
Tidak semua tangis disebabkan oleh rasa duka, karena rasa bahagia pun juga dapat memicu terjadinya sebuah tangisan. Menangis tidak akan membuat harga dirimu jatuh, karena saat bibir sudah tidak sanggup berkata, maka airmata sendiri yang akan mewakili segala rasa di dalam hati kita. Eda Sally
*****
Tidak sampai sepuluh menit, Arthur telah kembali bersama dokter Stevi dan dokter ahli yang sempat memeriksa Yuana.
Keringat nampak menghiasi wajah kedua dokter tersebut. Mereka masuk dengan wajah panik dan setengah berlari, karena tak percaya dengan apa yang mereka dengar dari mulut Arthur.
"Cepat periksa kondisi putri saya! Saya ingin tahu keadaannya. Ia sedang berusaha menggenggam tanganku." Ujar Andre Wiliam sambil terus mengelus tangan mungil yang sementara digenggamnya.
Dokter Stevi mempersilahkan dokter ahli yang direkomendasikan untuk menangani Yuana. Setelah mendapat kode dari dokter Stevi, dokter tersebut segera melakukan pemeriksaan.
Beberapa saat kemudian, dokter tersebut telah selesai melakukan tugasnya. Ia menatap sekilas ke arah dokter Stevi, kemudian memberikan kode dengan kepalanya agar dokter Stevi mendekat.
"Bantu saya melepas alat bantu pernapasan pada nona Yuana." Pinta dokter tersebut.
"Dilepas? Apa tidak berbahaya? Pasiennya belum sadar, Dok." Ujar dokter Stevi ragu.
"Percayalah! Turuti saja apa yang saya katakan!" Ujar dokter tersebut meyakinkan dokter Stevi yang masih ragu.
Dokter Stevi nampak menarik napas mendengar apa yang dikatakan dokter ahli tersebut. Tak lama kemudian ia mendekat dan membantu dokter tersebut untuk melepas alat bantu pernapasan yang terpasang dan menutupi hidung dan mulut Yuana.
Setelah selesai melepas alat bantu pernapasan tersebut, nampak kedua dokter tersebut menarik napas lega dan menyeka keringat yang sudah membasahi wajah mereka.
Andre Wiliam yang menyaksikan hal tersebut menarik napas panjang dengan wajah tegang karena takut terjadi sesuatu dengan menantunya.
Erik sendiri tidak mau melihat dan memilih untuk memejamkan mata sambil menggenggam tangan Yosua dengan erat yang berdiri di sampingnya.
"Bagaimana kondisi putri saya, Dok?" Tanya Andre Wiliam tidak sabar.
"Menurut prediksi saya, putri tuan akan sadar dalam beberapa menit lagi."
"Jadi, jangan mengkhawatirkan apapun, karena putri tuan baik-baik saja." Ujar sang dokter.
"Tapi, kenapa alat bantu pernapasannya dilepas, Dok?" Tanya Andre Wiliam karena cemas.
"Karena kondisi napasnya sudah sangat stabil, dan nona Yuana tidak membutuhkannya lagi."
"Lagipula, memang harus dilepas sekarang agar nanti saat nona Yuana sadar dan berbicara, mulutnya tidak kaku lagi." Dokter Stevi membantu menjelaskan.
__ADS_1
"Baiklah! Terima kasih banyak, Dokter!" Ujar Andre Wiliam dengan tulus.
"Kami rasa, tugas kami sudah selesai. Jika nona Yuana sudah sadar, segera panggil kami." Ujar dokter tersebut sambil keluar, diikuti oleh dokter Stevi.
Setelah kedua dokter tersebut keluar, mereka semua saling berpandangan dan mata mereka semua tertuju kepada wajah Yuana.
Mereka seperti sudah tidak sabar menanti Yuana segera sadar.
Andre Wiliam yang masih bertahan di sisi tempat tidur, mengulurkan tangannya yang menganggur dan membelai rambut Yuana dengan lembut.
Tak lama kemudian, matanya menangkap kelopak mata Yuana yang bergerak dengan sangat pelan.
"Bangunlah, Nak! Ini papa." Ujar Andre Wiliam sambil mengeratkan genggamannya dan terus mengelus tangan mungil itu dengan ibu jarinya.
Tiba-tiba, perlahan-lahan sepasang mata indah itu mulai terbuka. Matanya langsung tertuju pada sosok yang duduk di samping tempat tidur dan sementara membelai rambutnya.
Tanpa sadar, airmata Yuana menetes begitu saja. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan, karena ia mendengar semua perkataan pria itu di dalam tidurnya. Dan saat ini, ia merasa seperti sedang bermimpi.
"Papa!" Ujar Yuana dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Maafkan papa, Nak! Papa menyayangimu. Dan sekarang papa senang, karena papa memiliki seorang putri yang tidak hanya cantik, tetapi juga memiliki tekad dan karakter yang kuat."
"Jika hatimu belum siap untuk memaafkan papa, maka papa akan bersabar menanti hingga kau mau memaafkan papa." Ujar Andre Wiliam sambil menatap wajah mungil di depannya.
Erik yang berdiri di samping papanya, tidak mampu menahan hatinya. Ingin rasanya ia mendekap tubuh mungil itu, tetapi karena papanya sedang mendominasi Yuana, maka ia hanya bisa menatap dengan airmata yang terus menetes.
Yosua memilih untuk berbalik karena tidak ingin melihat wajah sang adik. Ia takut tidak bisa menahan diri untuk memeluk adiknya.
"Papa! Terima kasih telah menerima Yuana." Ujar Yuana dengan suara terbata menahan tangis.
"Maafkan papa, sayang! Jangan mengucapkan terima kasih. Papa yang seharusnya berterima kasih, karena kau sama sekali tidak membenci papa." Ujar Andre Wiliam sambil menunduk dan mengecup kening Yuana.
Yuana tersenyum ke arah Andre Wiliam begitu ia menyelesaikan kecupannya.
Entah apa yang ada di pikiran Yuana, tetapi senyumnya mampu meluluhkan hati seorang Andre Wiliam, sehingga tanpa sadar, dua butir bening mendesak keluar dari mata pria yang berwibawa itu.
"Aku ingin duduk, pa!" Pinta Yuana.
Erik yang mendengar permintaan sang istri, langsung bergerak dengan sangat cepat, dan dengan sangat hati-hati membantu Yuana untuk duduk.
__ADS_1
Begitu Yuana sudah berhasil duduk, Erik tidak lagi mempedulikan keberadaan yang lainnya, karena ia langsung memeluk Yuana dengan sangat erat, seolah takut sang istri akan menghilang.
"Maafkan aku, sayang! Aku hampir mencelakai dirimu. Aku sangat takut melihat kamu hanya tidur dan tidak melakukan apapun." Ujar Erik dengan airmata yang sudah membasahi pipinya.
Tak lama kemudian, Erik melepaskan pelukannya, dan menangkup wajah sang istri serta memandangnya dengan lekat seperti ingin memastikan bahwa itu benar-benar istrinya.
"Ini benar istriku, kan?" Ujar Erik sambil terus memandang wajah Yuana.
Yuana hanya tersenyum menanggapi kelakuan Erik. Ia tahu betapa besar cinta pria itu kepadanya.
"Ahmmmm!" Andre Wiliam mengeluarkan batuknya untuk menyadarkan Erik bahwa ia sedang tidak sendirian dengan istrinya.
"Jangan terlalu egois, Nak! Apa kau tidak akan memberikan kesempatan kepada papa dan mami untuk memeluk istrimu?" Ujar Andre Wiliam dengan suara basnya.
"Maafkan Erik, Pa! Erik terlalu bahagia sampai lupa kalau ada papa dan mami di sini." Jawab Erik beralasan kemudian melepaskan tangannya dari wajah Yuana.
Namun, sebelum ia benar-benar beranjak, ia masih sempat mendaratkan beberapa kecupan di wajah Yuana, tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang sementara menatapnya.
"Sini, peluk papa!" Pinta Andre Wiliam sambil membuka kedua tangannya.
Yuana menatap wajah pria berwibawa itu dengan senyum yang dibarengi dengan air mata yang sudah ditahannya sejak tadi.
Yuana mencondongkan tubuhnya dan membenamkan kepalanya di dada pria tersebut dengan sesenggukan. Ia menangis dan menumpahkan semua rasa sakit dan bahagia yang menyatu saat ini.
Aku sungguh tidak percaya, bahwa akan ada waktu seperti saat ini, dimana aku bisa melihat senyum orang yang pernah membuang dan menyakitiku. Aku bahkan harus meyakinkan diriku lagi, bahwa pada akhirnya, restu yang selama ini aku rindukan di dalam diamku bisa aku dapatkan hari ini. Terima kasih Tuhan, karena telah mengizinkanku untuk boleh merangkai doa bahagia ini. Yuana
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍