
Kadang kita harus berusaha untuk tetap menggenggam apa yang sudah menjadi milik kita. Karena jika kita lengah, maka apa yang telah kita miliki bisa saja hilang. Hidup memang mengharuskan kita untuk berjuang, karena pilihan-pilihan dalam hidup seringkali tidak segampang bayangan kita. Berjuanglah! Eda Sally
*****
Seminggu telah berlalu.
Erik dan sekretaris Bram yang sudah mempersiapkan diri untuk berangkat ke UK nampak kompak. Mereka kini terlihat selalu bersama dalam keseharian mereka. Kemana pun selalu bersama. Mereka seolah tidak ingin berpisah.
Andre Wiliam sampai merasa heran, karena ia melihat mereka terlihat akrab seperti itu waktu mereka masih kecil. Setelah dewasa, mereka jarang bersama karena masing-masing disibukkan dengan urusannya sendiri.
Pagi ini, terlihat kesibukan yang sangat mencolok pada pelayan pria di rumah utama karena kedua tuan mereka akan berangkat. Sejak subuh mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu agar kedua tuan mereka tidak kerepotan saat akan berangkat nanti. Bahkan pelayan yang bertugas menyiapkan sarapan pun terlihat lebih sibuk.
Erik dan sekretaris Bram yang sudah sarapan bersama dengan kedua orang tua mereka, segera berpamitan kepada sang tuan dan sang nyonya.
"Pa, mi! Erik mohon pamit. Maafkan Erik yang tak bisa tinggal di sini. Erik ingin menjalani hidup tanpa ada bayangan nama besar papa." Kata Erik sambil memeluk kedua orang tuanya.
"Tidak apa-apa nak! Jika langkah yang kamu ambil baik menurutmu, lakukanlah! Mami akan selalu mendoakanmu." Nyonya Jessy yang menjawab perkataan putra tunggalnya sambil menghapus air matanya.
"Terima kasih mi!" Jawab Erik perlahan.
"Cepat berangkat! Nanti kalian terlambat." Kata Andre Wiliam mengalihkan drama yang terjadi antara ibu dan anak.
Ia sama sekali tidak mengucapkan kata apapun untuk Erik. Karena baginya, anak lelakinya harus mandiri. Di sisi lain, ia juga termasuk pribadi yang dingin sehingga tidak bisa bersikap manis dengan anaknya sendiri walau Erik adalah anak semata wayangnya.
Erik yang paham dengan karakter papanya segera berjalan keluar tanpa mengatakan apapun lagi. Ia tidak ingin merusak suasana perpisahannya dengan kedua orang tuanya.
Sekretaris Bram hanya mengikutinya dari belakang sambil menahan senyum. Fadly yang sudah berdiri dengan gagah di samping mobil segera membukakan pintu untuk kedua tuannya.
Erik dan sekretaris Bram memasuki mobil tanpa mengatakan apapun. Bagi Fadly, itu bukan hal yang baru karena ia sudah sering memandang wajah-wajah dingin itu, sehingga hatinya juga sudah dingin jika memandang mereka.
"Kak! Aku benar-benar takut." Kata Erik setelah mobil mulai berjalan.
"Apa yang kamu takutkan?" Bram balik bertanya.
"Aku takut Yuana tidak menerimaku." Kata Erik sambil menarik napas panjang.
__ADS_1
"Apa kamu sudah tidak percaya lagi dengan kakakmu ini?" Bram balik bertanya.
"Aku selalu percaya padamu kak! Tetapi kepercayaan Yuana padaku yang membuatku takut. Apa ia akan menerima aku lagi setelah ia tahu bahwa aku telah menikah sebelumnya?" Dia pasti memikirkan yang tidak-tidak terhadapku."
"Jika papamu saja sanggup aku yakinkan sehingga kamu berpisah dari Celine, maka untuk urusan istri kecilmu itu serahkan kepadaku." Kata Bram sambil menatap Erik.
Erik segera tersenyum dan tangannya reflek merangkul sekretaris Bram saking senangnya.
"Hei! Kondisikan tanganmu. Jangan bersikap romantis denganku, karena aku bukan istrimu." Kata Bram sambil menurunkan tangan Erik.
"Sombong amat. Pantas saja banyak wanita yang tidak menyukaimu. Bahkan yang sudah dijodohkan pun melarikan diri karena tidak sanggup memandang wajah angkermu itu." Kata Erik sambil memalingkan wajahnya.
"Lalu, apa kamu pikir kamu juga normal? Aku percaya mata Yuana salah melihat sehingga bisa jatuh cinta denganmu. Andaikan ia tahu bahwa kamu pria angkuh, dingin, dan sangat tidak mempesona, ia pasti tidak akan pernah memilihmu." Kata sekretaris Bram balik mengolok Erik.
"Tapi buktinya kami sudah menikah." Kata Erik menahan tawanya.
"Jangan bilang kamu ingin mengatakan kenapa aku belum menikah." Kata sektetaris Bram memandang tajam kepada Erik.
Erik pura-pura tidak melihat dan segera turun dari mobil karena Fadly sudah membukakan pintu untuk mereka.
"Sama-sama tuan muda. Semoga perjalanannya menyenangkan." Kata Fadly sambip menunduk dan memberi hormat.
Tanpa mengatakan apapun lagi, kedua pria tampan itu segera masuk melalui pintu khusus karena mereka memilih penerbangan kelas bisnis.
Setelah diatas pesawat, mereka mengobrol santai sambil membicarakan langkah apa saja yang akan mereka lakukan setelah di sana.
"Apa kau sudah menelpon Arthur untuk menjemput kita?" Tanya Erik ketika pesawat lepas landas.
"Sudah tuan muda yang mulia." Kata Bram sambil tersenyum.
Erik tidak mau menanggapi perkataan Bram karena ia tahu Bram masih kesal dengannya karena tadi sempat mengoloknya.
Penerbangan belasan jam tidak dirasakan sama sekali oleh Erik. Ia sama sekali tidak memejamkan mata karena pikirannya sedang menerawang tentang bagaimana caranya mendapatkan informasi tentang Yuana.
"Ayo turun! Jangan melamun terus. Kamu bahkan tidak tidur sama sekali." Kata sekretaris Bram menyenggol Erik.
__ADS_1
Erik tidak mengatakan apapun. Ia hanya mengekor sekretaris Bram dari belakang. Mereka segera menuju keluar sambil mencari Arthur.
Arthur yang melihat mereka terlebih dahulu segera melambaikan tangannya dan berlari ke arah mereka sambil tangannya tetap menggandeng Agatha.
"Selamat datang kembali tuan muda. Saya sungguh senang karena bisa bertemu lagi dengan tuan." Kata Arthur sambil menunduk memberi hormat.
"Selamat datang tuan muda." Kata Agatha juga sambil memberi hormat. Erik hanya menganggukkan kepala menanggapi Agatha.
"Jangan terlalu resmi Arthur. Ini di tempat umum. Berhentilah bersikap konyol agar kamu tidak dianggap gila oleh orang-orang." Kata Erik sambil berjalan meninggalkan Arthur diikuti oleh sekretaris Bram.
Arthur dan Agatha segera berlari menyusul kedua pria tampan itu. Setelah sampai di mobil yang akan membawa mereka, Arthur segera membukakan pintu untuk kedua orang yang sangat dihormatinya itu.
"Apa tuan ingin mengunjungi suatu tempat sebelum sebelum kita ke mansion?" Tanya Arthur setelah menjalankan mobil. Agatha yang duduk di sampingnya hanya diam. Ia memilih diam karena ia tahu persis cerita yang sebenarnya dari Arthur.
"Tidak usah Arthur. Aku ingin istirahat karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, dan tentu saja kau juga harus membantuku mengurus sesuatu." Kata Erik.
Sekretaris Bram memilih memejamkan mata dan tidak ingin berbicara. Ia sungguh lelah, karena selama di pesawat Erik sama sekali tidak tidur dan itu membuatnya tidak tidur juga. Begitulah Bram. Ia selalu mengutamakan Erik diatas segalanya yang berkaitan dengan kepentingannya.
"Baik tuan muda. Arthur Walker siap menerima perintah dari tuan muda." Kata Arthur.
Apa sekarang aku harus menyampaikan kepada tuan muda tentang keberadaan nona muda? Tetapi nona muda sendiri yang telah melarang aku untuk tidak memberitahukan tentang keberadaannya kepada siapa pun. Ah! Aku sungguh bingung. Aku harus lihat kondisi dulu. Arthur.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍