Perjalanan Panjang Wanita Tangguh

Perjalanan Panjang Wanita Tangguh
151. Ketegangan Kedua


__ADS_3

Tak ada yang bisa melepaskan diri dari ketakutan selama ia membiarkan ketakutan itu menghantuinya. Karena itu, buanglah rasa takutmu, dan kau akan melihat bahwa kau mampu mengalahkan ketakutan yang memghantuimu. Eda Sally


*****


Erik bingung, apakah ia harus berdiri atau duduk. Semakin ia duduk di dekat Yuana, ketakutannya melihat penderiaan istrinya semakin bertambah.


Ingin berdiri pun ia tidak sampai hati melihat istrinya berjuang sendirian. Tangannya tak pernah berhenti mengelus perut yang sangat membuncit itu. Yuana mencengkram tangan Erik dengan sangat kuat karena rasa sakit yang menyerangnya.


"Kak! Sakiiit..!" Ujar Yuana dengan suara yang hampir tidak terdengar karena menahan sakit.


"Please! Jangan seperti ini. Aku takut sayang! Andai saja sakitnya bisa dibagi, aku akan memilih untuk memikul rasa sakit ini menggantikanmu."


"Tolong jangan membuatku takut."Ujar Erik.


"Jika kamu ingin berteriak, keluarkan saja suaramu! Jangan ditahan!" Lanjut Erik sambil tangan yang satunya mengelus perut Yuana, sedangkan tangan satunya merapikan rambut Yuana dan menyeka keringat sang istri.


Yuana yang sudah berkeringat karena sejak tadi menahan sakit, hanya mampu memejamkan mata tanpa mengatakan apapun.


"Maaf! Saya bukan tidak ingin membantu. Saya akan melakukan tindakan setelah pembukaan sepuluh. Saya tidak ingin nona muda kesakitan atau kelelahan pada saat persalinan yang seharusnya."


"Jadi, biarkan nona muda istirahat sambil mengirit tenaga." Ujar dokter Stevi.


"Tidak apa-apa, Dokter! Saya paham." Jawab Erik.


Yuana memaksa tersenyum dengan hanya menarik sedikit ujung bibirnya mendengar perkataan dokter Stevi.


"Nona wanita yang hebat dan kuat! Walau kesakitan pun ia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Tolong jaga istri anda dengan baik, Tuan!" Nasehat dokter Stevi.


Di luar, nampak Gail mondar mandir tidak jelas sambil matanya terus menatap ke dalam dan sadar bahwa sejak tadi belum ada tanda-tanda bayi menangis.


Jika semakin lama, penderitaan Yuana akan semakin bertambah. Apa sebaiknya operasi saja ya? Aku tidak tega melihat Yuana menderita seperti itu. Gail.


Karena terlalu pikiran dan asyik melamun sambil mondar mandir, Gail tidak sadar kembali menubruk suster yang pernah ia tubruk waktu Yuana melahirkan Garrick.


Suster itu sangat marah ketika ia mengangkat kepala dan melihat siapa yang menubruknya. Matanya langsung melotot karena emosi. Ia benar-benar sangat marah.


"Kamu lagi, kamu lagi! Setiap kali datang di rumah sakit ini selalu saja mondar mandir tidak jelas dan menyebabkan orang lain celaka." Tegur suster itu pada Gail.


"Bukan urusanmu. Aku sudah berdoa untuk tidak bertemu dengan suster galak sepertimu, tetapi nasibku selalu saja sial sehingga aku selalu harus bertemu denganmu di waktu yang tidak tepat." Balas Gail sambil matanya menatap ke dalam melihat keadaan Yuana.


"Cihhhhh! Sok tampan! Siapa juga yang mau bertemu denganmu." Jawab suster itu.


"Kamu baru saja mengatakan bahwa aku tampan. Kalau merasa kagum sama ketampananku jujur saja. Jangan mencari alasan untuk memarahiku." Balas Gail.

__ADS_1


"Hih! Siapa juga yang bilang kamu tampan. Jangan terlalu berlebihan." Jawab suster tersebut.


"Aku tahu! Tadi kamu pasti sengaja menubruk tubuhku kan? Untung saja tanganku tidak khilaf dan tidak memelukmu."


"Jika tidak, aku bisa pastikan bahwa aku pasti akan menyesal seumur hidup." Ujar Gail.


"Dasar pria rese dan menyebalkan." Ujar suster itu sambil pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Dia yang rese, malah bilang aku lagi. Wanita juga kadang aneh." Ujar Gail pada dirinya sendiri.


Baru saja beberapa meter, wanita itu terpeleset dan langsung jatuh karena jalan dengan menghentakkan kakinya.


Gail yang melihat pemandangan itu tidak bisa menahan tawanya. Ia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia takut tawanya akan terdengar oleh suster itu.


Namun, beberapa saat kemudian tawanya langsung lenyap begitu melihat suster tersebut berusaha untuk bangun, namun selalu saja gagal dan jatuh lagi.


Hal itu berulang terus sampai beberapa kali. Akhirnya karena penasaran plus kasihan, Gail mendekati suster tersebut.


Gail tidak langsung mengangkat tubuh sang suster, karena ia masih sibuk mengamati wajah sang suster yang terlihat sangat memprihatinkan.


Wajahnya sudah merah menahan malu juga sakit. Bagaimana mungkin ia akan meminta tolong pada pria yang baru saja ia katai dengan kasar.


Gail tidak mengatakan apapun. Ia hanya mengulurkan tangannya dengan cuek kepada suster itu. Suster itu masih menatap Gail untuk meyakinkan dirinya apakah pertolongan yang ditawarkan itu tulus atau tidak.


"Ok! Kalau begitu silahkan bangun." Balas Gail dengan cuek.


Suster itu berusaha bangun, namun ia jatuh lagi. Gail langsung duduk dan memeriksa kaki suster tersebut.


"Mau apa kamu." Hardik sang suster.


"Dasar wanita rese. Mau ditolong juga masih jual mahal." Ujar Gail sambil menggerakkan pergelangan kaki sang suster dan terdengar bunyi 'krek' bersamaan dengan teriakan keras sang suster.


"Rasanya sudah tidak sakit lagi." Ujar sang suster sambil memegang kakinya.


Gail langsung berdiri dan berlari karena mendengar suara Yuana.


Ah! Dia manis sekali. Walaupun cuek tapi perhatian. Suster itu melamun sambil tersenyum sendiri.


Begitu sampai di depan ruangan, Gail tidak bisa menahan hatinya ketika mendengar suara Yuana yang memilukan. Maka tanpa pikir lagi, ia langsung mendorong pintu dan masuk ke dalam.


"Maaf tuan muda! Saya hanya tidak kuat mendengar nona Yuana berteriak. Jadi lebih baik saya di sini daripada saya di luar dan kemudian stress sendiri." Ujar Gail jujur.


"Duduklah, Gail!" Hanya itu yang dikatakan Erik karena ia sibuk membelai rambut Yuana dan menyeka keringat yang sudah membasahi wajah sang istri.

__ADS_1


Gail patuh dengan apa yang dikatakan Erik. Ia duduk sambil memejamkan mata dan mengurut pelipisnya.


Jadi beginikah penderitaan seorang wanita jika akan melahirlan bayinya. Ternyata wanita itu lebih kuat dari pria, karena beban yang mereka tanggung, tidak akan pernah bisa dirasakan oleh pria. Gail


Tak lama kemudian, dokter Stevi masuk. Ketika akan memeriksa Yuana, dokter Stevi melihat sekilas ke arah Gail.


Gail yang paham dengan arti tatapan dokter Stevi, segera keluar dan berdiri membelakangi pintu.


"Sudah waktunya. Ikuti instruksi saya jika nona tetap ingin melahirkan dengan normal." Ujar dokter Stevi.


Yuana hanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan dokter Stevi.


"Sayang, jika kamu tidak kuat, lebih baik operasi saja. Aku tidak ingin melihatmu menderita seperti ini. Maafkan aku." Ujar Erik dengan khawatir.


"Aku tidak apa-apa!" Jawab Yuana dengan suara yang sangat pelan.


Dokter segera menginstruksikan teknik-teknik persalinan kepada Yuana. Yuana berusaha mengikuti apa yang dikatakan dan diinstruksikan dokter Stevi.


"Sayang!" Panggil Erik ketika ia melihat Yuana memejamkan mata dan menarik napas dengan berat.


"Operasi saja ya? Please!" Lanjut Erik.


"Tuan, istri tuan sudah berusaha maksimal mengikuti apa yang saya instruksikan. Biarkan ia berusaha dulu."


"Jika pada pengamatan saya bahwa istri tuan sudah tidak bisa melakukan persalinan normal, maka saya akan mengajukan operasi." Ujar dokter Stevi


Bagaimana pun juga, aku harus berusaha agar persalinan ini normal. Aku tidak ingin operasi. Aku tidak ingin tubuhku dipotong-potong. Mampukan aku Tuhan untuk dapat melewati perjuangan ini. Yuana


Bersambung


.


.


.


.


.


Happy reading ya, semoga terhibur. Jangan lupa like, vote, rate bintang lima, dan komentar positifnya.


😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2