
Kesibukan dan berbagai hal yang terjadi dalam hidup, terkadang membuat kita jenuh. Kebanyakan orang sering memilih refresing sebagai jalan satu-satunya untuk membunuh rasa jenuh. Padahal, tanpa refresing pun pikiran akan menjadi jernih jika kita mengelola pikiran kita dengan baik tanpa terbebani dengan apa yang sedang kita hadapi. Segera buang hal yang negatif, dan pertahankan yang positif agar hari-harimu dipenuhi dengan kebahagiaan dan kebaikan. Karena yang positif selalu mendatangkan kebaikan. Eda Sally
*****
Wajah Yuana berseri-seri setelah mandi. Ia terlihat sangat cantik dengan blouse bermotif bunga-bunga. Kulitnya yang putih sangat serasi dengan blouse yang dikenakannya, dan aura cantiknya makin menonjol.
Nenek Tabitha yang melihatnya terkagum-kagum dengan gadis yang sekarang mengisi hari-harinya. Gail sendiri pun hanya mampu membuka mulut tanpa mengatakan apapun. Andaikan dimasukkan satu sendok garam pun Gail akan langsung menelannya karena mulutnya yang terbuka sangat lebar.
"Nek, kita mau keluar sebentar. Apa nenek mau ikut?" Tawar Yuana pada nenek Tati.
"Nenek istirahat di rumah saja nak. Nenek tidak ingin mengganggu kalian. Lagipula, nenek pasti tidak kuat kalau harus jalan-jalan keliling. Kalian hati-hati ya, karena biasanya kalau malam itu taman bermain anak di tengah kota itu ramai." Nenek Tati menolak tawaran Yuana.
"Baik nek. Kalau begitu kita berangkat sekarang." Pamit Yuana pada nenek Tati.
"Ayo Gail! Aku sudah tidak sabar mau ke sana." Kata Yuana menyadarkan Gail yang mulutnya masih terbuka lebar.
"Eh..Ayo!" Gail terbata mendengar ajakan Yuana.
"Kenapa bicaramu tiba-tiba gagap seperti itu Gail?"
"Siapa bilang aku gagap?" Protes Gail.
"Terus yang barusan itu apa? Kamu sebenarnya kenapa?"
"Aku merasa tidak gagap. Ayo berangkat." Ajak Gail.
Mereka segera berangkat. Tidak ada yang berbicara sepanjang jalan karena masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kenapa dia sangat cantik seperti ini? Aku bisa khilaf dan tidak jadi menganggapnya adik jika dia semakin imut dan cantik seperti ini. Gail
Kira-kira seperti apa ya taman itu? Aku penasaran. Kalau aku bermain ayunan di situ pasti sangat lucu. Harusnya Erik yang aku ajak saat ini. Sampai kapan aku harus seperti ini ya? Kenapa aku tidak seberuntung orang lain dalam urusan cinta? Kalau dari dulu aku tahu akhirnya akan seperti ini, aku tidak akan mau mengenal cinta. Aku sama kakakku saja sudah sangat merasakan cinta seorang pria. Dia satu-satunya yang tidak akan pernah meninggalkanku. Ingin aku hubungi, tapi aku masih sangat kecewa padanya. Yuana.
"Hei gadis cantik! Apa yang sedang kamu pikirkan? Ayo turun! Kita sudah sampai." Gail mengagetkan Yuana yang sedang sibuk bermonolog.
"Oh! Terima kasih Gail." Jawan Yuana sambil perlahan-lahan turun dari mobil.
"Mau aku bantu?" Tanya Gail sambil mengulurkan tangan.
"Tidak perlu Gail! Aku bisa sendiri." Yuana berkata dengan senyum manisnya yang khas.
"Ok! Hati-hati ya."
Setelah turun, mereka berjalan ke arah taman, dan Yuana kaget karena ternyata sangat banyak orang yang datang. Yuana tersenyum sendiri melihat tingkah anak-anak yang lucu. Tanpa sadar ia memegang perutnya dan mengelusnya.
__ADS_1
Gail yang melihat kelakuan Yuana, segera membalikkan badan dan melihat ke lain tempat. Ia tidak tega melihat Yuana seperti itu.
"Mau ku belikan sesuatu? Jika kamu menginginkan sesuatu, katakan saja. Aku akan membelikannya untukmu." Tanya Gail pada Yuana.
"Aku belum ingin apa-apa Gail. Bagaimana kalau kita ke tempat ayunan saja? Aku ingin menonton anak-anak yang bermain dari situ."
"Ok! Ayo!" Gail berkata sambil menganggukkan kepala.
Mereka berjalan ke arah ayunan. Yuana terlihat senang sekali. Ia duduk diatas ayunan dan tersenyum sendiri. Tiba-tiba seorang anak berusia sekitar 4 tahun mendekati Yuana.
"Aunty. Philip ingin naik ke ayunan yang diduduki aunty. Apakah aunty bisa turun?"
"Oh, anak pintar. Baiklah. Aunty akan pindah."
Yuana segera turun dari ayunan dan hendak berjalan, tetapi anak itu memanggilnya lagi.
"Aunty. Bantu Philip dorong ayunannya." Teriak Philip.
Mau tidak mau Yuana berbalik dan tersenyum kemudian berjalan ke arah anak itu dan hendak mendorongnya. Belum sempat ia memegang ayunan, Gail sudah memegangnya.
"Philip tidak mau mainan sama uncle. Philip mau Aunty saja. Hu hu hu."
Tangisan Philip membuat Gail kelabakan. Ia bingung harus melakukan apa.
"Tapi kamu sedang hamil. Kalau anakku kenapa-napa bagaimana?" Tanya Gail dengan khawatir.
Gail langsung berlutut di depan ayunan yang diduduki Philip.
"Maafkan uncle ya? Uncle tidak bermaksud membuat Philip menangis. Tetapi di dalam perut aunty itu ada dede bayi. Jadi aunty tidak boleh kecapean. Kalau aunty kecapean nanti dede bayinya sakit. Philip tidak mau kan kalau dede bayinya aunty sakit?" Gail memamerkan senyumnya pada Philip.
Philip langsung diam mendengar apa yang dikatakan Gail, lalu melihat ke arah Yuana seolah meminta kepastian dari apa yang dikatakan Gail.
"Apa yang dikatakan uncle benar Philip" Kata Yuana dengan tersenyum
"Mana dede bayinya? Kenapa Philip tidak melihatnya?"
"Karena dede bayinya masih terlalu kecil." Jawab Yuana sambil mengelus kepala Philip.
"Kalau begitu maafkan Philip ya aunty. Aunty yang main ayunan saja, biar dede bayinya senang. Philip mau kembali ke mommy saja." Kata Philip perlahan turun dari ayunan.
"Mana mommymu?" Tanya Yuana.
Philip segera menunjuk seorang ibu yang tidak jauh dari mereka kurang lebih dua puluh meter dan kemudian berlari ke arah ibu itu. Terlihat seorang wanita cantik yang sementara menggendong seorang bayi.
__ADS_1
"Pantas saja dia mau mengalah begitu aku kasih tahu kalau kamu hamil, karena dia sudah punya adik, jadi paham."
"Terima kasih Gail. Saat kamu berbicara dengan Philip, kamu terlihat seperti bapak-bapak berusia 40 tahun yang sementara membujuk anaknya." Kata Yuana menutup mulut dengan tangannya karena menahan tawa.
"Apa kamu bilang? Ulangi lagi!" Gail pura-pura marah
"Apa kamu tidak sadar bahwa beberapa bulan lagi aku akan menjadi seorang dady?"
"Iya dady Gail. Maafkan aku." Yuana berkata dengan masih cekikikan.
Jadi semakin gemas kan melihat dia tertawa seperti itu? Tuhan, tolong berikan kekuatan padaku agar bisa menahan diri melihat wanita cantik ini yang sangat menggoda.
"Iya! Dady maafkan. Tapi jangan suruh-suruh dady lagi. Dady tidak akan mau. Dady mau balas dendam karena sudah ditertawakan."
Yuana semakin lucu melihat wajah Gail yang terlihat sangat lucu kalau sedang marah.
"Dady, ayo makan terus pulang! Aku sudah lapar."
"Katanya mau melihat anak-anak mainan. Sudah bosan?"
"Belum bosan, tetapi moodku hilang sejak Philip menyuruhku bangun. Aku jengkel tetapi karena dia itu anak kecil, jadi aku tidak bisa memarahinya."
"Ok! Ayo makan! Anakku pasti sudah lapar."
Yuana tersenyum mendengar apa yang dikatakan Gail, yang menurutnya terdengar lucu jika mengatakan seperti itu.
Jadi begini ya orang kalau hamil. Katanya menyukai sesuatu. Begitu sudah ada di depan mata, malah mengajak pergi. Dipikir-pikir juga membuang-buang waktu saja. Harus ekstra sabar delapan bulan lagi. Kuatkan aku Tuhan. Gail.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍
__ADS_1