Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
39. Puisi Untuk Ayah


__ADS_3

Kerabat, kenalan, dan tetangga terdekat datang melayat karena sebentar lagi akan diadakan proses pemakaman. Tidak ketinggalan Sekretaris Bram yang mewakili Angkasa Grup, karena Yuana dan Yosua sama-sama bekerja di Angkasa Grup walaupun di kantor yang berbeda.


Dari kantor cabang Angkasa Grup tempat Yosua bekerja, pak Edric, sang CEO langsung turun tangan karena Yosua merupakan orang kepercayaannya yang sudah banyak berkontribusi di perusahaan tersebut.


Acara demi acara telah berlangsung, dan sampai pada acara yang terakhir yaitu ungkapan hati istri dan anak, yang akan diwakili oleh Yuana dengan membacakan puisi.


Yuana yang sudah banyak dinasihati kakaknya mulai bisa menyesuaikan suasana hatinya. Ia maju ke depan dan mulai membacakan puisi untuk sang ayah yang sudah disiapkannya.


Indah bila aku hidup dengan ayah!


Indah bila kita selalu bersama!


Sejujurnya, aku tak ingin berpisah denganmu,


Sampai akhir hidup ini


Ayah selalu di hatiku,


Aku tak kan pernah melupakan kasih sayangmu!


Namun ini semua takdir Tuhan,


Yang harus kita jalani.


Ayah, kini kita tidak akan saling memandang lagi,


Karena ayah sudah menghadap sang pencipta,


Di usia yang terbilang belum begitu senja!


Tuhan, terimalah ayahku!


Dan bila kelak di sorga ketika kami berjumpa,


Akankah sama seperti hari kemarin?


Ketika kami senang ataupun susah bersama!


Tuhan, ketika suatu saat aku sangat merindukan ayahku,


Aku tidak tahu kemana harus mencari dan bertanya.

__ADS_1


Satu yang aku tahu, ayah sudah bersama denganmu di sorga.


Dan bila aku ingin tahu kabarnya dan bagaimana perasaannya,


Apakah di saat itu ayah juga akan merindukanku?


Dan di hari itu, aku tahu aku pasti sangat ingin berjumpa dengannya, tapi tahun-tahun umurku masih sangat panjang.


Dan bila kelak Engkau memanggilku, pertemukanlah kami di sorga-Mu.


Ah, semoga saja ayah masih mengenaliku.


Aku rindu agar ketika aku di sorga, ayah berlari menjemputku, kemudian memeluk dan dan menciumku.


Ya Tuhan, kiranya Engkau mendengar kerinduan hati ini.


Banyak yang tidak dapat menahan tangis ketika Yuana membacakan puisi dan doanya untuk sang ayah. Begitu Yuana selesai membaca puisi dan doa untuk sang ayah, Yosua memeluk Yuana dan melepaskan semua yang menyesak di dadanya.


"Jangan pernah buat kakak sedih seperti ini lagi." Bisik Yosua


Sementara si manusia es, sekretaris Bram, terlihat meneteskan airmata. Ternyata manusia es itu bisa menangis juga.


Setelah selesai, karena hari sudah sore, mereka segera mengusung peti jenazah dan membawanya ke tempat pemakaman untuk dimakamkan.


Polisi akhirnya turun tangan dan mengawal rombongan tersebut karena sebelumnya sudah di minta oleh pihak kelurahan. Pak lurah meminta pengawalan polisi karena Alm pak Fino adalah pribadi yang baik dan sangat dikenal di daerah mereka.


Prosesi pemakaman berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Setelah selesai, satu persatu kerabat dan kenalan berjabat tangan dengan Yuana dan keluarganya sekaligus pamit. Tak terkecuali Edric, sang CEO dari Yosua, dan sekretaris Bram.


"Yang kuat ya Yos? Kamu boleh istirahat tiga hari untuk memulihkan hati dan tenaga. Angkasa Grup selalu menunggumu." Kata Edric ketika akan pamit.


"Baik tuan. Terima kasih atas kehadirannya." Jawab Yosua


"Maaf tuan. Jika tuan masih ingin berbincang dengan Yosua dan keluarganya, saya mohon pamit lebih dulu. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." Edric memohon pamit juga kepada sekretaris Bram. Atasan langsung dari kantor pusat Angkasa Grup. Ia tidak mau berlama-lama karena tidak mau pekerjaannya terbengkalai.


"Baik. Terima kasih atas kehadirannya." Jawab sekretaris Bram singkat.


Setelah selesai berpamitan, Edric langsung pergi. Kini hanya tinggal Yuana, ibu, Yosua, sekretaris Bram dan Fadly.


"Yuana, kamu juga boleh istirahat untuk tiga hari ke depan. Aku akan pulang bersama Fadly, tapi Fadly akan mengantar kalian kembali ke rumah dulu baru menyusul. Nanti kalau kamu mau pulang, kontak saja. Fadly pasti akan menjemputmu."


"Baik tuan. Terima kasih." Yuana berkata sambil menunduk karena tidak bisa menahan airmatanya.

__ADS_1


"Yosua, aku ingin berbicara sebentar dan hanya berdua denganmu." Kata sekretaris Bram menatap penuh arti kepada Yosua.


"Baik tuan." Jawab Yosua paham dengan maksud sekretaris Bram dan segera menjauh dari tempat mereka berdiri.


"Tuan muda akan terbang pukul 20.00 malam ini dari UK dan begitu tiba akan langsung kesini. Mungkin besok pukul 12.00 siang sudah sampai di sini. Aku sudah menyiapkan hotel untuk tuan muda. Tapi jika tuan muda ingin menumpang di rumahmu tidak apa-apa kan?" Kata sekretaris Bram ketika mereka sudah agak jauh


"Tuan muda mau datang? Tentu saja tidak apa-apa tuan. Aku akan sangat senang kalau tuan muda mau menginap di rumahku."Yosua kaget dengan apa yang baru saja ia dengar. Begitu besar cinta Erik pada adiknya.


"Iya. Tuan muda begitu mendengar kabar tadi, langsung minta aku pesankan tiket. Aku harap kamu bisa memerima kehadirannya. Kamu tentu paham dengan apa yang sedang terjadi. Dan tolong jaga informasi ini agar jangan sampai terdengar oleh orang-orang tuan besar yang selalu ada dimana-mana dan mengawasi kalian."


"Baik tuan. Akan aku perhatikan apa yang tuan sampaikan."


"Oya! Dan satu lagi. Jangan sampaikan kepada nona Yuana tentang kedatangan tuan muda, karena tuan muda ingin memberikan kejutan."


"Baik tuan. Terima kasih." Kata Yosua sambil tersenyum.


"Nanti Fadly yang akan menjemput tuan muda di bandara dan mengantarnya kesini. Jadi kamu hanya perlu di rumah saja. Dan nanti terserah tuan muda mau menginap di hotel atau menginap di rumah kalian."


"Baik tuan. Terima kasih atas bantuannya." Kata Yosua sambil memberi hormat.


"Aku rasa hanya itu yang aku sampaikan. Aku mau pulang sekarang.


"Baik tuan. Hati-hati di jalan."


Sekretaris Bram segera meninggalkan tempat itu dan menuju ke mobil mewahnya. Setelah melihat sekretaris Bram sudah pergi, Yosua segera menghampiri ibu dan adiknya kemudian mengajak mereka untuk pulang.


"Ayah, Yuana pulang ya? Yuana akan sering kesini untuk menjenguk ayah. Selamat beristirahat ayah." Kata Yuana sebelum pergi.


Yosua segera memeluk Yuana dan ibunya dari samping kiri dan kanannya. Mereka segera menuju mobil yang di dalamnya Fadly sudah duduk dengan gagah di belakang kemudi. Setelah sampai, Yosua membuka pintu belakang untuk ibu dan adiknya. Ia kemudian menuju ke depan dan duduk di samping Fadly.


Dalam perjalanan pulang, Yuana masih bergelayut dalam pelukan ibunya. Mereka masing-masing diam dengan pikirannya sendiri tanpa ada yang berbicara.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya guys? Semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2