Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
161. Pulang ke Rumah


__ADS_3

Rumah adalah tempat paling nyaman ketika kita lelah dengan semua perjalanan hidup kita. Kita sendiri yang harus menghadirkan rasa nyaman di rumah kita. Karena ketika kita sudah menganggap rumah sebagai tempat melepas penat, maka sejauh apapun kita berjalan, kita pasti akan rindu untuk kembali, walau hanya sejenak. Eda Sally


*****


Wajah dingin dan tangan yang biasanya kaku, perlahan terangkat dan dengan lembut membelai tubuh mungil yang sementara ada dalam dekapannya.


Lama ia menahan bibirnya di rambut wanita mungil itu dan airmatanya mendesak keluar seolah ingin mengatakan bahwa ia menyesal, karena pernah memperlakukan wanita itu dengan kejam.


Setelah cukup lama memeluk Yuana, Andre Wiliam melepaskan pelukannya. Perlahan tangannya bergerak dan menghapus sisa-sisa airmata yang masih menghiasi wajah imut itu.


"Aku terlambat menyadari bahwa aku memiliki menantu yang sangat cantik dan berhati lembut."


"Pantas saja putraku tergila-gila padamu, karena kau wanita yang patut diperjuangkan."


"Andai waktu bisa diputar, papa tidak akan pernah melakukan hal yang menyakitkan itu padamu. Apa kau masih marah pada papa?" Ujar Andre Wiliam sambil menatap wajah imut itu dengan lekat.


"Terima kasih, Pa! Yuana tidak pernah marah pada papa. Yuana hanya selalu berdoa, agar suatu saat ada suasana seperti ini."


"Dan hari ini, Yuana perlu bersyukur karena doa Yuana sudah terjawab." Ujar Yuana sambil tersenyum.


"Terima kasih, Nak! Bagaimana kondisimu? Aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu lagi." Ujar Andre Wiliam.


"Aku merasa baik-baik saja, Pa!" Jawab Yuana dengan mantap.


Dokter Stevi dan temannya yang sejak tadi berdiri di pintu karena dipanggil ketika Yuana sadar, segera masuk ketika ia tahu bahwa drama menantu dan mertua itu telah usai.


Dokter Stevi dan temannya memeriksa Yuana dengan telaten. Setelah itu, dokter ahli tersebut nampak tersenyum ke arah Yuana sambil menganggukkan kepala.


"Jika nona masih ingin mendapatkan perawatan di sini, nona boleh menginap satu malam lagi."


"Tetapi jika nona ingin pulang, kami tidak keberatan, karena kondisi nona baik-baik saja." Ujar dokter ahli tersebut.


"Terima kasih, Dok! Saya merasa baik-baik saja, dan jika dokter sudah mengizinkan, saya ingin segera pulang." Jawab Yuana dengan mantap.


"Baiklah! Jika setelah sampai di rumah dan nona merasa tidak sehat, harap segera hubungi kami, dan kami akan merawat nona dari rumah saja." Ujar dokter Stevi.


Setelah berkata demikian, dokter Stevi segera keluar bersama temannya.


Nyonya Jessy mendekat ke sisi tempat tidur, dan begitu matanya bertemu dengan mata Yuana, airmatanya langsung tumpah begitu saja. Ia langsung memeluk tubuh menantunya yang sangat cantik dan manis itu.


Lama ia berdiam tanpa mengatakan apapun, karena rasa haru membuat ia sulit berbicara.


Kau benar-benar wanita hebat yang dititipkan Tuhan untuk putraku. Aku sangat bersyukur karena putraku mendapatkan wanita sederhana, lembut, dan baik hati sepertimu yang membuat putraku semakin dewasa dan hidupnya dipenuhi dengan cinta. Bu Jessy.


"Maafkan mami yang tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah papa melakukan hal yang menyakitimu."

__ADS_1


"Mami juga tidak bisa mendampingi dan membimbingmu ketika kamu hamil."


"Mami bahkan membiarkanmu berjuang sendirian dan belajar untuk menjadi wanita yang bijak bagi suami dan anak-anakmu."


"Mulai saat ini, mami tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian lagi. Mami berjanji akan selalu ada di sisimu." Ujar nyonya Jessy panjang lebar setelah lama terdiam karena menahan tangis.


"Terima kasih mi, karena telah merestui Yuana untuk mencintai Erik dan hidup bersama dengannya."


"Yuana sangat bersyukur karena bisa mendapatkan pria yang hebat dan bisa diandalkan."


"Izinkan aku untuk mencintai putra mami dan hidup bersama dengannya di sisa usiaku." Ujar Yuana.


"Tentu saja mami mengizinkanmu, Nak!" Jawab nyonya Jessy sambil membelai pipi Yuana dengan lembut.


"Mi, ayo pulang ke rumah. Mami, papa, dan yang lainnya pulang dulu. Aku akan membereskan administrasi." Ujar Erik menghentikan drama kedua orang tuanya dengan Yuana.


"Apa kau tidak akan memberikan kesempatan kepada papa untuk menebus kesalahan papa?"


"Kau dan yang lainnya bawa putriku dan kedua cucuku pulang lebih dulu. Aku dan Bram yang akan menyelesaikan administrasi."


"Setelah itu kami akan menyusul. Karena aku bahkan belum mencium ketiga cucuku." Ujar Andre Wiliam.


"Maafkan Erik, Pa! Erik pikir papa tidak mau membiayai hidup Erik lagi." Ujar Erik pura-pura cemberut.


Erik dan yang lainnya hanya tersenyum melihat ekspresi dingin sang tuan besar.


Erik segera menghampiri Yuana dan hendak menggendongnya turun dari tempat tidur.


"Aku bisa turun sendiri! Jangan gendong aku!" Tolak Yuana.


Erik tersenyum dan segera memencet hidung mungil istrinya.


"Tidak bisakah kau berhenti menggoda putriku?" Protes Andre Wiliam ketika melihat kelakuan Erik.


"Aku punya hak, karena dia istriku." Jawab Erik dengan wajah cuek.


"Cihhhhh! Putraku sudah mulai sombong." Ujar Andre Wiliam sambil keluar diikuti oleh sekretaris Bram untuk menyelesaikan administrasi.


Saat mereka akan beranjak keluar, Gail masuk bersama seorang suster sambil masing-masing menggendong dua bayi mungil yang cantik dan menggemaskan.


"Bu Santy segera menerima bayi yang masih ada dalam gendongan suster yang bersama dengan Gail.


Sedangkan nyonya Jessy segera menerima bayi yang berada dalam gendongan Gail dan mendekapnya dengan lembut, sambil berulang kali menghujani bayi itu dengan kecupan.


"Kamu siapa?" Tanya nyonya Jessy kepada Gail, karena ia baru menyadari kehadiran pria itu.

__ADS_1


"Saya saudaranya Yuana di sini. Ceritanya panjang nyonya." Jawab Gail dengan sopan.


"Jika kamu adalah saudara putriku, maka kamu harus memanggilku mami." Potong nyonya Jessy sambil tersenyum kemudian melangkah keluar diikuti oleh yang lain.


Erik dengan lembut menggandeng Yuana dan berjalan keluar mengikuti yang lainnya.


Mereka masuk ke mobil yang telah disediakan dan berjalan pulang ke rumah dengan suasana hati yang penuh dengan damai.


"Sayang, apa kamu marah padaku?" Tanya Erik sambil memeluk dan mengecup kening Yuana saat mobil sudah mulai berjalan.


"Marah karena apa?" Yuana balik bertanya dengan bingung.


"Gara-gara aku, kamu harus tertidur cukup lama di Rumah Sakit." Ujar Erik dengan penuh penyesalan.


"Jangan pernah berbicara seperti itu. Mungkin untuk maksud seperti hari ini, Tuhan mengizinkan aku mengalami semua ini."


"Tidak ada yang terjadi di luar kehendak Tuhan. Aku malah bersyukur." Jawab Yuana dengan bijak.


"Terima kasih, sayang. Inilah alasan kenapa setiap hari aku semakin jatuh cinta padamu, karena hatimu yang lembut dan tidak pernah mendendam."


"Tetapi, aku juga sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa anak kita cukup tiga saja, dan ini yang terakhir kamu berjuang."


"Aku tidak ingin melihatmu menderita lagi. Aku benar-benar takut, sayang." Ujar Erik sambil mengeratkan pelukannya dan mengecup wajah Yuana berulang kali.


"Tuan, bisakah tuan menahan diri hanya untuk sebentar? Tolong jangan membuat saya kepanasan di depan steer." Ujar Gail mengingatkan Erik yang mengecup Yuana tanpa henti.


Yosua yang duduk di samping Gail memejamkan mata dan tidak peduli dengan suara-suara kecil di belakang yang sangat mengganggu telinganya.


Sementara di mobil yang dikemudikan Arthur, Bu Santy dan Bu Jessy nampak mengobrol dengan sangat akrab.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2