
Perhatian adalah tanda kepedulian seseorang terhadap orang lain. Orang akan merasa dirinya sangat berarti ketika ia mendapat perhatian dari orang lain. Ada perhatian yang dilakukan dengan niat untuk menunjukkan kepedulian, dan ada perhatian yang dilakukan karena maksud tertentu. Yang paling penting dalam sebuah bentuk perhatian adalah membuktikan kepada orang yang menerima perhatian kita, bahwa kita melakukannya karena meletakkan kasih sebagai dasar diatas segalanya. Eda Sally
*****
Yuana setiap hari menyibukkan diri dengan mengurus kebun di belakang rumah bersama Habib dan Alika yang sekarang nampak hijau dan segar karena dipenuhi dengan berbagai tanaman buah dan sayuran.
"Senang sekali rasanya melihat apa yang kita kerjakan memberikan hasil yang memuaskan." Kata Alika ketika mereka sedang asyik membersihkan sayuran yang daunnya kotor.
"Iya kak. Aku juga senang karena usaha kita tidak sia-sia."
"Ya! Itu karena aku yang paling banyak membersihkan rumput di sekitar sini." Habib mulai menggoda Alika dan Yuana.
"Hmmmm! Bisanya hanya makan, tapi lagaknya minta ampun." Alika berkata sambil memiringkan bibirnya.
"Yang pasti kita bertiga bekerjasama sehingga terlihat hasilnya seperti ini." Yuana menengahi.
"Iya! Aku senang karena sekarang tidak perlu membeli buah dan sayuran lagi. Kita dapat menikmatinya kapan saja." Kata Alika.
"Yah! Hitung-hitung uangku sekarang aman di dompet." Habib menyindir Alika.
"Wah! Sayuran dan buahnya sangat subur. Kenapa aku baru tahu ya, padahal setiap hari aku datang dan kalian sama sekali tidak menunjukkan hasil kerja kalian kepadaku." Dokter Kim muncul tiba-tiba dan entah tahu dari mana kalau mereka di belakang.
"Karena dokter datang biasanya siang atau malam, jadi bukan pas jam kerja kita." Alika yang menjawab dengan maksud mencari perhatian dokter Kim.
"Iya. Kenapa kalian tidak bercerita kepadaku? Siapa tahu aku bisa bantu."
"Dokter lebih cocok mengurus pasien, bukan tanaman." Jawab Yuana.
"Aku sedang coba beralih profesi kalau datang ke rumah ini." Jawab dokter Kim.
"Ayo semuanya! Kita bincang-bincang di depan saja. Habib mengajak semuanya ke depan.
"Ini aku antarkan makan siang untuk kalian bertiga." Kata dokter Kim menunjuk kantong plastik berisi tiga bungkus makanan setelah mereka sudah duduk di emper depan rumah.
"Tapi, ini belum waktunya makan siang dokter." Habib yang menjawab.
"Kebetulan aku beli banyak. Jadi aku mampir untuk antar. Tapi karena aku lihat tidak ada orang di depan padahal pintu rumah dalam keadaan terbuka, maka aku mencari ke belakang. Ternyata kalian lagi bertani."
"Terima kasih banyak dokter. Maaf telah merepotkan" Kata Yuana.
"Sama sekali tidak merepotkan nona. Aku senang bisa berbagi dengan kalian."
Padahal aku ingin mendapatkan perhatianmu nona manis. Ingin rasanya duduk berdua denganmu, tapi bagaimana caranya mengusir kedua kakakmu.
__ADS_1
"Oh! Baiklah. Terima kasih dokter." Habib yang menjawab.
"Apakah dokter pagi ini tidak ke rumah sakit?" Tanya Alika.
"Untuk hari ini karena tidak ada pasien, jadi aku memanfaafkannya untuk jalan-jalan. Aku ingin mengajak kalian ke satu tempat jika kalian tidak keberatan."
"Wah! Aku mau dokter. Kita akan kemana?" Tanya Alika dengan antusian.
Kenapa dia yang antusias ya? Aku berharap yang antusias adalah Yuana. Kenapa ia lebih banyak diam dan jarang berbicara jika aku datang?
"Kita akan ke taman mini di ujung barat pulau ini. Tempatnya langsung berhadapan dengan laut. Udaranya juga sedang sejuk, jadi kita tidak akan kepanasan dan sangat cocok untuk jalan-jalan."
"Baik dokter. Kami akan ikut." Habib mewakili untuk menjawab, karena kedua wanitanya akan menurut pada keputusan apa yang dia ambil.
"Kami akan bersiap-siap dokter." Kali ini Yuana yang berbicara, karena kalau Habib mengatakan ikut berarti mereka akan pergi.
Setelah bersiap-siap, mereka berempat berjalan beriringan menuju taman. Sepanjang jalan orang-orang memandang mereka dengan berbagai pertanyaan dan dugaan karena sejak kedatangan Yuana, dokter Kim terlihat akrab dengan kedua kakak beradik itu.
"Ahmm, boleh tau, kamu berasal darimana?" Tanya dokter Kim
"Indonesia." Jawab Yuana pendek.
"Kenapa kamu bisa sampai di sini?"
"Hanya sekedar berlibur."
"Aku belum tahu. Tapi sepertinya aku mulai betah di sini."
"Wah! Aku malah semakin betah setelah kamu ada di sini." Kata dokter kim jujur.
"Masa? Apa hubungannya?"
"Ahmmm, apa hubungannya ya?" Pura-pura bertanya pada dirinya sendiri karena bingung menghadapi gadis polos di depannya yang tidak peka dengan perasaannya.
Tanpa sadar, mereka sudah tiba di taman yang dimaksud. Mereka langsung menuju bangku taman dan duduk sambil bercerita. Sementara Alika sibuk sendiri dengan dirinya. Ia memanfaatkan handphone pemberian Yuana dan memotret sana sini seperti seorang fotografer. Kadang ia terlihat tersenyum sendiri dengan berbagai macam gaya saat melakukan selfi.
Habib yang melihat hal itu, mulai mencari gara-gara dengan Alika. Ia akan selalu berada di belakang Alika setiap kali Alika akan melakukan selfi. Hal itu membuat Alika marah dan terjadilah kejar-kejaran sambil saling melempar dengan diantara keduanya.
Yuana dan dokter Kim tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan mereka.
"Bolehkah aku mengambil foto berdua denganmu?"
"Ahmmm, boleh."
__ADS_1
Dokter Kim bergeser dan semakin dekat dengan Yuana untuk melakukan selfi. Ketika ia akan memeluk Yuana, Yuana menolaknya dengan tegas.
"Maaf. Saya tidak merasa nyaman jika harus melakukan selfi sambil berpelukan."
"Oh! Maafkan saya." Kata dokter Kim kaget dengan perkataan Yuana dan segera menurunkan tangannya.
Hmmmm! Padahal aku mau pamer ke ibu kalau aku menemukan wanita cantik di tempat tugas. Ibu pasti senang sekali. Tapi tidak apa-apalah. Dapat foto berdua saja sudah cukup. Ibu pasti senang.
"Jika kamu ingin mengambil foto, akan aku ambilkan untukmu menggunakan handphoneku."
"Tidak usah dokter. Aku lebih suka menonton kedua kakakku yang tidak pernah bosan dengan tingkah konyolnya."
"Hahahhaa iya. Mereka lucu sekali. Lihat itu!" Kata dokter Kim ketika melihat Habib yang sudah berhasil handphone dari tangan Alika. Alhasil Alika sampai harus berjinjit untuk meraih handphonenya karena Habib sangat tinggi.
"Please! Berikan handphoneku kak. Aku masih ingin mengambil banyak gambar." Kata Alika dengan nada memelas
"Bilang dulu kalau aku tampan, baru bisa aku berikan."
"Ih! Kakak jelek. Aku benci."
"Ya sudah. Berarti handphone ini akan jadi milikku sekarang. Aku rasa nona Yuana tidak akan keberatan." Kata Habib acuh dan bersiul-siul seolah tidak bersalah.
"Kak! Hanya itu yang bisa dikatakan Alika karena detik selanjutnya airmatanya sudah menetes. Ia sudah membuang gengsinya jauh-jauh dan tanpa rasa malu sedikit pun ia menangis di depan ketiga orang dewasa yang memandangnya.
"Lihat! Dokter Kim sedang memperhatikanmu karena menangis." Bisik Habib di telinga Alika.
"Aku tidak peduli. Biarkan dia melihatku menangis, agar dia bisa menceritakan kelakuanmu pada perawat Olive.
Habib langsung menutup mulut Alika. Ia takut Alika akan berbicara dengan volume suara yang bisa ditangkap oleh dokter Kim.
Yuana tidak bisa menahan tawanya melihat Alika menangis karena berhasil dikerjai oleh Habib.
Bersambung
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ya reader's tersayang, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.
😍😍😍😍😍