
Hati seorang wanita selalu peka dengan apapun yang akan terjadi, walaupun itu hanya hal kecil yang tak berarti. Bahkan firasat seorang wanita sangat kuat dan tidak bisa diremehkan dalam dugaannya tentang apa yang dilakukan lelakinya di luar sana. Eda Sally
*****
Habib masih panik, namun juga gemas melihat Alika yang tidak sadar bahwa ia telah membuat wajah Yuana penuh dengan air nyasar yang keluar dari mulutnya.
"Kamu kenapa paksa masuk ke kolam renang? Padahal sudah jelas-jelas tidak bisa berenang?"
Wajah Alike langsung pucat mendengar pertanyaan dari Habib. Ia sangat malu karena dokter Kim masih berdiri di situ dan memandangnya dengan kuatir. Sebagai seorang dokter tentu saja ia kuatir.
"Maaf kak. Soalnya aku merasa gerah jadi ingin berenang juga. Aku tidak tahu kalau kolamnya dalam."
"Kamu tidak membaca tulisan di pojok sana?" Habib berkata sambil menunjuk tulisan tata tertib berenang dan informasi mengenai kedalaman kolam.
"Tidak baca kak. Maafkan aku."
Alika sudah membacanya dan tahu, namun ia ingin dekat dengan dr Kim sehingga melompat masuk ke dalam kolam tanpa pikir panjang.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya dokter Kim.
"Aku baik-baik saja dokter."
Habib mengulurkan tangannya dan mengangkat Alika agar berdiri.
"Nona Yuana! Ayo pulang. Sudah sore." Habib memanggil Yuana sedang mencuci mukanya berulang-ulang.
"Iya kak!" Jawab Yuana sambil keluar dari kolam.
Mereka kemudian berjalan beriringan dan pulang, karena rumah mereka hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari kolam renang.
"Apakah dokter tidak mampir dulu?" Tanya Habih basa basi.
"Lain kali saja. Aku pasti main kesini. Kamu tidak keberatan kan?" Dokter Kim menjawab dan kemudian balik bertanya.
"Tentu saja tidak keberatan dokter." Jawab Habib.
Setelah dokter Kim pergi, mereka masuk ke dalam rumah dan mandi serta berganti pakaian.
Selesai mandi, karena hari masih sore, mereka duduk di depan rumah dan memandang ke arah laut sambil bercerita dan minum teh rooibos (teh khas afrika selatan) untuk menghangatkan badan sehabis berenang .
__ADS_1
Tiba-tiba cangkir yang dipegang Yuana terlepas dari tangannya dan langsung pecah. Hal itu membuat Yuana harus menyiram paha dan kakinya dengan air dingin dan berganti pakaian karena kena tumpahan air teh yang cukup panas.
"Nona tidak apa-apa?" Alika bertanya dengan kuatir
Sebelum Yuana menjawab pertanyaan Alika, Habib yang takut Yuana kesakitan karena kena teh panas langsung menggendong Yuana dan berlari ke kamar mandi. Yuana hanya bengong dengan apa yang dilakukan Habib, namun ia segera mengerti maksud Habib
"Maaf jika saya lancang. Silahkan di siram dulu dengan air dingin. Saya takut nona akan kesakitan." Habib berkata setelah menurunkan Yuana di kamar mandi
"Terima kasih kak." Kata Yuana sambil berusaha tersenyum.
Entah kenapa. Hatiku sangat tidak enak. Aku takut terjadi sesuatu pada Erik. Ya Tuhan, lindungi Erik, ibu, dan kak Yosua. Buka jalan agar kami dapat bertemu lagi
Selesai mengganti pakaian, Yuana berjalan ke depan, tempat mereka minum teh dengan airmata yang tidak bisa disembunyikan.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi. Kenapa kamu menangis seperti itu." Habib bertanya dengan kuatir
Yuana sudah tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam dan menangis di pelukan Alika. Ia bingung darimana harus memulai cerita tentang masalah yang ia hadapi hingga ia harus diasingkan sampai sejauh ini.
Setelah merasa tenang, Yuana akhirnya mau bercerita. Ia menceritakan semua yang ia alami sampai ia harus datang ke tempat yang tidak ia sukai sama sekali. Habib dan Alika mendengarkan dengan serius. Sesekali Habib terlihat mengepalkan tangan dan meninju tiang rumah yang ada di dekatnya karena marah.
"Beraninya dia menghubungkan urusan cinta dengan pekerjaan. Benar-benar manusia tak berperasaan." Habib berkata dengan geram
"Kami memang belum pernah bertemu dengan tuan besar, tapi semua orang selalu menceritakan kebaikannya. Ini kali pertama aku mendengar seseorang diasingkan karena cinta, dan itu kamu." Alika menambahkan
"Aku harap kamu jangan sedih lagi. Kalau kamu menangis, aku yang tidak bisa menahan hatiku. Ingin kuhajar meski itu tuan besar sekalipun." Kata Habib.
"Tidak usah marah kak. Aku hanya merasa telah terjadi sesuatu pada Erik."
"Maksudmu?" Tanya Alika
"Hmmmmm. Aku merasa Erik akan berkhianat. Aku benar-benar akan sakit hati seumur hidup kalau sampai dia mengkhianati aku."
"Kalau dia berkhianat, aku berdoa agar seumur hidup aku jangan bertemu dengannya. Jika tidak, aku akan membunuhnya. Laki-laki tidak tahu diri."
"Kak! Sudah kak! Jangan terbawa emosi. Kita justru harus memikirkan cara agar bisa mempersatukan nona Yuana dan tuan Erik. Kalau dari cerita nona, aku percaya tuan muda tidak mungkin berkhianat." Alika bicara sambil tangannya mengusap bahu Yuana.
"Tapi bagaimana kalau dia ditekan tuan besar dan pada akhirnya menikah? Lalu aku harus bagaimana? Kalau memang akan seperti itu kenapa aku harus dibuang sejauh ini?"
Hiks..hiks..hiks
__ADS_1
Yuana kembali menangis. Ia tidak sanggup membayangkan Erik bersanding dengan wanita lain.
Kalau kamu sampai menikah, aku akan bilang bahwa semua yang kamu katakan selama ini adalah bohong dan kamu mengatakannya hanya untuk menyenangkan hatiku. Kamu pengecut, Rik. Percuma aku berkorban sampai sejauh ini jika pada akhirnya kamu berkhianat. Jika kamu sampai menikahi wanita lain, kamu tidak akan pernah melihat wajahku lagi. Aku juga tidak akan sudi untuk melihatmu
"Berhentilah menangis. Aku akan mencari cara. Jika tuan Zain datang lagi, aku akan mencoba untuk berbicara dengannya."
"Apakah kamu yakin tuan Zain akan mengizinkan aku pulang?"
"Aku akan mencari cara. Aku yakin tuan Zain tidak tahu tentang masalah yang sebenarnya. Mungkin tuan besar mengatakan bahwa kamu membangkang dalam pekerjaan sehingga kamu diasingkan. Aku yakin akan hal itu."
"Bagaimama kalau tuan Zain malah memihak tuan besar?"
"Tuan Zain tidak seperti itu. Tuan Zain tipe orang yang menyukai keadilan. Ia tidak akan menyakiti orang yang benar-benar tidak bersalah."
"Semoga tuan Zain mengizinkanku untuk bisa menelpon."
"Akan kita bicarakan dengannya."
"Jika diizinkan untuk memakai handphone, apakah nona akan mengambil lagi handphone yang sudah nona berikan padaku?"
Alika bertanya dengan kuatir. Pasalnya ia sudah sangat menyukai handphone yang diberikan Yuana karena sangat bagus. Ia bahkan belum memamerkan handphone itu kepada dokter kim. Begitu ingat tentang dokter Kim, ia sangat malu mengingat sifat konyolnya yang membuatnya sampai minum air kolam dengan gratis.
"Kenapa aku harus mengambilnya? Itu sudah jadi milikmu. Jika diperbolehkan menelpon, aku akan memakai handphone kak Habib saja. Boleh kan kak?"
"Tentu saja boleh. Aku akan melakukan apapun untuk adikku yang cantik ini." Kata Habib dengan sungguh-sungguh.
"Terima kasih kak."
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positif yang membangun. 😍😍😍😍😍