
Rindu sering kali menjadi alasan sebuah pertemuan. Dan pertemuan yang terjadi karena rindu, akan menjadi momen yang membawa sebuah perubahan dan harapan baru. Karena rasa rindu hanya akan terjadi diantara orang-orang yang merasa saling memiliki. Eda Sally
*****
Erik yang berdiri tidak jauh dari situ langsung menahan tubuh istrinya agar jangan sampai jatuh. Ia memeluk tubuh sang istri dengan erat dan membiarkan Yuana menangis dalam pelukannya.
Tangannya tak henti membelai rambut Yuana, dan sesekali mengecup puncak kepala istrinya.
"Tenangkan hatimu, dan sapalah mereka. Karena mereka mungkin merindukanmu lebih dari yang kamu tahu."
"Jadi, kuatkan hatimu, dan lepaskan rasa rindumu kepada mereka."
"Aku akan selalu ada di sini untukmu, dan menjadi tempat untuk menyandarkan bahumu."
"Jika kamu sudah tidak kuat untuk berdiri sendiri, maka aku akan menjadi tiang penyanggah untukmu." Ujar Erik sambil mengangkat wajah Yuana dan mengecup keningnya.
Yuana memandang Erik dan perlahan memaksakan diri untuk tersenyum. Erik langsung menghapus sisa-sisa airmata Yuana dengan tangannya, kemudian mengecup keningnya sangat lama.
Setelah itu, Erik menganggukkan kepala kepada Yuana, agar berjalan bersamanya dan menyapa dua orang yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya.
Erik merangkul Yuana yang tetap menyandarkan kepala di bahunya, dan dengan perlahan keduanya berjalan menuju tempat berdirinya paman Jack dan sang istri.
Bu Grace terlihat sesenggukan, dan menggigit bibirnya menahan tangis, karena sangat merindukan Yuana, yang sudah dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri.
Setelah dekat, Yuana melepaskan diri dari rangkulan Erik, dan untuk sesaat ia hanya mampu menundukkan kepala di hadapan wanita yang sudah sangat menyayangi dirinya itu.
"Peluk mami, Nak! Mami sangat merindukanmu." Ujar Bu Grace sambil merentangkan kedua tangannya.
Yuana langsung menubruk wanita itu dan membenamkan kepalanya di dada wanita itu dengan terus menangis tanpa bisa mengatakan apapun.
Kedua wanita yang sudah sangat lama terpisah itu, menumpahkan airmata mereka sebagai bahasa yang mewakili perasaan mereka.
"Lihatlah mami dan katakan bahwa kamu merindukan mami."
"Mami tahu persoalan yang kamu hadapi itu berat, tetapi kamu salah jika menyembunyikan hal itu dari mami."
"Mami bahkan tidak memiliki semangat hidup ketika mengetahui kenyataan tentang kepergianmu."
"Kamu tahu, papamu seringkali mama dapati menangis seorang diri. Ia benar-benar merasa sangat kehilangan."
"Setiap kali memandang Nita, papamu tiba-tiba akan menangis, karena rasa rindunya kepadamu yang sudah tidak dapat dibendung."
"Mami selalu menjadi tempat bertanya, apakah ada kabar darimu."
"Dan setiap kali papamu menanyakan hal itu, mami akan memilih untuk menghindar, karena mami tidak sanggup jika harus menyebut namamu."
__ADS_1
"Sekarang kau telah kembali! Karena itu mami mohon, jangan pernah pergi lagi."
"Jangan biarkan kami semua merasakan ketakutan lagi karena kehilangan dirimu."
"Sekarang, angkatlah wajahmu, dan peluklah papamu, agar rasa rindunya padamu terobati." Ujar Bu Grace sambil perlahan mengecup kening Yuana.
"Terima kasih, Mi! Maafkan Yuana yang telah mengecewakan mami."
"Yuana berjanji, tidak akan mengecewakan mami lagi." Jawab Yuana dengan airmata yang berderai.
Yuana kemudian berpindah dan langsung memeluk pria yang tidak berdiri jauh dari istrinya.
Tangan pria itu seolah kaku untuk memeluk tubuh Yuana. Ia tidak melakukan apapun dan hanya berdiri kaku dengan bahunya yang bergoyang, karena menahan tangis akibat rindu kepada putrinya.
"Papa mungkin di beberapa kesempatan terlihat kaku, tetapi kau sendiri tentu tahu, seperti apa rasa sayang papa kepadamu."
"Papa tidak pernah membedakanmu dengan Nita."
"Karena bagi papa, kau dan Nita adalah bagian dari kehidupan papa yang tak terpisahkan."
"Jangan pernah pergi lagi. Tolong bantu Nita untuk menjaga papa, karena usia papa semakin tua."
"Papa ingin agar di dalam susah maupun sesang, kaulah yang menjadi tempat Nita untuk berbagi."
"Papa tidak mengkhawatirkan diri papa."
"Apa kau bersedia melakukan permintaan papa?" Tanya paman Jack sambil mengangkat wajah Yuana dan melihat wajah anak gadisnya.
Yuana hanya menganggukkan kepala karena ia tidak tahu apalagi yang harus dikatakan.
Paman Jack kemudian memandang Erik dengan tajam, dan kemudian jarinya menunjuk Erik yang berdiri tidak jauh darinya dan berkata:
"Dan kau, Jangan pernah sia-siakan hidup anak perempuanku, karena ia telah mengorbankan segala sesuatu, demi membuktikan cintanya kepadamu."
"Jika sekali kau menyakitinya, maka aku sudah tidak akan peduli lagi tentang nama besarmu, karena aku akan membalasmu dua kali lipat."
"Apa kau tahu, bahwa karena cintanya kepadamu, anakku harus rela menanggung beban seorang diri?" Tuding paman Jack dengan kata-kata yang cukup tajam kepada Erik.
"Saya tidak perlu berjanji, karena saya sendiri tidak bisa berpisah dengan putri anda."
"Dan saya telah membuktikan kepada putri anda, bahwa cinta saya kepadanya tidak akan pernah terbagi." Jawab Erik dengan mantap sambil tersenyum.
Andre Wiliam dan sekretaris Bram tidak marah akan hal itu, karena mereka tahu bahwa Erik memang perlu menerima kata-kata itu dari papa mertuanya.
"Tuan, mohon maaf!"
__ADS_1
"Mungkin untuk lebih baiknya, saya, atas nama keluarga Wiliam, mengundang tuan dan keluarga tuan, agar berkenan bersama-sama dengan kami menuju kediaman kami."
"Kita bisa berbicara dengan lebih leluasa di sana nanti." Ujar sekretaris Bram sambil mengatupkan tangan di dada.
Paman Jack hanya menganggukkan kepala menyanggupi permintaan sekretaris Bram. Mereka saling berjabatan tangan sebagai tanda perkenalan dua keluarga besar.
Mereka lalu berjalan keluar menuju tempat parkir mobil dengan suasana hati yang baru, karena kini mereka sudah tak terpisahkan lagi.
Nita terus berjalan sambil merangkul Yuana, dan sesekali mengecup pipi Yuana. Kebiasaannya dalam mengecup pipi Yuana tidak pernah berubah.
Yuana yang merasa risih, sesekali menjauhkan wajahnya, tetapi Nita menahan kepalanya dengan kuat, agar ia jangan menghindar.
"Jangan bilang kau sudah bersuami, jadi aku tidak punya hak lagi untuk mengecup dan menciummu."
"Aku tidak peduli ada suamimu atau tidak, karena aku akan terus melakukannya."
"Apa kau mengerti adikku sayang Yuana Samantha?" Tanya Nita kepada Yuana.
"Hmmm! Kau memang tidak pernah berubah!"
"Padahal kau seorang dokter, harusnya sudah berubah." Jawab Yuana.
"Apa kau pikir jabatan dokter akan mengubahku untuk tidak menyayangi saudaraku lagi?" Tanya Nita dengan tajam.
Erik yang berjalan di dekat mereka merasa gusar, karena ia tidak diberi kesempatan untuk merangkul istrinya.
Bu Jessy yang melihat wajah gusar putranya langsung menepuk pundak putranya.
"Biarkan mereka melepaskan rasa rindu mereka."
"Kau akan selalu bersama dengan istrimu setiap hari, tetapi tidak dengan mereka."
"Jadi kau hanya perlu menjadi pengamat yang baik dari kasih sayang yang mereka tunjukkan."
"Dan ingatlah untuk selalu mencintai wanita itu, karena ia sangat berharga, dan disayangi oleh semua orang."
Erik hanya menarik napas dan tersenyum mendengar apa yang dikatakan sang mami.
Sementara itu, sekretaris Bram berjalan ke arah mereka, dan menarik tangan Bu Jessy yang sementara menggendong Anabel dan kemudian membisikkan sesuatu di telinga wanita itu.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍