Perjodohan Pengganti

Perjodohan Pengganti
Kehidupan Julia


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Maaf ya adik iparku yang baik hati, aku bukannya sengaja tidak mengabarimu. Tetapi aku saja lupa, para orang tua saja aku kabari saat babby girl sudah launching." Ucap Surya meminta maaf kepada Aluna yang sedari tadi mengomelinya.


Aluna sebenarnya tidak marah, hanya ingin menjahili Surya saja. Sebab Surya terlalu gampang untuk dijahili. Tentunya atas persetujuan dari sang suami tercintanta, Candra.


Candra sendiri hanya senyum - senyum melihat Surya yang diomelin oleh Istrinya.


* Syukurin, itu balasan untuk kamu karena kamu juga sudah beberapa kali menjahili ku. * Gumam Candra dalam batinnya.


" Ok aku maafkan. Berhubung aku memang lagi baik nih, sebab bahagia karena kakak ku tercinta akhirnya mempunyai babby Girl yang cantik " Ucap Aluna sambil menggendong babby Girl.


" Terimakasih adik ipar." Seru Surya dengan senang.


Hahahaaa


Semua orang yang ada diruangan itupu tertawa secara berjamaah. Mereka menertawakan kelakuan Surya dab Aluna yang seperti anak kecil. Surya mengajak Candra keluar dari ruangan, dan membiarkan para orang tua saja yang ada diruangan itu bersama Aluna juga. Mereka berdua menuju kantin rumah sakit untuk membeli kopi sebagai teman ngobrol mereka.


" Emm... Sur. Apa kalian mau mengadakan syukuran kelahiran anak kalian secara besar - besaran seperti 7 bulanam kemarin? Tapi kalau diingat saat pernikahan kalian kemarin juga mewah, tujuh bulanan juga terhitung besar - besaran. Kenapa saat syukuran nanti tidak kamu bikin acata tujuh hari tujuh malam.?" Tanya Candra sambil terkekeh.


" Tidaklah Can. Cukup syukuran potong kambing dan makan dan doa bersama saja. Aqiqah itu saja sudah cukup Can. Aku tidak mau membuat mala kecapean, apalagi kalau sampai bikin acara tujuh hari tujuh malam yang ada anakku juga tidak akan bisa tidur karena berisik." Jawab Surya lalu menyesap kopi hitamnya yang masih mengebul.

__ADS_1


" Iya juga sih. Oh iya, untuk usaha kita alhamdulillah sekarang sudah semakin maju. Belum juga 1 tahun kita sudah bisa menambah mobil lagi. Harapanku semoga bisa menambah bus dan yang lainnya juga. Agar desa ini juga semakin maju." Ucap Candra penuh harap.


" Alhamdulillah. Oh iya , minggu lalu Julia itu menghubungi ku dia menanyakan nomor ponsel papa Marko. Jelas aku tidak akan memberikannya, susah payah papa mengganti nomor ponselnya agar bisa terhindar dari dia. Enak saja dia mau nengganggu rumah tangga papa Marko. Aku terpaksa membohonhinya, jika sampai dia berani datang ke desa ini lagi warga akan mengaraknya dan memberikan sanksi sosial untuk dia." Ucap Surya sambil tertawa pelan.


Surya dan Candra tertawa lebar sampai mereka lupa jika saat ini mereka ada dikantin rumah sakit. Beruntung ada dikantin tidak di lorong rumah sakit, jadi tidak ada orang yang memarahi ataupun protes. Mereka kembali bercerita yang membuat mereka berdua melupakan segala kepenatan yang ada.


Sementara itu saat ini Julia yang sedang makan tiba - tiba tersedak dan batuk - batuk. Melihat Julia yang tersedak membuat Susan langsung memberikan segelas air putih untuk Juliqla.


" Pelan - pelan dulu Julia. Padahal makan juga tidak ada yang mau memintanya." Seru Susan menasehati Julia.


" Tidak tahu kenapa tiba-tiba Julia jadi tersedak dan batuk begini. Kalau kata orang-orang, biasanya kalau lagi makan terus tersedak seperti ini ada seseorang yang sedang menceritakan kita. Bukannya begitu Ma, Pa." Tanya Julia meminta persetujuan papa dan mamanya.


Papanya hanya menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak tahu. Padahal sebenarnya papanya malas menanggapi pertanyaan Julia yang tidak masuk akal. Lama-lama Julia memang semakin aneh, terkadang orang bertanya apa jawabannya juga tidak tepat, orang tanya A dia jawab B.


" Kata siapa Julia? itu cuma mitos. Sudah kamu selesaikan makan kamu saja, jangan banyak bertanya dan jangan banyak bercerita yang ada kamu nanti akan tersedak lagi." Seru Susan memarahi Julia.


" Julia !! bisa diam tidak kamu ? Saat ini kita tuh lagi makan, jangan bikin ulah dulu kamu. " Ucap Pak Hengki dengan kesal karena makin hari Julia semakin tidak karuan seperti orang yang sudah tiada waras saja.


Julia terdiam lalu dia hanya mengaduk-aduk makanannya saja, dan nafsu makannya pun sudah hilang. Dia bangkit dan segera masuk ke kamarnya, tidak lupa menutup pintu dengan cukup keras sehingga membuat mama papanya dan kenzo kaget tak terkira.


" Ada apa lagi sama anak itu si Ma ? Semakin hari bukannya makin bener malah semakin seperti orang tidak waras." Tanya Pak Hengki merasa Julia memang makin aneh.


" Mama tidak tahu Pa. Mama juga pusing sama Julia. Setiap hari dia bikin ulah bahkan sama Kenzo yang masih kecil begini pun dia sering ribut. Terkadang hanya karena berebut makanan dan mainan Pa. Apa mungkin anak kita sudah tidak waras lagi ya Pa." Tanya Susan dengan lesu.


Pak Hengki hanya mencebikkan bibirnya sembari mengangkat kedua tangannya. Lebih baik dia menghabiskan makanannya terlebih dahulu baru nanti akan membicarakan masalah Julia. Terlebih saat ini di meja makan juga masih ada Kenzo yang sedang menikmati makanannya, tidak baik membicarakan Julia di depan Kenzo.


Setelah selesai dengan urusan makannya, pak Hengki mengajak Susan duduk di teras belakang sembari menikmati teh buatan Susan. Sedangkan Kenzo sendiri saat ini sudah bersama pengasuhnya.

__ADS_1


" Ma, mungkin lebih baik kita bahwa Julia ke psikolog atau psikiater saja Ma. Kita periksakan dia, siapa tahu anak itu memang sudah terganggu kejiwaannya. "Ucap pak Hengki berterus terang tanpa basa-basi lagi.


" Papa yakin Julia sudah tidak waras. " Tanya Susan dengan serius.


" Masud Papa bukan begitu Ma, siapa tahu Julia memang butuh orang-orang seperti yang Papa sebutkan tadi. Seperti psikiater atau psikolog untuk membuka jalan pikirannya. Bila perlu kita bawa dia ke pak ustad atau pak Kyai. Kita ruqyah saja siapa tahu dalam tubuhnya itu ada jin yang selama ini mempengaruhi dia. Sehingga dia jadi membangkang sama orang tuanya. Papa sangat malu nya mengingat kelakuan Julia. " Ucap pak Hengki mempunyai ide yang semakin aneh.


Susan menghela nafas dengan kasar, dia sendiri bingung harus bagaimana menghadapi Julia. Jika harus dibawa ke psikiater ataupun psikolog, Susan takut jika Julia akan menolak. Apalagi Julia juga tahu tempat seperti apa psikiater dan psikolog itu. Dia pasti akan marah dan semakin membenci orang tuanya.


* Kalau memang Julia sudah tidak waras lagi, lebih baik aku ikuti saran papa saja. Tapi kalau dia dibawa ketempat seperti itu kira - kira dia mau tidak ya.* Gumam Susan dalam hatinya.


" Nanti mama coba bicara dengan Julia dari hati ke hati dulu ya pa. Mama ingin tahu isi hati Julia bagaimana, jangan langsung kita bawa dia ke psikiater dan psikolog. Bahkan mama takut Julia akan semakin memberontak, dia merasa mungkin kita sudah keterlaluan mengekangnya seperti itu. Apalagi dia sampai detik ini masih mengharapkan Marko dan itu tidak mungkin. Karena Marko sendiri yang kita tahu sudah menikah lagi Pa. "Ucap Susan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


" Jangsn bahas soal Marko dan desa itu lagi mau. Aku tidak mau Julia akan nekat datang ke desa itu lagi, dan mengacaukan kehidupan mereka. Dulu Candra,Marko bahkan terakhir bobi. Dia itu didesa itu pendatang tetapi kelakuannya sangat bejat. Papa hanya khawatir Julia akan dihakimo oleh masyarakat disana Ma." Ucap pak Hengki.


Susan tidak bisa berkomentar lagi. Apa yang dikatakan oleh Siaminya memang benar. Bahkan Julia sendiri sudah mendapat peringatan untuk tidak datang kedesa itu lagi terkeculi Julia sudah berubah dan janji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.


Meliha istrinya yang hanya bisa diam, membuat pak Hengki semakin kasihan dan bersedih. Pak hengki merangkul sang istri dengan lembut dan menyandarkan kepala sang istri dibahunya.


" Kita harus banyak sabar Ma dalam mengurus Julia. Mungkin ini ujian buat kita, Allah tahu kita pasti bisa melewati ini semua sehingga Allah mempercayakan ujian ini kepada kita." Ucap pak Hengki membuat hati Susan sedikit lega dan tenang.


" Iya Pa." Jawab Susan pelan.


" Papa sangat berharap Julia bisa hidup dengan kepribadian yang baik dan menerima dan mengakui Kenzo sebagi anaknya." Ucap pak Hengki penuh harap.


" Aamiin. Semoga apa yang kita harapkan bisa secepatnya di ijabah sama Allah ya Pa." Ucap Susan penuh harap.


Dalam hatinya sebenarnya susan menangis , namun tidak dia luapkan. Dia tidak mau membuat suaminya jufa merasa bersedih. Masalah Julia memang tidak ada habisnya.

__ADS_1


*********


__ADS_2