Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
164. Mengenang Masa Sulit di Tristan


__ADS_3

Setiap hari, pasti ada kenangan yang selalu kita ingat. Ada kenangan yang baik, dan ada kenangan yang buruk. Setiap kenangan, entah itu baik atau tidak, pasti telah memberikan pembelajaran berharga dan dampak yang baik bagi hidup kita, karena kita semakin didewasakan dengan berbagai tantangan yang telah kita lewati. Eda Sally


*****


"Kenapa harus mendadak seperti ini?" Tanya Yuana dengan mata berkaca-kaca.


Erik segera tanggap dan langsung menyeka airmata Yuana.


"Karena masalah perusahaan yang tidak bisa diwakilkan." Jawab Erik.


"Yakinkan aku dan berjanjilah, bahwa kamu akan pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun."


"Aku janji. Demi istriku yang cantik ini, aku pasti pulang dengan selamat." Ujar Erik sambil mencubit kedua pipi Yuana, kemudian mendaratkan kecupan di seluruh wajah mungil itu


"Percayalah padaku. Aku akan menjaga suamimu dengan baik. Jadi, jangan mengkhawatirkan apapun." Ujar sekretaris Bram.


Yuana hanya mengangguk dan memaksakan diri untuk tersenyum mendengar apa yang dikatakan sekretaris Bram.


Erik dan sekretaris Bram berangkat malam itu juga setelah berpamitan dengan semuanya. Yuana awalnya keberatan karena ia baru saja pulang dari Rumah Sakit dan merasa belum ingin berpisah dari suaminya.


Namun, ketika sekretaris Bram mengatakan bahwa urusan pekerjaan itu tidak bisa diwakilkan, maka Yuana merelakan Erik pergi, walau dengan setengah hati.


Sepanjang perjalanan, Erik diam dan tidak mau berbicara walaupun sudah diajak bicara oleh sekretaris Bram. Hati dan pikirannya hanya tertuju kepada istri dan ketiga buah hatinya.


Saat mereka turun dan menggunakan speedboat dari Edinburgh ke Tristan, sekretaris Bram diam dan tak banyak bicara. Ia memikirkan Yuana yang pernah terdampar di situ.


Wanita mana yang mau tetap bertahan dengan putra seorang pria yang telah memperlakukannya dengan tidak manusiawi. Tetapi Yuana telah membuktikan bahwa dia wanita yang layak dicintai oleh adikku. Bram


Setelah beberapa jam, akhirnya mereka sampai di Tristan. Awalnya sekretaris Bram kagum begitu turun dari speedboat.


Namun, saat ia melihat kenyataan yang sebenarnya, hatinya seperti ditusuk ribuan jarum, karena ia mulai merasakan sakit yang pernah dialami Yuana.


"Istrimu wanita yang hebat, karena ia berani menerima keadaan yang tidak bisa dilakukan oleh kebanyakan wanita." Ujar sekretaris Bram.


"Itulah alasan kenapa aku rela melakukan apapun, asalkan bisa tetap bersama dengannya." Erik menimpali.


"Hmmmm! Aku paham, karena dia cinta pertamamu, dan kau tergila-gila padanya." Ujar sekretaris Bram.


"Aku tidak bisa menyangkal hal itu." Ujar Erik sambil tersenyum.


Mereka kemudian langsung menuju rumah yang dulu ditinggali Alika, Habib, dan Yuana. Keduanya bekerja sama dan membersihkan rumah itu.


Para penduduk yang melihat mereka pun heran dengan kehadiran mereka. Bisik berantai pun mulai terjadi diantara mereka.


Bisik-bisik itu akhirnya sampai di telinga Dokter Kim, yang kini telah beristri. Ia akhirnya menikah dengan seorang wanita pilihan ibunya, dan memboyong wanita itu yang adalah seorang perawat, dan membawanya ke Tristan juga.


"Bagaimana keadaan istrimu?" Tanya dokter Kim to the point ketika bertemu dengan Erik dan Bram.

__ADS_1


"Istriku baik-baik saja. Kami sudah menikah, dan anak kami sudah tiga." Jawab Erik.


Sekretaris Bram yang mendengar pertanyaan dokter Kim merasa tidak suka. Ia menatap dokter Kim dengan tatapan intimidasi yang membuat dokter Kim salah tingkah.


Mereka bercerita tentang berbagai hal dan perkembangan yang terjadi di Tristan dua tahun terakhir ini.


Hari demi hari dilalui Erik dan Bram dengan tak bosan-bosan mengunjungi semua tempat di pulau mini itu. Hingga di hari kelima, Erik yang sudah sangat merindukan Yuana, diam tanpa melakukan apapun.


Diam-diam sekretaris Bram melakukan panggilan video dengan Yuana, yang tentu saja mengakali Andre Wiliam, dengan meminta bantuan Gail dan Yosua.


Kedua pria itu diam-diam menyambungkan internet dan mengurung Yuana di kamar agar bisa berbicara dengan Erik.


Erik yang kaget karena sekretaris Bram tiba-tiba mengarahkan handphone dan ada wajah Yuana, langsung berdiri dengan penuh semangat dan memeluk sekretaris Bram.


"Hei! Cepat bicara dengan istrimu." Ujar Bram mengingatkan.


Erik langsung menghadapkan wajahnya ke layar hp dan mulai berbicara dengan Yuana.


"Cepat pulang! Aku sudah sangat merindukanmu" Ujar Yuana dengan manjanya.


"Apa kau pikir aku tidak merindukanmu?" Ujar Erik.


Setelah puas berbicara panjang lebar, akhirnya panggilan itu diakhiri.


"Besok kita akan pulang, dan menginap semalam di Edinburgh, dan hari berikutnya sudah kembali ke London." Ujar sekretaris Bram.


"Hmmm! Lebih cepat lebih baik! Aku sudah bosan berada di sini." Jawab Erik.


"Dua-duanya, kak!" Jawab Erik jujur.


"Hmmm! Apa kau tidak ingin jalan-jalan hari ini?" Tawar sekretaris Bram.


"Jika kakak ingin jalan-jalan, akan aku temani. Jika tidak, lebih baik hari ini istirahat untuk perjalanan besok." Jawab Erik.


"Kalau begitu istirahat saja." Jawab sekretaris Bram.


*****


Keesokan harinya, mereka langsung menuju dermaga untuk pulang. Wajah Erik terlihat sangat ceria. Sekretaris Bram yang melihat hal itu, hanya tersenyum.


Dokter Kim dan istrinya serta perawat Olive dan suster Areta turut mengantarkan mereka ke dermaga. Mereka saling berpelukan sebelum kedua orang itu naik ke speedboat yg sdh menunggu mereka.


"Jika ada waktu, kami ingin berkunjung ke London." Ujar dokter Kim.


"Kami menanti kedatangan kalian semua dengan senang hati." Jawab Erik.


"Apa saya boleh bertanya?" Ujar perawat Olive dengan malu-malu.

__ADS_1


"Tanya saja. Ada apa?" Erik menimpali.


"Apa Habib sudah memiliki wanita lain?" Akhirnya kalimat itu terlontar dari bibir Olive.


"Sejauh ini aku belum melihatnya berkomunikasi dengan wanita lain."


"Tetapi...." Erik sengaja menggantung kalimatnya untuk mengerjai Olive.


"Tetapi apa, Tuan?" Tanya Olive dengan khawatir.


"Tetapi memandang foto wanita, sering ia lakukan." Ujar Erik.


"Dugaanku benar! Ia sudah memiliki wanita lain." Ujar olive dengan lesu dan airmata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Dan aku juga lihat bahwa foto wanita yang sering dia pandang itu seperti foto kamu." Ujar Erik sambil tersenyum.


"Apa yang tuan katakan itu benar?" Tanya Olive tak percaya dengan mata berbinar.


Erik hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Jika kau ingin menikah dengannya, aku akan menyuruh dia menjemputmu dan menikah di London dalam waktu dekat." Ujar Erik sambil bergegas naik ke speedboat.


"Tuan! Saya boleh menitipkan pesan?" Ujar dokter Kim.


"Pesan apa?" Tanya Erik dengan heran.


"Tolong sampaikan kepada nona Yuana, agar sudi memaafkan saya." Ujar dokter Kim.


"Tidak! Tidak boleh ada komunikasi antara istri adikku dan pria lain."


"Jadi, tolong jaga sikapmu."


"Kalau waktu itu aku ada di tempat kejadian, kau hanya tinggal nama sekarang!"


"Kau beruntung! Karena yang kau hadapi itu adikku, bukan aku!" Ujar sekretaris Bram sambil menatap tajam ke arah dokter Kim.


Dokter Kim langsung gugup mendengar apa yang baru di dengarnya.


"Kakakku memang seperti itu. Ia tidak pernah mengampuni orang." Ujar sekretaris Bram sambil melambai karena speedboat mulai bergerak.


Sementara sekretaris Bram membuang pandangan ke tempat lain.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍


__ADS_2