
Hati yang berdebar karena rasa cinta lebih menakutkan daripada debaran karena melakukan kesalahan. Cinta dapat membangkitkan sebuah rasa yang hanya bisa dinikmati dan dirasakan oleh mereka yang memiliki ikatan batin karena sebuah hubungan.
Perasaan cinta yang di pendam terlalu lama, jika suatu saat dilepaskan akan sulit dikendalikan. Dan memang yang namanya rasa harus dilepaskan dan disalurkan kepada orang yang berhak menerimanya. Eda Sally
******
Yuana benar-benar gugup ketika semua orang bangun untuk menuju ke kamar masing-masing. Ia memandang kepada Yosua dengan tatapan mengiba seolah meminta pertolongan dan perlindungan.
Yosua yang mendapat tatapan iba dari sang adik, walaupun merasa tidak tega, namun memilih untuk mengacuhkan adiknya kali ini. Yosua hanya memandang Yuana dengan tatapan hangat diikuti dengan senyuman dan anggukkan kepala seolah mau mengatakan bahwa sang adik harus siap atas apa yang akan terjadi.
Erik dari tadi hanya mampu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung bagaimana harus berbicara kepada Yuana. Ketika ia mendapat kode anggukan kepala dari Yosua, Erik dengan berani langsung menggenggam tangan Yuana untuk membawanya ke kamar mereka.
Yosua yang melihat hal itu, hatinya seperti diiris-iris. Ia tidak tega melihat adik kecilnya ketakutan seperti itu.
Siap atau tidak, kamu harus melewati hal itu. Terima kasih telah menjadi adik yang baik dan selalu menurut dengan apa yang aku katakan. Aku akan selalu mencintaimu sebagai seorang kakak. Yosua.
Setelah di kamar, Yuana membawa pakaian ganti dan langsung berlari ke dalam kamar mandi. Erik yang melihat hal itu tidak dapat menahan tawanya. Yuana membersihkan diri dan entah apa yang dilakukannya di dalam kamar mandi yang membuat Erik tidak tenang. Ia takut terjadi sesuatu pada Yuana karena Yuana sudah sangat lama di dalam kamar mandi.
Tok...tok..tok..
"Sayang? Kamu baik-baik saja kan? Kenapa lama sekali sayang?"
Waduh! Mau keluar tapi takut. Bagaimana aku akan menghadapinya?
"Iya! Aku baik-baik saja. Sebentar lagi keluar."
Yuana kembali memeluk gaun pengantin dan bingung harus keluar atau tidak. Akhirnya ia memberanikan diri untuk keluar.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Erik kuatir sambil mengamati tubuh Yuana.
Yuana yang diteliti tubuhnya seperti itu merasa risih dan semakin gugup. Erik perlahan meraih gaun pengantin yang dipegang Yuana dan menggantungnya.
"Jangan takut. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap." Kata Erik sambil tersenyum kemudian mengecup kening Yuana.
Yuana yang dikecup tiba-tiba, lututnya sudah tidak bisa dikondisikan. Erik paham dengan tubuh Yuana yang sementara bergetar hebat karena gugup. Tanpa mengatakan apapun, Erik langsung menggendong tubuh Yuana dan membawanya ke tempat tidur, kemudian menidurkannya di sana.
__ADS_1
"Tidurlah dan jangan takut! Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku juga mau mandi." Kata Erik kemudian berjalan ke kamar mandi.
Yuana yang masih dikuasai rasa takut, segera meraih bed cover dan menutupi seluruh badannya. Pikiran sudah melayang kemana-mana membayangkan apa yang akan terjadi. Sementara Erik mandi sambil tersenyum sendiri membayangkan ekspresi Yuana yang sangat memprihatinkan Karena takut.
Setelah selesai mandi, Erik berjalan ke tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur. Ia hanya mengenakan singlet dan celana pendek. Yuana yang mengetahui keberadaan Erik, tubuhnya makin bergetar hebat di dalam bed cover yang membungkus tubuhnya.
"Bangunlah! Aku ingin bicara. Tidak perlu takut seperti itu!"
Yuana perlahan membuka bed cover yang membungkus tubuhnya dan duduk.
"Kamu tidak perlu setakut ini. Jika kamu keberatan aku tidur satu tempat tidur denganmu, aku akan tidur di sofa."
"Maafkan aku kak." Gadis itu menjawab dengan volume suara yang lemah tanpa berani mengangkat wajahnya.
Erik mengangkat tangannya dan membelai rambut Yuana agar Yuana merasa lebih nyaman. Ketika Erik melihat bahwa Yuana agak tenang, ia kemudian membawa Yuana dalam pelukannya.
"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang menyakitimu. Percayalah padaku."
Gadis itu hanya menganggukkan kepala mendengar apa yang dikatakan Erik. Perlahan tapi pasti, tubuh Yuana sudah tidak bergetar lagi. Ia sudah merasa nyaman karena dipeluk seperti itu. Erik yang sudah tidak dapat menahan diri lagi segera menurunkan wajahnya dengan perlahan dan dengan lembut mengecup kening sang istri lama sekali.
Tangan Yuana menggenggam ujung singlet Erik dengan erat pertanda rasa gugup kembali menyerang. Tubuhnya berguncang dengan hebat. Erik yang bibirnya masib bersarang di kening Yuana merasakan getaran tubuh sang gadis. Namun ia terus menutup mata dan menahan kegiatannya di sana karena masih ingin menikmati rasa itu.
Setelah merasa puas, Erik mengakhiri kecupannya dan kemudian mengecup kepala dan rambut gadisnya berulang kali. Ia ingin agar Yuana terbiasa dengan hal itu.
"Kak!"
"Ada apa sayang?" Tanya Erik heran.
"Aku mau ke toilet." Jawab Yuana.
Erik menahan napas kemudian menarik napas dengan kasar ketika mendengar permintaan Yuana.
"Mau aku antar?" Tanya Erik dengan khawatir karena melihat wajah Yuana yang pucat.
"Ti..ti..tidak! Aku bisa sendiri." Kata Yuana gugup sambil mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
__ADS_1
Gadis itu segera berlari ke kamar mandi sambil memegang dadanya yang bergemuruh dengan sangat hebat seperti hendak meledak. Ia berdiri dan menyandarkan badannya di dinding kamar mandi dengan masih memegang dadanya.
Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat gugup dan takut. Ternyata menikah itu menakutkan. Yuana.
Setelah selesai dari kamar mandi, Yuana kembali dan melihat Erik sudah tidur dengan telentang diatas tempat tidur. Untuk sesaat gadis itu ragu untuk melangkah ke tempat tidur. Erik mengangkat kepala dan memandangnya dengan iba.
"Kemari dan tidurlah! Aku akan menaruh guling di tengah. Aku janji tidak akan melakukan apapun." Kata Erik meyakinkan.
Yuana melangkah dengan ragu dan menaiki tempat tidur. Ia tidur dengan membalikkan badan dan membelakangi Erik. Erik tertawa dengan menutup mulutnya agar suaranya jangan sampai terdengar oleh Yuana.
Dengan perlahan, Erik mengambil bed cover dan menutupi tubuh Yuana, dan memakai ujung lainnya untuk menutupi tubuhnya sendiri.
"Tidurlah! Semoga mimpi indah. Jangan lupa bawa aku di dalam mimpimu. Aku mencintaimu selalu, sekarang, dan selamanya!" Bisik Erik di telinga Yuana kemudian kembali pada posisinya.
Yuana yang merasakan bahwa Erik berbisik dekat telinganya, tubuhnya terasa panas dingin. Ia ingin membalas ucapan selamat tidur dari sang kekasih, namun bibirnya seperti terkunci sehingga berat untuk berbicara.
Hmmmm! Menahan diri itu memang tidak menyenangkan. Sampai kapan aku harus menahan diri seperti ini? Cara apalagi yang harus aku gunakan agar ia mau melakukannya? Erik.
Aku kasihan padanya. Tetapi aku sangat takut.Aku sudah berusaha menahan hatiku tetapi rasa gugup dan takut ini selalu menyerang. Apa yang harus aku lakukan? Yuana.
Akhirnya kedua pengantin itu tidur dengan pikiran dan kegelisahan masing-masing.
Bersambung.
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
__ADS_1
😍😍😍😍😍