
Sakit yang diderita seorang wanita, tidak akan dirasakan sama sekali ketika ia melihat buah hatinya dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apapun. Memang perjuangan untuk memberikan sebuah kehidupan kepada seorang anak manusia tidaklah gampang. Tetapi jika kita sadar bahwa itu adalah kodrat yang harus dijalani, maka sang semesta pun akan berpihak kepada kita. Eda Sally
*****
Tubuh Erik sudah berkeringat melihat tenaga Yuana yang semakin berkurang karena menahan sakit dan juga berusaha untuk melahirkan bayinya.
Selama ini mereka hanya melakukan kontrol rutin tanpa berniat mengetahui jenis kelamin bayinya, karena mareka ingin itu benar-benar jadi surprise.
"Sayang..!" Hanya itu yang mampu dikatakan Erik ketika ia melihat Yuana hampir tidak bertenaga lagi mengikuti instruksi dokter Stevi.
Erik bingung antara harus duduk atau berdiri. Ia tidak tahu harus melakukan apa.
Tak lama kemudian, Yuana menggerakkan tangannya untuk menggapai tubuh Erik. Erik segera tanggap dengan memegang tangan Yuana.
"Ada apa sayang?" Tanya Erik dengan wajah pucat ketika ia merasakan tangan Yuana mulai dingin.
"Aku.." Yuana tidak mampu melanjutkan kalimatnya karena merasakan sakit yang amat menyiksanya.
"Kamu kenapa? Katakan ada apa?" Desak Erik dengan penuh ketakutan.
"Aku takut." Jawab Yuana.
"Aku tidak mau dengar kata-kata seperti ini. Please!" Jawab Erik dengan suara bergetar menahan tangis.
"Dokter, apa saya boleh pangku tubuh istri saya?" Tanya Erik dengan wajah memelas.
"Maaf, Tuan! Jika tuan pangku tubuh istri tuan bagaimana mungkin istri tuan akan melahirkan dengan lancar." Jawab dokter Stevi.
"Tolong ambil tindakan persalinan lain yang tidak menyakiti istri saya, Dokter!" Pinta Erik.
Untuk sesaat dokter Stevi bingung antara harus menuruti Erik atau Yuana yang tetap berkeinginan untuk melakukan persalinan normal.
Yuana menggelengkan kepala mendengar permohonan Erik pada dokter Stevi. Erik yang melihat hal itu bingung. Ia ingin menuruti Yuana, tetapi ia tidak ingin Yuana harus menanggung sakit yang membuatnya ketakutan.
"Aku tidak tega melihatmu kesakitan, sayang. Tolong jangan bertahan di dalam kesakitan yang kamu alami." Ujar Erik sambil mengecup kening Yuana.
"Kita akan mencoba sekali lagi. Jika sudah tidak bisa, lebih baik langsung dioperasi saja sesuai permintaan tuan muda." Ujar dokter Stevi.
Dokter Stevi segera memberikan instruksi kepada Yuana. Yuana patuh dan mengikuti apa yang diinstruksikan dokter Stevi.
"Bertahanlah nona! Bayinya hampir keluar!" Ujar dokter Stevi.
Yuana meraih tangan Erik dan memegangnya dengan sangat erat kemudian menarik napasnya perlahan dan mencoba mendorong bayinya.
"Aaaaaaaaa.........!" Teriak Yuana dengan sangat kencang disusul oleh suara tangis bayi yang sudah keluar.
Keringat Yuana membasahi seluruh tubuhnya dan ia terlihat sangat lemas.
__ADS_1
"Selamat nona. Saya akan membersihkan tubuh nona." Ujar dokter Stevi.
"Sepertinya masih ada bayi di dalam." Ujar dokter Stevi begitu akan membersihkan tubuh Yuana.
"Hah? Masih ada bayi? Tapi istri saya sudah lemas dokter. Saya tidak mau melihatnya kesakitan lagi." Ujar Erik dengak suara bergetar menahan tangis.
"Apa nona bisa mendorong sekali lagi?" Tanya dokter Stevi.
Yuana hanya mampu mengiyakan dengan isyarat matanya karena rasanya ia sudah tidak memiliki tenaga lagi.
"Ok! Rileks dan tenang! Bayi nona kembar. Ia hampir keluar juga. Bantu saya dorong agar bayinya bisa keluar." Ujar dokter Stevi dengan sabar.
Yuana menarik napas panjang berulang kali untuk mengumpulkan kekuatannya.
"Aku ingin duduk." Ujar Yuana dengan pelan.
Dokter memberi isyarat dengan matanya kepada Erik agar melakukan permintaan Yuana dengan mengangkat tubuh Yuana dan menopangnya dalam posisi duduk.
Erik segera duduk dan melakukan seperti yang dikehendaki Yuana.
Yuana yang mendapat posisi bagus segera mengalungkan kedua tangannya ke belakang tepat di leher Erik untuk menopang tubuhnya.
"Apa yang bisa aku lakukan?" Tanya Erik dengan tubuh bergetar.
Yuana tidak menjawab tetapi semakin mengencangkan tangannya di leher Erik.
"Bisa kita lanjutkan lagi?" Tanya dokter Stevi dengan sabar.
Dokter Stevi lalu mengarahkan Yuana dengan lembut dan hati-hati. Yuana yang sudah tidak bertenaga hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh dokter Stevi.
Sepuluh menit telah berlalu, tetapi bayi itu belum juga keluar. Tangan Yuana yang dikalungkan di leher Erik pun sudah mulai terkulai.
"Tinggal sedikit lagi nona. Kepala bayinya sudah muncul." Ujar dokter Stevi kegirangan.
"Saya sudah tidak kuat dokter." Begitu kata itu keluar dari mulut Yuana, kedua tangan Yuana benar-benar terlepas dari leher Erik.
Erik merasakan napas Yuana mulai melemah. Dokter Stevi terlihat bingung melihat kondisi Yuana dan segera memeriksa tubuh Yuana.
Dokter Stevi kaget ketika meraskan hawa dingin pada tubuh Yuana.
"Cepat ambilkan alat agar kita menarik kepala bayi ini keluar. Nona sudah tidak bisa melakukan apapun." Ujar dokter Stevi panik.
"Dokter! Istri saya kenapa?" Tanya Erik dengan tangis yang memilukan.
"Kembalikan istri saya dok! Saya tidak mau sendirian." Ujar Erik dengan nada pilu.
"Sabar, Tuan! Saya keluarkan bayi anda dulu." Jawab dokter Stevi sambil meminta salah seorang perawat untuk membantunya, sedangkan perawat lainnya disuruh untuk memasangkan infus kepada Yuana.
__ADS_1
Kedua suster itu melakukan perintah dokter Stevi dengan tubuh gemetar.
Dokter Stevi terlihat sudah mandi keringat saat berusaha menarik bayi itu keluar.
"Dok, istri saya." Ujar Erik perlahan dengan suara serak karena menangis.
"Sabar, Tuan! Tolong jangan ganggu konsentrasi saya. Saya sedang berusaha menyelamatkan bayi tuan dan juga istri tuan." Jawab dokter Stevi.
Tak lama kemudian, dokter Stevi nampak menarik napas panjang ketika ia berhasil mengeluarkan bayi itu.
"Kalian urus kedua bayi ini. Saya akan memeriksa nona muda." Ujar dokter Stevi pada dua orang suster lainnya.
"Dok, bayi yang baru saja keluar kenapa tidak menangis?" Tanya suster dengan heran.
Dokter Stevi baru sadar akan keanehan bayi itu. Ia langsung menepuk dahinya. Dengan sigap ia memukul paha bayi itu berulang kali, tetapi bayi itu tidak memberikan reaksi.
"Segera tengkurapkan dia di perut nona muda." Perintah dokter Stevi.
Erik segera menidurkan Yuana. Tangannya bergetar ketika melihat wajah kaku Yuana dan tangannya yang sangat dingin.
"Biar saya saja yang mendekapnya , Dokter! Tolong selamatkan istri saya." Tawar Erik karena ia sadar bahwa kondisi Yuana sedang tidak baik-baik saja.
Dokter Stevi mengangguk mendengar permintaan Erik. Suster itu memberikan bayi tersebut kepada Erik yang langsung mendekapnya dengan air mata yang berderai.
"Istri saya, Dokter. Saya tidak mau kehilangan istri saya." Ujar Erik.
Gail yang berdiri dengan tegang di luar kaget mendengar suara tangis Erik yang sangat jelas di telinganya.
Karena itu, ia membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang terjadi.
Matanya langsung terbelalak ketika melihat kondisi Yuana. Ia langsung menyerobot masuk begitu saja. Ia tidak mempedulikan dokter Stevi dan beberapa suster yang melihatnya.
Matanya tertuju kepada tubuh Yuana yang terlihat kaku. Ia kemudian mengalihkan tatapannya kepada dokter Stevi dan semua suster dengan tatapan penuh ancaman.
"Nona Yuana harus selamat! Jika tidak, saya akan melakukan tindakan yang menyakiti kalian semua yang sudah menangani nona Yuana. Waktu kalian hanya satu jam untuk menyelamatkannya." Ancam Gail kemudian bergegas keluar dengan amarah yang berkobar-kobar.
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍