
Pekerjaan tidak akan pernah mendatangimu. Kamu sendiri yang harus mendatanginya dan mengerjakannya. Karena mereka yang sukses adalah mereka yang tidak hanya duduk dan menadahkan tangan, tetapi mereka yang mau bekerja dan berusaha.
Setiap usaha dan pekerjaan tidak segampang bayangan kita. Karena kita harus meneteskan peluh demi bisa mengisi lumbung dan pundi-pundi kita. Eda Sally
******
Setelah merasa bahwa sudah cukup memulihkan tenaga, Erik segera bangkit dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang rapi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Yuana heran karena Erik memakai pakaian yang rapi.
"Aku mau mendatangi beberapa kantor untuk melihat apakah ada lowongan atau tidak. Aku tidak bisa kalau hanya berdiam di rumah terus. Aku harus bekerja." Kata Erik kemudian duduk di tepi tempat tidur.
"Aku akan ikut denganmu. Aku juga ingin melamar kerja agar bisa membantumu. Aku tidak mau kamu berjuang sendirian, sementara aku hanya tidur di rumah saja." Kata Yuana bangkit dari tidurnya dan duduk di samping Erik.
Erik membelai rambut Yuana, dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Jangan! Kamu lebih baik di rumah saja. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu yang akan membuatku hampir gila untuk yang kedua kalinya. Cukup! Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi." Kata Erik kemudian meraih tubuh Yuana dan memeluknya.
"Kalau begitu kamu juga tidak usah bekerja. Aku masih menyimpan cek yang diberikan tuan besar waktu menyuruhku datang ke sini. Itu jumlah yang cukup besar untuk biaya hidup kita selama dua sampai tiga tahun."
"Aku tahu, sayang. Aku tahu! Tetapi aku ingin kita tetap memiliki simpanan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Kak Bram juga akan mengirimkan setiap bulan, tetapi aku tidak mau kamu hidup susah hanya karena menikah denganku. Jadi, jangan menghalangi niatku untuk mencari pekerjaan." Erik menjelaskan dengan lemah lembut sambil terus memainkan rambut Yuana.
"Kalau begitu aku akan menemanimu mendatangi beberapa kantor yang akan kamu datangi." Kata Yuana bersikeras.
"Tidak! Aku tidak ingin pria lain melihatmu, apalagi memandangmu dengan penuh keinginan. Aku tidak ingin kamu membuatku cemburu disana dan tidak konsen dalam rencanaku. Please!" Erik menolak usulan Yuana.
"Baiklah! Aku akan tinggal dan menunggumu di sini." Kata Yuana mengalah pada akhirnya.
"Terima kasih sayang. Jika kamu bosan dan ingin jalan-jalan, ajaklah Alika dan Habib untuk menemanimu. Jangan pernah pergi sendirian! Tetapi sebaiknya kamu tidak usah kemana-mana jika aku tidak ada di rumah. Aku takut dan khawatir." Erik jujur tentang apa yang dipikirkannya dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya! Aku tahu! Aku tidak akan kemana-mana." Kata Yuana mengangkat wajahnya dan tersenyum kepada Erik.
Erik segera mengangkat wajah Yuana dan mengecupnya dengan lembut.
"Aku pergi dulu ya?" Kata Erik.
"Iya! Hati-hati di jalan. Jika sudah selesai cepat pulang agar aku tidak khawatir." Kata Yuana sungguh-sungguh.
Erik mencubit kedua pipi Yuana kemudian segera keluar dan langsung pergi. Ia menggunakan jasa taksi, karena mereka bahkan tidak memiliki sepeda motor juga. Ia malu jika harus meminjam mobil dari Agatha. Ia tidak mau terus-menerus merepotkan Agatha, karena gadis itu sudah terlalu banyak membantu mereka.
__ADS_1
Erik mengarahkan taksi untuk mendatangi kantor pertama yang sudah ia incar sebelumnya. Ketika sudah sampai di kantor tersebut, Erik segera membayar ongkos taksi dan turun kemudian langsung masuk dan menuju ke bagian resepsionis.
Erik terlihat berbicara serius dengan wanita tersebut dan sesekali menganggukkan kepala. Wanita tersebut terlihat sangat fasih dalam menerangkan apa yang ditanyakan Erik.
Setelah selesai, Erik terlihat keluar dari perusahaan tersebut dan memanggil taksi.
Ah! Semoga kantor kedua yang aku incar masih membutuhkan karyawan.
Sepanjang jalan menuju tempat kedua yang akan di datangi Erik terus berdoa agar ia bisa diterima di situ.
Setelah sampai, Erik masuk dan melihat ada pengumuman lowongan pekerjaan. Ia mendatangi resepsionis untuk bertanya dan meyakinkan dirinya tentang apa yang sudah ia baca.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita di bagian resepsionis dengan sopan.
"Ahmm, saya sedang mencari pekerjaan dan kebetukan membaca lowongan bahwa kantor di sini masih membutuhkan akuntan di bagian keuangan." Jawab Erik.
"Kebetulan sekali kami sedang membutuhkan akuntan yang bisa membantu mengelola keuangan perusahaan karena akhir-akhir ini lebih sering terjadi penurunan dan itu menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Untuk lebih jelasnya, saya akan mengantar tuan untuk menemui sekretaris yang akan mengurus semuanya dengan tuan. Mari!" Kata wanita itu dengan sopan.
Erik mengikuti wanita itu masuk ke lift dan menuju ke lantai 21. Setelah sampai, wanita itu mengarahkan Erik memasuki ruangan dimaksud.
"Maaf tuan! Ini adalah calon karyawan yang ingin melamar di bagian keuangan." Kata respsionis itu sopan.
Tuan Rex, sang sekretaris, terlihat mengamati Erik, kemudian mempersilahkannya untuk duduk.
"Jadi, kamu ingin melamar seperti yang dikatakan oleh resepsionis kami?" Tanya tuan Rex.
"Benar tuan." Jawab Erik sopan.
"Boleh aku melihat CV dan surat lamaranmu?"
"Boleh tuan! Jawab Erik mantap sambil menyerahkan berkas yang sudah ia siapkan sebelum hari pernikahan mereka.
Untung Bram cerdas. Ia sudah mengubah identitasku dan dan juga ijazah sesuai nama baruku. Semoga tuan ini tidak teliti sehingga aku diterima untuk bekerja di sini.
"Jadi kamu lulusan dari University of Oxford?" Tanya tuan Rex tak percaya kemudian mengamati Erik.
"Benar tuan." Jawab Erik mantap.
"Aku akan mengujimu dengan beberapa hal yang harus kamu kerjakan sekarang di depanku. Waktumu hanya dua puluh menit untuk menyelesaikannya. Kata tuan Rex.
__ADS_1
"Baik tuan! Saya sudah siap!" Jawab Erik dengan mantap.
Tuan Rex kemudian beranjak dan membuka komputer di meja yang berada di sebelahnya, kemudian tersenyum kepada Erik.
"Kamu bisa memulainya sekarang. Ingat! Waktumu hanya dua puluh menit. Lewat satu detik saja kamu tidak akan saya izinkan untuk bekerja." Kata tuan Rex
"Baik tuan! Saya mengerti."
Erik segera pindah dan langsung duduk di kursi kemudian tangannya mulai lincah mengerjakan apa yang ada dilayar.
Walau ia sudah sering mengerjakan itu, namun baru kali ini ia merasa bekerja sambil di nilai orang. Erik melihat jam tangannya sekilas agar ia tidak kehabisan waktu.
Tuan Rex terlihat membulatkan matanya melihat kecepatan Erik dalam mengerjakan apa yang ia minta.
Rupanya ia bukan orang sembarangan. Sepertinya ia sudah terbiasa mengerjakan hal seperti ini. Tetapi kalo dia orang penting, kenapa harus melamar seperti ini?
Dua belas menit kemudian, Erik sudah menyelesaikan pekerjaannya dan berdiri.
"Sudah selesai tuan. Silahkan diperiksa dulu!" Kata Erik sopan.
"Sudah?" Tanya tuan Rex tidak percaya dan segera menghampiri komputer yang ada di sampingnya.
Tuan Rex mengamati hasil kerja Erik dan kemudian tersenyum ke arah Erik. Erik mengangguk sopan menanggapi senyum dari tuan Rex.
Tak ku sangka dia hanya membutuhkan waktu dua belas menit untuk menyelesaikannya. Benar-benar luar biasa.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍