
Dalam hidup ini, seringkali kita dihantui dengan berbagai ketakutan. Saat ketakutan menghantui kita, ada perasaan tidak mampu dan tertekan seolah kita tidak bisa keluar dari rasa takut itu. Satu-satunya jalan yang harus kita lakukan adalah membuang rasa takut dan meyakinkan diri kita bahwa kita bisa mengalahkan ketakutan itu. Buanglah rasa takut dan khawatirmu! Eda Sally
*****
Perut Yuana semakin membesar seiring berjalannya waktu. Rasa ngidam sejak usia empat bulan untuk melihat wajah sang mertua masih terus berlanjut hingga kini.
Selesai melakukan panggilan video dengan sang ayah mertua, yang tentu saja dilakukan dengan sembunyi alias mengintip dari balik layar televisi karena belum sanggup menampakkan batang hidungnya, Yuana bergegas keluar untuk melihat Garrick.
Erik masih sibuk membereskan sambungan kabel yang digunakan untuk melakukan panggilan video.
Dari jauh Yuana melihat Alika, Habib, dan Gail sedang menemani Garrick bermain sambil mengobrol.
Yuana senang melihat pemandangan itu, karena walaupun ketiganya sering terlibat adu mulut, namun ketiganya saling menyayangi.
Usia Garrick yang sebentar lagi dua tahun tidak membuat Yuana khawatir lagi, apalagi Garrick sekarang berada di tangan pengasuh yang tepat.
"Aku heran! Sudah tahu nona muda bersuami, kamu masih saja sering datang. Apa memang kamu benar-benar sudah tidak ada rasa malu lagi?" Ujar Alika kepada Gail dengan kata-kata yang pedas.
"Suka suka aku! Apa urusannya denganmu? Dasar wanita rese. Untung saja Yuana sudah menganggapmu seperti kakaknya sendiri."
"Jadi mau tidak mau aku juga harus menganggapmu adik. Padahal melihat wajahmu saja aku bukan hanya bosan, tapi langsung mengantuk." Balas Gail.
"Kalau bosan tidak usah ke sini. Lagi pula aku juga tidak suka melihat wajahmu yang seram itu. Menakutkan jika dilihat Aku bahkan tidak punya selera makan jika melihat wajahmu." Jawab Alika.
"Bilang saja kau iri karena aku tampan." Ujar Gail.
Alika tidak menanggapi perkataan Gail. Sebagai jawabannya, ia membuka sepatunya dan langsung memukulkannya pada Gail.
Gail yang sudah menduga hal itu segera berlari menghindari serangan Alika. Alika yang sudah terlanjur emosi, segera mengejar Gail karena ingin melampiaskan amarahnya.
Yuana yang baru saja tiba dan melihat kedua orang itu berkejar-kejaran, hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Maafkan Alika, Nona muda." Ujar Habib dengan sopan.
"Santai saja, Habib! Alika sama Gail memang cocok. Semenjak ada Gail, Alika sudah tidak lagi bertengkar denganmu." Jawab Yuana sambil tertawa.
"Siapa bilang nona? Jika ada Gail saya bebas, tetapi jika tidak ada Gail, kami tetap seperti Tom and Jerry." Jawab Habib.
"Aku tahu itu cara kalian dalam menunjukkan rasa sayang masing-masing. Jaga adikmu dengan ba aaaa......." Yuana tidak dapat melanjutkan perkataannya dan berteriak sambil memegangi perutnya.
"Nona baik-baik saja?" Tanya Habib dengan bingung.
"Gail! Alika...! Hentikan!" Teriak Habib dengan kencang yang membuat kedua orang itu langsung menghentikan aksi kejar-kejaran mereka.
__ADS_1
"Ada apa? Mengganggu saja!" Gail menggerutu sambil mendekati Habib dan Yuana.
Ketika melihat Yuana menutup mata sambil memegang perutnya, Gail langsung berlari.
"Cepat gendong nona muda dan ikut aku. Jangan tunggu lagi." Teriak Gail sambil terus berlari.
Untuk sesaat Habib kaku dan merasa tidak enak hati jika harus menggendong Yuana. Ia terlihat mondar mandir sambil mengusap dadanya.
"Cepat, Habib! Kasian nona muda kesakitan!" Hardik Alika sambil menurunkan Garrick dari sepeda kemudian berlari ke rumah utama.
"Tuan....! Tuan...!" Panggil Alika sambil memukul-mukul pintu yang memang tidak tertutup.
"Ada apa Alika?" Tanya Erik dengan heran karena Alika tidak pernah berteriak kepadanya seperti itu.
"Maafkan saya, Tuan! Nona muda.." Alika berusaha menelan slivanya tanpa mampu melanjutkan kalimatnya.
"Yuana kenapa? Ada di mana dia?" Tanya Erik dengan khawatir.
Alika hanya menunjuk ke arah area bermain Garrick dengan tangannya. Erik langsung berlari ke arah yang ditunjuk Alika.
Dari kejauhan ia melihat Yuana susah payah memegng perutnya, namun tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Kamu kenapa sayang? Maafkan aku." Ujar Erik sambil menggendong Yuana.
"Tahan, sayang! Kita ke rumah sakit sekarang." Ujar Erik sambil setengah berlari ke depan rumah utama.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Gail dengan wajah pemuh khawatir yang berpapasan dengan mereka. Karena terlalu lama menunggu di mobil, Gail datang mengecek lagi.
"Aku juga baru diberitahu Alika." Jawab Erik sambil terus berjalan. Ia tidak bisa berlari karena berat badan Yuana bertambah sejak kehamilan keduanya.
Salah satu pelayan yang sudah mempersiapkan segala keperluan Yuana, langsung memasukkan semua keperluan lain ke dalam mobil lain yang dikendarai oleh Habib.
Setelah membantu Erik dan Yuana masuk ke dalam mobil, Gail langsung masuk ke bagian kemudi dan langsung melarikan mobil itu dengan sangat kencang.
"Hati-hati, Gail." Tegur Erik ketika ia merasa bahwa mobilnya terlalu kencang. Setelah berkata demikian, Erik semakin mengencangkan pelukannya pada sang istri yang menutup mata sambil memegangi perutnya karena kesakitan.
"Kak!" Hanya itu yang keluar dari mulut Yuana.
"Tahan sayang! Sebentar lagi kita sampai." Ujar Erik berusaha menenangkan Yuana.
Baru saja Erik selesai berkati, Gail sudah memasuki halaman rumah sakit.
Empat orang suster yang disuruh dokter Stevi dan sudah menunggu segera membantu Erik menurunkan Yuana kemudian membaringkannya dan langsung mendorongnya sambil berlari menuju ruang persalinan.
__ADS_1
"Perutnya sakit sejak kapan?" Tanya dokter Stevi.
"Sejak saya menelpon dokter." Jawab Gail.
"Terima kasih, Gail!" Jawab dokter Stevi sambil tersenyum.
Erik terlihat mondar mandir tidak jelas sambil menutup matanya. Ia tidak sanggup melihat Yuana yang kesakitan tetapi hanya mampu menutup mata tanpa mengeluarkan suara.
"Yang lain boleh keluar! Hanya suaminya yang boleh tinggal." Ujar dokter Stevi dengan sopan.
Erik segera menghampiri tempat tidur tempat Yuana berbaring dan membelai perutnya.
"Terima kasih telah berjuang untuk mengandung dan melahirkan anak-anakku. Maafkan aku." Ujar Erik sambil terus membelai perut Yuana.
"Tuan, Jika istri anda masih bisa jalan-jalan, ajak ia jalan-jalan sebentar di lorong rumah sakit ini." Tawar dokter Stevi.
"Apa melahirkannya masih lama, Dok?" Tanya Erik dengan nada khawatir.
"Ini baru pembukaan delapan." Jawab dokter Stevi.
"Saya tanyakan dulu, Dok!" Ujar Erik.
"Aku ingin tetap tidur saja di sini. Rasanya semuanya sakit. Ini sangat menyakitiku, Rik! Aku tidak mampu jalan-jalan. Biarkan aku tidur saja." Pinta Yuana dengan napas yang naik turun semakin cepat karena menahan sakit.
"Ok! Tidur saja! Aku akan tetap duduk di sini. Katakan apa yang kamu inginkan. Aku tidak tahu harus melakukan apa." Ujar Erik sambil terus menatap wajah Yuana dan terus membelai perut buncit Yuana.
"Kak! Aku takut! Aku sudah tidak kuat!" Ujar Yuana dengan suara yang sangat lemah.
"Tidak! Aku tidak ingin mendengar apapun! Jangan membicarakan sesuatu yang menakutiku! Please!" Jawab Erik.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍