
Situasi sulit terkadang membuat kita tidak berani membayangkan hal-hal yang indah, karena bayangan ketakutan akan situasi sulit seolah-olah menutupi seluruh hasrat kita untuk bahagia.
Kebahagiaan ditengah situasi sulit juga seolah semakin memberikan trauma dan ketakutan. Hal paling penting yang harus dilakukan adalah tetap percaya bahwa di dalam keadaaan apapun kita berhak untuk bahagia, karena masih ada banyak orang di belakang kita yang senantiasa akan ada dan mendukung kita. Eda Sally
*****
"Selamat pagi, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya si penerima telepon dari seberang.
"Iya. Aku membutuhkan bantuanmu. Dan semua yang harus kamu kerjakan sudah ada di dalam file yang aku kirimkan melalui email-mu." Jawab si penelpon.
"Baik, tuan. Akan saya kerjakan."
"Iya! Kerjakan sesuai prosedur dan jangan ada Pertanyaan. Lakukan saja semua yang sudah saya jelaskan di dalam file."
"Baik. Terima kasih tuan." Jawab si penerima telepon.
Ada tugas apa ya? Kedengarannya seperti penting sekali? Kenapa tuan tidak meminta tolong orang-orang di kantor pusat? Perasaanku jadi tidak enak. Ah! Sebaiknya aku buka email dan periksa saja daripada penasaran seperti ini.
**********
Yuana dan yang lainnya belum puas menyelesaikan liburan yang masih tersisa empat hari, namun Arthur sudah memilih untuk kembali ke London. Agatha yang mengetahui kenyataan itu sangat kecewa.
"Mana janjimu untuk menemaniku sampai masa liburanmu selesai?" Protes Agatha.
"Maafkan aku, sayang. Aku janji akan datang sebulan sekali."
"Aku tidak percaya dengan janjimu."
"Percayalah padaku! Tuan muda sudah menyadarkanku dan aku akan melakukan apa yang disarankan tuan muda untuk datang sebulan sekali ke sini hanya untuk bertemu denganmu." Kata Arthur meyakinkan Agatha.
Agatha menundukkan kepala karena tidak dapat menahan kesedihannya. Satu tahun tidak bertemu membuatnya sangat merindukan Arthur, dan rindunya belum terpuaskan karena masih ingin bersama dengan Arthur tidak sesuai dengan harapannya karena Arthur akan pulang dan ia sangat sedih.
Arthur sadar bahwa ia pun tidak tega. Namun, ia harus melakukan hal ini demi sebuah janji yang pernah ia ucapkan. Arthur kemudian segera berangkat dengan kereta api yang sudah di pesannya.
"Kamu harus mempercayainya karena cinta butuh kepercayaan." Kata Yuana menepuk bahu Agatha sambil tersenyum setelah kereta api yang membawa Arthur hilang dari pandangan mereka.
"Terima kasih, nona muda." Kata Agatha sambil merangkul Yuana.
Pantas saja tuan muda sangat mencintaimu, karena setiap tutur katamu lembut dan selalu menyejukkan hati. Agatha
Mereka kemudian pulang ke rumah dan beristirahat. Karena Arthur sudah pulang, maka yang menemani Erik hanya Habib.
"Apakah tuan yakin ingin merahasiakan ini dari nona muda?"
__ADS_1
"Aku sangat yakin dengan apa yang aku lakukan."
"Baik tuan. Aku percaya padamu."
Sementara Agatha terlihat sangat senang, karena ia memiliki teman berbagi cerita di rumah. Ia senang mengajak Yuana dan Alika bercerita, sehingga mereka sampai tidur di saat subuh.
*******
Yuana yang baru saja duduk di depan rumah setelah selesai mandi bingung harus melakukan apa. Ia kemudian berinisiatif untuk menyirami tanaman yang ada di depan rumah Agatha walaupun sudah disiram oleh pelayan Agatha.
Ia menyirami tanaman sambil bernyanyi seolah tidak ada beban apapun.
"Apa aku bisa membantumu?"
Yuana tersentak saat mendengar suara itu dan dengan reflek menyiram kembali wajahnya karena tidak percaya dengan suara yang baru saja ia dengar. Hal itu membuatnya basah kuyup.
Setelah melihat dan memastikan bahwa orang yang ada di sampingnya benar-benar tidak salah, ia langsung memeluknya dan melepaskan semua rasa rindu yang sudah ia simpan selama ini.
"Sudah. Jangan menangis lagi. Aku sudah ada di sini. Aku lebih merindukanmu dari yang kamu tahu. Kamu segalanya bagiku." Kata Yosua sambil mengusap punggung Yuana kemudian mengecup kepala adiknya.
"Ketakutan terbesar dalam hidupku adalah ketika aku menghadapi kenyataan yang memaksaku untuk percaya bahwa aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi kak. Aku takut kak." Kata Yuana masih dalam keadaan menangis.
"Hapuslah air matamu. Aku tidak ingin kamu bersedih lagi. Cukup sudah semua kesedihan yang sudah kamu lewati. Aku hanya ingin memastikan bahwa adik kecilku baik-baik saja di sini. Kakak sangat merindukanmu, sayang."
"Aku masih ingin memeluk kakak. Aku takut kehilangan kakak lagi." Kata Yuana manja dan masih menangis dalam pelukan Yosua.
"Jangan seperti itu. Kamu harus lihat aku datang sama siapa."
Yuana segera melepaskan pelukannya dan melihat sekelilingnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di sana ada sekretaris Bram, Arthur, Erik, Alika, Habib, dan Agatha.
"Tuan?"
Hanya itu yang bisa diucapkan Yuana. Selanjutnya badannya sudah melorot dan langsung berlutut. Sekretaris Bram segera menghampiri Yuana dan memegang tangannya untuk berdiri.
"Bangunlah! Aky datang ke sini bukan sebagai seorang sekretaris Angkasa Grup. Aku datang sebagai seorang kakak yang ingin mengunjungi adiknya. Bangunlah!"
"Adik?" Tanya Yuana heran.
"Ia. Apakah tuan muda belum menceritakan hubungannya denganku?"
Yuana hanya menggelengkan kepala. Ia bingung dengan semua kenyataan di depannya yang mengejutkannya sehingga tidak bisa menangkap maksud perkataan sekretaris Bram.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercerita. Sekarang waktunya makan, jadi aku harap kita semua masuk ke dalam. Tuan-tuan, silahkan datang di gubuk kami." Kata Agatha merendah.
__ADS_1
Mereka mengikuti Alika dan Agatha masuk ke dalam untuk menikmati makan pagi yang telah disediakan.
"Kenapa kau membohongiku dan tidak jujur kalau ingin menjemput tamu?" Kata Agatha geram dan menjewer telinga Arthur di depan mereka semua. Mereka yang melihatnya sangat lucu dan hanya bisa tertawa.
"Karena aku ingin melihatmu menatapku pergi sambil berlinang air mata." Jawab Arthur enteng tanpa dosa.
"Apa kamu pikir aku punya banyak stok air mata?" Pertanyaan Agatha yang kedua sudah dibarengi dengan jeweran di kedua telinga Arthur.
"Ampun. Tolong lepaskan. Ini sangat sakit." Arthur memelas agar dilepaskan karena ia merasa kedua telinganya sangat sakit. Agatha memang tidak main-main saat menjewer telinga Arthur.
"Itu pelajaran ringan untukmu. Jika kamu membohongiku lagi, maka aku akan memberikan hukuman yang lebih besar." Ancam Agatha.
Habib dan yang lainnya tidak dapat menahan tawa melihat apa yang dilakukan Agatha pada Arthur.
Wah! Kalau satu kali berbohong dan telingaku hampir putus, maka dua kali berbohong kemungkinan telingaku akan benar-benar putus. Bagaimana kalau sepuluh kali berbohong. Bisa-bisa leherku yang putus. Arthur.
"Makan dulu. Kamu sedang memikirkan siapa?"
"Ahmmm, aku akan makan sayang. Aku sedang memikirkanmu." Arthur menjawab dengan semangat yang menyala-nyala karena takut tangan mungil itu menjamah telinganya lagi dan tahap dua yang ia bayangkan bisa terjadi.
"Tak ku sangka, kamu benar-benar ketakutan sampai wajahmu pucat seperti itu." Kata Erik menggoda Arthur.
"Ini di luar dugaanku tuan. Aku sendiri tidak menyangka kalau akan mendapat serangan mendadak seperti ini."
Semua yang di meja makan tertawa mendengar apa yang baru saja dikatakan Arthur.
"Mau ku ulangi lagi?" Ancam Agatha yang membuat Arthur langsung reflek menutup mulutnya.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya guys, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍
__ADS_1