
Jangan pernah menuntut orang lain agar membuatmu bahagia, karena sejatinya kita sendiri yang harus menciptakan bahagia itu dari diri kita sendiri.
Belajarlah menerima dan menikmati apa yang ada padamu dengan ungkapan syukur, karena hanya rasa syukurlah yang akan membuatmu semakin bahagia di dalam keterbatasanmu. Eda Sally
*****
Yuana sibuk membersihkan diri sendiri tanpa membangunkan Erik yang masih menikmati tidurnya. Walaupun ia merasakan sakit di seluruh bagian tubuhnya, namun ia juga tidak ingin suaminya harus kerepotan lagi.
Di sisi lain, ia juga takut Erik akan meminta lebih di saat memandikan dirinya. Karena itu, ia memilih posisi aman dengan membersihkan tubuhnya sendiri. Ia juga tidak tega melihat Erik harus bangun dan memandikannya karena semalam Erik sama sekali tidak menikmati tidurnya.
Selesai mandi, Yuana kembali membaca buku yang kemarin tidak sempat diselesaikan karena ulah suaminya. Yuana enggan keluar untuk menemui Alika dan Habib karena banyak sekali cap yang sudah bersarang di lehernya.
Walaupun sudah memakai baju yang kerahnya menutupi seluruh bagian lehernya, namun ia merasa sangat malu jika Habib atau Alika akan memandang wajahnya. Karena itu ia lebih memilih tenggelam di dalam buku yang sedang dibacanya.
Erik yang sudah sadar, mengarahkan tangannya dan meraba-raba di sampingnya tanpa membuka mata sama sekali. Ia mengira bahwa Yuana masih tidur di sampingnya. Setelah cukup lama tangannya bergerilya dan tidak menemukan apapun, Erik membuka matanya dan kaget karena Yuana sedang duduk santai di kursi yang disatukan dengan meja dan sedang asyik membaca.
"Sudah mandi sayang? Kenapa tidak membangunkanku? Apakah masih sakit?" Tanya Erik bertubi-tubi sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Yuana dari belakang dan menyandarkan dagunya di kepala Yuana, dan dengan lembut mengecup kepala gadis itu.
"Sudah. Aku tidak tega membangunkanmu. Kamu tidak tidur semalaman, dan pasti masih ingin tidur. Jadi aku memilih mandi sendiri. Masih sakit sedikit." Jawab Yuana jujur.
"Ok! Aku mandi dulu ya? Tetap di sini, dan jangan kemana-mana!" Kata Erik sambil mengecup kepala Yuana berulang kali kemudian berjalan ke kamar mandi. Ia seolah takut gadis itu beranjak se-inci saja dari pandangannya.
Yuana hanya mengangguk menanggapi perkataan Erik sambil terus membaca buku yang dipegangnya. Ia masih sedikit takut jika Erik memeluknya. Namun semua sudah terjadi, dan ia harus merasa terbiasa dengan keberadaan Erik di sampingnya.
Erik terlihat segar dan semakin tampan setelah mandi. Ia menarik salah satu kursi dan duduk di samping Yuana sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yuana. Yuana hanya melihatnya sekilas kemudian melanjutkan kegiatan membacanya.
Setelah puas menyandarkan kepala, Erik mengangkat kepala dan menopangnya dengan tangan satunya yang bertumpu di meja, dan memandangai wajah Yuana dengan penuh cinta. Yuana yang dipandang terus seperti itu merasa risih dan meletakkan buku yang sementara dibacanya.
"Kenapa lihat aku terus." Tanya Yuana heran melihat sikap Erik.
"Aku seperti belum percaya jika sekarang kamu benar-benar menjadi istriku dan ada di hadapanku sekarang. Rasanya ini seperti mimpi." Jawab Erik jujur sambil terus menatap wajah Yuana.
"Hmmmm! Tapi..."
__ADS_1
"Tapi apa? Katakan apa yang mengganjal di pikiranmu." Tanya Erik sambil tangannya sudah sibuk dengan aktifitasnya yang membuat Yuana menarik napas panjang karena ulah suaminya.
"Aku lapar. Itu yang mau aku katakan." Jawab Yuana dengan suara serak karena ulah Erik.
"Aku akan meminta Alika mengantar makanan di kamar saja. Kamu tunggu di sini." Erik mengatakan demikian, namun belum beranjak sama sekali karena tangannya masih rajin beraktifitas di tempatnya.
"Jangan suruh Alika. Kamu saja yang bawa ke sini. Aku malu jika dilihat Kak Alika dan kak Habib." Jawab Yuana sambil menundukkan kepala.
"Malu? Malu karena apa?" Tanya Erik heran.
Yuana hanya menggelengkan kepala menanggapi perkataan Erik. Erik paham dengan maksud Yuana, namun ia pura-pura tidak mengerti.
"Hentikan tanganmu. Please!" Kata Yuana memohon karena tangan Erik belum berhenti beraktifitas.
"Cium pipiku, dan aku akan mengakhiri kegiatan tanganku." Kata Erik.
Yuana terlihat bingung dan malu serta belum berani melakukan permintaan Erik. Namun, ia ingin agar aktifitas tangan Erik segera berhenti. Karena itu ia memilih mengecup pipi Erik.
"Yang satunya belum." Kata Erik sambil menyodorkan pipi yang satunya.
"Silahkan dinikmati tuan putri." Kata Erik sambil meletakkan makanan yang dibawanya keatas meja, dan dengan gerakkan yang sangat cepat mendaratkan kecupan di pipi dan bibir istrinya.
Yuana hanya tersenyum melihat kelakuan Erik. Ia segera meraih sendok, namun sebelum tangannya meraih sendok, Erik sudah mendahuluinya dengan mengambil makanan dan mengarahkan sendok yang sudah berisi makanan ke mulut Yuana.
"A....!" Erik seperti akan menyuapi anak kecil dan meminta Yuana membuka mulutnya.
Yuana diam sejenak dan memandang dengan heran ke arah Erik, namun beberapa detik kemudian ia pun membuka mulut dan melahap makanan yang disodorkan Erik. Erik juga mengambil makanan dengan sendok yang sama dan ikut makan.
Erik benar-benar memperlakukan Yuana dengan sangat baik. Ia terus menyuapi Yuana sampai makanan yang ada di piring habis.
Setelah selesai, Erik membereskan bekas makan mereka dan membawanya keluar. Yuana sebenarnya sangat ingin membantu membereskan, tetapi ia masih malu dan belum berani memandang wajah Habib dan Alika. Karena itu ia memilih untuk tetap berada di kamar.
Erik segera kembali, dan menghampiri Yuana yang baru akan meraih buku yang tadi sempat di simpannya untuk dibaca lagi. Erik bergerak dengan cepat dan mengambil buku itu sebelum tangan Yuana menyentuhnya kemudian menatanya kembali di tempatnya.
__ADS_1
"Kita baca buku yang lain saja." Kata Erik sambil menggendong Yuana ke tempat tidur.
"Buku yang lain? Yang mana?" Tanya Yuana heran karena Erik membawanya ke tempat tidur.
"Aku akan menunjukkannya padamu. Sebentar lagi." Kata Erik sambil membaringkan tubuh Yuana dengan lembut di tempat tidur, seolah takut Yuana akan terbentur.
"Mana bukunya?" Tanya Yuana bingung.
"Ini bukunya." Kata Erik sambil tangan dan mulutnya beraktifitas.
Yuana membelalakkan matanya ketika sadar bahwa apa yang dimaksudkan Erik tidak sama dengan apa yang ia pikirkan.
Selanjutnya, ia hanya pasrah dan membiarkan suaminya melakukan aktiftasnya tanpa berniat menghentikan aktifitas yang sudah separuh perjalanan, bahkan ia melihat Erik seperti sedang melakukan lomba marathon.
Kenapa ia suka sekali melakukannya? Apa ia tidak merasa lelah? Apa mungkin badannya tidak sakit sepertiku? Aku sungguh tidak mengerti dengan keinginan dan jalan pikiran suamiku.
Yuana terus memejamkan mata sampai ia merasakan tangan Erik melingkar di pinggangnya karena sudah menyelesaikan aktifitasnya dan sudah berbaring di sampingnya.
"Terima kasih untuk semuanya sayang. I Love You." Bisik Erik di telinga Yuana.
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍