Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
157. Doa Seorang Ibu


__ADS_3

Seorang Ibu seringkali lupa berdoa untuk keselamatan dirinya sendiri, karena hampir seluruh waktunya, bahkan di dalam setiap desahan napasnya, selalu mengalir doa tulus dan harapan terbaik untuk anak-anaknya. Jika kau belum pernah mendengar sebait doa dari mulut Ibumu, janganlah berkecil hati, karena doa seorang Ibu seringkali tak terucap, tetapi doa itu selalu ada di dalam hatinya. Maka jangan pernah lupa mendoakan Ibumu. Eda Sally


*****


Erik mengusap airmatanya yang membasahi pipinya karena mendengar apa yang baru saja dikatakan sekretaris Bram.


Ia segera mengambil makanan yang diantarkan pelayan dan melahapnya begitu saja. Karena ada Yosua, ia menahan hatinya untuk tidak menangis dan berusaha menghabiskan makanannya.


Selesai makan, Erik berjalan ke arah ibu mertuanya dan memeluknya dengan erat sekali.


"Bu! Hukumlah saya jika perlu. Saya takut terjadi sesuatu dengan istri saya." Ujar Erik dengan masih sesenggukan.


Sekretaris Bram yang melihat keadaan Erik seperti itu, memalingka wajahnya dan menahan airmatanya agar jangan sampai tumpah. Ia bingung harus melakukan apa.


"Duduklah! Kamu harus yakin bahwa Yuana pasti bangun. Jangan punya pikiran lain selain meyakinkan diri sendiri bahwa apapun yang terjadi, istrimu akan baik-baik saja." Ujar Bu Santy sambil menepuk pundak Erik.


"Terima kasih, Bu!" Jawab Erik singkat.


Yosua membaringkan kepala di samping kepala Yuana dan memeluk tubuh adiknya, sambil tangannya terus menggenggam tangan Yuana. Ia tidak mempedulikan sekelilingnya.


Bahkan ibunya sendiri pun ia belum memberikan kesempatan kepadanya untuk melihat Yuana dari dekat. Semua yang sudah paham dengan rasa sayang Yosua terhadap Yuana, membiarkan Yosua seperti itu.


Yosua yang kelelahan akhirnya tertidur sambil tangannya tetap menggenggam tangan sang adik. Ia melakukan hal itu, karena waktu Yuana masih kecil, ia selalu suka melakukan hal itu jika membujuk Yuana untuk tidur.


Tak lama kemudian, masuklah dokter Stevi bersama seorang perawat untuk memeriksa kondisi Yuana. Namun, saat sang dokter melihat Yosua yang tertidur, ia tersenyum dan membatalkan niatnya.


"Saya akan membangunkannya jika dokter ingin memeriksa adik saya." Ujar sekretaris Bram.


"Tidak perlu! Itu bisa membantu tubuh nona Yuana hangat karena ia tidur sambil menggenggam tangannya."


"Jika ia sudah bangun, cepat panggil saya agar saya segera memeriksa kondisi nona Yuana." Ujar dokter Stevi sambil keluar meninggalkan mereka.


Semua yang melihat apa yang dilakukan Yosua hanya mampu menarik napas. Mereka semua sudah paham dengan kasih sayang kedua kakak beradik itu.


Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit, Yosua bangun dan memandang mereka semua dengan bingung yang sedang memperhatikan dirinya.


"Ada apa?" Tanya Yosua dengan bingung.


"Tidak ada apa-apa! Tidurlah jika kamu masih ingin tidur." Ujar sekretaris Bram.


Arthur yang mengingat pesan dokter Stevi segera keluar tanpa mengatakan apapun.


Tak lama kemudian, masuklah dokter Stevi dengan sang perawat sambil tersenyum.

__ADS_1


Yosua segera beranjak dari tempatnya dan memberikan kesempatan kepada dokter Stevi untuk memeriksa Yuana.


Setelah selesai, dokter Stevi memandang mereka semua dengan wajah sumringah.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Tanya Erik dengan tatapan sayu.


"Kondisinya baik-baik saja."


"Saya sudah menghubungi dokter ahli untuk datang kesini guna memeriksa nona Yuana secara langsung, agar kita bisa tahu apa yang menyebabkan nona Yuana masih tetap koma." Ujar dokter Stevi.


"Kapan dokter itu akan sampai ke sini?" Tanya Erik tidak sabar.


"Dua hari lagi." Jawab dokter Stevi.


Jawaban dokter Stevi membuat mereka semua loyo. Pasalnya menunggu selama dua hari itu bagi mereka sangat berat dan lama. Mereka sudah memikirkan yang tidak-tidak, karena takut sesuatu yang buruk terjadi sebelum dokter yang dijanjikan itu datang.


"Tolong jaga nona Yuana dengan baik, dan seringlah ajak ia berkomunikasi."


"Saya akan mengurus pasien yang lain. Jika ada apa-apa, segera panggil saya." Ujar dokter Stevi sambil mengangguk kemudian keluar meninggalkan mereka.


"Apa yang akan kita lakukan untuk waktu dua hari ini? Apa kita hanya akan terus menunggu seperti ini?" Tanya Yosua sambil matanya kembali menatap wajah sang adik.


"Kita tunggu dokter yang baru saja dikatakan oleh dokter Stevi."


"Kita tidak bisa terus menunggu seperti ini, sementara Yuana masih dalam keadaan koma." Ujar sekretaris Bram.


Semua mengangguk membenarkan apa yang dikatakan sekretaris Bram.


Bu Santy langsung beranjak dari sofa dan menuju ke kursi di samping tempat tidur Yuana begitu melihat Yosua telah pindah dan duduk di sofa.


Setelah duduk, Bu Santy memandang wajah putrinya dengan lekat, kemudian tangan keriput itu membelai wajah mulus sang putri dengan perlahan.


Tak terasa, airmatanya menetes mengenai wajah Yuana. Dengan lembut wanita tua itu mengambil tissue dan menyeka airmatanya yang mengenai wajah anaknya.


"Buktikan bahwa kamu wanita yang kuat. Ibu tidak ingin melihatmu seperti ini terus."


"Kamu tahu, Ibu sangat sedih, tetapi Ibu tidak ingin terlihat lemah di depanmu, karena Ibu tahu kamu mendengar apa yang Ibu katakan."


"Kami semua yang ada di sini sangat mengkhawatirkanmu. Jadi, tidak ada alasan bagimu intuk terus tertidur selain harus bangun dan menyapa kami."


"Jika Ibu dapat mengubah takdir, maka ibu akan meminta kepada takdir agar Ibu saja yang menggantikan posisimu."


"Tetapi Ibu juga sadar, bahwa tidak ada yang dapat melawan takdir selain berusaha untuk berdamai dengan takdir."

__ADS_1


"Ibu akan terus memohon kepada sang Tuhan, agar Ia berkenan membangunkanmu dari tidur panjangmu ini."


"Jika ada hal yang kamu simpan di dalam hatimu, Ibu mohon agar kamu mengeluarkan semua beban itu tanpa menyisakan setitik pun."


"Jangan biarkan hatimu menyimpan sesuatu yang akan membuatmu terus menahan sakit."


"Suamimu sangat mencintaimu, karena kamu adalah separuh jiwanya. Dan kondisimu ini juga berakibat buruk untuk suamimu."


"Karena itu, bangunlah dan berhentilah menikmati rasa nyamanmu dengan tidur berkepanjangan."


"Ibu percaya, kamu akan segera bangun, karena Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu, dan Tuhan akan mendengar apa yang Ibu doakan."


"Bangunlah, Nak! Ibu selalu mencintaimu, dan berharap untuk selalu melihat senyummu hingga ujung usia Ibu."


"Karena hal yang paling Ibu rindukan di dalam doa Ibu adalah, Ibu ingin agar di saat Ibu menutup mata untuk yang terakhir kali, tanganmulah yang akan mengatupkan mata Ibu."


Bu Santy menyeka airmatanya dengan tissue yang disodorkan Erik yang sejak tadi sudah berdiri di samping ibu mertuanya.


Hatinya sangat sakit memdengar semua perkataan ibu mertuanya.


Jika Ibumu ingin agar kamu yang mengatupkan matanya di saat ia telah berada di ujung usia, maka aku ingin agar kamu selalu bersamaku hingga kita sama-sama menutup mata untuk yang terakhir kali. Jangan pernah membiarkan aku sendirian. Kamu tahu, bahwa aku tidak pernah bisa jauh darimu. Jika harus menuju kepada maut, maka bawalah aku agar selalu bersamamu. Erik.


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


Besok saya tidak up ya, jadi malam ini saya double up. Ada sedikit kesibukan di dunia nyata yang menyita waktu saya. Saya akan mampir ke karya kakak-kakak Author pada tanggal 2 ya. Untuk semua reader's Tersayang, jangan pernah bosan menunggu saya, karena tanggal 2 baru bisa up lagi.


Jangan lupa mampir juga ke karya saya yang baru, yaitu Cinta Pria Metropolitan. Terima kasih.


Love you all😍😍

__ADS_1


__ADS_2