
Setinggi-tingginya kamu terbang, jangan pernah lupa untuk mendarat, karena hanya bumilah satu-satunya tempat untuk berpijak. Sejauh apapun kamu berjalan, pada akhirnya tetap harus menyusuri jalan pulang, karena tidak ada kepergian yang tidak akan diakhiri dengan kedatangan kembali. Eda Sally
*****
Yuana pergi menemui nenek Tati bersama Erik dan Gail. Gail yang sudah memutuskan untuk ikut ke Indonesia, sudah menyampaikan hal itu kepada nenek dan orang tuanya, beberapa hari sebelumnya.
"Nek, terima kasih karena telah memberikan tumpangan dan menjaga aku selama aku berada di dalam pelarian."
"Aku tidak bisa membayangkan jika waktu itu tidak ada nenek. Entah apa yang akan terjadi dengan hidupku." Ujar Yuana sambil memeluk nenek Tati dan menangis di bahunya.
"Jangan berterima kasih seperti itu. Nenek justru bersyukur, karena kehadiranmu di ruman nenek membawa banyak perubahan, tidak hanya kepada nenek, tetapi juga kepada Gail."
"Nenek senang, karena Gail sekarang telah menjadi lebih baik, dan nenek sangat bersyukur untuk hal itu." Jawab nenek Tati.
"Nenek jaga kesehatan dengan baik jika aku tidak ada dan jauh dari nenek."
"Jika nenek merindukan aku, nenek tinggal menelpon, dan kami akan mengunjungi nenek." Janji Yuana sambil tersenyum.
"Melihatmu bahagia seperti sekarang saja sudah cukup, nak! Nenek bersyukur karena kau mendapatkan pria yang luar biasa." Ujar nenek Tati sambil membelai rambut Yuana.
Setelah berpamitan dengan nenek Tati dan membereskan semua urusan di London, Andre Wiliam dan keluarganya segera berangkat ke indonesia.
Bukannya hanya Gail yang ingin ikut keluarga Besar Wiliam ke Indonesia, karena Habib dan Alika juga memilih untuk ikut.
Habib dan perawat Olive yang sudah menikah beberapa hari yang lalu, memilih ikut dan tetap mengabdikan diri kepada keluarga tersebut yang sudah sangat banyak membantu mereka.
Sepanjang penerbangan, Alika terus saja bertengkar dengan Gail. Mereka seperti Tom and Jerry.
"Awas saja kalau sampai tertidur lagi dan bersandar di bahuku." Ancam Gail pada Alika.
"Siapa juga yang suruh untuk tidak memindahkan bahumu.?" Balas Alika.
"Aku sudah menjauhkan bahuku. Kepalamu saja yang terus mengejar bahuku." Protes Gail.
"Mengejar? Kau pikir kepalaku mempunyai kaki?" Jawab Alika dengan jengkel.
"Buktinya kepalamu sedang bergerak." Balas Gail dengan cuek.
Alika memalingkan wajah mendengar jawaban Gail. Jika berdebat dengan Gail, ia akan selalu kalah. Tidak seperti Habib.
Alika tidak mungkin berdebat dengan Habib, karena kakaknya itu sedang duduk sambil berpelukan dengan istrinya. Dan Alika cukup tahu diri untuk tidak mengganggu kakaknya itu.
"Lihat kakakmu dan contoh kakakmu. Setelah menikah, ia tidak lagi berdebat denganmu."
__ADS_1
"Harusnya kau juga cepat menikah, agar tidak lagi berdebat denganku."
"Kamu tahu, setiap kali hendak berdebat denganmu, aku harus membaca kamus berulang kali, agar jangan sampai kalah denganmu." Ujar Gail dengan maksud untuk menggoda Alika yang terlihat kesal.
"Kalau kau ingin menikah, lakukan saja! Jangan pernah mengajak aku. Aku belum siap menikah."
"Salahmu sendiri. Siapa juga yang menyuruhmu membaca kamus." Jawab Alika.
"Jika aku menikah, kau satu-satunya daftar keluarga yang akan aku coret dari daftar hadir untuk tidak ikut dalam pernikahanku." Ujar Gail.
"Dan aku pun tak sudi menghadiri pernikahanmu." Jawab Alika sambil menempelkan bantal yang dipegangnya ke dahi Gail karena emosi dengan sifat usilnya Gail.
Walaupun begitu, mereka tidak saling membenci.
Yuana dan yang lainnya yang menyaksikan perdebatan Alika dan Gail, hanya tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Setelah tiba di sana, kalian akan berpisah, jadi teruslah bertengkar!" Ujar Andre Wiliam.
"Maafkan kami, Tuan besar!" Balas Alika dengan sopan.
Gail yang melihat sikap sopan Alika yang tiba-tiba itu, langsung menutup mulutnya karena tidak bisa menahan tawa.
Erik hanya menggelengkan kepala melihat Alika dan Gail. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada Yuana.
"Gail sudah sangat banyak membantu kita, dan aku ingin ia menemukan kebahagiaannya juga." Bisik Erik di telinga Yuana.
"Aku juga sedang memikirkan hal itu. Terkadang aku kasihan melihatnya." Jawab Yuana.
"Asal jangan jatuh cinta dengannya, atau aku akan cemburu dan mengembalikannya ke London." Balas Erik sambil menghujani wajah Yuana dengan banyak kecupan.
"Jika aku menyukainya, aku sudah melakukannya sejak lama, sejak kau tidak ada kabar sama sekali." Jawab Yuana dengan wajah cemberut.
"Maafkan aku wanitaku yang cantik dan imut. Aku sangat mempercayaimu."
"Hanya saja, aku cemburu dan takut jika kamu akan berpaling dariku dan menyukai pria lain." Ujar Erik dengan jujur.
"Aku memang sedang menyukai pria lain saat ini. Semoga saja kamu tidak keberatan." Ujar Yuana sambil memalingkan wajahnya.
"Katakan pria mana yang kamu suka! Aku akan membunuhnya." Ujar Erik sambil mengangkat wajah Yuana dengan kedua tangannya dan memandangnya dengan tatapan tajam.
"Hei! Kau apakan menantuku." Tegur Andre Wiliam saat melihat sikap Erik.
"Katanya ia menyukai pria lain, jadi aku ingin kejelasan, pa!" Jawab Erik
__ADS_1
"Jangan mempercayainya, Pa! Apa aku tidak boleh menyukai putraku sendiri? Pria lain itu, Garrick!" Jawab Yuana yang membuat Erik menarik napas lega. Sedangkan Andre Wiliam hanya tersenyum mendengar jawaban Yuana.
"Aku sarankan agar kau jangan menyukai cucuku, karena dia sekarang sudah jadi milikku."
"Kau urus saja suamimu itu, dan biarkan aku dan istriku mengurus cucu-cucu kami." Ujar Andre Wiliam.
"Kau dengar sendiri apa yang papa katakan. Kau hanya boleh mengurus diriku sendiri mulai dari sekarang." Ujar Erik merasa menang sambil menghujani wajah Yuana dengan banyak kecupan.
"Lepaskan! Aku tidak ingin mengurus dirimu." Ujar Yuana sambil berusaha menghentikan kelakuan Erik.
"Aku tidak akan melepaskanmu. Tunggu saja sampai kita tiba di rumah. Aku akan mengurungmu terus di kamar." Jawab Erik sambil perlahan menjauhkan wajahnya.
Sekretaris Bram yang melihat kelakuan Erik hanya mampu menggelengkan kepala. Ia tahu adiknya itu sangat mencintai Yuana.
"Tuan muda Wiliam yang terhormat. Istrimi adalah adikku juga."
"Tolong jangan terus menyiksanya seperti itu." Tegur sekretaris Bram pada Erik.
"Kakak harus cepat menikah, agar tahu sendiri rasanya seperti apa."
"Setelah itu, aku jamin kakak tidak akan pernah menegurku lagi, dan akan membiarkanku melakukannya." Jawab Erik sambil menciumi wajah Yuana untuk memanasi Bram.
"Jangan menantang aku, adikku! Aku pasti menikah dalam bulan ini. Percayalah!" Ujar sekretaris Bram dengan entengnya.
"Apa kau sudah menemukan calon menantuku?" Tanya Andre Wiliam dengan antusias sambil memandang Bram dengan wajah berbinar.
"Apa benar yang baru saja kakak katakan?" Tanya Erik.
"Cepat jawab papa! Apa yang baru saja kau katakan itu benar?" Andre Wiliam tidak puas dan bertanya lagi karena Bram belum menjawab pertanyaannya.
Bram baru saja memperbaiki duduknya untuk menjawab, namun pengumuman pramugari dari pengeras suara bahwa mereka akan segera mendarat.
Mereka segera melupakan hal itu dan segera mengemasi barangnya masing-masing.
Bersambung
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍
__ADS_1