
Tidak ada manusia yang luput dari salah. Jika ada, mungkin akan kita temukan satu diantara seribu. Kita tidak perlu harus terlalu sempurna, tetapi setidaknya berusaha untuk menghindar dan tidak berkompromi dengan yang namanya kejahatan atau hal yang bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Eda Sally
*****
Malam yang dinantikan pun tiba. Gail dan Erik nampak sudah rapi dengan pakaian ala preman. Jika dilihat dari penampilan mereka, mereka kelihatan semakin tampan dengan style baru mereka.
"Ini benar suami aku kan?" Tanya Yuana sambil mengamati penampilan Erik yang tidak biasanya.
"Lalu menurutmu ini suami siapa, hah?" Erik balik bertanya sambil mencubit pipi Yuana dengan gemas.
"Sakit." Ujar Yuana sambil mengusap pipinya karena kesakitan.
Erik segera merengkuh tubuh mungil itu dan memeluknya tanpa lupa mendaratkan kecupan di seluruh wajah Yuana.
Gail yang melihat hal itu tidak terganggu sama sekali. Ia sudah biasa melihat pemandangan itu setiap kali ia datang mengunjungi mereka.
Aku mengakui tuan muda memang pria yang setia. Walaupun ketampanannya diatas rata-rata dan punya segala sesuatu tetapi tidak pernah serakah untuk memiliki banyak wanita. Gail.
Tak lama kemudian, orang kepercayaan Erik datang. Erik dan Gail segera membawa orang itu ke ruang kerja Erik untuk mendengar penjelasan akan rencananya dalam menangkap Celine.
"Kami sepenuhnya menyerahkan urusan ini kepada tuan. Jika tuan mengizinkan, kami akan ikut membantu. Jika tidak, kami akan menunggu di sini saja." Ujar Erik membuka pembicaraan.
"Mohon maaf jika tidak sopan. Tuan-tuan hanya boleh berada di luar tanpa masuk ke dalam. Karena saya sudah mengatur strategi dengan tim saya." Jawab orang itu.
"Baiklah Jika begitu." Balas Erik.
"Apakah saya bisa ikut membantu?" Tawar Gail.
"Maaf tuan! Tidak bermaksud mengurangi rasa hormat, tetapi saya ingin agar semua berjalan sesuai rencana, sehingga saya tidak ingin ada orang di luar tim yang mengacaukan apa yang sudah saya rencanakan dan siapkan dengan tim saya." Jawab orang itu.
"Hmmm! Baiklah tuan. Terima kasih." Jawab Gail dengan suara lemah.
"Ok! Sebaiknya kita segera berangkat!" Ajak Erik.
Mereka pun keluar meninggalkan mansion mewah itu. Yuana sudah mengurung diri di kamar sejak tadi. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan dirinya dan Garrick. Karena itu ia lebih memilih jadi putri kamar.
Erik dan rombongannya hanya membutuhkan waktu kurang lebih tujuh menit untuk sampai di markas tempat Celine tinggal.
__ADS_1
Dari jauh terlihat sebuah rumah sederhana dengan suasana rumah yang seperti tidak berpenghuni, karena penerangan rumah itu juga hanya ada beberapa buah lampu.
Orang kepercayaan Erik yang merupakan pemimpin dari mereka turun dengan membawa sesuatu di tangannya kemudian mendekati rumah itu. Sementara teman-temannya tetap menunggu di mobil dengan tetap menggunakan alat sadap, sehingga percakapan apapun akan terdengar diantara sesama anggota.
Setelah berada di depan pintu, orang itu segera memencet bel rumah. Tak lama kemudian, nampak seorang pria berjalan mendekati pintu dan membukanya. Orang suruhan Erik segera mengerutkan keningnya.
"Mohon maaf telah mengganggu waktu istirahat tuan! Saya hanya ingin mengantarkan titipan untuk nona Celine. Apa saya boleh masuk?" Tanya orang suruhan Erik sambil menunjuk sebuah bungkusan.
"Oh, baiklah! Kenalkan! Nama saya Edwin! Saya akan memanggilkan istri saya. Jika berkenan, tuan boleh menunggu sebentar." Jawab Edwin.
"Terima kasih tuan. Baik! Saya akan memunggu di sini." Jawab orang itu.
"Boleh saya tahu nama tuan?" Tanya Edwin sebelum melangkah masuk untuk memanggil Celine.
"Oh, hampir lupa. Nama saya Gerald." Jawab orang itu asal. Karena dalam menjalankan misi, mereka tidak boleh memberitahukan nama dan identitas mereka kepada klien.
"Baik tuan Gerald." Jawab Edwin.
Edwin segera berlalu untuk memanggil Celine. Tak lama kemudian, ia keluar bersama Celine.
"Ada yang bisa saya bantu tuan? Apa ada informasi bagus untuk saya?" Tanya Celine penasaran.
"Oh, untukmu akan selalu ada yang terbaik nona. Yang pertama, saya mau melaporkan pesan dari Esy, baby sitter yang bekerja pada tuan........" Orang itu alias Gerald pura-pura lupa nama Erik.
"Tuan Erik maksudmu?" Ujar Celine dengan cepat.
"Ah, mungkin itu. Saya sudah lupa karena nona Esy terburu-buru saat mengatakannya." Jawab Gerald.
"Lalu dimana Esy dan informasi apa yang tuan dapatkan darinya." Tanya Celine.
"Nona Esy menyuruh menyampaikan kepada nona bahwa bayi yang ia asuh sudah ia bunuh sesuai keinginan nona. Ini bukti fotonya waktu dia mendorong bayi ini ke kolam, dan ini foto bayi yang sudah meninggal karena kebanyakan minum air. Nona Esy untuk sementara bersembunyi di rumah saya" Jawab Gerald.
"Kerja yang bagus. Terima kasih tuan." Ujar Celine sambil berdiri dan berjalan ke arah Gerald sambil menyentuh tangan Gerald dengan lembut.
"Tuan Gerald, lalu apa yang tuan bawa untuk saya?" Tanya Celine dengan suara manja yang dibuat-buat.
"Ini yang saya bawa." Jawab Gerald sambil mengeluarkan dua bungkus obat terlarang yang selalu digunakan oleh Celine.
__ADS_1
"Aku ingin sesuatu yang lebih." Ujar Celine sambil dengan beraninya sudah duduk di pangkuan orang itu.
"Lalu bagaimana dengan suamimu?" Gerald pura-pura mengumpan dengan pertanyaan itu karena ia ingin mempersiapkan langkah selanjutnya yang harus ia lakukan bersama timnya.
"Ah, biarkan saja dia. Dia hanya teman tidur saya tuan, bukan suami. Saya akan mencampakannya setelah saya mendapatkan kembali mantan suami saya, Erik Wiliam." Jawab Celine dengan mantap tanpa mempedulikan perasaan Edwin.
Selama kamu tetap memberikan uang agar aku bisa berjudi, aku tidak peduli kamu menganggap aku suami atau bukan. Yang penting aku juga punya tempat untuk melampiaskan hasratku. Edwin.
"Baiklah jika begitu nona Celine. Tapi teman saya sedang menunggu di mobil. Saya akan memanggilnya untuk membantu saya, karena sepertinya nona terlalu aktif dan saya takut nanti kewalahan dan kemudian tidak bisa memuaskan nona." Ujar Gerald mencari alasan.
"Ah, aku semakin suka padamu tuan. Cepat panggilkan." Jawab Celine dengan antusias. Tangannya sejak tadi tidak bisa diam untuk menjamah seluruh tubuh Gerald. Namun Gerald masih bisa menahan diri karena ia tahu timnya sudah berada di dekat pintu.
"Bersabarlah! Saya akan memanggil teman saya untuk segera masuk. Saya ingin agar segera memuaskan nona Celine. Bagaimana kalau kami bertiga?" Tanya Gerald sambil menunjuk Edwin, sedangkan tangan lainnya pura-pura memencet handphone.
"Untuk kali ini, aku hanya ingin agar ia menjadi penonton dan belajar." Jawab Celine enteng.
"Hallo? Masuk saja. Nona Celine tidak keberatan." Ujar Gerald yang berbicara melalui handphone. Ia sengaja memakai headset untuk mengelabui Celine.
"Selamat malam! Apakah kami bisa bergabung?" Tanya lima orang pria dengan postur tubuh yang berotot dan tinggi yang baru saja masuk.
"Hah? Kenapa banyak sekali?" Tanya Celine heran dengan wajah pucat pasi.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Mohon dukungan like dan vote. Tidak bermaksud berkeluh kesah, hanya saja viewers setiap hari lumayan banyak, bahkan seribu lebih, tetapi kenapa yang like tidak sampai 100? Ada yang salah dengan karya Author kah? Kalian bisa tinggalkan komentar ya. Terima kasih reader's tersayang dan kakak-kakak Author yang setia mampir. Love you all.
😍😍😍😍😍
__ADS_1