
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Acara Makan malam di rumah Aluna pun sudah dimulai, Marko dan Mina pun ikut datang. Sebab Candra yang mengundang Marko, juga ada hal yang ingin Candra bicarakan dengan Marko soal kedatangan Julia tadi siang ke rumahnya.
Selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Mereka membahas banyak hal seputar pekerjaan dan kehidupan sehari-hari mereka. Dan tibalah saatnya Candra membicarakan soal Julia.
" Tadi siang menjelang sore Julia datang ke rumah dan dia menemui Aluna, katanya ingin meminta tolong agar Aluna mau membantu dia bertemu dan berbicara dengan bang Marko. Tetapi secara tegas Aluna menolaknya. Apakah tadi sebelumnya Julia sudah datang ke rumah bang Marko."Tanya Chandra dengan penasaran.
" Iya wanita yang bernama Julia tadi memang sempat datang ke rumah dan mas Marko mengusirnya. Sebenarnya aku kasihan sih tadi saat melihat wanita itu diusir sama mas Marko, padahal aku sudah meminta dia untuk masuk dan bicara di dalam rumah saja. Tetapi Mas Marko tetap saja mengusirnya. Bukan Marko yang menjawabnya tetapi Mina yang menjawab sembari melirik Marko.
Hhhuuuffff
Marco hanya bisa menghela nafas dengan kasar, menurutnya dengan dia mengusir Julia itu sudah tepat. Dia tidak mau Julia mengganggu kehidupannya lagi, terlebih saat ini Marko juga sudah mempunyai istri yang saat ini sedang hamil. Ada hati istrinya yang harus dia jaga sehingga dia lebih memilih mengusir Julia.
" Mas tidak mau Julia bicara yang tidak-tidak dan membuat kamu merasa sakit hati dan tersinggung, Mina. Makanya lebih baik tadi mas mengusirnya saja, lagi pula sudah tidak ada hal yang ingin kita bicarakan. Jadi untuk apa aku bicara dengan perempuan itu? Perempuan itu sangat licik dan licin, Mina. Jadi lebih baik kita menghindar saja dari wanita itu."Ucap Marko menjelaskan agar Mina paham bagaimana liciknya Julia.
" Yang dikatakan papa benar Ma. Julia itu wanita yang licik. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan rumah tangga mama dan papa. Jadi jika dia datang lebih baik langsung diusir saja."Ucap Mala setuju dengan apa yang dikatakan oleh papanya.
" Tapi sepertinya tadi dia hanya ingin berbicara sama kamu saja, Mas. Awalnya saat dia datang dengan sombongnya itu aku juga tidak suka, tetapi saat melihat dia menangis aku kasihan dan iba. Sepertinya dia memang hanya ingin berbicara kepadamu saja, Mas. Tetapi ya sudah semua sudah terjadi."Ucap Mina sembari tersenyum ke arah Marko.
Pak Andi dan Meri hanya mendengarkan obrolan mereka saja tanpa mau ikut berbicara. Meri masih sedikit canggung jika berkumpul dengan Marko, bukan berarti dia masih ada rasa dengan Marko. Rasa itu sudah hilang dan tidak tersisa sedikitpun, hanya rasa canggung saja yang masih ada.
" Ardan dan Leo kok tidak pernah main kesini, Can?." Tanya Surya mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas soal Julia lagi.
" Mereka sibuk dengan urusan perusahaan, Surya. Apalagi Ardan pengantin baru pasti juga ingin selalu berduaan dengan istrinya. Seperti tidak pernah pengantin baru saja." Seru Candra sambil terkekeh.
" Kalau itu sudah pasti. Oh iya sepertinya si Leo naksir tuh sama temannya Mala. Siapa itu namanya sayang, mas lupa nama teman kamu itu?." Tanya Surya.
" Indah. " Jawab Mala dengan singkat.
" Iya Indah. Soalnya Indah sering curhat tuh sama Mala, katanya Leo sering menemuinya dan ngajakin makan serta jalan." Seru Surya dengan mulut embernya.
Bugghhh Bugghhh
Mala memukul punggung suaminya dengan bantal kursi, ternyata suaminya itu selain kepo juga bermulut ember. Bisa - bisanya dia mempublis curhatan orang lain menjadi topik pembicaraannya.
" Aduh sakit loh sayang." Seru Surya pura - pura kesakitan.
__ADS_1
" Heleh alasan saja. Kamu ini selain kepo , ember juga ya mas. Dasar pria ember !." Seru Mala dengan kesal.
" Bukan hanya ember tapi bak kamar mandi dia itu kak." Seru Aluna ikut menambahi.
Hahaaaa Haaaahaaaa
Semua orang yang ada disana ikut tertawa sampai Rayyan yang sedang bermain menghentikan kegiatannya dan menatap heran kearah para orang dewasa yang sedang tertawa. Tanpa tahu apa yang ditertawakan, Rayyanpun ikut tertawa dengan lebar.
Aisha sendiri saat ini sedang ada dalam pangkuan Meri. Semua mata tertuju kearah Rayyan yang ikut tertawa dengan keras meskipun tidak tahu apa yang sedang mereka bahas.
" Lihat anak kamu Lun, dia itu ikut tertawa tetapi tidak tahu apa yang dia tertawakan." Seru Surya sambil terkekeh.
" Kalau anak seusia Rayyan sudah tahu soal pembahasan kita, pasti kamu akan malu sendiri sama Rayyan. " Seru Candra dengan entengnnya membuat Surya mencebikkan bibir dengan kesal.
" Jangan dibuat manyun - manyun begitu bibirnya nanti aku ikat diatas pohon depan itu." Seru Candra lagi.
Obrolan merekapun semakin melebar dan tanpa terasa malam sudah semakin larut. Mina dan Marko memutuskan untuk pulang, sedangkan Mala dan Surya serta pak Andi dan istri menginap dirumah Candra.
**********
Pagi harinya Julia mengajak Kenzo jalan - jalan untuk mencari sarapan. Kenzo sudah mulai dekat dan tidak takut lagi dengan Julia. Bahkan dia terlihat sangat dekat dengan Julia, kemana Julia pergi dia ingin selalu ikut. Seperti ini saat melihat Julia keluar dari rumah, Kenzo langsung berlari menghampiri Julia sehingga Juliapun tidak tega jika tidak mengajak Kenzo.
" Kenzo mau makan pakai apa?." Tanya Julia dengan lembut.
" Emm.. Ok kita cari warung yang menjual ayam goreng ya. Nanti kalau ada kita beli, Kenzo mai ayamnya berapa?." Seru Julia lagi.
" Mau 3." Seru Kenzo sembari menunjukkan kelima jarinya.
Julia tertawa melihat tingkah lucu anaknya, baru kali ini Julia bisa tertawa lepas saat bersama Kenzo. Tingkal Kenzi memang sangat menggemaskan sekali.
" Sayang kalau tiga itu jarinya seperti ini, bukan begini." Seru Julia sembari membenarkan jari Kenzo.
" Oh iya ma, Kenzo lupa." Seru Kenzo lagi sembari tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
Kenzo dan Julia kini sudah sampai di tempat orang berjualan sarapan. Ditempat ini memang ada beberapa orang yang berjualan disaat pagi hari, mereka menyediakan menu sarapan yang berbagai macam. Ada yang berjualan nasi uduk, soto , bubur ayam dan masih ada yang lainnya lagi.
" Bu saya mau nasi uduknya dua pakai ayam goreng ya bu, yang satu tidak usah pakai sambal. Terus tambah ayam gorengnya 3 potong ." Ucap Julia dengan ramah.
" Baik mbak. Ayam gorengnya mau yang biasa apa krispi?." Tanya sang penjual dengan ramah.
" Yang campuran nasi uduk, ayam goreng biasa saja. Terus yang 3 yang krispi, soalnya anak saya suka ayam goreng yang krispi." Ucap Julia sembari melirik Kenzo yang antusius melihat kearah beberapa pedagang yang berjejer.
Julia tahu jika Kenzo suka sekali ayam goreng krispi dari kebiasaan Kenzo yang sering meminta dibuatkan ayam goreng krispi oleh mama Susan.
__ADS_1
" Oh ini anaknya ? Ibu kira tadi adiknya."Seru ibu pedagang.
" Iya bu, jadi totalnya berapa?." Tanya Juliai ingin segera membayar nasi uduknya.
" Nasi uduk pakai ayamnya 2 harga 24 ribu, terus ayam 3 harga 21 ribu. Jadi totalnya 45 ribu mbak." Ucap pelanggan dengan ramah merinci apa saja yang dibeli oleh Julia.
Julia mengeluarkan selembar uang 50 ribu dan mengukurkannya kepada ibu pedagang. Saat pedagang itu ingin memberikan kembaliannya, Julia tidak menerimanya.
" Ambil saja untuk ibu." Seru Julia dengan ramah.
" Terimakasih ya mbak. Semoga rezekinya selalu lancar dan kebahagiaan menyertai mbak dan keluarga." Ucap ibu itu berdoa dengan tulus.
* Ya Allah. Betapa indahnya hidup ini jika kita selalu bersyukur dan baik kepada orang lain. Baru kali ini aku didoakan baik - baik oleh ibu yang tidak aku kenal. Seandainya dari dulu aku bersikap baik dan tidak sombong sudah pasti hidupku tidak akan seperti ini. Tidak perlu aku menyesalinya, mungkin ini memang sudah jalan takdirku. Yang penting saat ini aku akan merubah hidupku menjadi lebih baik lagi.*Gumam Julia dalam batinnya.
Julia mengangguk sambil tersenyum lalu mengajak Kenzo menghampiri pedagang yang lainnya. Kali ini Julia menghampiri pedagang sayuran yang tidak jauh dari sana. Julia membeli beberapa sayuran dan bumbu - bumbunya. Setelah selesai Julia mengajak Kenzo untuk pulang namun Kenzo menggelenng. Sepertinya masih ada lagi yang ingin dia minta.
" Kenzo mau apa?." Tanya Julia dengan lembut.
Kenzo menunjuk kearah pedagang kue pancong yang ada disamping gerobak bubur ayam. Julia tersenyum lalu mengangguk dan mengajak Kenzo membeli kue yang Kenzo mau.
" Kue nya 20 ribu ya pak." Seru Julia memesan.
" Oh iya mbak, ditunggu sebentar ya ini sebentar lagi matang." Seru penjualnya dengan ramah.
Setelah menunggu 5 menit kue pancong yang dia mau oleh Kenzo sudah ada ditangan Kenzo. Dengan senyum sumringah Kenzo sudah mau di ajak pulang, mereka pulang dengan berjalan kaki. Julia sedikit kesusahan sebab ditangan kirinya juga menenteng plastik belanjaan dan tangan kanannya memegangi Kenzo.
" Kenzo senang?." Tanya Julia.
" Cenang ma. Becok lagi kita beli di cana ya ma." Seru Kenzo terlihat sangat senang.
" Iya sayang. Kenzo tidak capek jalan kakk seperti ini?." Tanya Julia khawatir jika Kenzo akan kelelahan.
" Tidak Ma. Tenzo tan anak tuat. Oma cama Opa tan talau pagi juga cering ajak Tenzo jalan-jalan ditaman jadi Tenzo tuat."Jawab Kenzo penuh semangat.
Julia sangat terharu dengan Kenzo, padahal apa yang Julia lakukan sebuah hal yang sangat sederhana tetapi sudah bisa membuat Kenzo sebahagia ini.
* Padahal apa yang aku lakukan ini sangat sederhana sekali, tetapi sudah bisa membuat Kenzo bahagia. Ternyata kebahagiaan itu tidak selalu dengan kemewahan. Hal sederhana saja sudah bisa membuat Kenzo bahagia.*Gumam Julia dalam batinnya.
" Julia..... !!" Seru seseorang memanggil nama Julia.
Julia langsung mengalihkan pandangannya kearah orang yang memanggilnya. Tiba - tiba Julia terdiam dan senyum yang tadi menghiasi pipinya tiba - tiba hilang begitu saja.
***********
__ADS_1