Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
81. Hari Bahagia


__ADS_3

Setiap orang, apalagi seorang wanita, pasti mendambakan sebuah pernikahan. Karena pernikahan bagi seorang wanita adalah sebuah kehormatan yang akan mengantarnya menjadi seorang ratu, yang akan senantiasa berdiri di samping prianya dalam keadaan apapun. Eda Sally


*****


Pagi ini, di setiap kamar, terlihat kesibukan yang luar biasa. Masing-masing sibuk mempersiapkan diri sejak subuh karena acara pernikahan Erik dan Yuana yang akan berlangsung tepat pukul 09.00.


Yuana yang sementara di make over oleh tukang rias yang sudah disewa, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya benar-benar kalut karena 2,3 jam lagi statusnya akan berubah dari seorang gadis menjadi seorang nyonya. Ia sadar diri, bahwa ia tidak bisa melakukan urusan rumah tangga, apalagi mengurus seorang suami. Ditambah lagi, ketakutan akan kewajiban yang harus ia jalankan sebagai seorang istri membuatnya berdebar-debar tak karuan.


Pikirannya melayang kemana-mana, sampai ia tidak sadar saat tukang rias sudah menyelesaikan pekerjaannya dan membenahi peralatannya.


Kesadarannya kembali ketika pintu kamar mereka diketuk kemudian terdengar bunyi derit pintu pertanda seseorang membuka pintu dari luar.


Dari balik cermin besar yang terpampang di depannya, Yuana melihat Yosua berdiri dengan gagah di pintu, mengenakan setelan jas yang membuat ketampanannya semakin nampak. Ia tersenyum dari balik cermin tanpa berniat membalikkan tubuhnya.


Yosua yang menyadari bahwa Yuana melihatnya, segera berjalan ke arah adiknya sambil tersenyum dan menguatkan hatinya. Ia tahu, harusnya ayahnya yang berada di sini, untuk mengantar Yuana ke pelaminan, bukan dirinya. Namun, ia masih ingat dengan jelas pesan ayahnya sebelum meninggal, agar ia menjaga adik dan ibunya. Dua wanita yang selalu ada dalam pikirannya.


"Kamu sangat cantik." Kata Yosua setelah dekat.


"Terima kasih. Kakak juga sangat tampan pagi ini." Balas Yuana.


Alika dan Agatha juga salah tingkah melihat ketampanan Yosua sampai tatapan mereka tidak beranjak dari wajah Yosua.


"Apakah kamu sudah siap?" Tanya Yosua kepada Yuana


"Sudah kak." Jawab Yuana dengan mantap, walaupun terdengar bunyi napas yang berat.


"Ok! Kita akan segera memasuki ruangan pernikahan karena acara akan segera dimulai."


Yosua mengulurkan tangannya, agar Yuana menggandengnya. Yuana segera melingkarkan tangannya dan berjalan perlahan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yosua. Agatha dan Alika segera mengikuti mereka dari belakang.


Setelah sampai di pintu dan akan memasuki ruangan di mana acara akan berlangsung, Yuana menahan langkahnya. Yosua kaget dengan apa yang dilakukan Yuana. Ia akhirnya ikut berhenti.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Berdiri sebentar kak. Aku ingin menenangkan hati dulu."


Yosua paham dan berhenti kemudian memeluk Yuana untuk menenangkan perasaannya.


"Apakah kita sudah boleh masuk?"


Yuana mengangguk dengan senyum yang dipaksakan. Mereka segera masuk dan berjalan diatas karpet merah diiringi oleh Agatha, Arthur, Alika, dan Habib.


Dari jauh tampak Erik berdiri dengan sekretaris Bram di sampingnya. Senyum bahagia terlihat di wajah Erik dan sekretaris Bram. Erik benar-benar terpesona dengan kecantikan Yuana yang membuat senyum di bibirya semakin melebar.


Prosesi masuknya pengantin telah sampai di depan Erik dan sekretaris Bram. Yosua yang masih mengandeng tangan Yuana, tidak segera menyerahkan Yuana kepada Erik. Ia memantapkan hatinya dan memaksakan diri untuk tersenyum agar tidak membuat Yuana menangis.


"Mulai detik ini, aku serahkan adikku satu-satunya dan hartaku yang paling berharga kepadamu. Aku harap kamu bisa menjaga, melindungi, menyayangi, dan memanjakkannya seperti yang sering aku lakukan kepadanya."


"Jangan pernah berniat untuk mengkhianatinya atau menyakitinya dengan alasan apapun. Jangan pernah membuatnya menangis dalam kesedihan dan kesendirian."


"Jika kamu membuat adikku mengeluarkan air mata dari matanya, maka aku akan membuatmu mengeluarkan darah dari tubuhmu. Dan jika tanganmu meninggalkan bekas tamparan atau benjolan pada tubuhnya karena kekerasan, maka aku akan membalasnya berkali-kali lipat dengan membuat tubuhmu mengeluarkan luka yang lebih sakit dari yang dirasakan adikku."


"Aku akan selalu mengingat pesanmu! Dan aku akan melindungi dan menjaganya lebih dari aku melindungi dan menjaga diriku sendiri. Percayalah padaku!" Jawab Erik dengan mantap sambil tersenyum.


Erik kemudian membawa Yuana ke atas pelaminan didampingi oleh sekretaris Bram dan Yosua.


Acara pernikahan dan janji suci yang diikrarkan oleh kedua mempelai berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun.


Tidak ada ucapan selamat dari undangan atau tamu, karena memang tidak ada yang diundang. Acara ini hanya dihadiri oleh mereka sendiri, dan beberapa staf hotel serta fotographer yang akan mengabadikan momen satu kali dalam hidup itu.


Tak ku sangka, aku akan menikah dengan cara seperti ini. Tidak ada kemewahan dan undangan orang-orang elit yang membuatku pusing melihatnya. Aku tidak perlu melihat orang-orang datang dengan hadiah yang mahal hanya untuk mencuri perhatian ayahku. Dan aku lebih bahagia di dampingi oleh mereka yang sederhana tetapi hatinya benar-benar tulus mengikutiku. Erik


Pernikahan mereka kini sah secara agama dan hukum karena sekretaris Bram sudah mengurus semuanya di pencatatan sipil bersama Arthur. Mereka juga sudah berganti nama sesuai dengan identitas palsu yang sudah disediakan oleh sekretaris Bram sebelum Erik datang ke UK.


Sekretaris Bram sudah berpesan kepada Agatha, Alika, Arthur, dan Habib agar jangan pernah memanggil nama asli Erik dan Yuana. Cukup memanggil tuan dan nona saja.


Mereka kemudian menikmati berbagai menu yang sudah disediakan pihak hotel. Semuanya antuasias dan sangat menikmati makanannya. Hanya Yuana yang terlihat mengutak atik makanannya seperti orang yang tidak memiliki selera makan.

__ADS_1


"Malam ini, kita masih akan menginap di hotel ini. Dan besok pukul 10.00 pagi, saya, Yosua, dan Arthur akan berangkat ke London dengan kereta, dan selanjutnya langsung pulang ke Indonesia." Sekretaris Bram menjelaskan.


"Kenapa cepat sekali?" Tanya Yuana gugup.


"Karena kami hanya diizinkan sampai besok." Yosua yang menjawab.


Yuana nampak menarik napasnya dan menatap Yosua. Ia sudah membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka pulang. Itu artinya ia sudah harus tinggal berdua dengan Erik. Membayangkan saja sudah membuatnya bergidik sendiri.


Yosua yang paham dengan apa yang dipikirkan Yuana, memandang Yuana yang sedang menatapnya sambil tersenyum. Kali ini, Yosua memilih untuk tidak duduk dekat Yuana. Ia mempersilahkan Erik untuk duduk di samping Yuana saat makan. Ia sadar diri bahwa ia sudah harus menjaga jarak dengan Yuana, karena status Erik sekarang lebih penting dari dirinya.


Yosua merasa lega karena kini sudah ada yang akan menjaga adiknya. Ia tidak perlu khawatir lagi ketika jauh dari adiknya.


"Oya! Untuk malam ini, saya akan tidur bersama Yosua, sedangkan Arthur dengan Habib, dan Alika dengan Agatha. Sementara Erik dan Yuana, sudah disediakam kamar khusus yang sudah di rias sejak pagi oleh pihak hotel."


Deg!!


Jantung Yuana berpacu dengan kencang, dan rasa gugup menyerangnya sehingga sendok yang dipegangnya jatuh dan menimbulkan bunyi yang menyakitkan telinga.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2