Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
61. Sekretaris Bram Menyimpan Sebuah Rahasia


__ADS_3

Ketika seseorang memilih untuk bungkam demi kebaikan orang lain dan terlebih untuk banyak orang, ia telah melakukan suatu tindakan yang menyelamatkan sebuah situasi.


Ada orang yang tetap berdiam diri meski mengetahui sebuah rahasia, sementara ada orang yang tidak bisa menahan diri dan langsung membeberkan apa yang diketahuinya. Lalu, kita masuk tipe yang mana? Eda Sally


*****


Sekretaris Bram terlihat mondar mandir di ruang kerja rumahnya dengan tangan yang menyanggah kepala pertanda tengan memikirkan sesuatu.


"Apa aku akan merahasiakan hal ini dari tuan muda? Sementara dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri."


Bagaimana cara aku mengatakannya? Aku yakin tuan muda akan kecewa dengan aku karena aku tidak mengatakan hal ini sejak awal.


"Ah! Sebaiknya aku telepon tuan muda agar bertemu denganku sekarang."


Tut..! Tut..! Tut..


"Ada apa Bram?" Kebiasaan Erik jika mengangkat telepon dari sekretaris Bram. Ia tidak akan pernah mengucapkan kata 'hallo'.


"Jika ada waktu dan jika berkenan, tuan muda dimohon untuk datang sekarang ke rumahku."


"Aku bisa simpulkan bahwa kau akan mengatakan sesuatu yang penting. Betul?"


"Tentu saja tuan. Dugaan anda tepat."


"Baik! Aku segera kesana."


Tak perlu menunggu sampai dua puluh menit, Erik sudah memasuki halaman rumah sekretaris Bram dengan mobil mewahnya. Ia langsung masuk ke ruang kerja sekretaris Bram. Begitulah kebiasaan mereka jika ingin membicarakan sesuatu yang privat.


"Apa yang ingin kau katakan padaku Bram?" Erik langsung to the point tanpa basa basi lagi.


"Duduk dulu tuan muda."


"Katakanlah! Aku siap mendengar."


"Berjanjilah padaku untuk tidak marah jika aku mengatakan sesuatu dengan jujur."


"Apa yang kau sembunyikan dariku Bram?" Erik bertanya dengan sorot mata tajam.


"Berjanjilah lebih dulu tuan, sebelum aku mengatakannya!"


"Aku berjanji! Katakan!"


Keringat dingin nampak mulai memenuji wajah sekretaris Bram. Ia benar-benar gugup dan untuk seketika ia bingung harus memulai dari mana.


Aku harus bicara, apapun resikonya.

__ADS_1


"Begini tuan muda! Aku tahu dimana nona Yuana berada."


"Hah? Kau tidak sedang bercanda bukan?"


"Tidak aku serius tuan muda."


"Sejak kapan kau mengetahui keberadaannya dan siapa yang memberitahukannya kepadamu."


"Jujur tuan. Aku tahu sejak awal saat nona Yuana akan pergi."


"Lalu kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku Bram? Kau membuatku hampir gila Bram. Aku tidak suka dengan Celine, perempuan siluman itu."


"Katakan! Dimana Yuana sekarang!"


Erik lupa dengan janjinya. Dengan reflek ia berdiri dan mencengkram kerah baju sekretaris Bram.


"Tolong lepaskan tuan. Tuan muda sudah berjanji untuk tidak marah. Kenapa malah mencekikku?"


Erik kesal dan melepaskan tangannya dengan kasar kemudian duduk.


"Aku kecewa padamu Bram. Kau tahu bahwa aku sangat mencintai Yuana. Kenapa kau tidak memberitahukannya kepadaku sejak awal?"


"Maafkan aku tuan muda. Tapi aku punya alasan sendiri. Kalau aku memberitahukannya sejak awal, aku akan mencelakakan tuan muda dan nona Yuana. Aku sangat mengenal tuan besar. Ia tidak punya belas kasihan terhadap orang yang melawan kehendaknya. Dan tuan muda juga tahu akan hal itu."


"Hmmm! Ceritakan padaku dengan detail bagaimana kau mengetahuinya."


"Terus?"


"Aku langsung berpikir untuk melakukan sesuatu. Maka tanpa pikir panjang, aku mendatangi toko jam tangan edition limited dan membelikan nona Yuana jam tangan. Aku kemudian menelpon temanku dan memasang GPS super mini di dalam jam tangan tersebut."


"Lalu satu hari sebelum keberangkatan nona Yuana, aku memberikan jam tangan tersebut dengan alasan hadiah atas kerja kerasnya selama ini."


"Aku bersyukur karena tidak terlambat bertindak sehingga masih bisa melacak keberadaannya."


"Lalu dimana nona Yuana sekarang."


"Apa tuan yakin mau mendengar nama tempatnya?"


"Katakan Bram! Jangan berbelit-belit."


"Nona Yuana sedang berada di kota paling terpencil di dunia. Nama kota itu adalah 'Tristan da Cunha'."


"Tristan da Cunha? Kenapa harus sejauh itu? Tak ku sangka papa benar-benar tega melakukan itu. Aku tidak percaya kalau itu ayahku. Aku kecewa dengan papaku, Bram."


Erik menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena frustasi. Ia bingung harus mengatakan apalagi.

__ADS_1


"Bantu aku pergi kesana untuk bertemu dengannya. Kau tahu Bram! Aku sangat mencintainya. Aku hampir gila karena menahan rindu."


"Sabar tuan muda. Kita harus memikirkan cara yang tepat sehingga tuan besar tidak curiga ketika tuan muda pergi."


"Kamu yang memikirkannya. Aku hanya tahu bahwa aku akan kesana. Rasanya aku sudah tidak mampu membendung rasa rindu ini."


"Boleh saya tanya sesuatu tuan?"


"Tanya saja Bram! Apa!"


"Maaf tuan muda. Tapi jika tuan pergi, lalu bagaimana dengan nasib nona Celine."


"Kau masih memikirkan wanita siluman itu? Bahkan aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Jangankan menyentuhnya. Melihat wajahnya saja aku muak."


"Maafkan aku tuan. Tadinya aku berpikir bahwa mungkin sudah terjadi sesuatu antara tuan muda dan nona Celine."


"Kau pikir aku tidak bisa menjaga harga diriku? Jika aku tidak mencintainya, aku tidak akan menyentuhnya sama sekali. Dua tanganku ini hanya akan aku pakai untuk menyentuh orang yang telah mampu mencairkan hatiku untuk mencintai seorang wanita, dan wanita itu adalah Yuana."


"Syukurlah kalau begitu tuan muda. Aku akan membantu tuan untuk pergi dan menemui nona Yuana."


"Tapi aku merasa tidak mampu menatap wajahnya, karena aku sudah menikah. Aku terpaksa harus menikahi wanita siluman itu karena aku mendengar kalau aku tidak menikahi Celine, maka papa akan membuat Yuana cacat seumur hidup."


"Hatiku sakit Bram. Aku tidak ingin wanita yang aku cintai cacat seumur hidup. Aku melakukan semua ini demi menjaganya agar jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk dengannya."


"Kalau begitu, tuan muda harus segera menemuinya. Jangan ceritakan tentang pernikahan ini. Karena nona Yuana pasti tidak akan rela kalau tuan muda meninggalkan Celine, sementara kalian sudah menikah."


"Jika sudah waktunya, aku sendiri yang akan berbicara dengan nona Yuana. Aku yang akan mendatangi kalian untuk menikahkan kalian, dan menceritakan semua kenyataan padanya. Semoga ia bisa mengerti."


"Harapanku juga seperti itu. Terima kasih banyak Bram. Hatiku lega sekarang. Semua beban seolah hilang setelah mendengar kabar ini."


"Sama-sama tuan muda. Hanya itu yang bisa aku lakukan."


Hmmm! Semoga kamu baik-baik saja disana sayang. Aku berdoa dan berharap agar segera berjumpa denganmu. Aku tidak mau kamu bersedih sayang. Maafkan aku yang terpaksa harus melakukan hal ini, demi menjagamu agar tidak terjadi sesuatu yang buruk denganmu. Aku tidak ingin agar penderitaanmu bertambah. Tunggulah aku kasih.


Airmata Erik menetes begitu saja. Ia sudah tidak peduli dengan sekretaris Bram yang melihatnya menangis.


Bersambung


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy reading ya guys, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya. 😍😍😍😍😍


__ADS_2