
Setiap orang pasti punya keterbatasan dan juga kelebihan. Sehebat apapun kita, masih ada orang yang lebih hebat di luar sana. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. Karena setiap kita, telah dikaruniai kelebihan yang tidak orang lain miliki.
Manfaatkanlah kelebihan yang ada padamu untuk semakin melakukan banyak hal baik, karena apa yang kita lakukan saat ini mungkin tidak akan berdampak, tetapi suatu saat, orang akan mengenang semua hal yang telah kita kerjakan. Hal yang paling penting, jangan pernah sia-siakan waktumu untuk hal yang tidak bermanfaat. Eda Sally
*****
Tuan Rex mengamati Erik sangat lama, dan kemudian tersenyum. Erik hanya hanya membalasnya dengan menganggukkan kepala.
"Tuan Gavin, anda kami terima bekerja di perusahaan kami. Tak ku sangka tuan punya kemampuan yang luar biasa dalam menyelesaikan masalah yang menyangkut keuangan." Kata tuan Rex kemudian berdiri dan menyalami Erik.
Erik sebenarnya merasa risih dipanggil Gavin, tetapi ia harus terbiasa menggunakan nama itu agar penyamarannya tetap aman. Ia tidak ingin orang-orang Angkasa Grup menemukannya dengan gampang hanya karena ia menggunakan nama aslinya.
"Terima kasih tuan Rex atas kemurahannya dan kepercayaannya yang telah mengizinkan saya untuk bekerja dan belajar di sini." Kata Erik merendah.
"Saya yang berterima kasih karena tuan Gavin mau bekerja di sini. Tuan besar pasti sangat senang mendengar berita ini. Besok tuan Gavin harus datang tepat pukul 07.00 agar bisa bertemu dan berbincang dengan tuan besar." Kata tuan Rex sambil mengguncang tangan Erik.
"Terima kasih tuan. Saya akan melakukan tepat seperti yang tuan katakan." Kata Erik.
"Tuan Gavin boleh pulang sekarang. Saya sangat menunggu kehadiran tuan besok pagi di sini. Jika ada yang mau ditanyakan, silahkan!" Kata tuan Rex sopan.
"Saya rasa semuanya cukup jelas. Terima kasih atas bantuannya, tuan!" Kata Erik dengan sopan kemudian segera keluar meninggalkan ruangan dan turun ke lantai satu melalui lift yang tadi digunakannya.
Terima kasih Tuhan. Setidaknya bebanku sedikit berkurang karena wanitaku tidak akan kesusahan. Aku tidak mau jadi pria yang tidak bertanggung jawab.
Erik segera pulang menggunakan taksi. Ia ingin cepat sampai rumah dan membagi kebahagiaan dengan istri kecilnya. Ia juga tidak ingin Yuana khawatir karena ia sudah cukup lama berada di luar rumah dan saat ini juga sudah sore.
Begitu taksi berhenti di depan rumah, Erik segera menyerahkan selembar uang tanpa menunggu kembaliannya. Ia tidak mempedulikan driver taksi yang memanggilnya. Ia hanya mengangkat tangan dan melambai kepada driver taksi sambil terus berlari ke dalam rumah.
Erik hati-hati sekali membuka pintu kamar. Ia takut jika Yuana sedang tidur dan kedatangannya akan membangunkan istri kecilnya. Begitu pintu terbuka dengan lebar, Erik tidak melihat siapa pun. Ia segera keluar dan mencari Yuana di belakang, tetapi tidak menemukannya.
"Nona muda dimana, Alika?" Tanya Erik begitu melihat Alika sedang sibuk di dapur.
__ADS_1
"Dari tadi juga belum keluar kamar sama sekali tuan. Ada apa?" Alika menjawab dan bertanya kembali dengan khawatir.
"Aku tidak menemukannya di kamar." Kata Erik kembali berlari masuk ke kamar.
Ia masuk dan mengamati kamar dengan bingung. Tiba-tiba ia melihat pintu kamar mandi terbuka dan Yuana keluar dari sana.
"Oh! Rupanya kamu mandi sayang. Aku sangat khawatir ketika pulang dan tidak menemukanmu. Aku takut!" Kata Erik berjalan ke arah Yuana dan memeluknya dengan erat kemudian melancarkan ciuman bertubi-tubi pada wajah Yuana.
"Aku kan sudah bilang kalau tidak akan kemana-mana." Jawab Yuana.
"Iya sayang. Aku yang terlalu takut kehilanganmu, sehingga ketika pulang dan tidak melihatmu membuatku khawatir." Kata Erik dengan masih memeluk Yuana.
"Lepaskan aku dan mandi dulu. Aku mau menyisir rambutku." Pinta Yuana, karena merasa sesak napas dengan kelakuan suaminya yang memeluknya dengan sangat erat.
"Iya! Aku akan mandi. Jangan kemana-mana karena aku mau menceritakan tentang perjalananku hari ini. Kamu pasti ingin tahu kan?" Kata Erik kemudian berjalan ke kamar mandi.
Yuana tersenyum sambil mengelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Ia menyisir rambut sambil tersenyum.
Ternyata menikah itu menyenangkan. Suami takut kehilangan, dan sebaliknya aku juga demikian. Tuhan, tolong jaga cinta kami. Jangan pernah pisahkan kami lagi.
"Aku ingin bercerita dengan posisi seperti ini. Jadi, jangan bangun sampai aku selesai bercerita. Ok?" Kata Erik sambil mengeratkan pelukannya pada Yuana yang ada di pangkuannya.
Yuana hanya menganggukkan kepalanya karena ia sudah sedikit paham dengan keinginan suaminya.
Erik mulai menceritakan semua yang dialaminya hari ini. Tidak ada satu pun yang ia lewatkan. Yuana mendengarkan dengan saksama tanpa bermaksud menyela. Setelah Erik selesai bercerita, Yuana melepaskan pelukan Erik. Ia berdiri kemudian berbalik menghadap Erik dan memeluknya.
"Aku sangat bersyukur karena kamu diterima untuk bekerja. Jika ada pekerjaan kantor yang nanti membutuhkan bantuanku, aku siap membantu kamu sebisa mungkin." Kata Yuana sungguh-sungguh.
"Aku tidak meragukan kemampuan istri kecilku. Karena tidak ada orang yang bisa berdiri di samping ayahku jika ia tidak mampu. Dan istriku satu-satunya orang yang dipercaya untuk itu." Kata Erik sambil menarik Yuana untuk kembali duduk di pangkuannya.
Wajah Yuana memerah karena ia duduk menghadap Erik. Karena itu ia malu dan menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Hei! Lihat aku. Aku ingin kamu tahu satu hal." Kata Erik yang membuat Yuana langsung mengangkat wajahnya.
"Hal apa yang perlu aku ketahui?" Tanya Yuana penasaran.
"Mulai sekarang, namaku bukan lagi Erik, melainkan Gavin. Dan kamu sendiri pun namamu bukan lagi Yuana, tetapi Grizelle." Kata Erik.
"Lalu, apakah di rumah pun aku harus membiasakan diri dengan memanggil nama barumu?" Tanya Yuana.
"Iya. Aku rasa kita harus membiasakan diri untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Kamu tahu kan ayah seperti apa?"
Yuana hanya mengangguk dan tanpa terasa air matanya langsung mengalir begitu saja. Ia tiba-tiba mengingat kembali semua kepahitan yang telah dilewatinya.
Erik yang melihat Yuana menangis, segera menyeka air matanya dan memeluknya dengan erat.
"Please! Jangan menangis seperti ini. Hatiku sakit jika melihatmu mengeluarkan air mata. Aku tidak ingin ada air mata lagi di dalam rumah tangga kita. Apapun akan kita hadapi bersama."
Yuana mengangguk, tetapi air matanya masih saja mengalir. Erik membujuknya agar diam, namun ia malah membenamkan wajahnya di dada Erik dan terus menangis.
Erik yang bingung harus melakukan apa untuk membujuk istrinya, mulut dan tangannya mulai beraktifitas. Hal ini sedikit mengurangi tangisan Yuana. Namun, Erik tidak menghentikan aktifitasnya dan malah semakin sibuk dengan aktifitasnya, hingga pada akhirnya ia harus kelelahan karena terlalu banyak menikmati aktifitasnya.
Bersambung.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍