya. Karena suaminya lebih berhak atasnya." Kata nenek Tati sambil tersenyum.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2