
Teruslah berbuat baik selagi masih diberi kesempatan. Sebisa mungkin tebarkanlah kebaikan bagi siapapun yang ada di sekelilingmu karena akan datang masanya dimana kamu ingin berbuat baik tetapi dibatasi oleh ruang dan waktu.
Itulah prinsip hidup yang harus menjadi pegangan tiap orang. Eda Sally
*****
Kampus tempat Yuana kuliah, akan mengadakan kegiatan ekstra di luar kelas atau lebih tepatnya di alam bebas. Yuana tentu saja sangat antusias mengikuti kegiatan ini karena ia sangat suka dengan alam. Waktu masih di kota kabupaten tempat kelahirannya, ia tidak pernah melewatkan kegiatan di luar kelas yang berhubungan dengan alam.
Yuana terlihat memeriksa lagi perlengkapannya satu persatu sebelum berangkat. Setelah dirasa bahwa semua keperluannya sudah dimasukkan ke dalam tas ranselnya, Yuana segera menghampiri pak Ady yang sudah menunggu. Ia terlihat buru-buru ke kampus karena semua peserta jelajah alam akan berangkat bersama-sama tepat pukul 09.00.
"Pagi pak!" Sapa Yuana pada pak Ady
"Pagi non!" Balas pak Ady.
"Mau berangkat sekarang non?" Tanya pak Ady sopan sambil membukakan pimtu.
"Iya pak. Masa besok pagi?" Jawab Yuana sambil tersenyum.
Pak Ady hanya tersenyum sambil menutup pintu. Setelah Yuana masuk ia kemudian menuju ke bagian depan dan masuk ke dalam mobil.
Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi Yuana sudah berangkat. Yuana terlihat melirik jam tangannya.
Ah, baru jam 08.15. Masih ada waktu. Setidaknya aku tidak terlambat. Yuana
Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka tiba di kampus.
"Terima kasih pak!" Pulangnya hati-hati ya?" Kata Yuana sambil bergegas turun dari mobil.
"Sama-sama non! Selamat bertamasya." Balas pak Ady.
Yuana hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arah pak Ady. Ia kemudian melangkah ke dalam kampus. Terlihat sudah banyak temannya yang datang. Ia segera bergabung dengan mereka.
"Hai Yu, selamat pagi." Sapa Cindy
"Pagi Cindy!" Balas Yuana.
"Hai Nayla!" Sapa Yuana pada Nayla.
__ADS_1
"Hai Yuana! Oya! Nanti kita satu mobil ya biar seru kalau mau berbincang. Malas aku kalau harus duduk sama kakak-kakak tingkat. Wajahnya pada seram-seram. Kecantikanku bisa luntur kalau memandang wajah mereka terus menerus." Kata Nayla yang disambut tawa oleh Yuana dan Cindy.
"Heheheheeh kamu ada-ada aja Nay. Mana ada kakak tingkat yang wajahnya seram. Biasa aja menurutku." Kata Yuana.
"Eh siapa bilang? Benar kok yang aku bilang. Lihat tuh (sambil menunjuk kakak tingkat yang barusan lewat)! Tidak pernah senyum sama sekali. Mendung terus wajahnya. Hehehhehe." Kata Nayla.
"Hehehehehe. Sudah Nay. Nanti kalau orangnya dengar bagaimana? Urusannya bisa panjang." Kata Cindy.
"Biarkan saja dia dengar. Setidaknya segera insyaf agar memperbaiki raut wajahnya untuk selalu tersenyum seperti aku. Jadinya kan semakin cantik. Hehhehee." Balas Nayla sambil tertawa.
Tiba-tiba obrolan mereka terhenti karena mereka mendengar pengumuman dari pengeras suara bahwa mereka akan segera berangkat.
Karena rombongan dibagi berdasarkan kelas, maka Yuana, Cindy dan Nayla 1 bus. Yang paling senang adalah Nayla karena ia bebas berkicau tanpa ada yang menghalangi atau menatap sinis kepadanya. Tapi jangan senang dulu, karena ternyata dosen yang mendampingi rombongan Yuana dalam bus tersebut adalah Pak Erik.
"Kenapa uga si wajah es itu ada di sini? Bosan aku melihat wajah bekunya." Kata Nayla.
"Makanya kamu hati-hati kalau bicara." Kata Yuana.
Yuana tidak menceritakan pada teman-temannya beberapa kejadian yang ia alami mulai dari makan malam bersama keluarga pak Erik sampai kedatangan pak Erik ke rumahnya yang merupakan sahabat kakaknya sendiri. Ingin ia bercerita, namun menurutnya ini cerita yang rumit, dan Yuana tipe orang yang tidak suka terlalu memikirkan hal-hal yang membuat moodnya jelek.
"Ih! Biasa aja. Cantik dari mananya? Masih cantik aku dibanding kamu." Kata Cindy.
Yuana hanya tersenyum mendengar pertengkaran Nayla dan Cindy. Mereka seperti Tom and Jerry kalau bertemu, tapi sebenarnya saling menyayangi.
Karena jalan menuju pegunungan jauh dan membutuhkan waktu kurang lebih lima jam, suasana yang tadinya gaduh tiba-tiba mulai tenang tanpa suara. Masing-masing peserta sudah terlelap dalam tidur dan alam mimpi, kecuali Yuana. Ia terlihat menatap keluar jendela sambil menikmati alam sepanjang perjalanan, dan sesekali memotret dengan kameranya atau mengambil video.
Ketika asyik menikmati pemandangan dari dalam bus, Yuana tiba-tiba mendengar suara Nayla. Awalnya ia berpikir bahwa Nayla sudah bangun. Ketika ia menoleh, ternyata Nayla sedang mengigau. Sifat usilnya mulai keluar. Ia mengambil cotton bud yang masih bersih dan digesekkan pada bibir Nayla. Otomatis Nayla menjilati bibirnya sambil berkata ;
"Ayam goreng."
Yuana tidak dapat menahan tawanya dan menjawab ;
"Iya, ayam gorengnya enak Nay. Ayo di makan." Kata Yuana sambil terus mengerjai Nayla.
Nayla yang di dalam mimpinya menyangka itu adalah ayam goreng, segera melahap cotton bud yang digesekkan Yuana di bibirnya, dan tiba-tiba matanya terbuka.
"Lho! Kenapa cotton bud ini bisa ada di mulutku?" Kata Nayla sambil mengeluarkan cotton bud tersebut dari mulutnya.
__ADS_1
Yuana terlihat tidak dapat menahan tawanya dan bahunya mulai berguncang. Nayla segera menyadari bahwa ini adalah ulah Yuana. Ia segera meninju bahu Yuana. Yang ditinju malah tertawa lepas tanpa dosa.
Pak Erik yang mendengar tawa yang sangat kencang segera bangun dari tempat duduknya dan melihat ke arah sumber suara tersebut. Ia kemudian bangun dari kursinya dan berjalan ke arah tempat duduk Yuana dan Nayla.
"Ada apa ini?" Tanya pak Erik.
"Tidak ada apa-apa pak. Hanya sebuah kecelakaan kecil." Jawab Nayla sekenanya.
"Hah? Siapa yang celaka?" Tanya pak Erik sambil mengamati keduanya.
"Dia pak." Kata Yuana dan Nayla bersamaan sambil saling menunjuk. Kemudian tanpa sadar mereka tertawa lepas.
Pak Erik bingung dengan tingkah mereka, dan memilih kembali ke tempat duduknya.
"Kamu itu ya, bisa-bisanya kasih aku ayam goreng seperti ini." Kata Nayla pura-pura marah sambil menunjuk cotton bud.
"Habisnya kamu mengigau sambil menyebut ayam goreng. Ya sudah aku kasih ayam goreng yang ada di depan mata." Kata Yuana sambil tertawa. Nayla yang awalnya cemberut akhirnya ikut tertawa.
Tiba-tiba pak Erik berdiri dan mengumumkan kepada semua peserta yang ada di bus tersebut bahwa dua puluh menit lagi mereka akan sampai tempat yang di tuju.
Anak-anak yang masih tidur segera bangun dan mereka semua kagum dengan alam pegunungan yang benar-benar mempesona. Mereka segera merapikan baju dan rambut kemudian segera memeriksa barang bawaannya.
Tak lama kemudian, mereka sampai pada tempat tujuan. Ketika turun, mereka disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah. Tanpa diperintah, anak-anak segera mengambil kameranya masing-masing dan mengabadikan momen tersebut.
Sementara pak Erik, pura-pura mengambil gambar pemandangan, padahal yang dia potret adalah Yuana. Tentu saja dari jauh. Tidak berani mengambil terang-terangan.
.
.
.
.
.
Happy reading ya guys? Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya. Salam sehatππππ
__ADS_1