Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
102. Pulang Rumah


__ADS_3

Kembalilah dari jalan yang engkau pilih untuk sejenak berefleksi dan menenangkan diri, agar engkau bisa mempersiapkan hati untuk menemukan kebahagiaan yang engkau cari selama ini.


Jangan pedulikan perkataan dan suara-suara di luar sana yang membuatmu untuk menyerah dengan perjuangan yang telah engkau jalani. Tetap pegang prinsipmu, dan temukan bahagiamu. Eda Sally


*****


Erik tidak ingin membawa apapun. Ia ingin agar suatu saat ketika Yuana datang ke rumah ini dan masuk ke kamar mereka, ia masih melihat semuanya sama seperti ketika mereka masih bersama. Karena itu ia hanya mengganti pakaian dengan yang lebih layak.


"Apa ada yang perlu kamu bawa? Biar aku bereskan." Tanya sekretaris Bram.


"Tidak perlu kak. Biarlah semuanya seperti ini. Aku tidak ingin ada yang berubah di kamar ini. Sekalipun mungkin saat ini dia membenciku, tetapi aku hanya akan percaya bahwa di dalam cinta kami hanya ada ketulusan, dan tidak ada kebencian sama sekali."


Erik beranjak dan mengambil buku-buku yang sering dibaca Yuana kemudian memeluknya. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung.


Apapun yang terjadi, aku ingin kamu tahu, bahwa aku hanya mencintaimu. Mungkin raga kita terpisah, tetapi hati dan cintaku hanya padamu. Aku akan menyelesaikan semua kekacauan ini dan kembali padamu.


Setelah cukup lama memeluk buku-buku itu, Erik kembali menyusunnya di tempatnya seperti semula dan berbalik menghadap sekretaris Bram.


"Kita bisa berangkat sekarang kak." Kata Erik sambil memaksa untuk tersenyum.


Sekretaris Bram kembali memeluk Erik dan menepuk pundaknya kemudian mempersilahkan Erik dengan tangannya untuk keluar terlebih dahulu. Ia tersenyum penuh makna ketika Erik telah keluar. Setelah mengamati kamar cukup lama, sekretaris Bram keluar mengikuti Erik.


"Apa tidak ke rumah sakit dulu kak?" Tanya Erik.


"Tidak perlu! Habib dan Alika pasti mengerti. Aku juga tidak ingin kita hanya menghabiskan waktu di sini dan kemudian membuat kita lambat untuk memulai apa yang harus kita lakukan."


Erik mengangguk mendengar apa yang dikatakan sekretaris Bram. Mereka langsung menuju ke stasiun. Sepanjang perjalanan Erik hanya diam menahan hatinya yang terlalu sakit membayangkan apa yang menimpanya saat ini.


Perjalanan yang ditempuh dengan kereta dari Edinburgh ke London tidak dirasakan oleh Erik. Ia tidak memicingkan mata sama sekali. Ia hanya memandang keluar jendela, menopang dagu dan memikirkan Yuana.


Dari London mereka langsung dengan pesawat menuju ke Indonesia. Erik bahkan tidak menyentuh makanan sama sekali. Karena Erik tidak makan, maka sekretaris Bram juga menahan diri dan tidak makan.


Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, akhirnya mereka landing dengan aman. Erik nampak menarik napas panjang saat pesawat sudah landing.

__ADS_1


"Kak! Jangan lupa janjimu kepadaku. Jangan biarkan aku harus terjebak dalam keadaan ini." Kata Erik sambil memegang tangan Sekretaris Bram setelah mereka turun dari pesawat.


"Pasti adikku! Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan dan yang telah aku janjikan padamu. Percaya padaku!" Kata sekretaris Bram menepuk bahu Erik.


Fadly yang sudah menunggu kedatangan mereka, nampak tersenyum bahagia menatap kedatangan Erik. Walaupun Erik tidak pernah tersenyum dengannya, namun ia tahu bahwa tuan mudanya sangat baik.


"Selamat datang tuan muda." Sapa Fadly dengan sopan.


Erik hanya menganggukkan kepala menjawab sapaan Fadly.


Sambil berjalan, sekretaris Bram menelpon seseorang. Erik hanya melihat sekilas dengan apa yang dilakukan sekretaris Bram.


Setelah sampai di rumah, mereka dikejutkan dengan kehadiran dokter Pedro, dokter pribadi Erik.


"Dokter Pedro akan merawat tuan muda di rumah selama tuan muda sakit. Bukankah tuan muda mengalami kecelakaan sehingga terpaksa tidak pulang?" Kata sekretaris Bram menatap penuh arti kepada Erik.


Erik hanya mengangguk menanggapi perkataan sekretaris Bram.


Tuan Andre dan nyonya Jessy membenarkan perkataan sekretaris Bram setelah melihat kondisi Erik dengan beberapa luka di bagian tubuhnya.


Erik hanya diam tanpa ekspresi. Celine tidak berani dekat ketika melihat tatapan penuh ancaman dari sekretaris Bram.


"Oya! Selama tuan muda dirawat, saya akan membawanya ke apartemen sehingga gampang dikontrol. Jadi dokter Pedro akan tinggal bersama kami di apartemen. Semua pekerjaan kantor akan saya kerjakan dari rumah, dan saya hanya akan masuk kantor jika ada hal mendesak." Kata sekretaris Bram sambil menatap Erik.


"Kalau begitu aku akan ikut dan tinggal dan sana juga biar bisa merawat Erik." Kata Celine penuh semangat.


"Apa kamu tidak mendengar apa yang baru saja aku katakan? Aku yang akan merawat tuan muda dengan dokter Pedro. Lagi pula kamu pasti banyak job jadi tidak mungkin untuk merawat tuan muda dengan telaten.


Celine langsung diam mendengar perkataan sekretaris Bram. Ia tahu sekretaris Bram tidak suka kepadanya. Sementara tuan Andre hanya diam mendengar apa yang dikatakan sekretaris Bram karena selama ini, ia selalu percaya dengan apa yang dilakukan sekretaris Bram.


"Tidak bisakah malam ini kalian tidur di rumah saja?" Tanya nyonya Jessy.


"Maaf nyonya. Saya hanya ingin agar tuan muda cepat pulih. Karena itu saya memilih untuk menanganinya dengan lebih cepat." Kata sekretaris Bram beralasan.

__ADS_1


"Tuan muda, kita ke kamar tuan muda sebentar untuk membereskan beberapa barang."Kata sekretaris Bram kepada Erik.


Erik bangun mendengar perkataan sekretaris Bram. Mereka berjalan beriringan menuju ke kamar. Celine hanya melongo menatap mereka menuju ke kamar. Rasanya ia ingin menelan sekretaris Bram hidup-hidup


"Ada apa Bram?" Tanya Erik setelah mereka sampai di kamar dan menutup pintu. Ia sudah paham bahwa sekretaris Bram pasti mau menunjukkan sesuatu.


"Aku hanya ingin menunjukkan ini padamu." Kata sekretaris Bram sambil memutar sebuah rekaman.


"Jadi selama ini?" Erik memandang sekretaris Bram dan tidak melanjutkan kalimatnya setelah menonton rekaman yang diputarkan sekretaris Bram.


"Aku telah mempersiapkan semuanya untuk membantumu mengakhiri hubunganmu dengan wanita gila itu. Tapi aku memilih tetap harus menikahkanmu dengan Yuana agar tidak diambil orang lain. Kamu tahu kan Yuana itu manis sikapnya dan pria manapun pasti akan menyukainya?" Kata sekretaris Bram.


"Sekarang aku mengerti kenapa kakak memaksaku kembali ke sini." Kata Erik.


"Lalu sampai kapan kamu akan menyembunyikan hal ini dan tidak membukanya kepada papa agar papa juga mengetahuinya?" Tanya Erik penasaran.


"Aku ingin agar tuan besar melihatnya dengan mata sendiri, bukan rekaman seperti ini. Karena itu aku tetap bersikap biasa dan terus mengulur waktu sampai benar-benar ada waktu yang tepat untuk membongkar semuanya." Kata sekretaris Bram sambil tersenyum.


"Terima kasih kak. Aku percayakan semua kepadamu. Tolong percepat semua yang kamu pikirkan agar aku bisa bersatu kembali dengan Yuana." Kata Erik memohon.


"Apapun akan ku lakukan untuk adikku satu-satunya. Kata sekretaris Bram tersenyum.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2