
Setiap orang pasti punya masa lalu. Kadang orang mulai berpikir buruk ketika berbicara tentang masa lalu. Padahal tidak semua masa lalu membawa kepahitan. Ada masa lalu yang merupakan pegangan hidup bagi sebagian orang, karena dari masa lalulah mereka belajar tentang arti sebuah kehidupan. Eda Sally
*****
Hari yang ditunggu Erik dan Bram akhirnya tiba. Pagi sekali mereka sudah berangkat dengan kereta menuju London. Erik yang sudah tidak sabar sesekali menarik napas panjang.
Sekretaris Bram yang paham dengan keadaan hati adiknya hanya mampu tersenyum karena merasa lucu melihat wajah tampan dan imut itu sedang kesal itu.
Rasa kesal sepanjang perjalanan akhirnya terobati saat mobil yang dikendarai Arthur memasuki mansion milik mereka.
Sejak dari stasiun, Erik tidak ingin berbicara. Ia menyuruh Arthur mempercepat laju mobil.
Erik sudah membuka pintu sebelum mobil belum berhenti dengan sempurna. Ia tidak menunggu Arthur untuk membukakan pintu baginya.
Erik berlari tanpa mempedulikan mereka yang melihatnya. Andre Wiliam hanya tersenyum melihat kelakuan putrnya.
"Putraku benar-benar sudah gila dengan cinta." Ujar Andre Wiliam sambil memandang istrinya.
"Setidaknya putraku tidak sepertimu yang dingin dan kaku." Balas nyonya Jessy.
"Dingin dan kaku tapi kamu cinta mati sama aku kan?"Balas Andre Wiliam dengan senyum kemenangan.
"Cih! Aku tidak pernah mencintaimu. Kau saja yang memaksaku menikah denganmu." Ujar Jessy Larina.
"Tapi kau juga suka kan? Siapa yang tidak tergila-gila dengan Andre Wiliam?" Ujarnya dengan nada bangga.
Jessy Larina langsung memelototkan matanya ke arah suaminya dengan tatapan tidak suka jika suaminya mengungkit masa lalu mereka.
Sementara Erik yang baru saja sampai, tidak memberikan kesempatan kepada Yuana. Ia memeluk dan mencium istrinya berulang kali.
Yuana yang sudah paham dengan kelakuan Erik, hanya pasrah dengan kelakuan suaminya.
"Apa aku sudah boleh meminta jatahku?" Tanya Erik to the point.
"Aku belum siap! Jangan membuatku takut." Ujar Yuana sambil menunduk.
"Aku hanya bercanda. Ayo kita temui mami dan papa." Ujar Erik sambil menggandeng tangan Yuana dan berjalan keluar.
Saat mereka turun, mereka melihat semuanya telah berkumpul. Andre Wiliam tersenyum melihat sikap romantis putranya.
"Ah! Putraku benar-benar romantis." Ujar Jessy Larina.
"Apa kau tidak menyadari kalau aku lebih romantis?" Andre Wiliam menimpali perkataan istrinya.
"Kau tidak ada romantisnya sama sekali. Aku jadi romalas melihatmu." Jawab Jessy Larina sambil membuang muka.
__ADS_1
"Ihhh! Papa dan mami mau saingan sama aku ya." Ujar Erik sambil duduk, kemudian menarik Yuana dan duduk di pangkuannya.
"Duduklah! Papa ingin menceritakan sesuatu kepada kalian." Ujar Andre Wiliam.
"Cerita apa, Pa?" Tanya Erik penasaran.
"Pertama, papa minta maaf kepada kalian semua, terutama kepada Yuana."
"Papa waktu itu tidak merestui hubunganmu dengan Yuana karena masa lalu papa."
"Papa tidak ingin kau mengalami kegagalan cinta seperti yang papa alami." Ujar Andre Wiliam dengan tatapan sendu.
"Ceritakan, Pa! Aku ingin mendengarnya." Ujar Erik dengan antusias. Sementara Bram hanya diam dan siap untuk mendengarkan apa yang akan diceritakan pria paruh baya tersebut.
"Jadi ceritanya, papa waktu itu memiliki wanita cerdas seperti Yuana. Kami berkenalan cukup lama, dan kemudian menjadi sahabat"
"Kami saling menyayangi melebihi kasih sayang seorang sahabat. Aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya, dan ia menerimanya, karena memang rasa sayang yang sudah terikat diantara kami."
"Ketika aku berniat untuk melamarnya dan menikahinya, ia malah pergi meninggalkanku."
"Aku yang waktu itu belum diserahi tugas oleh grandpa-mu untuk mengurus perusahaan, berusaha untuk mencarinya."
Hampir semua tempat aku datangi hanya untuk mencarinya, tetapi ia seperti raib, dan aku tidak menemukan jejak sama sekali tentang keberadaannya."
"Lalu, apa papa bertemu dengannya?" Tanya Erik penasaran.
"Papa tidak menemukannya, dan papa mulai putus asa. setiap hari papa berjalan tanpa tujuan, dengan harapan ada mujizat sehingga bisa bertemu dengannya."
"Ditengah rasa putus asa karena pencarian yang sudah memakan waktu hampir dua tahun, aku mendapati kenyataan yang sangat menyakitiku."
"Kenyataan apa, Pa?"
"Waktu aku sedang berada di Bandung, suatu sore aku sedang mengendarai sepeda untuk olahraga."
"Alasanku hanya satu, siapa tahu aku bisa bertemu secara tak sengaja di jalan."
"Dan dugaanku benar! Saat aku sedang bersantai dengan sepeda di pinggir sebuah taman, dari jauh mataku melihat sepasang suami istri sedang menggendong bayi dan sedang bercengkrama dengan wajah bahagia."
"Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan berusaha mendekat untuk meyakinkan penglihatanku, tentang wanita yang aku lihat."
"Dalam hatiku aku mencoba untuk menyangkal bahwa apa yang aku lihat tidak benar, dan berharap itu bukan wanita yang sangat aku cintai."
"Ketika jarak diantara kami tersisa kurang lebih tiga puluh meter, aku baru yakin bahwa dia adalah wanita yang aku cintai dan aku cari selama ini."
"Tanpa sadar, aku menjatuhkan diriku begitu saja, yang membuat ia dan suaminya reflek melihat ke arahku."
__ADS_1
"Rasanya hatiku hancur berkeping-keping, menyaksikan orang yang aku sayangi sedang berbahagia bersama pria lain."
"Suaminya yang paham dengan situasi tersebut menarik istrinya dan berjalan ke arahku."
"Ingin ku hajar pria yang telah merebut wanitaku, tetapi aku sadar, bahwa cinta tidak bisa disalahkan."
"Ia menangis dan meminta maaf kepadaku, dan mengakui bahwa ia hanya memanfaatkanku agar bisa memperoleh jabatan yang bagus di perusahaam demi mengumpulkan rupiah untuk hidup bahagia dengan suaminya."
"Ingin ku robek mulutnya, yang dengan lancang mengatakan kebenaran yang membuatku semakin sakit hati."
"Aku memejamkan mataku dan menahan diri, agar tidak melakukan sesuatu yang mencoreng nama baikku sebagai seorang putra bergengsi dari keluarga Wiliam."
"Aku lalu berdiri, dan berjalan mendekatinya. Suaminya reflek menahanku, karena berpikir bahwa aku akan memeluk istrinya, atau melakukan tindakan nekat."
"Namun, aku mengatakan bahwa aku hanya ingin berbicara."
"Setelah dekat, aku memandangnya, dan berusaha untuk tidak mengeluarkan airmata."
"Aku tersenyum ke arahnya dan kemudian menguatkan hati untuk berbicara."
"Aku katakan, bahwa aku tidak keberatan ia mencintai pria lain, karena ia punya hak untuk memilih pria lain, tetapi jangan pernah membohongiku, apalagi memanfaatkanku karena aku tidak pernah main-main soal cinta."
"Ia langsung berlutut di depanku dan menangis sejadi-jadinya sambil memegang kedua kakiku, tetapi aku hentakkan kakiku karena terlalu sakit hati, dan merasa jijik dengan dirinya."
"Lalu aku katakan kepadanya agar jangan pernah muncul lagi di hadapanku, dan aku akan menganggap bahwa kami tidak pernah saling mengenal."
"Kalau pun secara tidak sengaja dan kami akan bertemu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyapanya."
"Lalu, apa yang dia katakan?" Kali ini Bram yang bertanya.
"Dia hanya diam, dan terlihat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan kepadaku."
"Aku langsung berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Ia berlari mengejarku dan berusaha menggapai tanganku, tetapi aku menghempaskan tangannya kemudian berjalan dan mengambil sepedaku, dan pergi meninggalkan mereka."
"Selanjutnya?" Tanya Erik sambil mengeratkan pelukannya pada Yuana karena takut jika Yuana akan meninggalkan dirinya.
Bersambung
.
.
.
Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.😍😍😍😍😍
__ADS_1