
Mintalah apa yang engkau inginkan kepada yang empunya walau pada akhirnya engkau tidak diberi, daripada menggenggam sesuatu yang bukan milikmu. Karena dengan meminta akan membuatmu lebih terhormat daripada memiliki dengan cara yang tidak benar. Eda Sally
*****
Bu Lilis langsung pingsan karena tekanan stress yang sangat tinggi begitu mendengar keputusan Andre Wiliam tentang perpisahan Erik dan Celine. Sejak awal menonton video anaknya, ia sudah sesak napas dan memegangi dadanya.
Celine yang melihat bahwa sudah tidak ada harapan lagi, berteriak-teriak dan berjalan dengan lututnya sambil merangkak ke arah sekretaris Bram. Sekretaris Bram memahami apa yang akan terjadi dan memberikan kode dengan matanya kepada salah satu anak buahnya agar segera menyeret Celine keluar.
Orang yang diberi kode langsung memegang tangan Celine dan hendak membawanya keluar. Pria yang bersama dengan Celine waktu di club segera bertindak dengan cepat dan membantu Celine untuk berdiri.
"Bangun dan tenanglah! Kamu sedang hamil. Jangan menangis seperti itu. Kasihan dengan bayimu." Kata pria itu mencoba menenangkan Celine.
"Ini bukan bayiku. Ini bayimu. Aku akan membunuhnya jika ia lahir. Jika bukan gara-gara kau, aku tidak akan seperti ini. Dasar kamu laki-laki bajing**." Hardik Celine kepada pria itu
Hmmmm! Gara-gara aku? Lalu yang meminta aku untuk tidur denganmu siapa? Kamu sendiri kan? Jika kelakuanmu seperti ini, aku juga tidak akan mau menikahimu. Aku masih ingin menikmati kebebasan. Batin pria itu.
"Kamu sendiri yang meminta aku untuk tidur denganmu bahkan sebelum kamu menikah. Jika bukan kamu yang merengek-rengek, aku juga tidak akan terbang setiap dua minggu untuk datang kesini hanya demi melayanimu."
"Bahkan aku juga tidak menjamin itu adalah anakku, karena bukan aku saja yang sudah tidur denganmu.
"Kamu juga menginginkan uangku. Kamu tidak hanya tidur denganku, tetapi menerima uangku. Pergi kamu dari hadapanku laki-laki pembawa sial." Teriak Celine dengan suara yang sangat kencang.
"Ok! Aku akan pergi sekarang jika kamu tidak ingin mendengarkan aku." Ancam pria itu dan hendak keluar.
"Jangan tinggalkan aku! Aku mohon!" Pinta Celine sambil memegang tangan pria itu.
"Perhatikan wajahku baik-baik. Aku menyesal karena telah mengikuti permainanmu dan menghabiskan waktuku saja. Bahkan aku harus rela meninggalkan anak istriku hanya untuk mengikuti permainan wanita gila sepertimu.
Setelah berkata demikian, pria itu menghempaskan tangan Celine dengan kasar dan berjalan keluar tanpa peduli lagi dengan Celine yang masih berteriak dan meraung-raung.
Dengan paksa, dua orang anak buah sekretaris Bram menyeret Celine dan kedua orang tuanya keluar lalu menaikkan mereka keatas mobil yang telah disiapkan.
Mobil kemudian membawa mereka pergi sesuai dengan perintah sang tuan besar.
Erik yang mengamati kepergian Celine dan keluarganya, segera berjalan mendekati sekretaris Bram dan memeluknya sambil menangis.
"Sudahlah! Jangan menangis lagi. Sekarang kamu bisa bersama Yuana tanpa ada yang menghalangi lagi karena mak lampir itu sudah pergi dari hidupmu. Kamu tahu kan? Jika tuan besar marah seperti itu, maka tempat pengasingan mereka pasti lebih parah dari tempat pengasingan Yuana."
"Terima kasih kak atas bantuannya dalam menyingkirkan wanita gila itu dari hidupku! Tolong bantu pertemukan aku dengan Yuana. Aku sangat takut bertemu dengan Yuana. Ia pasti akan menganggapku pengkhianat."
__ADS_1
"Kamu belum mencobanya sama sekali dan sudah takut seperti ini? Bagaimana kalau ada orang lain yang mendahului kamu dan mendapatkan hati Yuana?"
"Aku tidak mengharapkan itu terjadi kak! Aku akan membunuh siapa pun yang berani mengambil Yuana dariku."
Sekretaris Bram tersenyum mendengar apa yang dikatakan Erik. Ia hanya ingin menguji Erik agar mengetahui seberapa besar rasa cinta Erik kepada Yuana.
"Ayo kita temui ayah. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan ayah."
"Apa yang ingin kakak bicarakan dengan ayah?" Tanya Erik dengan heran.
"Nanti kamu juga akan tahu. Ayo!" Kata sekretaris Bram sambil melangkah keluar yang diikuti oleh Erik.
Bram langsung membuka pintu kerja sang tuan tanpa membunyikan bel karena hanya ia yang bisa melakukan hal itu.
Setelah masuk, Erik dan sekretaris Bram bingung karena sang tuan sedang memejamkan mata. Mereka duduk di sofa tanpa berani mengatakan apapun.
"Ada apa Bram?" Akhirnya terdengar suara mahal nan serak itu setelah mereka duduk beberapa menit lamanya.
"Saya ingin membicarakan soal pekerjaan tuan." Kata Bram to the point.
"Hmmm! Katakan! Ada apa?" Tanya Andre Wiliam membuka mata dan memandang keduanya.
"Dari laporan dan dokumentasi yang ada, saya melihat bahwa sekretaris dari perusahaan kecil itu sangat cerdik. Saya takut perusahaan kita akan dirugikan jika tidak ditangani oleh orang yang tepat."
"Karena itu, minggu depan saya bersama tuan muda akan ke London selama dua minggu untuk memantau perkembangannya dan setelah itu kami akan kembali."
"Lalu, kau akan meninggalkanku sendirian mengelola perusahaan di sini?" Tanya Andre Wiliam.
"Tentu saja tidak tuan. Saya tetap akan mengerjakan semuanya dari sana dan mengirimkannya kepada tuan seperti biasa." Jawab sekretaris Bram dengan cepat.
"Hmmm! Baiklah! Aku mengizinkan kalian pergi."
"Kamu tidak ingin bicara putraku?" Lanjut Andre Wiliam bertanya kepada Erik.
"Jika papa tidak keberatan, saya ingin membicarakan hal yang penting juga. Dalam hal ini saya ingin mengajukan permohonan kecil kepada papa." Jawab Erik.
"Apa yang kamu inginkan putraku?"
"Saya mungkin tidak akan kembali bersama Bram karena saya ingin menetap di London untuk satu atau dua tahun sambil terus memantau perusahaan di sana."
__ADS_1
"Kenapa lama sekali? Apa kamu tidak merindukan papa?"
"Saya hanya ingin mandiri dan tidak terus-menerus bergantung pada papa."
"Siapa bilang selama ini kamu bergantung pada papa? Kamu bahkan lebih hebat dari papa."
"Ah! Papa terlalu melebih-lebihkan."
"Tidak anakku! Papa bicara apa adanya. Kamu boleh di London, tetapi setiap enam bulan kamu harus pulang untuk menjenguk papa dan mami."
"Terima kasih pa! Saya akan usahakan untuk pulang setiap enam bulan."
"Apa kamu masih kecewa dengan papa karena menikahkanmu dengan Celine?"
"Sejujurnya Erik sangat kecewa pa! Tetapi sekarang semuanya telah terbuka, dan Erik sangat lega."
"Syukurlah jika kamu tidak membenci papa. Maafkan papa karena telah melakukan kesalahan dalam pernikahanmu. Papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Tetapi mata hati papa tidak setajam mata hatimu."
"Karena itu, mulai sekarang papa tidak ingin mengaturmu soal pilihan dan teman hidup. Kamu bebas memilih siapa pun yang menurut kamu baik, dan papa akan merestuimu."
"Jika kamu sudah menemukan wanita yang tepat, bawalah dia dan perkenalkan dia kepada papa."
Mungkinkah papa akan menerima Yuana? Karena dari perkataannya, ia tidak menyinggung sama sekali mengenai Yuana. Erik
Bersambung
.
.
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍😍
__ADS_1