Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
105. Tersenyum Walau Terluka


__ADS_3

Seorang Wanita akan sangat bahagia ketika menjalani hidupnya dengan orang yang dicintai, yang selalu menjadi tempat berbagi cerita, baik dalam suka maupun duka.


Dan tidak ada hal yang lebih indah ketika di dalam setiap aktifitas seorang wanita, ia menyadari bahwa masih ada orang yang selalu ada di dekatnya dan menjadi tempat sandaran baginya ketika ia tidak sanggup menegakkan kepala. Eda Sally


*****


Yuana sudah tiga minggu bekerja di perusahaan milik Bert Conan. Ia sangat dipercayai oleh Bert Conan, sehingga seringkali ia ditugaskan untuk menangani urusan bisnis dengan klien dan teman bisnis tuan Bert Conan.


Selesai berganti pakaian, Yuana yang sudah rapi dengan pakaian kerja tidak mampu menggerakkan kakinya untuk keluar dari kamar karena rasa pusing yang menyerangnya.


Nenek Tati dan Gail yang menunggu untuk sarapan terheran-heran karena sudah dua puluh menit dan Yuana belum keluar dari kamar. Ini di luar kebiasaannya.


"Gail! Susul adikmu ke kamar. Ada apa dengannya sehingga ia belum keluar. Aku takut ia akan terlambat ke kantor." Nenek Tati memberi perintah kepada Gail.


"Baik nek."


Gail langsung berlari menaiki tangga dengan tergesa-gesa agar segera sampai.


Tok..tok..tok.


Gail mengetuk pintu berulang-ulang, namun tidak ada sahutan. Akhirnya Gail nekat mendorong pintu, dan ternyata pintunya tidak terkunci.


"Nenek............."


Teriak Gail dengan suara yang menggema di seisi rumah itu. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Badannya sudah bergetar dengan hebat melihat apa yang ada di depannya


Nenek Tati menaiki tangga dengan tergesa-gesa karena teriakan Gail. Begitu sampai, ia kaget melihat Yuana yang jatuh tak sadarkan diri di lantai.


"Kenapa kau tidak mengangkatnya ke tempat tidur Gail?"


"Maafkan Gail nek. Gail benar-benar panik melihat Yuana seperti ini sampai tidak berpikir untuk mengangkatnya. Gail takut terjadi sesuatu pada Yuana nek." Gail menjawan dengan wajah yang sudah pucat pasi.


Dua orang pelayan yang baru saja datang, membantu Gail mengangkat tubuh Yuana dan membaringkannya di tempat tidur.


"Aku akan menelpon dokter nek. Aku takut." Gail berkata sambil melangkah hendak keluar kamar.


"Tidak perlu! Apa kau lupa bahwa nenekmu ini juga seorang dokter? Walaupun sudah pensiun beberapa bulan yang lalu, namun nenek belum lupa tentang cara mengurus pasian. Jadi kurangi rasa panikmu itu dan ambilkan alat-alat yang nenek butuhkan."


"Maaf nek."


Hanya itu yang diucapkan Gail. Ia segera berlalu dan mengambilkan peralatan yang dibutuhkan oleh neneknya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Gail telah kembali dengan membawa apa yang dibutuhkan sang nenek.


"Semuanya keluar. Aku akan memeriksa Yuana." Kata nenek Tati dengan nada mengusir.


"Aku tidak mau keluar nek. Aku khawatir dengan keadaan Yuana dan aku ingin tetap ada di sini untuk mengetahui hasil pemeriksaan dan kondisinya." Gail dengan tegas menolak permintaan neneknya.


"Kalau kau tidak mau keluar, biar nenek saja yang keluar. Apa kau ingin melihat aku membuka baju Yuana di depanmu? Apa kau sudah lupa tentang sopan santun dan etika?"


Begitu mendengar kecaman neneknya, Gail langsung keluar tanpa menunggu kalimat selanjutnya. Karena jika itu sampai terjadi, maka telinganya akan ternoda dengan kata-kata yang menyakitkan dari neneknya.


Huh! Aku kan hanya ingin tahu kondisinya. Mana aku tahu kalau harus pakai buka baju segala. Memangnya aku akan melakukan apa juga. Aku hanya khawatir. Nenek saja yang pelit.


Gail terlihat mondar mandir di luar dengan tidak tenang. Kadang melipat tangan di dada, kadang menaruh tangan di belakang, kadang mengisi tangan di dalam saku celana.


Nenek Tati yang sudah menyelesaikan pemeriksaan, duduk di tepi tempat tidur sambil mengelus rambut Yuana dengan penuh kasih sayang.


Kamu wanita yang luar biasa. Berbahagialah pria yang telah mendapatkan hatimu.


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Kenapa nenek tidak memberitahuku jika pemeriksaan sudah selesai?" Protes Gail pada neneknya.


"Siapa yang mengangkatmu menjadi direktur rumah sakit sehingga aku perlu melaporkan hasil kerjaku padamu?"


Nenek Tati balik bertanya dengan ketus pada cucunya. Ia memang sengaja mempermainkan cucunya karena semenjak ada Yuana, cucunya itu sudah tidak keluar malam lagi bersama teman-temannya. Rupanya Yuana banyak membawa perubahan dalam keseharian Gail, dan nenek Tati sangat senang melihat perubahan yang terjadi pada Gail.


"Gail kan hanya bertanya nek. Gail juga khawatir nek."


"Cepat telepon tuan Bert Conan dan sampaikan permohonan izin untuk Yuana. Sampaikan bahwa Yuana sedang sakit dan butuh istirahat untuk beberapa hari."


"Baik nek."


Gail segera mengangkat handphonenya dan melakukan panggilan dengan tuan Bert Conan. Ia menceritakan dengan detail apa yang dilihatnya pagi ini mengenai Yuana, dan juga tentang pesan neneknya bahwa Yuana butuh istirahat untuk beberapa hari.


Tiba-tiba, Yuana membuka mata perlahan dan kaget melihat nenek Tati dan Gail yang berada di situ. Ia mengucek matanya untuk meyakinkan diri mengenai apa yang ia lihat.


"Maaf. Ada apa nek? Apa yang terjadi?" Tanya Yuana dan berusaha bangun.


"Jangan dulu bangun. Kamu harus istirahat, dan tidak boleh banyak bergerak." Nenek Tati segera menahan Yuana yang hendak bangun.

__ADS_1


"Memangnya saya kenapa nek?"


"Kamu baru saja pingsan, dan nenek juga baru selesai memeriksa kamu."


"Saya sakit apa nek?" Tanya Yuana khawatir. Ia langsung memegang tangan nenek Tati dengan dengan mimik takut.


"Sebenarnya bukan apa-apa. Tapi nenek sarankan agar kamu lebih banyak istirahat sekarang. Dari awal nenek sudah melarangmu agar jangan bekerja. Tetapi karena kamu bersikeras, jadi nenek mengizinkanmu." Nenek Tati tersenyum setelah mengatakan hal itu.


"Apakah sakit yang saya alami terlalu serius nek?" Tanya Yuana Khawatir.


"Bisa dibilang seperti itu."


Air mata Yuana langsung menetes mendengar apa yang dikatakan nenek Tati. Ia takut terjadi sesuatu padanya. Bagaimana ia akan memberi kabar kepada ibu dan kakaknya jika saat ini saja ia bahkan tidak pernah menelpon?


"Jangan menangis. Kamu harusnya bahagia karena kamu benar-benar mendapat anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Nenek sendiri juga tidak percaya dengan hasil pemeriksaan."


"Katakan ada apa nek?"


"Kamu positif hamil nak."


"Hah?"


Yuana dan Gail kompak mengatakan itu karena kaget. Yuana langsung menutup matanya dan menangis. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Aku tidak mau hamil. Tidak mau! Siapa yang akan membantuku mengurus anak ini? Kamu jahat Rik! Kamu jahat! Kalau kamu sudah menikah kenapa harus melakukan hal seperti ini padaku? Apa kesalahanku sampai aku harus mendapatkan beban seberat ini? Aku belum bisa mengurus diriku sendiri, apalagi seorang anak. Aku benar-benar tidak sanggup!


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2