
Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menerawang apa yang akan terjadi padanya. Sebaik-baiknya kita mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok, tetap saja hari esok masih tetap merupakan misteri bagi setiap insan.
Jangan fokus melihat hari esok. Fokuslah dengan apa yang akan kamu jalani hari ini, karena langkah yang kamu ambil hari ini, menentukan apa yang akan kamu petik di hari esok. Eda Sally
*****
Yuana pasrah dengan apa yang dikatakan sekretaris Bram. Ia diam dan memikirkan banyak hal. Jika benar apa yang ia pikirkan, maka ia harus mempersiapkan mental untuk menerima apa yang akan terjadi.
Aku tidak mau dia menyentuhku lagi. Aku jijik dengan pria yang tangannya tidak bisa diam untuk menyentuh semua wanita. Jika dia sudah menikah dengan Celine, tidak mungkin tidak terjadi sesuatu diantara mereka. Aku menyesal telah percaya dan mau menikah dengannya. Kenapa kak Yosua malah mendukung hal ini? Aku kecewa sama kamu kak! Aku lebih baik pergi sebelum kami berbicara, karena kenyataan ini terlalu pahit untukku dan hati serta telinga ku tidak akan kuat untuk menerima kenyataan yang akan mereka katakan padaku.
Yuana perlahan keluar dari pintu dan menengok kiri kanan. Ketika sudah yakin bahwa sekretaris Bram tidak berada di situ, ia segera turun ke loby menggunakan lift dan seketika ia sadar bahwa ini adalah hotel tempat mereka melangsungkan pernikahan.
Sejenak ia mengamati hotel itu dan tersenyum, tetapi senyumnya tidak berlangsung lama karena air matanya lebih mendominasi wajahnya saat ini.
"Tak ku sangka, pernikahanku hanya berumur dua minggu. Itu pun aku menikah dengan suami orang. Apa kesalahanku?"
Setelah berkata demikian, Yuana segera memesan taksi dan pergi ke rumah. Sampai di rumah, ia segera mengambil surat-surat penting dan beberapa barang yang menurutnya penting, lalu segera pergi.
Kali ini, ia sudah tidak punya tujuan hidup. Ia meminta driver untuk membawanya ke stasiun kereta. Dari sana ia menumpang kereta dan menuju ke London.
Hatiku sedih sekali. Seperti mau mati rasanya. Ah! Kenyataan pada cinta memang tak seindah kata-katanya. Ini benar-benar sangat menyakitkan.
Yuana kemudian menumpang kereta api dan menuju London. Sepanjang jalan air matanya terus mengalir memikirkan apa yang baru saja di dengar.
"Aku menyesal telah mempercayaimu dan mau menikah dengan orang yang tak berperasaan sepertimu. Aku tidak akan keberatan jika kamu menikahinya, tetapi jangan pernah menyentuh dan menghancurkan hidupku seperti ini. Kau membuatku tidak memiliki masa depan lagi." Yuana berbicara pada dirinya sendiri dengan suara yang sangat pelan tanpa mempedulikan orang yang duduk di sampingnya.
"Nona, jika ada masalah ceritakanlah kepadaku. Jangan menangis seperti ini. Aku yang sudah ubanan ini tidak sanggup melihatmu menangis seperti ini."
Seorang nenek berusia sekitar enam puluh tahun yang duduk di samping Yuana menegur Yuana agar jangan menangis. Ia bahkan menyeka air matanya yang sudah tergenang karena melihat seorang gadis belia yang imut dan sangat cantik menangis di sampingnya.
"Maafkan saya nek! Hati saya terlalu sedih. Saya tidak mau hidup lagi. Biarkan saya mati saja." Kata Yuana dengan tangisan yang semakin menjadi.
__ADS_1
Ia membenamkan wajahnya di tas yang dibawanya dan tidak terdengat suara tangisan, tetapi badannya berguncang dengan hebat karena berusaha sekuat tenaga menahan suaranya agar jangan sampai keluar.
Sang nenek mengusap punggung Yuana agar tenang, tetapi tangisan Yuana sepertinya semakin menjadi. Yuana akhirnya tertidur karena kelelahan dan terlalu lama menangis.
Setelah beberapa jam kemudian, kereta telah tiba di London. Nenek yang di sampingnya mengguncang bahu Yuana untuk membangunkannya. Yuana bangun dan menatap nenek itu dengan bingung.
"Kereta sudah sampai London. Kamu mau kemana?" Tanya nenek itu dengan ramah.
"Aku tidak punya tujuan dan belum tahu hendak kemana." Kata Yuana dengan disertai air mata yang sudah lolos tanpa permisi.
"Kalau begitu ikut saja ke rumahku. Kamu bisa tinggal di sana selama kamu mau. Aku tidak punya teman di rumah karena anak-anak bekerja semua di luar kota, dan hanya ditemani oleh seorang cucu laki-laki yang sementara kuliah dan sebentar lagi selesai."
"Ia sering berada di luar dengan teman-temannya sehingga nenek selalu kesepian. Jadi nenek mohon, kamu mau ikut dengan nenek." Kata nenek tersebut dengan memohon.
"Baik, nek! Saya akan ikut." Kata Yuana pelan.
"Oya! Namaku Tabitha. Biasanya orang-orang memanggilku nenek Tati." Kata nenek Tabitha memperkenalkan nama.
"Terima kasih nenek Tati. Namaku Yuana." Kata Yuana singkat.
Tapi hidupku sangat tidak cantik dan benar-benar jelek. Yuana.
Mereka memesan taksi dan segera menuju rumah nenek Tati. Sepanjang jalan Yuana tidak mengatakan apapun dan lebih memilih diam. Ia hanya menjawab semua pertanyaan nenek Tati dengan jawaban yang singkat. Pikirannya sedang tidak jernih untuk berbicara, apalagi mengajukan pertanyaan.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di rumah nenek Tati. Sebuah rumah yang sangat luas dan mewah. Yuana tidak berhenti kagum melihat rumah yang semewah ini.
"Nek! Rumah sebesar ini hanya tinggal berdua dengan cucu nenek? Siapa yang mengurus rumah ini?" Tanya Yuana.
"Ada beberapa pelayan, tetapi mereka terlalu sibuk dengan mengurus rumah, jadi tidak ada waktu untuk mengobrol. Itu yang menyebabkan nenek selalu merasa kesepian."
Yuana tersenyum dan mengangguk mendengar apa yang dikatakan nenek Tati.
__ADS_1
Mereka memasuki rumah, yang disambut oleh dua orang pelayan dengan menerima tas di tangan nenek Tati. Mereka menatap Yuana, dan ragu untuk menyapanya. Nenek Tati yang paham dengan kebingungan pelayannya, segera memberitahu mereka.
"Oya! Ini Yuana, cucu teman saya. Teman saya meminta tolong untuk menitipkan cucunya di rumah ini. Jadi saya harap, kalian menghormati Yuana, seperti kalian menghormati saya dan Gail. Apa kalian mengerti?" Kata nenek Tati.
"Kami mengerti nyonya." Jawab kedua pelayan itu dengan sopan sambil menundukkan kepala.
"Tolong bawa Yuana ke kamar utama di samping kamar saya, dan biarkan ia beristirahat."
"Baik nyonya." Jawab salah satu pelayan.
"Kamu istirahat dulu. Jika butuh apa-apa jangan lupa bilang sama nenek. Untuk makanmu nanti dibawakan oleh pelayan ke kamar. Jadi kamu tidak usah keluar untuk makan bersama. Aku tahu kamu lelah." Kata nenek Tati dengan lembut sambil mengusap rambut Yuana.
"Terima kasih banyak nek atas segala kebaikan dan bantuan nenek." Kata Yuana sopan.
Salah satu pelayan segera mengambil tas Yuana dan berjalan menuju ke kamar yang dimaksud nenek Tati untuk mengantar Yuana. Yuana hanya mengekor dari belakang tanpa mengatakan apapun.
Untuk sesaat, kesedihannya sedikit terlupakan karena perlakuan nenek Tati dan pelayannya sangat baik padanya.
Entah apalagi yang akan terjadi setelah ini. Jangan biarkan aku menerima yang lebih berat lagi. Aku benar-benar tidak sanggup.
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍