Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
48. Kenyataan tentang Tristan da Cunha


__ADS_3

Sebuah kenyataan tidak akan bisa diubah, namun bisa dijalani. Lari dari kenyataan bukanlah sikap yang bijak. Tetap tenang dan terima serta jalani apa yang sudah ada di depanmu, karena tidak ada masalah yang terlalu menakutkan yang tidak bisa diselesaikan. Setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya, meski itu tak sesuai dengan yang kita inginkan. Eda Sally


*****


Ketika Zain dan dua anak buahnya sudah hilang dari pandangan, Yuana segera berbalik dan melihat seorang wanita berusia kira-kira 23 tahun dan sorang pria dengan usia kira-kira 25 tahun.


Kedua orang tersebut tersenyum manis ke arah Yuana dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan serta memperkenalkan diri. Yuana bingung karena keduanya mengulurkan tangan di waktu yang bersamaan.


Akhirnya pilihan Yuana jatuh kepada si wanita dan mengulurkan tangan ke arahnya.


"Selamat datang nona. Namaku Alika." Kata Alika memperkenalkan diri


"Namaku Yuana. Terima kasih atas sambutan hangatnya."


Yuana kemudian melihat ke arah pria tersebut dan tersenyum kemudian mengulurkan tangannya.


"Yuana." Kata Yuana singkat dengan senyum ramahnya.


"Aku Habib. Namun orang-orang sering memanggilku baby." Habib memperkenalkan diri dengan senyum khasnya yang menawan.


"Ayo masuk dulu. Mandi, ganti pakaian, dan kemudian makan."


Alika terlihat senang sekali karena ia akan memiliki teman. Pasalnya, selama ini ia hanya tinggal berdua di rumah tersebut bersama kakaknya, Habib.


Yuana segera mandi dan berganti pakaian. Ia terlihat segar ketika selesai mandi, dan wajah cantiknya semakin cantik karena di guyur air.


Setelah selesai berganti pakaian, Yuana mendekati Alika dan duduk di sebelahnya. Alika tersenyum dan memegang tangan Yuana kemudian berkata:


"Ayo makan dulu. Kamu pasti lapar dan lelah."


Yuana tidak membantah apa yang dikatakan Alika. Ia segera menuju meja makan dan menikmati masakan Alika yang menurutnya sangat enak.


Selesai makan, Yuana membereskan bekas makannya, namun dicegah oleh Alika.

__ADS_1


"Tidak usah nona. Biar aku saja. Nona sebaiknya istirahat.


"Aku sudah merasa segar kembali, dan ingin mendengar cerita langsung darimu tentang kenyataan apa saja yang belum aku ketahui menyangkut Tristan."


"Baiklah nona. Ayo Beb. Bantu aku menceritakan tentang pulau kecil Tristan kepada nona Yuana."


"Jadi begini nona. Tristan merupakan salah satu dari enam pulau paling terpencil di seluruh dunia. Kamu pasti akan kaget dengan kenyataan yang akan aku sebutkan."


"Penduduk di Tristan hanya terdiri dari 265-300 orang. Kenapa angkanya terdiri dari kisaran yang aku sebutkan? Karena tidak semua yang di sini bisa bertahan lama. Orang-orang datang dan pergi. Yang merupakan penduduk asli hanya 265 orang. Sisanya pendatang seperti kita, sehingga ditotalkan menjadi 300 orang."


"Kamu lupa satu hal Beb! Luas pulau Tristan hanya 98KMยฒ. Jadi jangan heran kalau nanti ketika besok ingin jalan-jalan, kamu hanya akan bertemu dengan orang-orang yang sama." Alika menambahkan


" Baik aku lanjutkan. Di sini juga, tidak kalah modern walaupun terpencil. Karena ada supermarket besar, museum kecil, kolam renang, satu sekolah, toko-toko lokal, serta rumah sakit yang menyediakan fasilitas lengkap. Jadi jika sakit kita tidak perlu kuatir. Oya! Rumah sakitnya tergolong kecil karena hanya memiliki daya tampung untuk 300 orang. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dokternya hanya satu dengan dibantu oleh lima orang perawat."


"Eh! Tapi ada yang unik dari dokter itu nona karena dokternya berasal dari Korea. Dokternya sangat tampan. Ia memilih untuk mengabdi dan melayani pasien di pulau terpencil ini. Umurnya juga baru 23 tahun, jadi sama umur denganku. Doakan agar kami berjodoh. Alika terlihat antusian saat membicarakan dokter tersebut dan menaruh tangan di pipi agar terlihat seperti cewek imut berusia dua belas tahun.


"Hahahahhahaha. Kamu membuatku tidak bisa menahan tawa. Bagaimana mungkin dia akan jatuh cinta denganmu sementara kamu hanya mengagumi dan menghayal dari jauh?" Kata Yuana di sisa tawanya.


"Huh! Masih bagus aku melakukannya terang-terangan. Daripada kamu yang hanya bisa bersembunyi dari balik jendela dan tersenyum ketika perawat Olive lewat. Kalau kamu tersenyum dengan cara seperti itu, lebih baik berhenti kak! Karena sampai dunia kiamat pun kak Olive tidak akan melihat senyummu." Alika balas menggoda kakaknya.


"Hahahhahaha sudah! Sudah. Kenapa malah bertengkar? Besok ajak aku jalan-jalan ya? Aku ingin melihat keseluruhan pulau ini.


"Oya! Aku lupa menyampaikan informasi penting ini padamu. Pulau ini dihuni pertama kali pada tahun 1810. Namun karena adanya gunung api Gueen Mary's Peak, yang meletus pada tahun 1961, maka semua penduduk memilih untuk pindah ke Inggris. Karena dilihat dari letak geografis, Tristan masuk Britania Raya yang harusnya masuk wilayah kekuasaan Inggris. Namun, entah kenapa dan sejak kapan, Tristan masuk wilayah kekuasaan Adrika selatan. Setelah peristiwa gunung berapi yang meletus, penduduk kembali menetap disini lagi pada tahun 1963."


"Disini kita juga dilarang untuk tidak terlalu menonjolkan kekayaan, karena penduduknya sedikit dan diperlakukan seperti agar ada keseimbangan, sehingga tidak ada yang merasa memiliki harta lebih dan tidak ada yang merasa berkekurangan." Alika menambahkan.


"Kalau dari sini ke Inggris lebih dekat kan? Kenapa malah aku di suruh berputar jauh lewat Afrika?"


Yuana bergumam dengan pelan, namun di dengar oleh Habib dan Alika.


"Mungkin tuan besar punya alasan tersendiri." Alika yang menjawab.


"Kalau aku mau menelpon apa boleh aku meminjam handphonemu?"

__ADS_1


"Oh boleh saja. Tetapi kalau mau menggunakan handphone harus atas izin tuan Zain, karena jika tidak maka aku dan adikku yang akan ada dalam bahaya."


"Jadi setiap mereka yang diasingkan disini tidak diperbolehkan memakai handphone?"


"Iya. Handphone ini sudah disadap jadi kita tidak bisa sembarang melakukan panggilan." Alika yang menjawab.


"Berarti selama ini kalian berdua memakai satu handphone dan hanya untuk keperluan yang mendesak saja?"


"Iya betul sekali nona."


"Kalau begitu handphoneku sama sekali tidak berguna. Lalu untuk apa aku membawanya? Jika kamu mau, ambil saja! Aku merasa tidak membutuhkan handphone ini."


Yuana menyodorkan handphonenya kepada Alika. Handphone Yuana memang tergolong mahal dan canggih, karena dibelikan oleh sekretaris Bram untuk urusan pekerjaan. Karena itu ia tidak ingin memakainya lagi karena akan membuatnya teringat dengan semua yang telah ia lewati di belakangnga.


"Apa benar handphone ini untukku nona? Ini kan handphone yang sangat mahal." Alika berkata dengan kagum sambil membolak balik handphone yang sudah berpindah ke tangannya.


"Iya. Aku memberikannya untukmu. Aku tidak sedang bercanda. Terserah mau kamu apakan karena itu sudah sah menjadi milikmu."


"Terima kasih banyak nona."


Alika terlihat sangat senang dan memeluk Yuana. Sementara Habib mencibir ke arah Alika. Alika membalasnya dengan menjulurkan lidahnya. Walaupun sudah sama-sama dewasa, namun kelakuan mereka masih sering kekanakan.


.


.


.


.


.


Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2