
Saat seseorang melukai kita, jangan pernah berbalik untuk membenci atau membalas hal tersebut, karena cara berpikir kita hari ini dan besok mungkin saja berbeda. Kita sendiri tidak tahu, apakah besok sudah memaafkan atau masih mendendam. Kita hanya perlu menjaga hati kita dan meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita tidak punya waktu untuk membenci siapa pun. Eda Sally
*****
Kehidupan rumah tangga Erik dan Yuana sudah mulai tenang. Usia kehamilan Yuana sudah memasuki bulan keempat. Sejauh ini, semuanya biasa-biasa saja.
Erik dan Yuana tidak perlu khawatir lagi, karena selama Garrick dibawah asuhan Alika, anak itu bertambah keceriaannya. Erik dan Yuana yang sudah sangat mengenal Alika, tidak terlalu memikirkan tentang keselamatan Garrick.
Yuana juga tidak terlalu mengidam hal yang aneh-aneh. Namun pagi ini, sejak bangun tidur, Yuana tidak mau turun dari tempat tidur. Ia tidak ingin melakukan apapun. Bahkan untuk mandi pun ia tidak mau. Padahal tidak biasanya seperti ini.
"Sayang, mandi dulu. Setelah itu makan. Nanti kalau kamu lapar kasian anak kita." Bujuk Erik sambil membelai perut Yuana yang sudah mulai membuncit.
"Aku tidak ingin melakukan apapun hari ini." Jawab Yuana dari balik selimut.
"Iya! Tapi mandi dan makan dulu. Habis itu kamu boleh tidur lagi. Aku tidak akan ganggu kamu." Ujar Erik.
"Aku membencimu, karena kamu tidak pernah paham dengan yang aku inginkan." Jawab Yuana dengan air mata yang sudah menetes.
Untuk sesaat Erik bingung karena setahunya, ia tidak pernah tidak mengerti istrinya. Lalu kenapa Yuana tiba-tiba berkata seperti itu.
"Ok! Katakan apa yang kamu inginkan! Aku akan melakukannya untukmu." Bujuk Erik.
"Bagaimana kalau kamu tidak mampu melakukannya?" Tanya Yuana untuk meyakinkan.
"Aku janji! Apapun yang kamu minta, aku akan melakukannya untukmu." Jawab Erik.
"Janji?" Tanya Yuana sambil bangun dan menghapus air matanya kemudian menatap mata Erik dengan lekat untuk meyakinkan dirinya dengan perkataan suaminya.
"Iya! Aku janji." Jawab Erik.
"Termasuk hal yang mustahil yang aku inginkan?" Tanya Yuana.
"Kecuali kamu menyuruh aku meminta dewa turun, mungkin aku tidak bisa melalukannya. Tapi selagi yang kamu minta adalah hal yang bisa dijangkau di dunia, aku akan melakukannya untukmu." Jawab Erik dengan mantap.
"Aku ingin....." Kalimat Yuana terputus karena takut.
"Katakan sayang. Kamu ingin apa?" Tanya Erik sambil terus membelai rambut Yuana dan sesekali mendaratkan kecupan lembut di kepala wanita mungil itu.
"Aku ingin sekali melihat wajah tuan besar. Aku gelisah sejak semalam. Entah kenapa, aku seperti merasakan dorongan yang sangat kuat untuk segera memandang wajahnya. Maafkan aku." Ujar Yuana pada akhirnya dengan suara lemah, dan air mata yang sudah menetes lagi.
__ADS_1
Begitu mendengar apa yang dikatakan Yuana, Erik segera meraih tubuh mungil itu dan memeluknya. Ia mencium wajah wanitanya berulang kali.
"Tak ku sangka kamu akan mengidam wajah papa saat kamu hamil anak kita yang kedua." Ujar Erik yang masih tetap memeluk tubuh Yuana.
"Apa aku boleh melihat wajahnya? Tapi aku takut tuan besar akan membenciku." Ujar Yuana kemudian menangis lagi.
"Jangan lagi panggil tuan! Papaku adalah papamu juga. Aku akan menghubungi papa lewat Skype, agar kamu bisa melihat wajahnya." Ujar Erik sambil menenangkan Yuana.
"Bagaimana kalau papa tidak menyukaiku saat melihat wajahku?" Tanya Yuana dengan nada khawatir.
"Tenang saja. Aku akan menyambungkannya dengan Televisi, jadi kamu melihatnya dari Televisi. Kameranya nanti menghadap ke wajahku saja." Jawab Erik.
Yuana tersenyum dan menghapus air matanya mendengar apa yang dikatakan Erik. Ia kemudian bergegas mandi tanpa di suruh.
Selesai mandi, Yuana langsung duduk di depan televisi. Erik yang paham dengan keinginan istrinya segera menyambungkan televisi dengan laptopnya untuk melakukan panggilan via Skype dengan ayahnya.
"Makan dulu sayang. Nanti habis makan aku langsung melakukan panggilan. Aku takut kamu kelaparan." Ujar Erik membujuk Yuana setelah selesai menyambungkan Tv kabel dengan laptop.
Yuana tidak menjawab perkataan Erik. Ia langsung beranjak dan mengambil makan. Erik sejak tadi sudah menyuruh pelayan untuk membawakan makan bagi Yuana di kamar saja.
Saking terlalu semangat untuk melihat wajah samg mertua, Yuana makan dengan cepat dan lahap sekali. Tak lama kemudian, ia sudah selesai makan.
"Sudah siap, sayang?" Ayo duduk yang manis." Ujar Erik sambil menggendong Yuana dan mendudukkannya. Tak lupa sebuah kecupan yang mendarat di wajah sang istri.
Erik segera melakukan apa yang diinginkan sang istri. Tak lama kemudian tampil wajah orang yang membuat Yuana menahan rindu sejak semalam.
Tak terasa airmatanya menetes begitu saja. Namun wajahnya tetap tersenyum melihat sang mertua berbicara dengan Erik.
"Apa kamu merindukan papa? Biasanya kamu hanya melakukan panggilan seluler. Itu pun jika ada hal yang paling penting." Tegur Andre Wiliam pada putranya.
"Apa tidak boleh jika aku merindukan papaku sendiri?" Erik balik bertanya.
"Boleh saja putraku. Harusnya dari dulu kamu seperti ini. Sering-seringlah telpon papamu ini." Jawab Andre Wiliam.
"Apa yang sedang papa lakukan?" Tanya Erik.
"Papa sedang kerja di ruangan papa. Apa kamu tidak melihat, anakku?" Jawab Andre Wiliam.
"Jangan dimatikan pa! Aku ingin kerja sambil mengobrol dengan papa." Balas Erik.
__ADS_1
"Tentu saja, putraku! Apapun akan papa lakukan untukmu." Jawab Andre Wiliam sambil terus bekerja.
Yuana segera beranjak ke tempat tidur dan berbaring sambil terus menatap wajah pria paruh baya itu yang sedang asyik mengobrol dengan putranya.
Tak lama kemudian, mata Yuana perlahan tertutup. Setelah melihat bahwa istrinya benar-benar sudah tidur, Erik segera berpamitan pada ayahnya untuk mematikan sambungan obrolan video dengan ayahnya.
"Sering-seringlah melakukan panggilan video seperti ini!" Pinta Andre Wiliam.
"Tentu saja pa!." Jawab Erik kemudian mematikan sambungan videonya.
Erik perlahan mendekati Yuana, kemudian naik ke tempat tidur dan tidur di samping sang istri. Dengan perlahan ia memeluk tubuh mungil istrinya dan mengecup wajah yang telah terlelap itu berulang kali.
Jika kehadiran anak ini akan membawa damai dengan membalut luka yang pernah diderita oleh istriku, maka biarlah ia tumbuh dengan sehat dan cepat lahir, agar papaku cepat menerima kehadiran istriku dalam hidupku. Aku tahu, kadang istriku mungkin ingin diakui sebagai menantu satu-satunya, tetapi keadaan dan egolah yang telah membuat semuanya seperti ini. Ah! kamu wanita yang hebat! Terima kasih telah mencintai putra seorang pria yang pernah membuangmu dan membuatmu tersakiti. Erik.
"Kamu kenapa menangis?" Tanya Yuana ketika samar-samar ia mendengar suara berisik dalam tidurnya.
"Aku hanya sedang terharu saja karena bisa mencintai wanita sehebat dirimu." Jawab Erik.
"Lalu apa hubungannya sampai kamu harus menangis seperti ini?" Tanya Yuana.
"Tidak apa-apa! Ayo tidur lagi." Jawab Erik sambil membelai perut Yuana
Tak lama kemudian belaian itu telah berpindah ke tempat lain yang membuat mata Yuana terbuka dengan lebar.
"Kamu mau apa?" Tanya Yuana dengan suara yang mulai melemah.
"Melakukan keinginanku." Jawab Erik cuek sambil terus beraktifitas.
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍