Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
163. Hukuman Bagi Erik dan Bram


__ADS_3

Sikap yang bijak adalah sikap dimana kita berpikir berulang kali sebelum melakukan sesuatu, agar tidak merugikan diri kita dan juga orang lain. Karena mereka yang bijak adalah mereka yang mengawasi setiap tindakan mereka, bahkan sangat berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Eda Sally


*****


Semua orang tersenyum saat melihat apa yang dilakukan Erik pada Yuana. Nyonya Jessy hanya mampu menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya kepada Yuana.


Sementara Andre Wiliam terlihat menampilkan senyum sinisnya. Entah apa yang ada di pikiran pria paruh baya itu.


Yuana tersipu malu dan membenamkan wajahnya di dada Erik saat melihat tatapan semua orang tertuju kepada mereka.


"Kamu kenapa?" Tanya Erik dengan heran melihat sifat malu-malu istrinya.


"Aku hanya malu dengan kelakuanmu. Semua orang sedang melihat ke arah kita." Jawab Yuana.


"Kenapa harus malu? Kita sekarang suami istri yang sah di keluarga besar Wiliam. Lalu salahnya dimana?" Tanya Erik dengan bingung.


Yuana tidak menjawab, tetapi semakin membenamkan kepalanya di dada sang suami.


Andre Wiliam yang melihat hal itu berjalan maju ke depan, dan menatap Erik dengan tatapan tajam kemudian mengarahkan mulutnya ke depan mic.


"Saya akan menyampaikan beberapa hal yang penting. Karena itu, diharapkan agar semuanya tenang."


"Pertama, saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada putra saya Bram Wiliam yang telah merencanakan dan mengatur acara ini dengan sangat baik."


"Yang kedua, ucapan terima kasih kepada semua pelayan yang telah menyulap ruangan ini dan membuat sambutan yang luar biasa kepada menantu saya, Yuana Samantha Wiliam."


"Dan yang terakhir, saya ingin berbicara secara khusus dengan kedua putra saya, Bram Wiliam dan Erik Wiliam."


"Kita akan berbicara sekarang juga di ruang kerja."


"Untuk yang lain, silahkan bersenang-senang dan nikmati apa yang telah disiapkan. Sedangkan kedua putra saya, harap untuk mengikuti saya sekarang juga."


Setelah selesai pengumuman, Andre Wiliam langsung menyerahkan Garrick kepada istrinya dan langsung naik ke lantai 2, menuju ruang kerja yang biasa dipakai Erik.


Firasat Erik dan Bram mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.


Karena bagi Andre Wiliam, sekali pun ia memaafkan, namun yang bersalah harus tetap mendapatkan hukuman.


Andre Wiliam yang sudah duduk dengan gagah di kursi kebesaran yang sering dipakai Erik, memejamkan matanya sambil menunggu kedua putranya.


Sementara Erik dan Bram yang sudah berdiri di pintu, saling mendorong untuk masuk ke dalam ruangan.


Rasa takut dan gugup membuat mereka berdiri dengan saling berpandangan dan sesekali memijat kening seperti sedang berpikir keras.

__ADS_1


Akhirnya, Bram mengalah dan membuka pintu kemudian masuk, diikuti oleh Erik.


Aku harus melindungi adikku. Ia baru saja menikmati kebahagiaannya, jadi aku akan bersikeras agar aku yang dihukum saja. Bram.


Aku harus menerima semua hukuman dan menjalaninya. Aku akan membela kak Bram, karena ia melakukan semuanya demi aku. Kakakku sudah terlalu banyak berkorban, dan aku tidak ingin kakakku berkorban untuk kali ini lagi. Erik.


Kedua pria tampan itu duduk dengan jalan pikiran masing-masing sambil menunggu sang tuan membuka mata untuk bertitah.


Keduanya saling mencuri pandang sambil saling menyenggol dengan kakinya karena menahan rasa gugup.


Jika seperti ini, wibawa seorang Andre Wiliam terlihat sangat menyeramkan, sehingga Erik dan Bram merasa seperti sedang berada di ruang pengadilan.


"Hmmmmm! Kenapa kalian ada di sini?" Akhirnya suara bas itu terdengar juga.


"Maafkan saya yang telah mengecewakan papa." Ujar Erik mendahului Bram.


"Maaf? Apa papa pernah mengajarimu menggunakan kata maaf untuk melindungi diri?" Tanya sang ayah dengan ketus.


"Tidak! Papa tidak pernah mengajari kami seperti itu." Jawab Erik.


"Lalu kenapa kau meminta maaf?" Kejar pria paruh baya itu dengan pertanyaan yang penuh jebakan.


"Karena saya merasa telah melakukan kesalahan besar kepada papa, dan saya wajib memohon maaf kepada papa." Jawab Erik.


"Maka saya siap menerima segala konsekuensi dari apa yang telah saya lakukan sehingga menyakiti papa dan membuat papa murka."


"Saya mohon kesalahan ini biar saya saja yang menanggungnya, karena kak Bram tidak bersalah sama sekali."


"Tolong hukum saya saja, dan bebaskan kak Bram." Pinta Erik sambil mengatupkan tangan di dada.


"Hukum saya saja, Tuan. Tuan muda baru saja mendapatkan kebahagiaannya, jadi tolong jangan buat ia bersedih lagi." Pinta Bram tak mau kalah.


"Hmmmm! Kedua putraku berusaha untuk saling melindungi. Rupanya papa selalu kalah langkah, karena kalian saling mendukung."


"Karena itu, papa sudah memutuskan bahwa kalian sama-sama akan menerima hukuman, agar jangan melakukan hal seperti itu lagi." Ujar Andre Wiliam sambil membuka mata dan menatap dua pria tampan di depannya.


"Saya mohon, Pa! Jangan libatkan kak Bram! Biar saya saja."


"Hukuman apapun akan saya jalani, asalkan tidak melibatkan kak Bram." Pinta Erik.


"Saya saya yang dihukum, Tuan! Jangan adik saya." Pinta Bram.


"Diam! Aku tidak ingin mendengar suara kalian, apalagi permohonan kalian."

__ADS_1


"Karena kalian sudah lancang membohongi papa, maka papa tidak akan menarik kembali keputusan papa."


"Dan papa telah memutuskan untuk mengasingkan kalian di tempat dimana Yuana pernah diasingkan."


"Papa akan memutus akses internet di rumah sehingga kalian tidak bisa melakukan komunikasi dengan siapa pun di sini."


"Malam ini juga kalian sudah harus berangkat. Lebih cepat lebih baik"


"Dan kau, katakan pada istrimu bahwa ada tugas perusahaan yang harus ditangani oleh dirimu dan tidak bisa diwakilkan." Ujar Andre Wiliam sambil menunjuk Erik.


"Berapa lama kami akan di sana, Tuan?"Tanya Bram tidak sabar.


"Cukup satu minggu. Aku tidak ingin ketiga cucuku mencari papanya yang jelek ini." Tunjuk Andre Wiliam kepada Erik.


"Setelah pulang dari masa hukuman, kau juga harus memperkenalkan seorang wanita kepada papa."


"Karena papa juga ingin memiliki cucu darimu."


"Ingat! Waktumu hanya satu bulan untuk mendapatkan wanita yang sesuai dengan keinginan hatimu."


"Jika dalam waktu satu bulan kau belum mendapatkan wanita calon menantuku, maka papa yang akan mencarikannya untukmu." Ujar Andre Wiliam sambil melangkah keluar.


"Maafkan aku, Kak! Gara-gara aku, kakak juga harus dihukum." Ujar Erik sambil memeluk sekretaris Bram.


"Tidak apa-apa! Nikmati saja! Anggap saja liburan. Kan hanya satu minggu." Ujar Bram menghibur diri. Padahal, ia sendiri juga tidak suka ketika papanya menyebut tempat itu.


"Bagaimana aku bisa seminggu tanpa kabar dari Yuana? Aku bisa gila kak!" Ujar Erik setelah melepaskan pelukannya.


Sekretaris Bram hanya tersenyum menanggapi perkataan Erik. Ia sama sekali tidak khawatir dengan ancaman Andre Wiliam untuk memutus akses internet.


"Kak! Aku tidak bisa berpisah dari Yuana! Tolong pikirkan cara agar kita tetap bisa berkomunikasi."


"Aku bisa gila kalau seminggu tanpa melihat wajah istriku, apalagi ketiga anaku." Ujar Erik dengan nada merengek.


"Apa kau tidak percaya pada kakak lagi? Apa kau pernah melihat kakak tidak melakukan hal yang tidak mungkin?" Ujar sekretaris Bram dengan senyum penuh makna, kemudian bangkit dan keluar dari ruang kerja tersebut.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍


__ADS_2