Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
131. Hadirnya Buah Cinta


__ADS_3

Bagi sebagian orang, menikmati kebersamaan dengan pasangan untuk sementara waktu tanpa hadirnya seorang anak merupakan kesenangan tersendiri. Sementara bagi kebanyakan orang, memiliki anak adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan, karena anaklah yang akan menjadi tempat kita menaruh harapan ketika kita telah berada di ujung usia. Eda Sally


*****


Yuana yang telah tinggal bersama Erik, melewati masa-masa kehamilannya dengan penuh cinta. Mereka selalu melakukan segala sesuatu bersama-sama. Bahkan Erik terkesan sangat memanjakan Yuana. Ia lebih memilih bekerja dari rumah agar bisa menemani istrinya yang perutnya sudah sangat membuncit.


Erik hanya akan masuk kantor jika ada hal mendesak yang membutuhkan kehadirannya. Sementara Yuana sudah lama resign dan jabatan sekretaris diberikan Bert Conan kepada Gail, karena Gail telah cukup belajar ketika masih bekerja dengan Yuana.


Gail selalu memanfaatkan akhir pekannya untuk menjenguk Yuana. Ia tetap setia datang walau Erik sering menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat. Bahkan terkadang mereka duduk saling berhadapan tanpa berbicara.


"Apa setiap akhir pekan kamu tidak ada acara lain selain menjenguk istri saya?" Tanya Erik dengan ketus ketika Gail baru saja duduk.


"Sebenarnya ada tuan muda, tetapi saya hanya khawatir jika tiba-tiba nona Yuana melahirkan dan tidak ada yang membantu tuan muda."


"Awas saja kalau kamu macam-macam dengan istri saya." Ancam Erik dengan tatapan tajam.


"Tentu saja saya tidak akan berani tuan." Jawab Gail dengan mantap.


"Syukurlah kalau kamu tahu diri."


"Eeeerriiikkkk...! To..long...!" Teriak Yuana.


Kedua pria itu saling menatap mendengar teriakan Yuana. Dan seperti dikomando, mereka berlari ke arah kamar. Gail cukup tahu diri dan berdiri di depan kamar sambil mondar mandir.


Erik yang berlari masuk panik melihat Yuana memegangi perutnya dengan air mata yang bercucuran.


"Sakit kak! Sakit!" Kata Yuana dengan tangisan dan wajah memelas.


"Apa yang sakit sayang?" Tanya Erik dengan khawatir sambil memeluk Yuana.


"Semuanya sakit kak! Aku tidak kuat." Kata Yuana dalam tangisan yang membuat hati Erik pilu mendengarnya.


Gail yang berdiri di pintu dan mendengar percakapan suami istri itu karena pintu yang tidak tertutup, langsung masuk tanpa permisi lagi.


"Sepertinya nona Yuana akan melahirkan. Ayo ke rumah sakit!Mana perlengkapan yang akan dibawa!" Tanya Gail dengan wajah khawatir sambil memegangi kepalanya.


Erik tidak mengatakan apapun. Ia hanya menunjuk dengan matanya. Beberapa pelayan yang sudah berdiri di pintu langsung membantu Gail mengambil perlengkapan bayi lainnya.

__ADS_1


Gail menyerahkan semua itu kepada pelayan yang langsung membawanya ke mobil. Ia sendiri berlari mengejar Erik yang sudah menggendong Yuana menuju ke mobil. Ia berlari mendahului Erik dan membuka pintu mobilnya.


"Pakai mobil saya saja tuan! Tidak ada waktu lagi untuk mengeluarkan mobil tuan." Kata Gail.


Erik segera berlari ke mobil Gail dan langsung masuk dengan wajah yang sudah berkeringat karena gugup. Ia tidak tega mendengar suara Yuana yang sudah meraung-raung.


Setelah perlengkapan bayi yang akan dibawa sudah dimasukkan ke mobil, Gail segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ketika ia melihat Erik sudah memakai sabuk pengaman.


"Bertahanlah sayang. Sebentar lagi sampai. Tolong jangan menangis seperti ini. Aku sangat takut." Kata Erik sambil terus mengecup wajah Yuana dan tak henti mengelus rambut halus istrinya.


Tangannya juga mengelus-elus perut istrinya dengan rasa khawatir. Gail yang sudah menghubungi dokter Stevi terlihat sudah siap dengan beberapa perawat ketika mereka turun dari mobil.


Yuana langsung dibaringkan diatas kereta dorong yang sudah disiapkan perawat. Wajahnya pucat pasi dan sudah berkeringat karena menahan rasa sakit.


Keempat orang perawat itu mendorong Yuana memasuki ruang persalinan. Dokter Stevi berindak dengan cepat. Ia membantu Yuana melakukan beberapa teknik agar persalinan lancar.


Yuana bersikeras untuk bersalin dengan normal. Karena itu, ia mencoba menahan diri untuk tidak berteriak walaupun sakit di sekujur tubuhnya.


"Maafkan aku sayang." Kata Erik dengan air mata yang sudah menggenang ketika ia melihat Yuana berjuang dengan susah payah untuk melahirkan bayi mereka.


"Kak, aku sudah tidak kuat lagi!" Kata Yuana dengan suara yang sangat lemah seolah tak bertenaga.


"Tolong tetap kuat demi bayi kita." Kata Erik sambil terus mengelus punggung Yuana. Air matanya mengalir begitu saja.


Gail mondar mandir di luar sambil mengusap wajahnya dengan frustrasi. Ia mengintip dari balik kaca dan tidak sanggup melihat penderitaan yang dialami Yuana. Arthur dan ayahnya yang melihat kelakuan Gail hanya menggelengkan kepala.


"Tolong berhenti mondar mandir seperti itu Gail. Kepalaku pusing bukan karena memikirkan nona Yuana yang sedang berjuang melahirkan, tetapi karena melihatmu seperti setrika rusak." Kata Arthur.


Gail tidak menanggapi perkataan Arthur. Ia kini malah menutup wajahnya dengan tangan dan mondar mandir hingga pada akhirnya ia menabrak seorang suster yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa.


"Ma..ma maafkan saya nona. Maaf!" Kata Gail sambil mengatupkan tangan di dada.


Suster tersebut mengamati Gail dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelah itu ia berkata :


"Dasar manusia aneh! Sudah tahu fungsi mata untuk melihat, malah ditutupi dengan tangan. Untung aku tidak mengalami cidera karena menabrakmu." Kata suster itu sambil berlalu.


"Memangnya dia pikir aku ini mobil yang akan menyebabkan cidera? Dia yang aneh." Gumam Gail dengan pelan, namun terdengar oleh Arthur yang langsung menutupi mulutnya karena menahan tawa.

__ADS_1


Sementara di dalam ruangan, dokter Stevi dengan sabar terus mengarahkan Yuana untuk melakukan persalinan dengan normal. Yuana sudah terlihat lemas, namun ia mengumpulkan semua tenaganya untuk mendorong agar bayinya bisa keluar.


Tak lama kemudian, Yuana berteriak dengan sangat kencang dan melepaskan semua tenaganya dengan sekali mendorong sambil kedua tangannya memegang tangan Erik dengan sangat erat.


Dokter Stevi kaget karena bayi keluar tanpa hambatan saat Yuana mendorong dengan sekuat tenaga.


"Oek..! Oek...! Oek..!"


Suster segera mengangkat bayi tersebut dan membersihkannya kemudian menidurkannya di atas perut Yuana tanpa sadar bahwa Yuana telah pingsan akibat terlalu memaksakan tenaga untuk mendorong bayinya.


Erik bingung antara senang karena melihat bayinya atau harus khawatir karena istrinya pingsan.


"Tolong istri saya dok! Tolong!" Kata Erik dengan air mata yang sudah menetes sambil memperhatikan bayi yang seolah senang berada diatas perut ibunya.


"Jangan khawatir tuan. Istri tuan hanya pingsan akibat kelelahan karena berjuang untuk melahirkan bayi kalian." Katanya sambil mempersiapkan alat untuk menolong Yuana membersihkan tubuhnya dan memberikan infus untuk memindahkan Yuana ke ruang perawatan.


"Istrimu termasuk wanita yang kuat. Ia sepertinya sudah menahan sakit sejak pagi, namun tidak memberitahukannya kepada tuan. Kalian malah ke sini saat istri tuan sudah pembukaan ke sepuluh." Dokter stevi menjelaskan.


Erik yang mendengar perkataan dokter semakin terharu karena Yuana tidak ingin menyusahkannya. Ia malah menahan sakit hingga benar-benar akan melahirkan baru menunjukkan rasa sakitnya.


"Bangun sayang."


Hanya itu yang dikatakan Erik karena ia sudah jatuh berlutut ketika melihat Yuana belum bangun dan masih dalam keadaan pingsan.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2