
Saat kita berada dalam situasi sulit dan berharap agar segala kemelut segera berlalu, pikiran kita mungkin buntu untuk mencari jalan keluar. Kita akan berpikir bahwa hidup kita akan segera berakhir. Jangan cepat putus asa jika hal itu menimpamu, karena setiap cobaan hidup pasti ada batasnya, dan setiap tantangan tidak akan melebihi batas kemampuan kita. Tetaplah semangat. Eda Sally.
*****
Dua hari telah berlalu, dan Erik masih setia menemani sang istri yang terlalu menikmati tidurnya seolah tidak ada beban sama sekali.
Erik yang senantiasa memandang wajah sang istri bahkan tidak beranjak sama sekali. Ia hanya mandi dan berganti pakaian saat Gail sudah sangat mendesaknya.
Sejak dua hari terakhir, ia hanya akan makan jika mendapat ancaman dari Gail. Satu-satunya orang yang bisa mendesaknya adalah Gail.
Hari ini pun Erik sama sekali belum mandi, apalagi menyentuh makanan. Ia hanya duduk sambil memandang wajah Yuana, dan berkali-kali mengecup tangan mungil sang istri yang senantiasa digenggamnya.
"Mandi dan makan dulu, Tuan! Jika tuan sampai sakit, siapa yang akan menjaga nona Yuana? Bukankah tuan harus selalu sehat agar bisa menemaninya?" Ujar Gail dengan penuh kesabaran.
"Bagaimana aku bisa mandi dan makan, sementara istriku dalam keadaan seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa, Gail!" Jawab Erik.
"Apa tuan ingin ketika nona Yuana sadar ia akan melihat kondisi tuan yang seperti ini?" Tanya Gail.
"Aku tidak peduli dengan keadaanku. Yang penting istriku sehat dulu. Aku tidak ingin jauh darinya. Bagaimana kalau aku mandi dan ia tiba-tiba bangun? Ia akan mencariku, Gail!" Jawab Erik dengan berbagai pertimbangan.
"Saya rasa nona Yuana tidak akan marah, karena nona Yuana orang yang mengerti. Ia pasti paham dengan apa yang tuan lakukan."
"Jadi saya harap, tuan segera mandi dan kemudian makan. Jangan menyiksa diri seperti ini, Tuan!" Ujar Gail dengan wajah memelas. Ia sendiri sudah kehilangan cara untuk membujuk Erik.
Untung saja yang aku bujuk ini tuan Erik. Jika orang lain, mungkin aku sudah menghajarnya dan memaksanya untuk mandi dan makan. Gail.
Tanpa mengatakan apapun, Erik beranjak ke kamar mandi dan mandi. Ia kemudian mengganti pakaian dengan pakaian bersih yang dibawakan Gail.
Saat Erik keluar dari kamar mandi, ia melihat Arthur dan Harry Walker yang masuk bersamaan.
"Tuan! Saya harap tuan bersabar dan tegar agar bisa merawat nona muda. Jika tuan lemah, tidak ada yang akan merawat nona muda." Ujar Harry Walker.
"Terima kasih, Tuan Walker. Maafkan saya yang selalu merepotkan." Jawab Erik.
"Sama sekali tidak merepotkan, Tuan! Kami justru merasa malu karena kami tidak bisa melakukan apapun untuk membantu tuan dan nona muda dalam kondisi kritis ini."
"Kami doakan yang terbaik agar nona muda segera pulih dan sadar." Ujar Harry Walker dengan tulus.
__ADS_1
"Terima kasih , Tuan Walker." Jawab Erik.
"Apa kamu sudah menghubungi kakakku?" Tanya Erik kepada Arthur.
"Saya sudah menghubunginya sejak pertama kali nona muda dibawa ke Rumah Sakit ini. Tetapi tuan Bram belum bisa datang karena masih ada hal yang harus ia selesaikan."
"Namun, ia berjanji untuk segera ke sini jika sudah selesai. Tuan Bram sangat mengkhawatirkan tuan dan menelpon berkali-kali, tetapi tuan tidak respon." Jawab Arthur.
"Terima kasih, Arthur. Aku sendiri tidak tahu terakhir kali aku menaruh hanpdhoneku dimana?"
"Bagaimana aku bisa memikirkan handphoneku, sementara istriku lebih penting dari segalanya?"
"Aku tidak sanggup saat melihat kondisinya yang tidak ada perubahan sama sekali seperti ini." Ujar Erik.
"Tuan, apa saya perlu mengajak Garrick ke sini agar ia bisa menemani tuan?" Tawar Gail yang diam sejak tadi.
"Tidak perlu, Gail! Aku tidak ingin Garrick menanyakan yang macam-macam tentang Yuana. Apa yang harus aku jawab?" Erik keberatan dengan tawaran Gail.
"Kalau begitu saya akan melakukan panggilan video dengannya melalui Habib atau Alika." Ujar Gail. Ia ingin melihat Erik tersenyum walau hanya sebentar.
"Jangan Gail! Aku tidak akan menahan hati jika melihat wajah putraku yang tertawa riang sementara istriku masih tertidur seperti ini. Alu tidak bisa, Gail!" Jawab Erik masih dengan pendiriannya dan menolak semua niat baik Gail.
"Jika begitu tuan harus makan dulu agar tetap punya tenaga untuk tetap menjaga nona Yuana." Ujar Gail.
"Benar apa yang dikatakan Gail, Tuan! Tuan juga harus menjaga kesehatan tuan demi nona Yuana." Tambah Harry Walker.
Erik tidak menjawab perkataan kedua orang itu. Ia segera menyambar makanan yang sudah disediakan Gail dan segera makan.
Namun , baru beberapa sendok, tampak ada butiran air mata yang keluar dari mata Erik. Ia tidak sanggup mengunyah makanan yang sementara dikunyahnya.
Gail segera tanggap dan segera mengambilkan tissue untuk Erik.
"Tuan." Hanya itu yang mampu dikatakan Gail. Ia sebenarnya juga tidak tahan melihat keadaan Yuana seperti itu. Jika ia menangis, maka itu akan terlihat lucu di depan Erik.
"Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku ingin sendiri dengan istriku. Hatiku sangat sakit melihatnya seperti ini." Ujar Erik dengan sesenggukan.
"Maafkan saya, Tuan! Tetapi saya tidak bisa meninggalkan tuan dalam keadaan seperti ini." Jawab Gail.
__ADS_1
"Aku ingin sendiri, Gail! Jangan bantah perkataanku." Ujar Erik tanpa melihat ke arah Gail karena ia sibuk mengeringkan airmatanya yang masih terus mengalir dengan tissue.
Gail berdiri mendengar perkataan Erik yang terakhir. Ia segera memberikan kode kepada Harry Walker dan Arthur agar segera mengikutinya keluar.
Ketiga orang itu segera keluar meninggalkan Erik. Erik bangun dan meninggalkan sisa makanannya begitu saja dan kembali ke samping tempat tidur.
Lama ia menatap wajah sang istri dengan tatapan sayu dan airmata yang tidak mau berkompromi.
"Tolong bangun sayang. Kamu sangat menyiksaku dengan terus menikmati tidurmu seperti ini."
"Jika kamu seperti ini terus, maka tolong ajarkan aku cara tidur sepertimu agar aku juga tidak merasakan sakit seperti ini."
"Jika tidur adalah satu-satunya cara untuk segera berjumpa dan berbincang serta bercanda tawa denganmu, dan memanjakanmu, maka bawa aku di dalan tidurmu agar aku bisa tertawa bersamamu." Ujar Erik sambil terus membelai wajah kaku wanita yang sangat dicintainya itu.
"Aku tidak ingin memiliki anak lagi. Cepatlah bangun dan aku akan meminta dokter melakukan apapun agar jangan memiliki anak lagi."
"Aku tidak ingin kamu harus mengulangi sakit yang sama hanya karena keegoisanku."
"Jika sejak awal aku tahu bahwa memiliki anak lagi akan membuatmu seperti ini, maka aku tidak akan pernah mau."
"Kamu tahu, jadi anak tunggal itu sangat tidak enak. Karena itu, aku ingin memiliki anak lagi agar Garrick tidak kesepian."
"Bangun, sayang. Aku menyesal." Erik
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍