Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
167. Masa Kecil Bram Wiliam


__ADS_3

Perubahan dalam hidup pasti akan terjadi setiap hari. Perubahan membuat kita mengerti bahwa hidup itu terus berjalan. Kita perlu tanggap dengan setiap perubahan, karena jika tidak, kita sendiri yang akan terhempas oleh arus perubahan. Eda Sally


*****


Sekretaris Bram tidak menyangka bahwa Yuana akan bertanya tentang masa kecilnya. Ia sadar, bahwa wanita itu memiliki rasa sayang dan peduli padanya.


"Tidak ada yang terlalu spesial. Kenapa kamu ingin tahu?" Tanya sekretaris Bram.


"Mungkin Yuana hanya ingin tahu, jadi mami yang akan bercerita." Ujar Jessy Wiliam.


"Terima kasih, ma." Balas Yuana dengan senyum di bibirnya.


"Kakak kalian ini benar-benar anak yang spesial dan titipan Tuhan."


"Karena papa dan mami sudah menikah selama hampir empat tahun, dan tidak dikaruniai seorang putra."


"Walau papa kalian tidak menuntut, tetapi sebagai perempuan sekaligus seorang ibu, mami selalu memikirkan hal itu."


"Bahkan itu terbawa sehingga setiap kali mami di Rumah Sakit, mami beberapa kali tidak fokus dalam menangani pasien."


"Suatu ketika, ada seorang wanita seusia Yuana, datang sendiri tanpa diantar oleh siapa pun ke Rumah Sakit."


"Ia berjalan ke arah mami sambil memegangi perutnya dan terlihat kesakitan dengan menenteng tasnya."


"Mami yang baru saja turun dari mobil dari mobil karena hendak piket di Rumah Sakit, kaget melihat seorang wanita hamil yang terlihat sangat kesakitan."


"Mami berlari ke arahnya dan menanyakan kondisinya, kemudian langsung membawanya ke ruang persalinan untuk diperiksa dan memberikan pertolongan."


"Teman mami yang spesialis kandungan langsung menangani wanita tersebut. Mami berusaha menanyakan suaminya, tetapi wanita itu seperti tidak peduli."


"Ia hanya fokus mendengarkan instruksi dokter untuk melahirkan bayinya."


"Kami semua yang berada dalam ruangan terlihat tegang karena wanita itu walaupun kesakitan, tetapi berusaha menahan diri agar tidak bersuara."


"Beberapa jam perjuangan untuk melahirkan bayi-nya tidak membuahkan hasil, padahal ia sudah pembukaan sepuluh."


"Teman mami menawarkan oprasi, tetapi wanita tersebut menolak dan bersikeras untuk melahirkan dengan normal."


"Ketika bayi, yang adalah kakak kalian sudah berhasil dilahirkan dengan normal melalui perjuangan yang berat, wanita itu tersenyum ke arah mami dan menganggukkan kepala."


"Mami yang mendampinginya, diminta untuk mambantunya meletakkan bayi itu digendongannya."


"Mami menyerahkan bayi itu dan digendong oleh wanita tersebut."


"Namun, baru beberapa menit, ia melihat ke arah mami dengan tatapan yang terlihat menyedihkan, sambil tersenyum paksa."


"Ia lalu mengatakan agar mami berkenan merawat bayi-nya dan memberi nama Bram kepadanya."

__ADS_1


"Alasannya, nama itu adalah nama ayah dari bayi tersebut, yang katanya sudah meninggal sejak usia kandungannya baru satu bulan."


"Dia bertanya, apakah mami bersedia merawat bayi tersebut, dan mami hanya mengangguk sebagai jawaban karena suasana haru."


"Mami tidak tega melihat wanita itu menderita, apalagi tidak terlihat airmata si wajahnya."


"Mungkin ia bahagia, karena sebentar lagi akan menuju maut dan bertemu dengam pujaan hatinya, yaitu ayah kandung Bram."


"Setelah menanyakan kesediaan mami, perlahan tubuh wanita tersebit melemah, dan beberapa menit kemudian ia menghembuskan napas terakhir."


"Mami perlahan mengambil Bram yang masih ada dalam gendongannya dan menyerahkannya kepada suster agar dibersihkan."


"Mami terus menangis melihat kenyataan yang sangat menyakitkan di depan mami."


"Hari itu juga, mami langsung membawa pulang bayi tersebut dan merawatnya."


"Lalu, jenasah wanita itu dikemanakan?" Tanya Yuana.


"Jenasahnya diurus oleh papa karena tidak ada kerabat yang datang waktu itu."


"Mami sempat berpikir, mungkin pernikahan mereka tidak direstui keluarga, karena ayah kandung dari Bram adalah seorang dokter, sementara maminya hanya seorang wanita sederhana."


"Dari mana mami tahu kalau ayah kak Bram itu dokter?"


"Dari data diri yang dibawa wanita itu ke Rumah Sakit waktu akan melahirkan."


Sementara sekretaris Bram terlihat biasa saja dengan tidak ada airmata. Mungkin karena ia sudah menerima kenyataan yang sebenarnya tentang masa kecilnya.


"Ma! Kak Bram kan diambil sejak bayi, tapi kenapa ia tidak memanggil papa dan mami?" Tanya Yuana penasaran.


"Kakak kalian ini orangnya sangat formal. Sudah diberitahukan berulang kali, tetapi ia tetap saja memanggil seperti itu."


"Mungkin karena waktu kecil, ia selalu didampingi oleh seorang pelayan khusus yang mengajarkan tentang tata tertib dan lainnya tentang keluarga Wiliam, sehingga ia sudah terbiasa."


"Lagi pula, ia setiap hari harus bersama dengan banyak pelayan yang memanggil tuan dan nyonya."


"Dan juga, setelah ia berusia lima belas tahun, mami dan papa tidak menyembunyikan apapun darinya, dan menceritakan kenyataan yang sebenarnya kepadanya."


"Mami dan papa tidak ingin egois dengan menyembunyikan masa lalunya."


"Apa reaksi kak Bram waktu pertama kali mengetahui kenyataan identitas dirinya?"


"Awalnya ia terlihat sangat terpukul dan mengurung diri berhari-hari di kamar, tetapi mami tidak pernah bosan menasehatinya dan menyakinkan dirinya bahwa mami dan papa menyayanginya."


"Akhirnya, ia mau menerima keadaannya, dan bersikap seperti biasa, karena mami dan papa memang tidak pernah membedakan dia dengan Erik."


"Bagi mami dan papa, keduanya adalah anak kandung yang tidak ada perbedaan apapun."

__ADS_1


"Apa kak Bram suka berantem?" Tanya Yuana.


"Kakak kalian tidak suka berantem, tetapi jika ada yang usil dengan adiknya, maka ia tidak akan segan-segan membuat perhitungan."


"Kakak kalian terkesan sangat melindungi Erik, sehingga apapun yang terjadi, ia akan berkorban untuk Erik."


"Kasih sayangnya kepada Erik bahkan terlihat sampai sekarang, hingga ia rela melakukan apapun demi melihat adiknya bahagia." Ujar Jessy Larina mengakhiri ceritanya.


"Termasuk membohongi papa dan dengan diam-diam menikahkan kalian berdua." Ujar Andre Wiliam mengecam kedua putranya.


Yuana langsung menutup wajah dengan kedua tangannya karena malu dengan apa yang baru saja dikatakan ayah mertuanya.


Erik langsung tanggap dan membelai tangan Yuana yang sementara menutupi wajahnya. Ia perlahan melepas tangan Yuana, dan mengecup wajah imut dan putih mulus itu berulang kali tanpa mempedulikan mereka yang berada di situ.


"Jadi, mami mohon agar kalian bertiga saling menyayangi."


"Jika nanti kakak kalian sudah ada istri, kalian harus tetap saling menyayangi seperti ini."


"Jangan pernah saling menyakiti karena kepentingan tertentu, karena cinta dan kasih sayang tidak dapat dibeli dengan apapun." Jessy Larina menasehati ketiga anaknya.


"Kak Bram! Aku akan menyayangi kakak sebagaimana aku menyayangi kak Yosua."


"Jika kak Yosua tidak ada, aku akan mengandalkan kak Bram. Tolong jangan pernah berhenti menyayangi Erik." Pinta Yuana pada sekretaris Bram setelah Erik melepaskan dirinya dari banyak kecupan yang bersarang di wajahnya.


"Aku janji, akan selalu menjaga kalian dalam segala keadaan, karena kalian segalanya bagi kakak."


"Jika nyawa bisa ditukar, maka kakak akan melakukan itu demi kalian." Ujar Bram sungguh-sungguh.


"Aku tidak menginginkan nyawa kakak, karena nyawa tidak akan menolong jika akan membutuhkan pelindung."


"Aku hanya ingin kita selalu bersama, dengan tidak ada alasan yang memisahkan kita." Ujar Erik.


"Kau benar! Agar jika bersalah, kita sama-sama menerima hukuman, seperti yang sering kita terima waktu kecil karena sifat usilmu itu." Jawab sekretaris Bram sambil tertawa.


Mereka semua tertawa mengenang masa kecil Erik dan Bram.


Bersambung


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍


Hallo semuanya! Novel PERJALANAN PANJANG WANITA TANGGUH menuju part-part terakhir ya. Karena konsep saya, diakhir cerita saya akan menceritakan masa lalu setiap tokoh utama, agar pembaca tidak bingung dan bertanya-tanya tentang masa lalu atau alasan di setiap tindakan para tokoh. Terima kasih sudah setia membaca karya saya. Love You All😍😍

__ADS_1


__ADS_2