Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
142. Hukuman Bagi Esy


__ADS_3

Fungsi hikmat adalah mempertimbangkan semua langkah kita sebelum bertindak. Karena tidak semua tindakan kita akan membawa keuntungan. Mungkin kita berpikir bahwa jalan yang kita ambil sudah benar. Sementara bagi kebanyakan orang, itu adalah sebuah bencana bagi mereka. Di saat itulah kita sedang mendatangkan hukuman bagi diri kita sendiri. Eda Sally


*****


Gail tidak menanggapi ocehan Erik karena ia tahu Erik sedang mengoloknya. Karena itu ia fokus mengemudi tanpa menoleh sama sekali.


Begitu mereka memasuki pintu gerbang, terlihat dari jauh Yuana sedang berjalan mondar mandir sambil melipat kedua tangannya di dada.


Begitu mobil Gail berhenti, ia langsung berlari ke arah mobil dan melupakan kondisinya yang sedang hamil. Gail yang melihat Yuana berlari, segera turun dengan tergesa-gesa dan menangkap tubuhnya.


"Garrick baik-baik saja. Apa kamu lupa kalau kamu sedang hamil?" Ujar Gail dengan penuh khawatir.


"Lepaskan! Aku ingin melihat anakku." Protes Yuana.


Erik segera turun dengan masih tetap menggendong Garrick. Ketika melihat Yuana, Garrick tertawa gembira dan mengulurkan tangannya kepada Yuana. Bayi itu seperti tidak mengalami apapun dan tidak tahu bahwa maut baru saja mengincar nyawanya.


Yuana segera mengambil Garrick dari gendongan Erik dan memeluknya sangat lama. Ia mencium Garrick dengan bertubi-tubi.


"Kamu segalanya bagi mommy, karena kamulah alasan mommy bertahan hidup hingga sekarang. Jika mommy sampai harus kehilangan dirimu, mommy akan turun hidup-hidup ke dunia orang mati." Ujar Yuana dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


"Tolong jangan berbicara seperti itu lagi. Hatiku sakit mendengarnya. Aku tak ingin kehilangan salah satu diantara kalian. Apalagi sebentar lagi anggota keluarga kita akan bertambah." Ujar Erik sambil menutup mulut Yuana dengan tangannya dan mencium puncak kepala sang istri.


"Berikan Garrick kepadaku. Kamu sedang hamil, jadi tidak boleh terlalu lama menggendong Garrick." Ujar Gail sambil mengambil Garrick dari dekapan Yuana.


Erik yang melihat Gail telah mengambil alih Garrick, segera memeluk Yuana dengan erat dan mengecup puncak kepalanya berulang kali.


"Maafkan aku. Harusnya aku tidak menunda untuk memecat Esy. Aku hampir mencelakai anak kita sendiri." Ujar Erik dengan penuh penyesalan.


"Esy mana?" Tanya Gail setelah mendengar Erik membahas tentang Esy.


"Sedang di kurung di gudang rumah belakang oleh security." Jawab Yuana.


"Tolong jaga Garrick, dan jangan mengikutiku. Biar aku yang mengurus perempuan gila itu." Ujar Gail sambil memberikan Garrick kepada Erik.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Gail segera berjalan menuju gudang rumah belakang. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk menampar perempuan itu.


Begitu sampai, pelayan yang berjaga di depan pintu membukakan pintu gudang untuk Gail. Gail menatap Esy dengan tatapan penuh kebencian. Ia melangkah masuk ke dalam gudang yang cukup luas dan terawat itu dengan tatapan buas.

__ADS_1


Esy yang ditatap seperti takut dan menundukkan kepala melihat wajah Gail yang menakutkan itu.


Saat sudah berdiri di depan Esy, Gail menarik rambut Esy dengan kencang dan tanpa disadarinya, segumpal rambut ikut tertarik.


"Jadi kau memakai ini untuk menutupi penyamaranmu? Sayang sekali. Kau tidak akan bisa lari dari tangan keluarga Wiliam. Apa kau tidak sadar dengan siapa kau ingin bermain api?" Tanya Gail dengan geram dan langsung menampar pipi Esy setelah membuang rambut palsunya.


Plak plak plak.


Esy meringis dan memegang pipinya menahan sakit karena tamparan Gail yang sangat keras itu. Kedua ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.


"Sebutkan alamat rumah bosmu, dan bawa aku ke sana untuk bertemu dengannya." Desak Gail pada Esy.


Esy diam tanpa mengatakan apapun untuk menjawab permintaan Gail.


Apapun yang terjadi, aku tidak boleh memberitahukan alamat rumah bos. Jika tidak, kami semua akan berada dalam bahaya. Aku harus tetap tutup mulut. Esy.


"Oh, rasanya aku tidak butuh kau bicara." Ujar Gail sambil memasukan tangannya ke dalam kantong baju Esy dan mengambil handphone Esy.


"Bukankah kau suka disentuh seperti ini? Kau ingin merayu tuan muda untuk mencampakkan adikku?" Ujar Gail sambil dengan kasar tangannya menyentuh seluruh bagian tubuh Esy.


Gail sengaja menahan gigitannya sampai Esy benar-benar kesakitan dan bibir yang digigitnya mengeluarkan darah.


Setelah itu, Gail segera menghentikan gigitannya dan meminta air pada pelayan kemudian mencuci bibirnya.


Selesai mencuci bibirnya, ia memandang Esy dengan tatapan tajam yang membuat Esy ketakutan dengan tatapannya.


Tubuh Esy bergetar dengan hebat, apalagi bibirnya yang terlihat gemetar, dengan separuh isi yang seperti terbelah. Hal ini membuat Esy tidak dapat merapatkan bibirnya.


"Apa kamu masih ingin mencoba yang lain lagi? Itu balasan bagimu karena ingin merampas suami adikku."


"Apa kau tahu aku sangat mencintai nona muda? Walaupun demikian aku berusaha menahan diri karena aku tidak ingin merusak hubungan orang lain. Aku memang suka pacaran dengan banyak wanita, tetapi aku masih tahu diri dan batasan."


"Kau seorang perempuan, tetapi tidak menjaga harga dirimu sama sekali. Kau bahkan melakukan cara murahan untuk merusak hubungan orang lain."


"Dan yang lebih parah lagi, kau ingin membunuh seorang bayi tak berdosa demi keinginan dan ambisimu. Aku tidak habis pikir, dimana hati nuranimu sebagai seorang perempuan sehingga tega untuk mencelakai seorang bayi." Ujar Gail panjang lebar.


"Dan bayi yang hendak kau bunuh itu adalah anakku. Apa kau tidak tahu hal itu? Kau berani sekali mau membunuh anakku?" Ujar Gail dengan geram sambil berjalan kembali ke arah Esy.

__ADS_1


Esy terlihat sangat takut ketika langkah Gail semakin dekat dengannya.


"Tadi aku menghukummu karena ingin merampas suami adikku. Sekarang aku akan menghukummu karena ingin membunuh anakku." Kata Gail sambil berlutut di hadapan Esy.


Tanpa ampun lagi, Gail membuka baju atasan Esy dengan kasar dan meremas kedua benda milik Esy yang menonjol itu dengan sangat kencang.


Esy yang mendapat perlakuan seperti itu berteriak dengan pilu. Teriakannya membuat emosi Gail semakin memuncak, dan Gail semakin mengencangkan remasan tangannya.


Air mata Esy turun seperti banjir bandang yang melanda wajahnya. Peluhnya bercampur dengan air matanya karena rasa sakit yang dideritanya.


"Tolong ampuni aku tuan. Aku tidak akan melakukannya lagi."


"Siapa bilang kau akan melakukannya lagi? Tanpa kau mengatakannya pun aku tahu bahwa kau tidak akan melakukannya lagi."


"Karena setelah menangkap bosmu, aku akan mengirim kalian ke penjara. Dan aku harap, kau bisa memohon ampun di balik jeruji besi." Ujar Gail dengan senyum sinis lalu melepaskan tangannya.


Esy terlihat menarik napas lega, namun wajahnya terlihat pucat karena menahan rasa sakit dan kalimat terakhir Gail.


"Tolong ampuni saya tuan. Jangan memasukkan saya ke penjara. Saya tidak ingin di penjara." Ujar Esy memohon dengan wajah memelas.


"Apa kau pernah memikirkan akibatnya saat kau ingin membunuh anakku? Tidak semudah itu untuk melepaskan orang yang ingin membunuh anakku." Ujar Gail sambil melangkah keluar meninggalkan Esy.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Tolong like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2