
Menyelesaikan suatu hal bukan berarti perjuangan telah usai. Karena justru dari situlah segala sesuatu akan dimulai. Kadang kita harus tertatih, tapi jangan pernah berhenti karena perjalanan masih terlalu panjang untuk dilalui. Eda Sally
*****
Yuana yang menekuni penampilan di resto milik pak Farel hanya bertahan selama 3 bulan karena ia disibukkan dengan mengerjakan skripsi.
Yuana yang pada dasarnya cerdas tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan skripsinya. Karena ketekunan dan kerja kerasnya, ia benar-benar menyelesaikan kuliahnya hanya dalam waktu tiga tahun.
Walau pun mendapat beasiswa dan difasilitasi oleh papa Jack, Yuana tidak pernah menjadikan itu semua untuk bermain-main. Ia sangat menghargai waktu sehingga baginya tidak ada waktu untuk berdiam diri dan tidak melakukan apapun.
Hari ini ia akan di wisuda. Ayah, Ibu, Yosua, mami, dan papa terlihat sangat bahagia. Mereka semua datang hanya untuk menyaksikan ia memakai toga.
"Mi, Apakah Nita tidak ada kabar?" Katanya mau datang. Tanya Yuana pada mami.
"Mami juga belum dapat kabar." Kata mami menimpali
Ah, andaikan kamu ada di sini, Nit! Aku tentu akan memelukmu dan sangat berterima kasih karena kamu telah memberikan aku tempat, tidak hanya di rumahmu tapi di hati orang tuamu juga. Kamu membuatku menyadari bahwa saling menyayangi tidak harus serahim. Semoga kamu baik-baik saja di sana. Yuana
Mereka akan memasuki ruangan aula tempat akan dilangsungkan wisuda. Tiba-tiba mata Yuana menangkap sosok yang sangat dikenalnya, yang sudah dirindukannya selama tiga tahun.
"Nita?" Tanpa sadar air matanya lolos begitu saja.
semuanya terkejut dan mengikuti pandangan Yuana.
Nita yang melihat Yuana dan yang lainnya segera berlari ke arah mereka dan langsung memeluk Yuana
Setelah melepaskan pelukannya Nita berkata:
"Kenapa kamu jelek di saat kamu akan di wisuda?"
Bayangkan itu pernyataan yang keluar dari mulut Nita seolah-olah tidak melihat Yuana yang menangis haru. Ia memang tidak ambil pusing karena tidak ingin melihat Yuana menangis.
Cih, selalu begitu. Sifat usilnya masih ada. Hei kamu tidak melihat kalau aku cantik? Yuana
"Sana peluk mami sama papa dan yang lainnya. Kita akan segera masuk. Kamu datang tepat waktu." Yuana tidak mempedulikan ocehan Nita dan mengusir Nita secara halus.
Nita kemudian beralih memeluk maminya dengan sedikit drama. Menangis tentunya. Ia meluapkan semua rindu yang sudah ia tahan selama tiga tahun.
Setelah itu beralih dan memeluk papanya tanpa melupakan paman dan tante serta Yosua.
__ADS_1
Mereka segera masuk ke dalam untuk mengikuti acara wisuda yang akan segera dimulai.
Acara demi acara telah berlangsung dan kini akan diumumkan mahasiswa yang lulus dengan status cumlaude. Semua menahan napas ketika sampai acara yang satu ini. Bahkan pada saat itu andaikan ada jarum yang jatuh pun mungkin akan terdengar.
Di tengah keheningan itu, Rektor segera berdiri dan kemudian berkata:
"Untuk lulusan angkatan ini, dengan predikat kelulusan Sangat Memuaskan dan predikat cumlaude di raih oleh ananda,,,,,,,,,,,,,,Yuana Samantha."
"Kepada ananda Yuana Samantha diharapkan maju ke depan."
Terdengar tepuk tangan yang sangat meriah memenuhi seluruh ruangan.
Semua yang mendampingi Yuana terlihat menahan tangis bahagia karena hasil yang dicapai Yuana, apalagi ketika Yuana di panggil untuk maju ke depan.
Yuana maju dengan perasaan yang berkecambuk antar sedih, terharu, dan bahagia. Ia terlihat kikuk ketika di suruh menyampaikan sepatah kata. Ia menerima mic dengan ragu-ragu, tapi kemudian memantapkan hati dan berkata:
"Hari ini, saya perlu menyatakan rasa syukur yang sangat dalam kepada Tuhan yang telah mengijinkan saya untuk meraih semuanya seperti saat ini. Keberhasilan dan pencapaian ini juga tentu tidak saya dapatkan atas usaha saya sendiri. Ada banyak orang di belakang saya yang telah banyak mengorbankan segala sesuatu agar saya bisa berdiri di tempat saya hari ini."
"Dengan rendah hati saya menyampaikan terima kasih kepada ayah, Ibu, dan kak Yosua yang senantiasa mendukung saya. Dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada mami, papa, dan Nita yang sudah banyak mendorong serta memfasilitasi dengan banyak cara agar saya bisa meraih posisi ini. Juga ucapan terima kasih kepada Bapak/Ibu dosen yang telah membimbing saya selama ini, dan teman-teman sekalian yang telah menjadi tempat berbagi banyak hal dan belajar bersama."
"Saya sadar, ini belum seberapa. Saya masih harus banyak belajar karena masih banyak hal yang harus saya hadapi di luar sana."
Yuana dengan lancar mengakhiri sambutannya. Semua mata yang tertuju kepadanya seperti di hipnotis dan serentak memberikan tepuk tangan yang sangat meriah.
Kamu pantas mendapatkan ini Yu. Aku bangga padamu. Ketekunanmu membuat kamu pantas berdiri di tempatmu hari ini. Nita
Setelah acara selesai, Yuana dan keluarganya segera pulang. Mereka tidak langsung ke rumah. Karena pak Farel, papanya Rey, memberikan gratis makan siang bersama kepada mereka semua atas keberhasilan Yuana.
"Ini sebagai ucapan terima kasih karena Yuana telah banyak membantu perkembangan resto keluargaku. Dulu sebelum Yuana menyanyi di sini, resto ini memang selalu ramai, tapi pelanggannya naik drastis ketika Yuana bekerja di sini." Om Farel terlihat berbicara panjang lebar.
"Ah, jangan seperti itu om. Yuana jadi tidak enak. Yuana juga hanya menyalurkan hobi om."
Pura-pura berkata seperti itu, padahal aslinya senang karena mami sama papa tidak perlu mengeluarkan uang untuk acara makan-makan.
"Selamat ya Yu. Ini dari aku, mami, dan papa." Nita menyodorkan bunga dan satu buah kotak kecil berwarna merah.
"Kamu bisa datang saja aku sudah sangat bersyukur Nit."
Berkata begitu tapi tangannya usil juga untuk membuka kotak itu karena sudah dibunuh rasa penasaran.
__ADS_1
"Buka saja, jangan malu-malu." Nita seolah paham dengan isi hati Yuana dan menyuruhnya untuk membuka kotak tersebut.
Kira-kira isinya apa ya.
Tangannya terus bergerak membuka dan begitu terbuka ia sendiri kaget karena isinya sebuah cincin yang sangat bagus dan tentu saja mahal.
Wah! Harga cincin ini kalau di taksir, harga baju-bajuku dijual semua pun belum cukup untuk membeli cincin seperti ini. Yuana.
"Dan ini dari aku, ayah, dan ibu." Yosua juga memberikan sebuah bingkisan dengan bunga.
"Kalau mau buka tidak apa-apa. Jangan sungkan. Tidak ada wartawan yang meliput acara ini kok. Ini benar-benar privat." Nita mulai usil.
"Tidak mau. Nanti di rumah saja. Ayo makan dulu."
Yuana mengalihkan pembicaraan karena jika dibiarkan, Nita akan terus berkicau.
Mereka makan dengan tidak ada aturan tidak bicara saat makan, karena Nita sejak tadi mendominasi dengan berbagai pertanyaan kepada mereka semua. Ia tidak peduli dengan aturan. Baginya ia harus melepas semua yang sudah ia tahan selama tiga tahun.
Meja tempat mereka makan terlihat penuh dengan suasana bahagia, terpancar dari wajah mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍
__ADS_1