Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
68. Pertemuan Yang Mengharukan


__ADS_3

Hal yang paling indah dalam hidup ini adalah bertemu dan dapat memandang wajah orang yang kita cintai. Ketika dihadapkan dengan pilihan dimana situasi seolah tidak memungkinkan, tenangkan hatimu dan percayalah bahwa kamu akan muncul sebagai pemenang meski di situasi yang paling sulit sekalipun. Eda Sally


*****


Setelah menghabiskan waktu di taman, Yuana, Habib, Alika, dan dokter Kim akhirnya memilih untuk pulang. Sepanjang perjalanan, mereka bercerita dengan wajah ceria yang menandakan bahwa mereka sedang senang.


Yuana pun antusias bercerita dan tidak diam seperti biasanya. Hal ini membuat dokter Kim senang karena ia baru pertama kali melihat Yuana banyak bicara dan tertawa seperti itu setelah kedatangannya di pulau terpencil itu.


Orang-orang yang melihat mereka hanya tersenyum maklum, sambil ada beberapa yang terlihat berbisik-bisik, entah apa yang mereka bicarakan.


"Kak. Ini sudah hampir sore. Sebaiknya kita mengurus tanaman dulu sebelum mandi." Yuana mengusulkan.


"Oh! Boleh juga nona. Ayo kita ke belakang." Kata Habib.


"Apakah saya boleh ikut membantu?" Tanya dokter Kim


"Boleh saja dokter. Asalkan tidak merepotkan." Alika yang menjawab.


"Tidak sama sekali. Aku senang jika bisa membantu di sini." Jawab dokter Kim.


Mereka segera menuju ke belakang dan mulai mengurus tanamannya. Dokter Kim selalu berada di dekat Yuana. Ketika mereka sedang asyik mengerjakan tugas masing-masing, tiba-tiba ada yang menyapa mereka.


"Permisi."


Mereka semua mengangkat kepala mendengar suara orang asing yang baru mereka dengar. Pasalnya di situ hampir semua orang sudah mereka hafal suaranya. Yuana yang sudah tidak merasa asing mendengar suara itu, tidak percaya dan mengangkat wajahnya untuk melihat.


Ketika matanya bertemu dengan mata orang yang menyapa, ia terpaku di tempatnya dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kakinya seolah tidak bisa digerakkan, apalagi menahan beban tubuhnya.


"Tidak mungkin." Hanya itu yang terucap dari bibir Yuana, karena di detik selanjutnya, ia sudah jatuh tak sadarkan diri.


Dokter Kim yang berdiri dekat Yuana dengan sigap menangkap tubuh Yuana yang sudah ambruk. Sementara orang yang tadi menyapa, segera berlari sekuat tenaga dan langsung menepis tangan dokter Kim.


"Lepaskan! Jangan coba-coba menyentuhnya!" Katanya tegas.


"Siapa kamu!" Tanya dokter Kim tak kalah tegas.


"Nanti bisa kamu tanyakan padanya siapa aku setelah dia sadar. Mana kamarnya. Aku mau membaringkan dia."


Habib langsung paham mendengar kalimat terakhir orang itu. Tanpa komando, Habib menarik Alika yang ada di sampingnya dan sama-sama berlutut.

__ADS_1


"Maafkan kami yang tidak mengenali tuan muda."


"Tidak usah terlalu sungkan. Mana kamarnya."


"Mari saya antarkan tuan." Kata Habib sambil berlari mendahului mereka diikuti oleh Alika.


Dokter Kim terlihat bingung dengan kelakuan Habib dan Alika.


Sebenarnya dia ini siapa ya? Tak ku sangka dia setampan itu. Kenapa Habib dan Alika sampai berlutut seperti itu dan terlihat sangat ketakutan. Lalu siapa sebenarnya nona Yuana.


Berbagai pertanyaan berkecambuk dalam hati dokter Kim. Ia sampai bingung dan lupa mengikuti lainnya yang sudah sampai ke dalam rumah.


Sementara itu Yuana sudah dibaringkan. Baru beberapa saat ia sudah siuman, dan matanya langsung tajam menatap orang yang nampak stress dan menjaganya sambil memegang kepalanya.


"Kak."


"Kamu sudah sadar sayang. Maafkan aku yang tidak sanggup menjagamu dan membuat kamu harus menderita seperti ini. Maafkan aku." Katanya sambil mengangkat tubuh Yuana dan membawanya kedalam pelukannya.


Erik menangis sejadi-jadinya. Ia sudah tidak peduli dengan Habib dan Alika yang menatapnya. Yuana terlihat lebih parah menangis, namun ia mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar.


Dokter Kim yang mendengar suara pria menangis, segera berlari dan masuk ke dalam rumah. Pemandangan di depannya membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Tak ku sangka cowoknya setampan itu. Pantas saja ia sangat dingin denganku. Dan tadi aku mendengar Habib memanggilnya dengan sebutan tuan muda. Artinya dia bukan orang sembarangan.


"Tak ku sangka tuan muda begitu mencintai nona Yuana. Lihatlah! Seorang pria akan jarang mengeluarkan airmata, tapi beda dengan tuan muda yang menangis tanpa peduli bahwa ada orang di sekitarnya."


"Iya kak. Aku terharu. Andaikan aku dapat pria seromantis itu. Mulai sekarang, aku tidak akan mengidolakan dokter Kim lagi. Aku akan mengidolakan tuan muda saja, karena lebih tampan.


Habib segera menjitak kepala Alika ketika mendengar kalimat yang baru saja dikatakan Alika. Mereka kemudian saling menatap dan tanpa sadar tersenyum. Alika ingin membalas menjitak kakaknya, tapi suasana haru di depan mereka membuat sifat usil mereka hilang.


"Jangan pernah bertindak konyol seperti ini lagi. Kamu membuatku hampir gila karena mencarimu." Kata Erik setelah merasa tenang.


"Tapi hanya itu satu-satunya jalan yang harus aku ambil, agar menyelamatkan kamu, kak Yosua, dan diriku sendiri."


"Cukup! Jangan katakan itu lagi. Aku tidak mau kamu mengungkit hal yang membuatku sakit hati. Kehilangan dirimu membuatku seolah tidak mempunyai semangat hidup."


"Sudah kak. Lepaskan pelukannya. Malu dilihat orang-orang."


"Aku tidak peduli. Biarkan aku melepas rinduku dengan memelukmu semenit lagi. Setelah itu baru aku lepaskan."

__ADS_1


Yuana tidak mengatakan apapun, tapi dengan perlahan tangannya terlihat mendorong Erik agar melepaskan pelukannya. Erik paham dan segera melepaskan pelukannya.


"Maafkan saya jika tidak sopan. Tapi rasa rindu kepada wanita yang saya cintai, membuat saya harus bertindak konyol seperti ini di hadapan kalian."


"Tidak apa-apa tuan muda. Kami mengerti karena nona Yuana sudah menceritakan semuanya pada kami. Kami senang sekali dan merasa mendapat penghormatan karena tuan muda berkenan datang ke gubuk kami ini."


"Terima kasih telah menjaga nona Yuana dengan baik." Kata Erik sambil memeluk Habib.


Habib merasa terharu karena ia dipeluk oleh seorang tuan muda yang selama ini ia sanjung tapi tidak pernah bertemu muka dengannya dan baru kali ini.


Benar kata tuan Zain. Tuan muda benar-benar sangat baik dan rendah hati. Pantas saja nona Yuana sangat mencintainya dan rela berkorban.


"Mari duduk dulu tuan. Kita akan mengobrol sebentar." Habib mempersilahkan Erik untuk duduk setelah Erik melepaskan pelukannya.


"Siapa dia?" Tanya Erik kepada Habib sambil menunjuk Alika.


"Dia adikku satu-satunya tuan. Namanya Alika. Selama ini saya dan dia yang selalu bersama-sama dengan nona Yuana.


"Terima kasih banyak nona Alika, sudah menjaga nona muda dengan sangat baik." Kata Erik sambil tersenyum ke arah Alika dan sambil mengatupkan tangan di dada.


"Sama-sama tuan muda. Kami senang dengan kehadiran nona muda di sini."


"Dan dia?" Tanya Erik sambil menunjuk ke arah dokter Kim.


"Oh! Ini dokter Kim. Satu-satunya dokter di sini yang merupakan teman kami dan yang paling sering mengunjungi kami."


"Terima kasih banyak dokter karena sudah menjadi teman yang baik untuk wanita saya." Kata Erik menegaskan.


Bersambung.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍


__ADS_2