Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
64. Pergi Demi Cinta


__ADS_3

Cinta bisa membuat orang yang lemah menjadi kuat, dan orang yang kuat menjadi lemah. Rasanya tidak ada hal yang lebih indah daripada menikmati bagaimana rasanya dicintai, dan memberikan cinta kepada orang yang telah mampu menembus pertahanan hati kita, dan yang mampu berdiam dengan teguh di dalam hati tanpa digoyahkan oleh apapun. Eda Sally


*****


Setelah mandi dan berganti pakaian, Erik menghampiri sekretaris Bram yang masih duduk dengan setia di sofa kamarnya. Ia tersenyum kemudian berjalan ke arah sekretaris Bram dan memeluknya sangat lama.


"Terima kasih untuk semuanya kak. Aku akan selalu merindukanmu."


Untuk pertama kalinya Erik memanggil sekretaris Bram dengan sebutan kakak. Hal itu membuat sekretaris Bram kaget. Ia tak menyangka Erik yang selama ini dihormatinya sebagai seorang tuan muda, memanggilnya kakak.


Apa? Dia memanggil kakak kepadaku? Rasanya aku tidak percaya dan menyangka bahwa hari ini akan datang. Hari dimana aku rindu mendengar seseorang memanggilku kakak atau adik.


Tanpa sadar airmatanya menetes dari mata sekretaris Bram yang selama ini terlalu kaku dan tidak pernah memanfaatkan airmatanya, karena memang ia tidak akan menangis untuk sesuatu hal walaupun itu sedih menurut orang lain, tapi tidak bagi Bram Wiliam. Jika orang lain menangis, sekretaris Bram akan heran kenapa ada orang yang menangis. Sementara menurutnya, tidak ada yang perlu ditangisi dalam hidup.


"A...adikku." Kata sekretaris Bram terbata menahan haru dan tangis yang sudah menyerang pertahanannya yang kokoh selama ini.


"Iya kakakku. Kita langsung berangkat sekarang ya?"


Sekretaris Bram hanya menganggukkan kepala mendengar perkataan adiknya, Erik. Mereka kemudian bergandengan tangan dan keluar dari rumah.


Bergandengan tangan adalah hal langka yang belum pernah mereka lakukan sejak kecil. Mereka sendiri tidak mengingat lagi kapan terakhir kalinya mereka bergandengan tangan.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, mereka sudah tiba di bandada. Sekretaris Bram segera menurunkan koper Erik dan mendorongnya. Erik mengikuti langkah sekretaris Bram sambil tersenyum.


Saat sudah di depan pintu masuk chek ini, sekretaris Bram berhenti dan langsung memeluk Erik dengan erat sekali dan sangat lama.


"Aku akan merindukanmu adikku. Andaikan bukan karena cinta dan masa depanmu, aku tidak akan melepaskanmu untuk pergi." Kata sekretaris Bram dengan suara parau karena menahan tangis.


"Kau satu-satunya saudara yang aku punya, dan aku juga akan sangat merindukanmu. Kiranya Tuhan berkenan membawa aku kembali, agar aku dapat memandang wajahmu lagi."


"Hei! Kamu pasti akan kembali. Aku juga akan datang ke tempatmu untuk menikahkanmu dengan wanitamu. Titip salam untuk nona Yuana jika sudah bertemu."


"Terima kasih kak! Aku pergi dulu ya?"

__ADS_1


"Jaga dirimu dengan baik di sana. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada adikku satu-satunya."


"Aku akan selalu mengingat pesanmu, kak!"


Sekretaris Bram hanya mengangguk mendengar kalimat terakhir dari Erik karena di detik selanjutnya ia sudah membalikkan badannya dan pergi. Ia tidak ingin terus menatap kepergian Erik, karena akan memicu airmata mahalnya untuk keluar dari tempat pertahanannya.


Erik yang sudah berada di dalam ruang tunggu, menutup mata sambil menunggu waktu keberangkatan. Walaupun menutup matanya, hatinya sedang bermonolog tentang apa dan bagaimana yang akan terjadi jika ia bertemu dengan Yuana nanti.


Aku merindukanmu gadisku. Mungkinkah kulitmu yang putih dan mulus itu sudah bertambah hitam karena kamu harus berada di tempat yang tidak seharusnya? Ah! Aku tidak peduli dengan hal itu. Entah kamu hitam atau putih, cintaku padamu tidak akan pernah berubah.


Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, terdengar pengumuman dari petugas bandara yang mengatakan bahwa pesawat yang akan ditumpangi Erik akan segera berangkat.


Erik segera berjejal dengan penumpang lain yang memiliki tujuan keberangkatan yang sama dengan Erik untuk ke UK dan menuju pesawat yang akan ia tumpangi.


Saat sudah mendapatkan tempat duduk, ia duduk dengan tenang, memasang sabuk pengaman, kemudian memejamkan mata sambil mendengar lagu.


Aku memilih memakai kelas ekonomi, karena jika ayah tak merestui langkah yang aku ambil, berarti profilku sebagai tuan muda sudah tidak boleh melekat lagi. Aku harus menjadi orang biasa di luar sana, yang harus hidup sederhana tanpa embel-embel seorang tuan muda.


Erik kemudian menikmati tidurnya tanpa terganggu dengan aktifitas sepasang muda-mudi di sampingnya. Ia pura-pura tidak mendengar kalimat mesra yang membuat sakit telinganya.


Pasangan muda-mudi yang ada di sampingnya melirik ke arahnya dengan tatapan malu karena kedapatan bermesraan ketika Erik membuka mata. Erik sendiri tidak mempedulikan hal itu. Ia pura-pura tidak melihat apa yang disaksikan oleh matanya.


Tak lama kemudian, pesawat sudah mendarat dengan sempurna. Erik turun dari pesawat dan berjalan menuju domestik kedatangan dan mencari Arthur setelah mengambil kopernya.


Tanpa membutuhkan waktu yang lama, ekor mata Erik sudah menemukan sosok yang ia cari. Nampak Arthur sedang melongokkan kepala dan mencari Erik diantara kerumunan penumpang yang berdesak-desakan.


"Makanya. Mata itu dipakai untuk melihat." Kata Erik yang membuat Arthur terkejut karena orang yang ia cari sudah ada di depannya.


"Eh, tuan muda. Kalau saya tidak melihat pakai mata, tidak mungkin saya bisa melihat tuan. Sejak kapan tuan muda ada di sini?"


"Sejak matamu liar menatap sana sini." Jawab Erik ketus.


"Hahahaaha. Jangan marah-marah tuan. Apa tuan tidak merindukanku? Minimal berikan aku pelukan."

__ADS_1


"Merindukanmu? Ih! Amit-amit. Apalagi pakai peluk segala. Bisa merinding seluruh badanku."


Arthur tidak segera menjawab. Ia sudah sangat hafal dengan Erik, karena kata-katanya akan selalu pedas, tapi hatinya sangat baik.


"Kalau tidak merindukanku, kenapa malah meminta aku yang menjemput tuan muda?" Protes Arthur sambil menarik koper Erik menuju mobilnya.


"Karena hanya kamu yang bisa aku suruh." Jawab Erik sekenanya.


"Kalau misalkan aku sedang tidak ada di Uk, siapa yang akan tuan muda suruh-suruh?"


"Aku tidak akan menyuruh siapa-siapa, karena saat kamu tidak ada di UK, aku juga tidak punya kepentingan untuk datang ke UK."


"Hmmm! Jawabannya selalu begitu. Rasanya seperti di cekik."


"Siapa yang mencekikmu? Mana bekasnya. Sini aku lihat." Kata Erik pura-pura memeriksa leher Arthur.


"Katanya merinding kalau dekat aku, sekarang menyentuhku malah tidak apa-apa." Arthur protes dengan kelakuan Erik.


"Yang barusan itu khilaf." Kata Erik sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


Arthur tidak bisa menahan tawanya melihat kelakuan Erik. Sementara Erik memandangnya dengan tatapan tajam. Arthur memilih mengalihkan matanya dan membukakan pintu mobil untuk Erik. Mereka kemudian berjalan menuju mansion mewah milik keluarga Erik.


Bersambung


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya guys, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2