Perjodohan Pengganti

Perjodohan Pengganti
Yang terbaik untuk mala


__ADS_3

.


.


.


Sebagai seorang ayah yang pernah merawat dan menyayangi mala dari bayi sampai dia dewasa. Tentunya pak andi masih perduli dengan mala, apalagi saat ini mala memang membutuhkan suport dan dukungan dari orang - orang terdekatnya dan orang - orang yang menyayanginya.


Bersama aluna dan candra, pagi ini pak andi datang kerumah sakit untuk melihat keadaan mala. Sampai sekarang sebenarnya pak andi belum bisa melupakan dan memaafkan pengkhianatan meri dan marko, ditambah marko ada hubungan khusus dengan mala yang ternyata anak kandung dia sendiri.


" Bagaimana keadaan mala?" Tanya pak andi dengan aura dingin.


" Seperti yang kamu lihat, dia sehat tapi sepertinya jiwa nya terganggu. " Jawab marko.


" Jadi maksud kamu mala ini gila ? Kenapa kamu tidak memberi pengobatan yang lebih baik untuk mala. Mana tanggung jawab mu sebagai seorang ayah? Bahkan kamu sudah merusak masa depannya, dan kamu juga yang sudah menyebabkan dia seperti ini. " Ucap pak andi dengan ketus.


Marko hanya menunduk malu, apa yang dikatakan pak andi memang semuanya benar. Dialah penyebab mala seperti ini bahkan dialah yang sudah merusak masa depan anak kandungnya sendiri. Pak andi mendekati mala dan mengajaknya berbicara.


" Mala kamu apa kabar nak ? " Tanya pak andi lembut, dia sangat prihatin dengan keadaan mala.


" Papa ! Mana mama ?" Tanya mala menanyakan keberadaan sang mama.


" Mama mu masih sibuk dia nanti pasti akan kesini. Apa kamu sudah makan ?" Tanya pak andi masih dengan lembut.


Aluna dan candra terus memperhatikan intetaksi antara pak andi dan mala. Marko juga hanya diam saja tidak mau mendekat, dia berdiri di dekat pintu kamar rawat mala.


" Pa, apa marko benar ayah kandung ku ? Kenapa semua ini terjadi sama aku pa ? Aku mencintai marko tapi mama menentangnya bahkan marko juga akan meninggalkan ku. Aku tidak sanggup hidup berjauhan dari marko pa, aku mencintainya hikss... Hikss " Ucap mala lalu menangis.


Mala sadar dan tidak ada kejanggalan apapun, dengan pak andi dia menumpahkan semua keluh kesahnya. Dia sadar saat bicara dengan pak andi, begitulah mala. Mood dan kejiwaannya sering berubah - rubah, namun bukan berarti dia gila. Hanya butuh orang yang bisa memahaminya dan mengerti posisinya, dan dia nyaman bercerita dengan pak andi.


" Pa, sepertinya kak mala tertekan dan belum bisa menerima kenyataan tentang om marko yang ternyata ayah kandungnya. Jadi kak mala tidak bisa dibilang gila, dia bicara juga sadar dan tidak menunjukan sikap yang aneh" Ucap aluna sedikit berbisik di telinga ayahnya agar tidak di dengar oleh mala.


Mala duduk terdiam di atas kasur sambil berpangku tangan dan menatap kosong kearah kasur.


" Iya Lun, apa kamu tidak marah jika papa perduli sama mala ?" Tanya pak andi takut aluna tersinggung karena bagaimanapun mala bukan anak kandung pak andi.


" Aluna tidak marah, bahkan aluna ikhlas papa masih tetap perduli dan menyayangi kak mala. Kak mala itu kakak aluna, kami terlahir dari rahim yang sama. Biarpun ayah kami beda, kami tetap saudara pa . " Ucap aluna dengan mengembangkan senyum tulusnya.


Pak andi memeluk aluna dengan penuh kasih sayang, anak keduanya ini memang pemikirannya lebih dewasa daripada mala dan aluna mempunyai jiwa yang lembut dan penuh kasih sayang.


" Mala, dengarkan papa. Kamu dan marko itu ayah dan anak , dan kalian sampai dunia kiamat pun tidak bisa menikah. Hubungan kalian itu dosa , haram. Mencintai dan menyayangilah sewajarnya ayah dan anak " Ucap pak andi dengan lembut sambil mengusap pucuk kepala aluna dengan lembut.


" Tapi pa, aku mencintai marko. " Seru mala dengan pandangan beralih kearah marko yang tetap berdiri di dekat pintu.


" Kamu tidak bisa begini terus mala. Kamu jangan menentang takdir, papa yakin di luar sana ada pria yang sudah disiapkan allah untuk kamu. Percayalah sama papa, kalau kamu begini terus papa dan mama tidak mau menganggap kamu anak lagi." Ucapan pak andi halus namun tegas.


" Kak mala, aku yakin kak mala bisa melalui semua ini dengan baik. " Ucap aluna memberi dukungan untuk mala.


Pak andi mendekati marko yang sedari tadi hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

__ADS_1


" Jujur aku memang sangat menyayangkan kelakuan mu !! Jika didunia ini membunuh itu tidak dosa , pasti aku sudah membunuhmu dari kemarin - kemarin. Tapi sayangnya membunuh itu dosa, sekarang apa rencanamu ?" Tanya pak andi dengan tatapan mengintimidasi.


" Aku..aku tidak tahu. Tapi aku berencana membawa mala ke dokter kejiwaan " Jawab marko.


" Bodoh ! Mala itu tidak gila, dia hanya tertekan dan tidak bisa menerima takdir hidupnya. Aku tidak setuju kamu membawanya kedokter kejiwaan, meskipun kamu ayah kandungnya tapi aku yang merawat dia dari bayi sampai dia tumbuh dewasa. Aku akan membawa mala kepesantren, biar dia memperdalam ilmu agama agar hati dan fikirannya jauh lebih tenang " Ucap pak andi.


Marko tidak bisa berbuat apa - apa, dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Mungkin memang lebih baik mala tinggal di pesantren, siapa tahu dipesanten dia bisa melupakan masalalu nya dan bisa menerima kenyataan jika marko ayahnya.


* Andi benar, mala harus di pesantren biar pemikirannya jernih dan terbuka. Aku harus bisa menjadikan mala pribadi yang lebih baik lagi, aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Aku ingin menjadi ayah yang baik untuk mala * Gumam marko dalam hatinya.


" Mala , kamu sudah boleh keluar dari rumah sakit. Setelah ini apa kamu mau ikut papa ke pesantren ?" Tanya pak andi dengan lembut.


" Pesantren pa ?" Tanya mala langsung memandang aneh kearah papanya.


" Iya kepesantren " Jawab pak andi serius.


Aluna dan candra juga ikut terkejut dengan pernyataan papanya yang ingin membawa mala kepesantren. Aluna menyetujui apa yang sudah diputuskan oleh pak andi, pasti ada alasan lain sehingga pak andi membawa mala kepesantren, salah satunya pasti ingin menjauhkan dari marko.


" Papa yakin mau membawa dia kepesantren ?" Tanya candra merasa tidak yakin jika mala dipesantren akan baik - baik saja. Candra khawatir mala disana akan berulah dan membuat pak andi malu.


" Yakin 100 persen Can" Seru pak andi yakin dan serius.


Mala sendiri masih terdiam, dia belum memberikan jawaban.


" Baiklah papa akan memberimu waktu untuk berfikir, mulai hari ini kamu tidak tinggal dengan marko. Tapi kamu masih bisa tinggal dirumah marko dengan ditemani assisten rumah tangga. Papa akan meminta marko untuk mencari ART , dan kamu tidak boleh bertemu marko jika hanya berdua saja. " Ucap pak andi tegas. Pak andi harus tegas, itu semua demi kebaikan untuk mala dan marko.


Mala langsung menatap marko, mereka berdua saling pandang dan akhirnya marko mendekat keanjang mala dan mencoba memberi mala pengertian.


Mala meneteskan air matanya saat marko bicara , dari lubuk hatinya yang paling dalam dia masih sangat mencintai ayahnya. Namun dia kini sadar jika selama ini apa yang mereka lakukan salah , allah sudah memberi peringatan berupa orang - orang yang dia sayangi semua menjauhinya, termasuk mamanya. Bahkan janin dalam kandungannya pun kini sudah pergi.


" Papa " Seru mala memeluk marko dengan erat. Pelukan kali ini pelukan antara ayah dan anak.


" Aku mau memanggilmu papa, bukan ayah. Seperti aku memanggil papa andi, namun aku belum bisa sepenuhnya melupakan dan membuang rasa yang ada dalam hati ini.Mungkin memang benar , aku harus mendekatkan diri sama Allah agar aku bisa melupakan rasa ini dan berganti menjadi rasa sayang dan cinta anaknya untuk sang ayah. " Ucap mala dengan air mata yang sudah berderai.


Aluna memeluk candra, dia juga ikut meneteskan air mata menyaksikan moment sedih yang ada di hadapannya.


" Iya nak, panggil aku papa. Maaf..maafkan papa selama ini sudah membuat kamu menderita. Papa bukanlah seorang papa yang baik, tapi papa akan menjadi papa yang baik untuk kamu. " Ucap marko dengan serius.


" Jadi kamu mau tinggal di pesantren mala ?" Tanya pak andi menyela.


Mala mengangguk yakin sambil mengusap air matanya. Namun mala ingin tinggal dirumah beberapa hari untuk memulihkan tubuhnya. Dan dia juga ingin bertemu dengan mamanya terlebih dahulu.


" Tapi tidak sekarang pa, aku mau seminggu ini memulihkan kesehatanku dan mempersiapkan diri. Aku juga ingin bertemu mama terlebih dahulu " Ucap mala dengan yakin.


" Iya tidak apa - apa. Nanti papa akan mengurus semuanya dan untuk mama mu biar marko yang mencarinya. Kamu mau tinggal sama papa atau tinggal dirumah marko, tapi sekarang papa tinggal dirumah candra " Ucap pak andi sambil melirik aluna dan candra.


" Aku tinggal dirumah papa marko saja pa , tolong carikan aku teman untuk tinggal selama seminggu dirumah itu. " Ucap mala.


Pak andi dan marko secara bersamaan menganggukkan kepalanya. Ada senyum bahagia menghiasi bibir pak andi, akhirnya dia bisa membawa mala ke jalab yang lebih baik.

__ADS_1


* Semoga dengan kamu tinggal di pesantren kamu bisa menyadari semua kekeliruan mu selama ini dan bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah. Aamiin * Gumam pak andi dalam batinnya.


*******


Sementara itu di sebuah kontrakan yang jauh disana, meri sudah mulai membuka usaha barunya. Meri membuat usaha toko kelontong atau toko sembako. Toko sembako meri sudah buka dari 3 hari yang lalu dan sudah lumayan ramai.


" Totalnya 78 ribu bu " Ucap meri ramah sambil menyerahkan 1 kantong plastik belanjaan kepada pembeli.


" Ini uangnya bu , yang 2 ribu kasih shampo saja bu. " Ucap pembeli .


Meri mengambilkan 2 sachet shampo dan memberikannya kepada pembeli..Setelah menerima shampo pembeli itupun pergi dari warung.


" Alhamdulillah " Ucap meri bersyukur.


" Assalamualaikum bu meri , bagaimana warungnya ? Ramaikan ?" Tanya bu amnah yang tidak pernah absen datang ke warung meri.


" Waalaikumsalam bu,alhamdulillah sudah mulai ramai bu. " Jawab meri tersenyum ramah.


Ibu amnah duduk di depan warung, meskipun dia sering datang kewarung ibu amnah tidak mau sembarangan masuk kedalam warung meri dia lebih memilih duduk di kursi plastik yang memang disediakan di depan warung.


" Bu , amnah nanti makan siang bareng ya. Tadi saya sudah masak sayur asem, ikan asin dan tempe goreng, sama sambal. " Ucap meri menyebutkan menu sederhana yang sudah dia masak.


" Wah mantap itu bu, panas - panas begini makan sayur asam terus minum es teh. Duh seger banget ya bu, tapi sayang saya lagi tidak minum Es,biasa tenggorokan kumat sakitnya karena kemaren aku buat es teh 1 teko aku habiskan sendiri. Hahahaa" Ucap ibu amnah lalu tertawa.


HahahaaaHahaaaa


Meri juga ikut tertawa, dia menertawakan kelakuan konyol ibu amnah.


" Kenapa tidak satu galon saja sekalian ibu habiskan . Hahaa "Seru meri menimpali.


" Duhh kalau 1 galon bisa kembung dong bu " Jawab ibu amnah.


Obrolan dan tawa mereka berhenti karena ada orang yang berbelanja. Dengan sabar dan ramah meri melayani pembeli meskipun hanya membeli sabun cuci yang hargany hany 3000 saja.


" Sudah waktunya makan siang bu , yuk makan siang sama- sama. Kita makan di dalam rumah saja, nanti kalau ada orang belanja pasti dia memanggil " Ucap meri mengajak ibu amnah makan siang.


" Wahh beneran di ajak makan siang nih, kebetulan memang belum makan. " Seru ibu amnah sambil terkekeh.


Ibu amnah dan meri kini sudah ada didalam rumah , mereka makan di ruangan depan sembari menunggu warung. Ibu amnah melihat jika wajah meri seperti menyembunyikan kesedihan, beda dengan saat diwarung tadi. Diwarung wajah terlihat cerah, ramah dan gembira.


" Bu meri ada masalah ?" Tanya ibu amnah.


" Tidak bu, hanya kangen sama anak - anak saja. Mereka sedang apa ya sekarang, apa mereka merindukan ibunya?" Tanya meri dengan lesu.


Ibu amnah memang tidak tahu ada masalah apa meri dan keluarganya sampai dia bisa tinggal terpisah dan menjauh. Namun ibu amnah tidak mau bertanya jika meri tidak bercerita sendiri.


********


RATE BINTANG 5 NYA DULU KAK.

__ADS_1


LIKE, KOMENTAR, VOTE,FAVORITE, DAN BERIKAN HADIAHNYA YANG BANYAK.


TERIMAKASIH 🙏🙏❤️❤️


__ADS_2