
Orang yang paling memahami kita adalah orang-orang terdekat kita yang bersedia melakukan apa saja demi melihat kita bahagia. Kebahagiaan akan selalu mewarnai hidup kita jika kita senantiasa mau berbuat baik dengan orang lain, dan menjadikan mereka bagian dari hidup kita tanpa memandang perbedaan. Eda Sally
*****
Setelah melihat bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu mereka lakukan, Erik dan Gail langsung berpamitan dan pulang.
"Jika ada apa-apa, cepat hubungi saya, Tuan!" Pesan Gerald sebelum Erik dan Gail meninggalkan rumah sekaligus markasnya.
"Baik tuan. Terima kasih atas segala perhatiannya." Jawab Erik.
Erik dan Gail menuju mobil mereka dan segera berangkat.
"Saya benar-benar puas dengan cara kerja tuan Gerald." Ujar Gail membuka percakapan.
"Hmmm! Saya tidak akan salah memilih orang dalam membantu saya untuk menyelesaikan kasus saya." Jawab Erik.
"Wanita itu pantas mendapatkan hukuman seperti itu." Ujar Gail dengan wajah puas.
"Jadi pikirkan lagi andai kata waktu itu kau bersikeras untuk memiliki Yuana, maka aku juga akan membuatmu mengalami nasib seperti Celine." Erik sengaja menggoda Gail.
"Saya masih cukup tahu diri, Tuan! Walau saya terkadang amburadul, tetapi saya masih punya hati nurani yang baik." Jawab Gail dengan nada bangga.
"Cihhh! Punya hati nurani yang baik tapi saat berhadapan dengan Celine, kau terlihat seperti penjahat kelas kakap." Ujar Erik.
"Nah! Kalau berhadapan dengan orang seperti Celine, saya akan berubah dalam sekejap, Tuan!" Jawab Gail tanpa beban.
Erik hanya menatap tajam ke arah Gail tanpa mengatakan apapun. Tak lama kemudian mereka sudah memasuki mansion milik Erik.
"Kamu menginap saja di sini. Begitu turun dari mobil, langsung ke kamar mu dan mandi, kemudian cepat kenakan bajumu. Yuana tidak akan senang melihatmu bertelanjang dada." Ujar Erik mengingatkan Gail.
"Baik, Tuan! Saya juga merasa lelah, jadi memilih untuk menginap saja." Jawab Gail.
Setelah turun, mereka langsung ke kamar masing-masing. Karena Gail sudah sering menginap, jadi Erik dan Yuana juga sudah menyediakan kamar khusus untuk Gail.
Saat Erik memasuki kamar, ia melihat Yuana belum tidur. Erik langsung berjalan ke kamar mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya.
Selesai mandi, Erik mendekati Yuana yang masih duduk sambil membaca sebuah buku.
"Sudah malam. Ayo tidur!" Tegur Erik kepada Yuana sambil mengambil buku yang sementara di pegang Yuana dan meletakkannya di tempatnya.
Yuana hanya diam menatap kelakuan Erik. Namun ia memilih mendengarkan perkataan suaminya.
Erik dengan sigap menggendong tubuh Yuana dan membawanya ke tempat tidur.
"Kamu kenapa jadi pendiam seperti ini?" Tanya Erik sambil memberikan kecupan bertubi-tubi pada wajah Yuana.
__ADS_1
"Aku takut Garrick tidak cukup mendapatkan kasih sayang karena aku sudah hamil lagi." Jawab Yuana jujur.
"Jangan pikirkan itu. Mulai sekarang, aku yang akan menemani Garrick bermain. Kamu hanya perlu istirahat dan menjaga anak kita yang di sini." Ujar Erik sambil tangannya membelai perut Yuana dengan lembut, kemudian tangannya mulai pindah ke tempat lain.
*****
Keesokan paginya, Erik dan Yuana menemani Garrick bermain seperti biasa. Gail juga bergabung karena hari ini libur.
"Maaf, Tuan! Ada tuan Arthur di depan, dan berpesan agar tuan menemuinya karena ia sedang bersama tamu yang sangat penting untuk tuan." Ujar pelayan itu.
Erik dan Yuana saling berpandangan dengan bingung. Sementara Gail sudah menggendong Garrick dan berjalan mendahului mereka.
"Siapa ya?" Ujar Yuana seperti bertanya untuk dirinya sendiri.
"Ayo kita temui!" Ajak Erik sambil merangkul tubuh mungil Yuana kemudian berjalan.
Saat keduanya membuka tirai pintu, mereka dikagetkan dengan dua orang yang sudah sangat mereka rindukan. Yuana langsung menangis di pelukan Erik.
Erik yang tak kalah terkejut dengan Yuana, hanya mampu mengusap punggung sang istri untuk menenangkannya.
"Hei! Ayo sapa mereka dulu!" Tegur Erik pada Yuana.
Yuana berusaha menenangkan hatinya. Setelah dirasa sudah cukup tenang, ia berjalan perlahan dengan senyum yang dipaksakan.
"Kak!" Ujarnya sambil memeluk tubuh wanita itu dan melepaskan tangisnya.
"Aku sangat rindu padamu, Nona! Aku selalu ingin ke sini, tetapi kak Habib melarangku." Ujar Alika dengan suara serak karena menangis.
Setelah selesai, Yuana pindah dan memeluk Habib. Tubuh Habib kaku dan hanya diam saat Yuana memeluknya. Ia tidak mampu membalas pelukan Yuana. Namun raut wajahnya menampakkan haru dan juga bahagia karena bertemu dengan majikan yang sudah menganggap mereka seperti keluarga.
Setelah melepaskan pelukannya, Yuana langsung mengajak mereka duduk.
"Terima kasih Arthur, terima kasih, Agatha.!" Ujar Erik.
"Sama-sama, Tuan! Kami hanya bisa melakukan hal kecil ini untuk membantu tuan." Jawab Arthur dengan sopan.
Gail hanya menatap bingung kepada dua orang berkulit hitam di depannya, karena ia belum mengenal Habib dan Alika.
Arthur dengan ringkas menceritakan semuanya pada Gail yang hanya mampu menganggukkan kepala.
"Ahmm, maaf nona muda! Apakah ini putra pertama nona?" Tanya Alika sambil menunjuk Garrick.
"Iya Alika! Namanya Garrick." Jawab Yuana sambil tersenyum.
"Wajahnya sangat mirip dengan tuan muda." Ujar Alika.
__ADS_1
"Tentu saja. Aku kan daddynya." Jawab Erik sambil tersenyum.
"Boleh saya menggendongnya?" Tanya Alika.
"Tentu saja boleh, Alika!" Jawab Yuana dengan cepat.
Gail segera memberikan Garrick pada Alika. Bayi itu tidak takut sama sekali. Ia bahkan tertawa saat Alika menggodanya.
Mereka lalu bercerita tentang keadaan mereka masing-masing sejak berpisah.
"Maaf, Tuan! Kalau boleh, Alika akan menggantikan posisi Esy. Saya hanya ingin tuan kecil memiliki teman bermain yang bisa menjaganya sehingga nona muda bisa istirahat." Ujar Arthur.
"Terima kasih banyak, Arthur! Aku juga sudah bermaksud untuk menahan mereka tinggal di sini. Aku tidak ingin mereka sendirian lagi. Aku ingin mereka senantiasa mengingat bahwa mereka masih memiliki kami sebagai keluarga mereka." Jawab Yuana.
"Iya! Aku juga senang, dan sama sekali tidak keberatan, Arthur! Kau telah melakukan hal yang tepat." Jawab Erik.
"Lalu, bagaimana dengan rumah tuan di Edinburgh yang selama ini kami tempati?" Tanya Habib.
"Serahkan semuanya kepada Arthur dan nona Agatha. Mungkin lebih baik jika disewakan. Jadi, kalian tidak perlu khawatir." Jawab Erik.
"Terima kasih banyak, Tuan!" Jawab Habib.
"Apa kalian tidak keberatan untuk tinggal di sini?" Tanya Yuana.
"Sama sekali tidak keberatan, nona muda!" Jawab Habib dan Alika kompak.
Sebenarnya mereka juga sudah sangat rindu dengan kedua majikan mereka, namun selama ini mereka hanya menunggu dengan penuh harapan bahwa suatu saat kedua majikan mereka akan datang dan menjemput mereka.
"Apakah saya juga bisa tinggal semakin lama di sini, Tuan?" Tanya Gail pada Erik sambil menutup mulutnya karena menahan tawa. Ia hanya bermaksud menggoda Erik.
"Terserah kamu saja, Gail! Tapi aku harap kamu bisa tahan dengan mulutnya Alika kalau lagi marah." Jawab Erik.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍