
Membiasakan diri untuk menerima sesuatu yang baru dari kebiasaan sebelumnya akan membuat kita mengerti bahwa tidak ada yang tidak bisa dilakukan jika kita mau memulainya. Memang memulai suatu hal itu tidak mudah, apalagi di luar kebiasaan kita sebelumnya. Eda Sally
*****
Mata Yuana masih tertutup ketika ia merasakan bahwa sesuatu yang berat menindih tubuhnya sehingga susah untuk digerakkan.
Ada apa ini? Kenapa berat sekali? Hah? Tangan siapa ini?
"Hah? Kenapa dia tidur sambil memelukku? Sejak kapan dia melakukan ini? Guling yang semalam dipakai sebagai batas dikemanakan?" Yuana berbicara dengan suara perlahan kepada dirinya sendiri.
Erik tidak dapat menahan tawanya mendengar apa yang baru saja dikatakan Yuana. Ia sengaja mengatur irama napasnya se-teratur mungkin agar Yuana tidak sadar bahwa ia sudah bangun.
Erik sebenarnya sudah sadar sejak satu jam yang lalu. Namun, ia memilih untuk memeluk Yuana sambil terus tidur dan menikmati rasa yang tidak pernah dialaminya.
Ternyata senyaman ini ya kalau tidur sambil memeluk seorang wanita. Ah untung aku cepat jatuh cinta dan cepat menikah. Aku masih ingin menikmati pelukan ini. Jadi aku akan berpura-pura untuk tidur terus.
Kira-kira dua puluh menit kemudian, Yuana yang sudah ingin turun dari tempat tidur perlahan mengangkat tangan Erik dengan sangat hati-hati untuk dipindahkan. Ketika tangannya baru akan mengangkat tangan Erik, Erik dengan cepat membalikkan badan Yuana sehingga mereka kini saling berhadapan, dan wajah Yuana tepat berada di dada Erik.
Tamatlah sudah riwayatku. Aku tidak akan selamat lagi kali ini. Tolong selamatkan aku dari malapetaka ini ya Tuhan. Aku sangat takut. Yuana.
Getaran di tubuh Yuana sudah tidak dapat dikondisikan lagi. Erik tahu apa yang Yuana alami. Namun ia memilih untuk terus memeluknya dan semakin merapatkan tubuh dan pelukannya.
"Kak." Panggil Yuana dengan hati-hati.
"Hmmmm! Ada apa." Tanya Erik dengan lembut sambil membuka matanya.
"Sudah jam berapa? Aku takut kak Yosua akan jalan tanpa membangunkan kita." Kata Yuana dengan hati-hati.
"Hah? Iya! Aku sampai lupa. Ayo mandi dan temui mereka sekarang sebelum berangkat." Kata Erik sambil melepaskan pelukannya dan mendaratkan beberapa kecupan di kening dan di kepala Yuana.
Mereka bergantian mandi dengan terburu-buru. Setelah selesai mandi, mereka segera beriringan keluar dengan bergandengan tangan menuju kamar Yosua dan sekretaris Bram.
Mereka sampai ketika Yosua, sekretaris Bram dan juga Arthur telah rapi pertanda akan berangkat.
"Wah! Rupanya pengantin baru sudah bangun." Goda sekretaris Bram.
Erik dan Yuana menanggapi apa yang dikatakan sekretaris Bram dengan malu-malu. Sementara Yosua sibuk menelusuri tubuh adiknya dari kepala hingga kaki.
Syukurlah belum terjadi apa-apa. Aku tidak tega melihatnya ketakutan. Yosua.
__ADS_1
"Kakak akan berangkat sekarang?" Erik bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Iya dek! Jaga dirimu dan istrimu baik-baik ya?" Kata sekretaris Bram menegaskan.
"Iya kak! Aku akan mengingat pesan kakak." Jawab Erik.
Yosua berjalan ke arah Yuana dan memeluknya sangat lama, seolah itu adalah pelukan terakhirnya.
"Turuti apa keinginan suamimu. Mulai sekarang ia berhak atasmu dalam segala hal. Karena itu jangan pernah membantah suamimu. Aku akan sangat kecewa jika sekali saja kamu tidak taat kepada suamimu. Rawatlah suamimu dengan baik sebagaimana yang harus dilakukan oleh seorang istri."
"Terima kasih kak! Aku akan selalu mengingat apa yang kakak katakan." Jawab Yuana.
"Bukan hanya mengingat, tetapi harus dilakukan." Tegas Yosua.
Yuana hanya mengangguk dalam pelukan Yosua. Ia kemudian melepaskan pelukannya ketika mendengar Erik memanggilnya.
"Kita antar mereka ke stasiun, agar mereka jangan sampai ketinggalan kereta." Kata Erik pada Yuana.
"Tidak usah. Kami bisa pergi sendiri. Kalian beres-beres dan segera pulang ke rumah." Kata sekretaris Bram menolak.
"Iya, Rik. Kalian pasti lelah. Lebih baik segera pulang dan istirahat. Jaga adikku dengan baik!" Kata Yosua sambil berjalan ke arah Erik dan memeluknya dengan erat.
"Aku akan menjaganya, Yos. Jangan khawatir." Jawab Erik mantap.
"Apa ada lagi yang perlu dibereskan tuan?" Tanya Habib pada Erik.
"Tidak perlu. Semuanya sudah beres." Jawab Erik.
"Baik tuan muda. Mari berangkat!" Kata Habib menuju ke mobil dan membukakan pintu belakang untuk Erik dan Yuana.
Alika langsung menuju ke depan dan menemani Habib yang akan mengemudikan mobil yang akan membawa mereka pulang ke rumah.
Untung tadi pagi pelayan nona Agatha mengantarkan mobil ini untuk dipakai. Jika tidak, kami harus berdesakan di dalam taksi.
Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara. Habib dan Alika memilih diam dan pura-pura tidak melihat dan mendengar kegiatan yang berlangsung di belakang.
Setelah sampai, Erik mengucapkan terima kasih kepada Habib dan Alika, kemudian menarik tangan Yuana untuk segera masuk ke dalam rumah.
Yuana kaget dengan seluruh ruangan yang telah dihias dengan sangat bagus.
__ADS_1
"Siapa yang telah mengerjakan ini semua kak?" Tanya Yuana.
"Kak Bram yang menyewa orang untuk mengerjakannya." Jawab Erik.
Erik kemudian mengikuti Yuana yang membuka pintu kamar satu persatu untuk melihatnya. Ketika ia sampai pada kamar yang berada di tengah, Yuana tertegun dengan tulisan ucapan selamat kepada dirinya dan Erik. Erik segera menarik tangan Yuana masuk ke dalam dan segera mengunci pintu.
Yuana berusaha untuk menguasai diri, namun napasnya tetap tak beraturan disertai dengan jantungnya yang seolah berlomba dengan irama napasnya.
"Kita akan melanjutkan tidur kita yang tertunda tadi." Kata Erik sambil menarik tubuh Yuana dan menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas tempat tidur.
Yuana sangat takut dan menutup matanya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar gugup karena tubuh Erik sedang menindihnya.
"Aku ingin melakukannya sekarang. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Aku mohon!" Kata Erik sambil mendekatkan wajahnya.
"Aku benar-benar belum siap. Aku mohon jangan melakukannya sekarang. Aku sangat takut." Kata Yuana dengan suara pelan dan terdengar bergetar pertanda menahan rasa gugup yang sangat tinggi.
"Aku berjanji akan melakukannya dengan sangat hati-hati agar tidak menyakitimu. Please! Jangan biarkan aku tersiksa seperti ini." Kata Erik memelas dengan posisi masih berada diatas tubuh Yuana.
"Aku sangat takut. Tetapi jika kamu menginginkannya, lakukanlah!" Kata Yuana pada Akhirnya.
"Benarkah?" Tanya Erik dengan mata berbinar seolah sedang diberi hadiah.
Yuana hanya menganggukkan kepala kemudian perlahan memejamkan mata.
Erik perlahan-lahan mengecup kening Yuana, kemudian mulai turun ke mata dan hidung. Ia berusaha menahan napas dan mendekatkan bibirnya ke bibir Yuana dan hampir saja menyentuh bibir mungil itu.
"Uhuk." Yuana tiba-tiba terbatuk karena terlalu lama menahan napas.
Bersambung.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍