Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
146. Hukuman yang Menyakitkan


__ADS_3

Berpikir berulang kali sebelum melakukan sebuah tindakan adalah sikap yang bijak. Ketika hati mendesak untuk segera melangkah menuju tindakan yang akan membahayakan diri kita sendiri, kita harus berani menahan hati dan keinginan untuk melakukan hal yang nantinya akan menjadi bencana bagi diri kita sendiri. Karena setiap tindakan kita pasti memiliki konsekuensi. Bijaklah dan berpikirlah dua kali, bahkan seribu kali jika perlu, sebelum melakukan sesuatu. Karena ketika kaki telah salah melangkah, tanpa sadar kita telah mengundang bencana dalam hidup kita. Eda Sally


*****


"Tuan, saya ingin Celine melihat tuan untuk yang terakhir kali sebelum ia berjalan ke ruang ini dan tinggal seumur hidup di sini." Tawar Gerald.


"Kenapa dia harus melihat saya, Tuan?" Erik balik bertanya.


"Ahmmm! Maksud saya, biar dia tahu bahwa semua yang dia lakukan tuan sudah tahu." Jawab Gerald.


"Hmmm! Baiklah!" Ujar Erik


Erik, Gail, dan Gerald berjalan kembali ke depan, kemudian duduk di ruang tamu.


Gerald menelpon anak buahnya yang berada di lantai dua untuk membawa Celine turun jika sudah selesai mandi.


"Jika tuan ingin menghukumnya, kenapa tuan menyuruhnya mandi dan berganti pakaian?" Tanya Gail.


"Begitulah cara kami memperlakukan tahanan, agar mereka tidak sadar bahwa mereka sudah masuk dalam perangkap kami. Dan mereka akan sadar ketika kami membawa mereka ke ruang belakang." Jawab Gerald.


"Oh, jadi itu maksud tuan. Syukurlah! Saya jadi punya waktu untuk bermain-main dengannya sebelum ia masuk ke dalam ruangan yang tadi."


"Gail, bisakah kau mengurungkan niatmu itu? Jika kau ingin menyakitinya, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri." Pinta Erik pada Gail.


"Saya tidak akan tersakiti, Tuan! Saya hanya ingin membuatnya merasakan sakit yang selama ini dia berikan kepada para pria." Jawab Gail Enteng.


"Terserah kamu saja!" Ujar Erik mengalah.


Tak lama kemudian, turunlah Celine diiringi dua orang anak buah Gerald. Ia tidak menyadari kehadiran Erik. Karena itu ia berjalan dengan wajah sumringah dengan bayangan bahwa ia akan memiliki waktu dengan Gerald untuk menyalurkan hasratnya.


Begitu Celine membuka tirai pintu untuk masuk ke ruang depan, ia kaget saat melihat Erik duduk di samping Gerald. Untuk sesaat, wajah Celine pucat dan tidak mampu menggerakkan kakinya.


"Ke..ke..kenapa dia bisa ada di sini?" Tanya Celine dengan gugup sambil memandang Erik.


"Untuk menyapamu karena berhasil menyusun rencana untuk mencelakai anakku." Jawab Erik.


"Segera ikat dia!" Perintah Gerald kepada anak buahnya dengan suara tegas.


Suara Gerald yang tadinya terdengar lembut sudah tidak ada. Kini hanya tinggal raut wajah penuh wibawa dan tatapan penuh intimidasi yang membuat Celine susah payah menelan slivanya.

__ADS_1


Anak buah Gerald segera melakukan perintah sang tuan. Kedua pria berbadan kekar dan kokoh itu tidak kesulitan untuk menaklukkan Celine yang hanya mampu meronta tapi tidak berdaya melepaskan diri karena kalah tenaga.


"Bawa dia dan dudukkan di kursi panas, karena tuan ini ingin memberikan ucapan selamat tinggal." Ujar Gerald sambil menunjuk ke arah Gail.


"Terima kasih, Tuan!" Jawab Gail dengan penuh semangat dan senyum sinis sambil berdiri.


Kedua anak buah Gerald segera mengangkat Celine dan mendudukkannya di kursi panas. Kursi panas adalah kursi penyiksaan sebelum seseorang masuk ke dalam ruang penyiksaan terakhir.


"Apa tuan membutuhkan alat?" Tanya salah seorang anak buah Gerald kepada Gail.


"Tidak perlu! Saya lebih suka memakai tangan saya!" Tegas Gail sambil berjalan ke arah Celine.


"Mau apa kamu!" Bentak Celine begitu melihat Gail mendekat.


"Menurutmu?" Gail balik bertanya sambil membuka bajunya.


"Gail!" Panggil Erik dengan maksud mengingatkan agar Gail jangan melakukan hal yang konyol.


"Tenang saja tuan! Nonton saja dan jangan bersuara! Saya hanya ingin dia merasakan balasan dari kejahatannya sendiri karena berani merencanakan pembunuhan kepada seorang anak tak berdosa." Ujar Gail.


Setelah berkata demikian, Gail memakai bajunya untuk menutup seluruh wajah Celine dan mengikat baju itu dengan sangat kuat sehingga Celine hanya mampu menggerakkan kepala karena kesulitan bernapas dan juga tidak bisa melihat.


Setelah puas dan melihat napas Celine terengah-engah menahan sakit, Gail memindahkan tangannya ke bawah dan menyingkapkan dress pendek yang dipakai Celine dan tangan tangannya dengan gesit melepas benda kecil yang menutup barang berharga Celine.


Setelah berhasil melepas benda kecil itu, Gail membuka penutup wajah Celine, dan membuka mulut Celine dengan paksa, kemudian memasukkan benda kecil itu ke dalam mulut Celine.


"Jangan coba-coba kau keluarkan dari mulutmu atau aku akan melakukan hal yang lebih nekat. Aku berbeda dengan tuan Erik. Aku lebih suka menyakiti musuhku seperti ini." Ancam Gail pada Celine.


Terlihat air mata Celine mulai lolos dari kedua matanya. Selama ini tidak ada pria yang memperlakukannya dengan buruk. Para pria selalu memujanya. Dan malam ini ia merasa sangat terhina karena kelakuan Gail.


"Apakah kau tahu, anak yang kau bunuh adalah anakku?" Ujar Gail dengan penuh kebencian.


Sebelum Celine memberikan reaksi, Gail sudah memasukkan kedua tangannya ke dalam harta Celine yang berharga dan mengobrak-abriknya dengan kasar.


Celine hanya mampu memelototkan matanya tanpa melakukan apapun. Ia merasakan sakit di area berharganya yang sangat menyiksanya.


"Ambilkan air! Aku ingin mencuci tangan!" Perintah Gail kepada kedua anak buah Gerald yang hanya mematung dan menatap tak percaya.


"Wastafel di sebelah sini, Tuan!" Jawab salah satu anak buah Gerald sambil menunjuk wastafel. Gail hanya menatap sekilas ke arah yang ditunjuk anak buah Gerald.

__ADS_1


Gail terus melanjutkan aktifitasnya hingga ia merasakan cairan yang membasahi tangannya. Ia langsung menarik kedua tangannya dengan kasar, dan terlihat ada sedikit cairan merah.


"Gail!" Hanya itu yang mampu dikatakan Erik sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


Gail menatap tajam ke arah Erik dengan mata yang memerah dan kemudian berjalan ke arah wastafel dan mencuci tangan.


Celine menangis menahan sakit di sekujur tubuhnya dan terlihat seluruh tubuhnya gemetar menahan sakit. Keringatnya sudah seperti titik-titik air.


"Jika kalian ingin memper**sanya, kalian boleh melakukannya sekarang. Tugas saya sudah selesai." Ujar Gail tanpa dosa sambil mengeringkan tangannya.


"Bajumu tuan?" Tanya salah seorang anak buah Gerald.


"Saya merasa jijik untuk memakai baju itu lagi." Jawab Gail sambil menatap tajam ke arah Celine. Celine yang ditatap seperti itu takut dan menundukkan kepala sambil terus menangis dengan tubuh yang masih bergetar.


"Tuan, saya tertarik untuk mengajak tuan bergabung dalam tim kami. Saya menyukai orang yang tidak berbelas kasihan seperti tuan dalam memberikan hukuman kepada orang yang berbuat jahat." Tawar Gerald.


"Dengan senang hati, Tuan!" Jawab Gerald dengan cepat.


"Gail, jangan! Aku tidak ingin kau melakukan hal gila seperti ini lagi." Pinta Erik.


Gail hanya menanggapi perkataan Erik dengan menjulurkan lidahnya dengan maksud mengejek Erik.


Celine hanya menatap Erik dengan tatapan sayu seolah sedang melakukan pengakuan dosa atas kejahatannya selama ini.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2