
Menjadi seorang muda adalah pilihan. Namun, menjadi tua adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh oleh setiap mereka yang pernah menjadi orang muda. Karena yang muda belum tentu tahu indahnya menjadi tua, dan yang tua pernah menjadi muda dan tahu bahwa masa muda adalah masa yang paling indah dan penuh kenangan.
Jangan pernah sia-siakan masa mudamu. Manfaatkanlah waktumu dengan baik, dan nikmatilah apa yang ada di depanmu, karena akan datang masanya matamu hanya akan melihat semuanya dari jauh tanpa bisa mengulurkan tanganmu. Ingatlah selalu, bahwa hidup adalah kesempatan. Eda Sally
*****
"Apa yang kamu takutkan?" Tanya Yosua pura-pura bodoh.
Yosua akui. Adiknya memang sangat cerdas dalam hal akademis. Namun benar-benar sangat buta soal cinta dan antek-anteknya.
Yuana hanya menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan kakaknya. Erik yang menyaksikan dan mendengar apa yang dikatakan kakak beradik itu, hanya mampu mengusap wajahnya dengan kasar, seolah sebuah beban tengah menantinya di depan, karena ia benar-benar harus mempersiapkan diri untuk menjadi tutor bagi calon istrinya nanti.
"Ahmmm, baiklah! Semuanya, kita akan menikmati makan malam yang sudah disediakan pihak hotel."
Sekretaris Bram memecah keheningan diantara mereka yang baru saja menyaksikan drama yang membuat mereka bungkam seribu bahasa.
Yuana segera melepaskan pelukannya dari sang kakak setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan sekretaris Bram. Mereka berjalan beriringan memasuki ruangan yang tadi mereka tinggalkan karena harus mengejar sang putri yang melarikan diri di saat puncak ketegangan sedang berlangsung.
Mereka semua menikmati makan malam yang mewah dengan wajah yang ceria, kecuali Yuana yang masih tertunduk karena sisa-sisa rasa malu yang masih menggelitik hatinya.
Setelah melihat bahwa mereka hampir saja menyelesaikan makan malamnya, sekretaris Bram segera membuka percakapan diantara mereka.
"Untuk semuanya, terlebih Yuana, diharapkan untuk bisa menerima semua yang akan kita bicarakan karena ini semua demi kebaikan dan masa depan kalian." Kata sekretaris Bram.
Yuana segera meletakkan sendoknya dan menatap sekretaris Bram, kemudian secara bergantian menatap Yosua dan Erik.
"Pernikahan kalian memang terkesan mendadak, karena kita tidak ada waktu lagi. Saya dan Yosua terpaksa harus melakukan ini untuk menyelamatkan hubungan kalian. Jadi, siap atau tidak, kamu harus bisa terima pernikahan yang dilakukan secara mendadak ini." Lanjut sekretaris Bram.
"Kapan pernikahannya akan dilaksanakan?" Tanya Yuana dengan gugup.
__ADS_1
"Besok, jam 09.00 pagi. Acaranya akan satu kali jalan dengan acara resepsi, sehingga malam tidak ada acara lagi. Karena di hari berikutnya, saya dan Yosua sudah harus kembali ke Indonesia. Dan di hari itu juga, waktu berliburnya Erik sudah berakhir di UK, sesuai dengan apa yang diketahui oleh tuan besar." Jawab sekretaris Bram menjelaskan.
"Be...besok?" Tanya Yuana dengan gugup.
"Iya! Besok!" Kata sekretaris Bram tegas.
Yuana perlahan-lahan menurunkan tangannya dan menggenggam tangan Yosua dengan erat, dan menyandarkan kepalanya di bahu Yosua untuk mengatasi rasa takut yang tiba-tiba menyerang. Keringat mengalir dengan deras membasahi tubuhnya, seolah AC dalam ruangan tidak mempan dengan suhu panas tubuhnya.
"Tidak usah takut. Semuanya akan baik-baik saja." Kata Yosua seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Yuana.
"Tapi, aku belum siap kak. Aku benar-benar takut." Kata Yuana dengan suara yang hampir tidak terdengar karena rasa gugup yang sangat hebat.
"Berusahalah untuk bisa dan kuat demi aku. Please!" Kata Yosua memohon pada adiknya.
Yuana perlahan mengangkat kepalanya yang bersandar di bahu kakaknya, dan memandang wajah kakaknya dengan lekat seolah meminta jawaban atas apa yang baru saja dikatakan kakaknya.
Air mata Yuana menetes begitu saja mendengar apa yang baru saja dikatakan kakaknya.
"Doakan aku dalam acara sakral yang akan berlangsung besok agar aku kuat, kak! Aku benar-benar takut dan gugup, karena mulai besok, aku akan mengalami sesuatu yang baru dalam hidupku. Sesuatu yang akan aku ingat seumur hidup." Pinta Yuana pada kakaknya.
"Kakak percaya padamu! Kamu pasti bisa! Dan harus bisa! Kakak tidak ingin besok ada air mata lagi pada saat acara berlangsung. Tahan air matamu sebagai wujud janjimu pada kakak, agar jika kakak pulang, kakak bisa tenang bekerja di sana."
Yuana hanya menganggukkan kepala mendengar apa yang baru saja dikatakan Yosua. Rasa gugupnya sudah mulai berkurang. Ia kembali duduk dengan tegak dan menyelesaikan makanannya yang masih tersisa.
Erik yang menatapnya sejak tadi, hanya bisa diam melihat Yuana dengan tatapan yang iba. Ia sendiri tidak tega melihat Yuana ketakutan seperti itu. Tetapi ia sendiri pun menginginkan pernikahan ini, karena ia ingin mengakhiri hidupnya bersama orang yang dicintai. Ia juga takut tidak bisa menahan diri dan kemudian terjadi hal yang akan membuatnya harus ingkar janji kepada Yosua.
"Jika semuanya sudah selesai makan, kita akan ke kamar kita masing-masing untuk istirahat. Malam ini kita semua akan menginap di sini agar memudahkan kita untuk acara besok pagi." Kata sekretaris Bram.
Alika nampak mengangkat kedua tangannya tanda bersorak tanpa suara. Ia terlihat sangat bahagia karena akan menginap di hotel. Habib yang ada di dekatnya melototkan matanya. Alika pura-pura melihat ke lain tempat untuk menghindari tatapan penuh ancaman dari kakaknya.
__ADS_1
"Syukurlah! Biar kita tidak usah bolak balik." Kata Agatha.
"Iya! Kamu benar. Tetapi besok tetap harus bangun pagi, karena kalian akan di rias pagi-pagi, terutama nona Yuana." Jawab Arthur.
Erik tersenyum melihat Arthur bicara tegas pada Agatha. Biasanya Arthur tidak akan seberani itu pada Agatha.
Mereka meninggalkan meja makan dan menuju ke kamar masing-masing dengan diantar oleh staf hotel.
Sekretaris Bram satu kamar dengan Erik dan Yosua. Habib dan Arthur satu kamar, sedangkan Yuana, Alika, dan Agatha satu kamar. Sekretaris Bram memang memesan kamar VIP untuk mereka semua. Ia ingin melakukan yang terbaik untuk pernikahan adiknya walau mungkin tidak akan seramai dan semewah acara seorang tuan muda pada umumnya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Erik membaringkan dirinya diatas tempat tidur sambil tersenyum. Yosua yang melihat hal itu paham kenapa calon iparnya itu tersenyum. Namun, ia memilih cuek untuk tidak menggoda Erik.
Hmmmm! Mulai besok malam, aku akan bebas memeluknya kapan saja, dan melakukan semua yang aku inginkan selama ini. Tetapi kenapa ia terlihat sangat takut? Aku tidak habis pikir, seorang yang sangat cerdas ternyata mempunyai kelemahan dan bodoh dalam hal cinta. Aku yang akan mengajarkan kepadamu, apa yang harus dilakukan dalam cinta yang sesungguhnya. Erik.
Bersambung.
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍
__ADS_1