Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
69. Bercerita Dalam Kehangatan


__ADS_3

Kebanyakan orang lebih memilih untuk memendam apa yang ada di dalam hati mereka dan memilih untuk menghadapinya seorang diri. Sementara ada sebagian orang yang lebih suka menceritakan apa yang mengganjal dalam hati mereka kepada orang lain.


Bercerita atau tidak, tergantung siapa yang menghadapi masalah, dan sebuah masalah itu layak atau tidak untuk diceritakan. Eda Sally


*****


Dokter Kim bengong dan tidak tahu harus menjawab apa atas apa yang baru saja dikatakan Erik. Ia nampak susah payah menelan slivanya dan untuk beberapa saat tak berkedip menatap pria tampan di depannya.


"Ahmm, sama-sama tuan muda."


Untuk mencairkan suasana, Erik bangun dan duduk di samping dokter Kim kemudian menepuk bahunya.


"Andaikan aku tidak cepat datang, kamu mungkin akan mampu merebut hati wanitaku." Kata Erik to the piont. Sebagai orang yang cerdas, ia bisa mengetahui hal itu dari sorot mata dokter Kim.


Dokter Kim langsung gugup karena Erik mengatakan kalimat yang tidak ia sangka, dan itu membuatnya mati kutu.


Sial! Dia benar-benar hebat. Bagaimana mungkin dia tahu kalau aku menyukai Yuana, padahal dia baru saja datang? Rasanya aku ingin menenggelamkan diri di dasar bumi agar bisa hilang dari pandangan pria ini dan tidak mendapat dakwaan yang tiba-tiba. Ah! Rasanya aku sangat malu. Tapi aku sungguh-sungguh menyukai Yuana.


"Ahmmm, tidak tuan muda. Tentu saja tidak."


"Syukurlah kalau kamu tidak memiliki perasaan apapun padanya."


"Saya sungguh salut dengan tuan muda, karena bisa menemukan nona Yuana. Saya tidak percaya bahwa yang ada di hadapan saya adalah orang yang rasanya mustahil untuk bisa sampai kesini."


Habib sengaja mengalihkan pembicaraan karena kasihan melihat wajah dokter Kim yang sudah pucat akibat serangan kata-kata dari Erik yang sangat menyakitkan di telinga.


"Semua ini berkat doa dari kalian juga. Aku percaya bahwa kalian juga turut mendoakan dari jauh sehingga aku bisa sampai di sini."


"Ah! Tuan terlalu melebihkan. Kami hanya melakukan apa yang seharusnya kami lakukan. Sebaiknya tuan mandi, makan, dan istirahat." Habib yang menjawab.


"Tuan muda ingin makan apa, biar saya mengolahnya untuk tuan."


"Tidak usah repot-repot Alika. Apa saja yang kamu masak, itu yang akan aku makan."


"Baik tuan muda. Terima kasih.


Alika langsung bergerak dengan lincah menuju dapur, sedangkan Erik bangun dan menuju kamar mandi setelah dituntun oleh Habib.


"Tak ku sangka cowokmu setampan itu, nona."


Dokter Kim berbicara pada Yuana. Ia merasa tidak puas karen saingannya benar-benar jauh dari apa yang ia bayangkan.

__ADS_1


"Ahmm, terima kasih atas pujiannya."


"Apa yang kalian bicarakan? Sebaiknya dokter Kim perlu hati-hati jika ingin menggoda nona Yuana, karena tuan muda tidak akan memberikan ampun kepada orang yang menggoda wanitanya." Tanya Habib setelah kembali dari kamar mandi dan mendengar apa yang dikatakan dokter Kim pada Yuana.


"Kami tidak membicarakan apapun. Hanya membahas perjalanan kita tadi di taman."


"Baiklah dokter. Maaf! Saya tidak ingin dokter mengalami kesulitan."


"Terima kasih sudah mengingatkan aku, Habib."


Aku tidak peduli. Aku akan berusaha merebutnya dengan caraku sendiri. Persetan dengan tuan muda atau apapun, karena aku juga menyukai wanita ini.


Erik yang sudah selesai mandi dan makan, segera bergabung kembali di depan bersama Alika.


"Jika tuan muda ingin berbincang-bincang dengan nona Yuana, kami akan ke belakang untuk mengurus pekerjaan yang belum selesai."


"Terima kasih atas pengertiannya, Habib."


Habib dan Alika segera ke belakang. Namun, sebelum berlalu, Habib melihat ke arah dokter Kim dan memberi kode dengan matanya agar mengikutinya. Dokter Kim langsung bangun dan mengikuti Habib dan Alika. Habib ingin memberikan kesempatan kepada kedua sejoli itu agar bisa saling mengeluarkan uneg-unegnya.


"Maafkan aku yang terlalu bodoh ini dan tidak peka saat kamu mengalami tekanan. Aku sungguh menyesal. Tempatmu bukan di sini." Kata Erik setelah ketiga orang itu berlalu.


Erik yang merasa gemas melihat Yuana berbicara langsung mencubit pipi Yuana dengan kedua tangannya. Alhasil, hal itu membuat Yuana kesakitan dan memukulinya.


"Lepaskan kak! Sakit."


"Ah! Biarkan saja sakit. Aku kangen, tahu?"


"Iya. Kangen bukan berarti mencubit pipiku kan?"


"Tapi rasanya tanganku tidak bisa diam melihat pipimu yang makin montok. Rupanya kamu bertambah gemuk setelah di sini."


"Ih! Kakak lebay. Kenapa kakak malah kurus seperti ini?"


"Kalau sudah tahu jawabannya aku kurus karena apa, jangan pernah bertanya!"


"Belum tahu." Kata Yuana dengan polosnya tanpa dosa sambil menggelengkan kepala. Hal itu membuat Erik semakin gemas, dan di detik berikutnya tangan Erik sudah kembali bersarang di pipi Yuana.


"Sakit."


"Hei! Dengarkan baik-baik! Aku bisa sekurus ini karena terlalu memikirkan kamu. Apa kamu tidak paham juga?"

__ADS_1


Yuana hanya menanggapi perkataan Erik dengan kata "O" yang membuat bibirnya monyong dengan sendirinya. Erik yang pada dasarnya sudah gemas bercampur rindu, langsung membawa Yuana dalam pelukannya.


"Jangan pernah pernah berniat untuk pergi dan tinggalkan aku lagi. Apapun alasannya, jangan sembunyikan sedikit pun dariku, agar kita bisa menghadapinya bersama-sama."


Yuana hanya menganggukkan kepala dan kemudian berkata : "Maafkan aku".


"Tidak perlu minta maaf. Kamu tidak pernah bersalah. Aku tidak peduli dengan apapun yang sudah terjadi. Yang paling penting sekarang adalah aku sudah menemukanmu, dan yang ada di dalam pelukanku adalah benar-benar wanita yang aku cintai, dan yang membuatku hampir gila karena kehilangan dirinya."


"Aku salah, karena membuatmu cemas dengan kepergianku."


"Aku sudah bilang jangan mengatakan apapun. Diamlah dalam pelukanku. Biarkan aku yang berbicara. Aku benar-benar sangat merindukanmu."


"Boleh aku tanya?"


"Siapa yang menyuruhmu berbicara? Diam dan biarkan aku memelukmu lebih lama lagi agar aku percaya bahwa yang ada dalam pelukanku adalah Yuana Samantha, Wanita yang sudah mampu merebut dan mencairkan hatiku yang kaku ini."


"Andai saja aku tidak pernah bertemu denganmu, mungkin aku masih menjadi pria yang kaku dan dingin dengan wanita."


"Aku sungguh berterima kasih kepada Tuhan, karena membuatku menemukan wanita imut dan cantik sepertimu. Aku mencintaimu. Tolong jaga cintaku padamu dengan baik."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Erik mengangkat wajah Yuana dan memandangnya kemudian tersenyum. Yuana pun tersenyum membalas senyuman sang kekasih. Namun senyum Yuana tak bertahan lama, karena dua butir bening terlihat sudah menetes keluar dari sepasang mata pria hebat di depannya.


"Jangan pernah menangis lagi. Aku ada disini, dan kita akan selalu bersama." Kata Yuana sambil menghapus airmata yang sudah membasahi pipi Erik.


"Aku mencintaimu." Hanya itu yang bisa dikatakan Erik. Selanjutnya ia kembali memeluk Yuana dengan erat.


Bersambung.


.


.


.


.


.


Happy reading ya guys, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2